Nama : Annisa Luthfiyyah
NPM : 2313031010
1. Pemeriksaan kas dan setara kas bertujuan untuk memastikan bahwa saldo kas benar-benar ada, lengkap, dan disajikan secara wajar dalam laporan keuangan.
2. Dalam audit kas dan setara kas, auditor perlu mempertimbangkan risiko kecurangan, kekuatan pengendalian internal, dan besarnya saldo kas. Selain itu, perlu diperhatikan pembatasan penggunaan kas, transaksi tidak biasa, serta kesesuaian kriteria setara kas sebagai aset yang likuid dan jangka pendek.
3. Pemeriksaan kas memiliki hubungan erat dengan piutang karena pelunasan piutang akan menghasilkan kas. Auditor perlu memastikan bahwa kas yang diterima benar-benar berasal dari piutang yang tercatat. Risiko yang dapat terjadi antara lain lapping (penggelapan kas) serta kesalahan pencatatan yang mempengaruhi keduanya. Oleh karena itu, auditor biasanya menguji penerimaan kas setelah tanggal neraca dan melakukan konfirmasi piutang yang ditelusuri ke penerimaan kas.
4. Contoh empiris yang sering dijadikan referensi antara lain kasus kecurangan kas melalui lapping, yaitu ketika kasir menahan pembayaran pelanggan dan menggunakan dana dari pelanggan lain untuk menutupi kekurangan, sehingga saldo kas tidak sesuai dan piutang tampak belum dibayar. Selain itu, pada kasus PT Garuda Indonesia, terdapat salah saji dalam pengakuan pendapatan yang berdampak pada kas dan piutang karena pendapatan diakui sebelum kas benar-benar diterima.
NPM : 2313031010
1. Pemeriksaan kas dan setara kas bertujuan untuk memastikan bahwa saldo kas benar-benar ada, lengkap, dan disajikan secara wajar dalam laporan keuangan.
2. Dalam audit kas dan setara kas, auditor perlu mempertimbangkan risiko kecurangan, kekuatan pengendalian internal, dan besarnya saldo kas. Selain itu, perlu diperhatikan pembatasan penggunaan kas, transaksi tidak biasa, serta kesesuaian kriteria setara kas sebagai aset yang likuid dan jangka pendek.
3. Pemeriksaan kas memiliki hubungan erat dengan piutang karena pelunasan piutang akan menghasilkan kas. Auditor perlu memastikan bahwa kas yang diterima benar-benar berasal dari piutang yang tercatat. Risiko yang dapat terjadi antara lain lapping (penggelapan kas) serta kesalahan pencatatan yang mempengaruhi keduanya. Oleh karena itu, auditor biasanya menguji penerimaan kas setelah tanggal neraca dan melakukan konfirmasi piutang yang ditelusuri ke penerimaan kas.
4. Contoh empiris yang sering dijadikan referensi antara lain kasus kecurangan kas melalui lapping, yaitu ketika kasir menahan pembayaran pelanggan dan menggunakan dana dari pelanggan lain untuk menutupi kekurangan, sehingga saldo kas tidak sesuai dan piutang tampak belum dibayar. Selain itu, pada kasus PT Garuda Indonesia, terdapat salah saji dalam pengakuan pendapatan yang berdampak pada kas dan piutang karena pendapatan diakui sebelum kas benar-benar diterima.