Summary
Buatlah summary isi book chapter di atas, minimal 500 kata.
Nama : Suci Tri Wahyuni
NPM : 2313031012
Modul ini menekankan bahwa proses perumusan masalah adalah tahap penting dalam penelitian. Bahkan, ada anggapan bahwa setengah dari kegiatan penelitian adalah perumusan masalah itu sendiri. Tanpa adanya perumusan masalah yang jelas, penelitian akan menjadi tidak fokus dan tidak menghasilkan hasil yang berarti. Oleh karena itu, perumusan masalah tidak boleh dianggap remeh dan perlu dilakukan secara mendalam untuk menghindari kegagalan dalam penelitian. Modul ini juga mengaitkan pentingnya perumusan masalah dengan persiapan mahasiswa dalam menyusun tesis atau proposal penelitian.
Dalam pembahasan ini dirancang untuk memberikan kemampuan kepada mahasiswa dalam merumuskan permasalahan penelitian. Secara khusus, tujuan pembelajaran meliputi:
1. Menjabarkan inti permasalahan penelitian.
2. Menentukan ciri-ciri masalah penelitian yang baik.
3. Menemukan sumber-sumber masalah penelitian.
4. Menjelaskan tujuan penelitian.
5. Merumuskan masalah penelitian.
6. Menyusun judul penelitian yang tepat.
Dengan menguasai tujuan-tujuan ini, mahasiswa akan siap untuk menyusun proposal penelitian secara lebih sistematis dan logis.
Masalah penelitian merupakan kesenjangan atau persoalan yang muncul dari fenomena tertentu. Namun, tidak semua kesenjangan dapat dijadikan masalah penelitian. Ada beberapa kriteria yang perlu dipenuhi sebelum kesenjangan tersebut dapat diidentifikasi sebagai masalah penelitian. Masalah penelitian harus mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, serta memungkinkan untuk dikembangkan menjadi pertanyaan penelitian yang dapat dijawab melalui proses ilmiah. Penelitian dianggap penting ketika masalah yang dipilih relevan, esensial, dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan maupun praktik di lapangan.
Dalam penelitian, permasalahan penelitian dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis utama:
1. Problema Deskriptif
Menggambarkan status atau kondisi variabel tertentu tanpa membandingkan atau mencari hubungan antar variabel. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang sedang terjadi.
2. Problema Komparatif
Membandingkan dua atau lebih fenomena atau variabel. Peneliti mencoba menemukan persamaan atau perbedaan di antara variabel tersebut dan memaknai arti perbandingannya.
3. Problema Korelatif
Meneliti hubungan antara dua atau lebih variabel. Hubungan ini bisa berupa hubungan sejajar atau hubungan sebab-akibat. Masalah korelatif meneliti apakah satu variabel mempengaruhi variabel lainnya atau tidak.
Masalah penelitian dapat muncul dari berbagai sumber, salah satunya adalah pengalaman pribadi peneliti yang didapat dari kehidupan sehari-hari atau di tempat kerja. Selain itu, penelitian terdahulu sering kali memberikan rekomendasi untuk pengembangan penelitian lanjutan. Sumber kepustakaan seperti buku, jurnal, atau laporan penelitian juga membantu peneliti menemukan celah yang belum terjawab. Diskusi dalam forum ilmiah atau perbincangan dengan para pakar dapat membuka wawasan baru dalam merumuskan masalah penelitian. Pengamatan langsung di lapangan sering kali membawa peneliti pada masalah yang relevan untuk diteliti lebih lanjut. Perubahan paradigma, seperti kurikulum atau metode pembelajaran, serta fenomena baru di dunia pendidikan dapat menjadi sumber masalah penelitian. Fenomena sosial yang terjadi di masyarakat juga sering menjadi inspirasi untuk penelitian. Teori-teori yang ada pun bisa melahirkan deduksi yang menghasilkan masalah baru yang layak untuk diteliti lebih lanjut.
Masalah yang baik dalam penelitian memiliki beberapa ciri, di antaranya:
1. Kontribusi
Masalah yang diangkat harus memberikan kontribusi nyata pada pengembangan teori atau aplikasi praktis.
2. Orisinalitas
Masalah penelitian harus baru dan belum pernah diteliti sebelumnya.
3. Pernyataan yang Jelas
Masalah harus dinyatakan dengan jelas, baik dalam bentuk pertanyaan penelitian atau pernyataan interogatif.
4. Kelayakan
Masalah harus layak untuk diteliti, baik dari segi waktu, biaya, maupun sumber daya yang tersedia.
