Nama : Marista Febria Safutri
NPM : 2313031007
1. Teori-teori yang relevan (landasan teori)
Teori Kepemimpinan Klasik & Kontemporer
Trait theory — ciri pemimpin yang efektif.
Behavioral theories (Ohio State / Michigan) — orientasi
tugas vs orientasi hubungan.
Contingency theories (Fiedler) & Situational Leadership (Hersey-Blanchard) — efektivitas gaya tergantung situasi.
Path-Goal Theory (House) — pemimpin memfasilitasi pencapaian tujuan bawahan.
Teori Kepemimpinan Modern
Transformational vs Transactional Leadership (Bass) — transformasional meningkatkan motivasi, inovasi; transaksional berbasis imbalan/pertukaran.
Leader-Member Exchange (LMX) — kualitas hubungan pemimpin-bawahan mempengaruhi hasil kerja.
Servant Leadership — fokus pada kebutuhan bawahan, berdampak pada komitmen dan kinerja.
Teori Motivasi & Kinerja
Expectancy Theory (Vroom) — harapan usaha → hasil; relevan untuk hubungan gaya kepemimpinan → motivasi → kinerja.
Self-Determination Theory — motivasi intrinsik/ekstrinsik sebagai mediator kinerja.
Job Characteristics Model (Hackman & Oldham) — pengayaan pekerjaan meningkatkan motivasi dan kinerja.
Teori Sosial/Organisasi
Social Exchange Theory — hubungan timbal balik (pimpin → dukungan → kinerja).
Organizational Climate/Culture sebagai konteks yang memoderasi pengaruh kepemimpinan.
2. Kerangka pikir (logis & sistematis)
Ringkasan hubungan logis:
Gaya kepemimpinan (X) → memengaruhi motivasi kerja, kepuasan kerja, komitmen organisasi, dan engagement (Mediators) → yang akhirnya menentukan kinerja karyawan (Y).
Selain itu, terdapat variabel moderator yang memperkuat/melemahkan hubungan X→Y, mis. organizational support, jenis pekerjaan, kompetensi karyawan, atau stabilitas lingkungan kerja (startup volatility).
Teks diagram sederhana:
Gaya Kepemimpinan (transformational, transactional, laissez-faire, LMX quality, dsb.)
↓
(→ Memperbaiki) Motivasi kerja, Kepuasan, Engagement, Role clarity (mediators)
↓
Hasil: Kinerja Karyawan (produktifitas, kualitas kerja, pencapaian target)
Moderator: Perceived Organizational Support, Job Complexity, Tenure, Work Autonomy
Variabel operasional (contoh pengukuran singkat):
X (Gaya kepemimpinan): ukuran Multi-Factor Leadership Questionnaire (MLQ) untuk transformational/transactional; skala LMX untuk kualitas hubungan.
M (Mediator): motivasi (Work Motivation Scale / SDT items), engagement (UWES), kepuasan kerja (Job Satisfaction Scale).
Y (Kinerja): penilaian atasan (supervisor rating), self-reported performance, KPI objektif (output, penjualan, produktivitas).
Moderator: perceived organizational support scale, job complexity index, tenure (tahun).
3. Hipotesis yang dapat diuji (dengan H0 untuk setiap H1)
Hipotesis utama
H1: Gaya kepemimpinan yang lebih transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.
H0: Gaya kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
Hipotesis komparatif / tambahan
H2: Gaya kepemimpinan transaksional berpengaruh positif terhadap kinerja, tetapi pengaruhnya lebih lemah dibanding gaya transformasional.
H0₂: Gaya kepemimpinan transaksional tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
Hipotesis mediasi
H3: Motivasi kerja memediasi pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan.
H0₃: Motivasi kerja tidak memediasi pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja.
Hipotesis moderator
H4: Perceived organizational support memperkuat hubungan positif antara gaya kepemimpinan transformasional dan kinerja karyawan (interaksi signifikan).
H0₄: Perceived organizational support tidak memoderasi hubungan tersebut.
Hipotesis LMX (alternatif)
H5: Kualitas LMX (leader–member exchange) berhubungan positif dan signifikan dengan kinerja karyawan; LMX juga memediasi sebagian pengaruh gaya kepemimpinan.
H0₅: Kualitas LMX tidak berhubungan signifikan dengan kinerja.