Perumusan masalah adalah proses merumuskan suatu kalimat yang jelas dan spesifik mengenai masalah yang telah diidentifikasi. Judul penelitian diambil dari masalah yang telah dirumuskan dan harus mencerminkan fokus penelitian. Judul yang baik adalah yang spesifik dan menunjukkan variabel yang akan diteliti.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang harus diuji kebenarannya. Ada dua jenis hipotesis, yaitu hipotesis nol (Ho) yang menolak adanya pengaruh atau hubungan antara variabel, dan hipotesis alternatif (H1) yang mendukung adanya pengaruh atau hubungan. Hipotesis membantu menjaga penelitian tetap terarah dan fokus.
Modul ini menggarisbawahi pentingnya perumusan masalah dalam proses penelitian. Masalah penelitian menjadi fondasi yang kuat untuk mengarahkan penelitian, sehingga judul penelitian, tujuan, dan hipotesis yang dirumuskan harus konsisten dan relevan. Mahasiswa yang mampu merumuskan masalah penelitian dengan baik akan lebih mudah menyusun penelitian yang terstruktur dan menghasilkan temuan yang bermakna.
NPM : 2313031012
Modul ini menekankan bahwa proses perumusan masalah adalah tahap penting dalam penelitian. Bahkan, ada anggapan bahwa setengah dari kegiatan penelitian adalah perumusan masalah itu sendiri. Tanpa adanya perumusan masalah yang jelas, penelitian akan menjadi tidak fokus dan tidak menghasilkan hasil yang berarti. Oleh karena itu, perumusan masalah tidak boleh dianggap remeh dan perlu dilakukan secara mendalam untuk menghindari kegagalan dalam penelitian. Modul ini juga mengaitkan pentingnya perumusan masalah dengan persiapan mahasiswa dalam menyusun tesis atau proposal penelitian.
Dalam pembahasan ini dirancang untuk memberikan kemampuan kepada mahasiswa dalam merumuskan permasalahan penelitian. Secara khusus, tujuan pembelajaran meliputi:
1. Menjabarkan inti permasalahan penelitian.
2. Menentukan ciri-ciri masalah penelitian yang baik.
3. Menemukan sumber-sumber masalah penelitian.
4. Menjelaskan tujuan penelitian.
5. Merumuskan masalah penelitian.
6. Menyusun judul penelitian yang tepat.
Dengan menguasai tujuan-tujuan ini, mahasiswa akan siap untuk menyusun proposal penelitian secara lebih sistematis dan logis.
Masalah penelitian merupakan kesenjangan atau persoalan yang muncul dari fenomena tertentu. Namun, tidak semua kesenjangan dapat dijadikan masalah penelitian. Ada beberapa kriteria yang perlu dipenuhi sebelum kesenjangan tersebut dapat diidentifikasi sebagai masalah penelitian. Masalah penelitian harus mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, serta memungkinkan untuk dikembangkan menjadi pertanyaan penelitian yang dapat dijawab melalui proses ilmiah. Penelitian dianggap penting ketika masalah yang dipilih relevan, esensial, dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan maupun praktik di lapangan.
Dalam penelitian, permasalahan penelitian dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis utama:
1. Problema Deskriptif
Menggambarkan status atau kondisi variabel tertentu tanpa membandingkan atau mencari hubungan antar variabel. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang sedang terjadi.
2. Problema Komparatif
Membandingkan dua atau lebih fenomena atau variabel. Peneliti mencoba menemukan persamaan atau perbedaan di antara variabel tersebut dan memaknai arti perbandingannya.
3. Problema Korelatif
Meneliti hubungan antara dua atau lebih variabel. Hubungan ini bisa berupa hubungan sejajar atau hubungan sebab-akibat. Masalah korelatif meneliti apakah satu variabel mempengaruhi variabel lainnya atau tidak.
Masalah penelitian dapat muncul dari berbagai sumber, salah satunya adalah pengalaman pribadi peneliti yang didapat dari kehidupan sehari-hari atau di tempat kerja. Selain itu, penelitian terdahulu sering kali memberikan rekomendasi untuk pengembangan penelitian lanjutan. Sumber kepustakaan seperti buku, jurnal, atau laporan penelitian juga membantu peneliti menemukan celah yang belum terjawab. Diskusi dalam forum ilmiah atau perbincangan dengan para pakar dapat membuka wawasan baru dalam merumuskan masalah penelitian. Pengamatan langsung di lapangan sering kali membawa peneliti pada masalah yang relevan untuk diteliti lebih lanjut. Perubahan paradigma, seperti kurikulum atau metode pembelajaran, serta fenomena baru di dunia pendidikan dapat menjadi sumber masalah penelitian. Fenomena sosial yang terjadi di masyarakat juga sering menjadi inspirasi untuk penelitian. Teori-teori yang ada pun bisa melahirkan deduksi yang menghasilkan masalah baru yang layak untuk diteliti lebih lanjut.
Masalah yang baik dalam penelitian memiliki beberapa ciri, di antaranya:
1. Kontribusi
Masalah yang diangkat harus memberikan kontribusi nyata pada pengembangan teori atau aplikasi praktis.
2. Orisinalitas
Masalah penelitian harus baru dan belum pernah diteliti sebelumnya.
3. Pernyataan yang Jelas
Masalah harus dinyatakan dengan jelas, baik dalam bentuk pertanyaan penelitian atau pernyataan interogatif.
4. Kelayakan
Masalah harus layak untuk diteliti, baik dari segi waktu, biaya, maupun sumber daya yang tersedia.
Perumusan masalah adalah proses merumuskan suatu kalimat yang jelas dan spesifik mengenai masalah yang telah diidentifikasi. Judul penelitian diambil dari masalah yang telah dirumuskan dan harus mencerminkan fokus penelitian. Judul yang baik adalah yang spesifik dan menunjukkan variabel yang akan diteliti.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang harus diuji kebenarannya. Ada dua jenis hipotesis, yaitu hipotesis nol (Ho) yang menolak adanya pengaruh atau hubungan antara variabel, dan hipotesis alternatif (H1) yang mendukung adanya pengaruh atau hubungan. Hipotesis membantu menjaga penelitian tetap terarah dan fokus.
Modul ini menggarisbawahi pentingnya perumusan masalah dalam proses penelitian. Masalah penelitian menjadi fondasi yang kuat untuk mengarahkan penelitian, sehingga judul penelitian, tujuan, dan hipotesis yang dirumuskan harus konsisten dan relevan. Mahasiswa yang mampu merumuskan masalah penelitian dengan baik akan lebih mudah menyusun penelitian yang terstruktur dan menghasilkan temuan yang bermakna.
Nama : Diah Arum Sari Nawang Ulan
NPM : 2313031021
Perumusan Masalah Penelitian
Membahas tentang konsep, identifikasi, perumusan, serta penetapan masalah penelitian sebagai dasar penting dalam kegiatan ilmiah. Masalah penelitian didefinisikan sebagai kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, baik dalam ranah pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, sosial, maupun pendidikan. Perumusan masalah menjadi titik awal yang sangat menentukan karena mengarahkan peneliti dalam menyusun kerangka teori, tujuan, hipotesis, metode, hingga kesimpulan penelitian.
Pentingnya Perumusan Masalah
Perumusan masalah adalah separuh dari penelitian itu sendiri. Tanpa rumusan yang jelas, penelitian akan kehilangan arah dan manfaat. Masalah harus diidentifikasi dari kesenjangan nyata dan dapat dikembangkan menjadi pertanyaan penelitian yang memungkinkan untuk dijawab.
Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah melibatkan penjelasan latar belakang, yaitu uraian kondisi, kesenjangan, dan alasan pentingnya penelitian dilakukan. Sebuah masalah layak diteliti bila: (1) esensial dan memiliki nilai penting, (2) urgen untuk segera dipecahkan, dan (3) bermanfaat secara akademik maupun praktis.
Jenis Masalah Penelitian
Terdapat tiga jenis utama masalah penelitian:
1. Deskriptif, untuk menggambarkan status atau fenomena tertentu.
2. Komparatif, untuk membandingkan dua atau lebih variabel/fenomena.
3. Asosiatif/Korelatif, untuk mencari hubungan antarvariabel, baik simetris, kausal (sebab-akibat), maupun interaktif.
Sumber Masalah Penelitian
Masalah penelitian dapat bersumber dari berbagai hal, seperti pengalaman pribadi, kelanjutan penelitian sebelumnya, literatur akademik, forum ilmiah, observasi langsung, perubahan paradigma pendidikan, fenomena sosial, maupun deduksi dari teori. Dengan demikian, peneliti dituntut memiliki kepekaan tinggi dalam membaca fenomena dan peluang yang layak diteliti.
Ciri-Ciri Masalah yang Baik
Masalah penelitian dikatakan baik bila memiliki kontribusi terhadap pengembangan teori atau praktik, bersifat orisinal, jelas dirumuskan, dan feasible untuk diteliti. Feasibility mencakup aspek waktu, biaya, ketersediaan data, kemampuan peneliti, serta dukungan fasilitas.
Tujuan Penelitian
Tujuan berbeda dengan rumusan masalah. Rumusan masalah biasanya berbentuk pertanyaan, sedangkan tujuan dinyatakan dalam kalimat deklaratif. Tujuan penelitian berfungsi untuk menemukan, mengembangkan, atau menguji kebenaran pengetahuan sesuai dengan sifat penelitian.
Perumusan Masalah dan Judul
Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan identifikasi masalah. Proses perumusannya meliputi persiapan, konfirmasi awal, konfirmasi akhir, dan formulasi akhir. Rumusan yang baik akan mempermudah penetapan judul penelitian. Judul sebaiknya jelas, informatif, tidak terlalu luas maupun sempit, serta mencerminkan variabel, masalah, dan lokasi penelitian. Judul yang tepat menunjukkan bobot penelitian dan daya tarik akademiknya.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang perlu diuji secara empiris. Fungsinya untuk mempersempit ruang lingkup penelitian, memfokuskan data, serta menghubungkan teori dengan observasi. Hipotesis yang baik harus jelas, dapat diuji, sederhana, dan sesuai dengan kerangka teori. Meski demikian, tidak semua penelitian memerlukan hipotesis, misalnya penelitian deskriptif atau kualitatif.
Batasan Masalah
Karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya, peneliti perlu membuat batasan masalah. Hal ini menjaga penelitian tetap fokus dan menghindari bias. Tanpa pembatasan, penelitian berisiko melebar dan kehilangan kejelasan arah.
Kesalahan Umum
Modul ini juga menyoroti kesalahan umum peneliti, seperti konsep yang belum matang, gagasan kurang akurat, kontribusi rendah, hingga ketidaksesuaian metode dengan fenomena yang diteliti. Oleh sebab itu, diperlukan ketajaman berpikir dan kejelian dalam menyusun perumusan masalah.
Penutup
Secara keseluruhan, modul menegaskan bahwa keberhasilan penelitian bergantung pada kualitas perumusan masalah. Masalah yang jelas, orisinal, relevan, dan feasible akan menghasilkan penelitian yang bermanfaat baik secara teoretis maupun praktis. Dengan kata lain, rumusan masalah adalah fondasi utama penelitian.
NPM : 2313031021
Perumusan Masalah Penelitian
Membahas tentang konsep, identifikasi, perumusan, serta penetapan masalah penelitian sebagai dasar penting dalam kegiatan ilmiah. Masalah penelitian didefinisikan sebagai kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, baik dalam ranah pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, sosial, maupun pendidikan. Perumusan masalah menjadi titik awal yang sangat menentukan karena mengarahkan peneliti dalam menyusun kerangka teori, tujuan, hipotesis, metode, hingga kesimpulan penelitian.
Pentingnya Perumusan Masalah
Perumusan masalah adalah separuh dari penelitian itu sendiri. Tanpa rumusan yang jelas, penelitian akan kehilangan arah dan manfaat. Masalah harus diidentifikasi dari kesenjangan nyata dan dapat dikembangkan menjadi pertanyaan penelitian yang memungkinkan untuk dijawab.
Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah melibatkan penjelasan latar belakang, yaitu uraian kondisi, kesenjangan, dan alasan pentingnya penelitian dilakukan. Sebuah masalah layak diteliti bila: (1) esensial dan memiliki nilai penting, (2) urgen untuk segera dipecahkan, dan (3) bermanfaat secara akademik maupun praktis.
Jenis Masalah Penelitian
Terdapat tiga jenis utama masalah penelitian:
1. Deskriptif, untuk menggambarkan status atau fenomena tertentu.
2. Komparatif, untuk membandingkan dua atau lebih variabel/fenomena.
3. Asosiatif/Korelatif, untuk mencari hubungan antarvariabel, baik simetris, kausal (sebab-akibat), maupun interaktif.
Sumber Masalah Penelitian
Masalah penelitian dapat bersumber dari berbagai hal, seperti pengalaman pribadi, kelanjutan penelitian sebelumnya, literatur akademik, forum ilmiah, observasi langsung, perubahan paradigma pendidikan, fenomena sosial, maupun deduksi dari teori. Dengan demikian, peneliti dituntut memiliki kepekaan tinggi dalam membaca fenomena dan peluang yang layak diteliti.
Ciri-Ciri Masalah yang Baik
Masalah penelitian dikatakan baik bila memiliki kontribusi terhadap pengembangan teori atau praktik, bersifat orisinal, jelas dirumuskan, dan feasible untuk diteliti. Feasibility mencakup aspek waktu, biaya, ketersediaan data, kemampuan peneliti, serta dukungan fasilitas.
Tujuan Penelitian
Tujuan berbeda dengan rumusan masalah. Rumusan masalah biasanya berbentuk pertanyaan, sedangkan tujuan dinyatakan dalam kalimat deklaratif. Tujuan penelitian berfungsi untuk menemukan, mengembangkan, atau menguji kebenaran pengetahuan sesuai dengan sifat penelitian.
Perumusan Masalah dan Judul
Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan identifikasi masalah. Proses perumusannya meliputi persiapan, konfirmasi awal, konfirmasi akhir, dan formulasi akhir. Rumusan yang baik akan mempermudah penetapan judul penelitian. Judul sebaiknya jelas, informatif, tidak terlalu luas maupun sempit, serta mencerminkan variabel, masalah, dan lokasi penelitian. Judul yang tepat menunjukkan bobot penelitian dan daya tarik akademiknya.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang perlu diuji secara empiris. Fungsinya untuk mempersempit ruang lingkup penelitian, memfokuskan data, serta menghubungkan teori dengan observasi. Hipotesis yang baik harus jelas, dapat diuji, sederhana, dan sesuai dengan kerangka teori. Meski demikian, tidak semua penelitian memerlukan hipotesis, misalnya penelitian deskriptif atau kualitatif.
Batasan Masalah
Karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya, peneliti perlu membuat batasan masalah. Hal ini menjaga penelitian tetap fokus dan menghindari bias. Tanpa pembatasan, penelitian berisiko melebar dan kehilangan kejelasan arah.
Kesalahan Umum
Modul ini juga menyoroti kesalahan umum peneliti, seperti konsep yang belum matang, gagasan kurang akurat, kontribusi rendah, hingga ketidaksesuaian metode dengan fenomena yang diteliti. Oleh sebab itu, diperlukan ketajaman berpikir dan kejelian dalam menyusun perumusan masalah.
Penutup
Secara keseluruhan, modul menegaskan bahwa keberhasilan penelitian bergantung pada kualitas perumusan masalah. Masalah yang jelas, orisinal, relevan, dan feasible akan menghasilkan penelitian yang bermanfaat baik secara teoretis maupun praktis. Dengan kata lain, rumusan masalah adalah fondasi utama penelitian.
Nama : Saqila Rahma Andini
NPM : 2313031020
NPM : 2313031020
Nama : Ni Wayan Vara Wulandari
NPM : 2313031017
NAMA : CATUR FEBRIYAN
NPM : 2313031018
NPM : 2313031018
Nama :Muhammad Rizqi Alfiah
Npm : 2313031008
Npm : 2313031008
Nama: Annisa Luthfiyyah
NPM: 2313031010
Nama:Sela Ayu Irawati
Npm:2313031015
Npm:2313031015
Nama : Khoirun Nisa
Npm : 2313031005
Npm : 2313031005
Nama : Irfan A Suki
Npm :2313031013
Npm :2313031013
Nama : Aulya Syifa Z
NPM : 2313031009
Nama : Mar'atus Shalihah
NPM : 2313031025
NPM : 2313031025
Nama : Rieke Nindita Sari
NPM : 2313031019
PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Masalah adalah kesenjangan (discrepancy) antara apa yang seharusnya (harapan) dengan apa yang ada dalam kenyataan sekarang. Kesenjangan tersebut dapat mengacu kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan dan lainnya. Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena atau kesenjangan baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait dengan yang lainnya, mungkin sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
IDENTIFIKASI MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN
Adanya suatu kondisi problematik tertentu, yang menandakan suatu penelitian dapat dikembangkan, yaitu:
1. Adanya kesenjangan dari yang seharusnya (teori maupun fakta empirik temuan penelitian terdahulu) dengan kenyataan sekarang yang dihadapi.
2. Dari kesenjangan tersebut dapat dikembangkan pertanyaan, mengapa kesenjangan itu terjadi.
3. Pertanyaan tersebut memungkinkan untuk dijawab, dan jawabannya lebih dari satu kemungkinan.
SUMBER-SUMBER MASALAH PENELITIAN
1. Pengalaman Pribadi
2. Lanjutan atau Perluasan Penelitian
3. Sumber Kepustakaan: buku Teks, Jurnal, Laporan Penelitian
4. Forum Pertemuan Ilmiah dan Diskusi
5. Observasi atau pengalaman langsung dalam praktek
6. Perubahan Paradigma dalam pendidikan
7. Fenomena Pendidikan dalam kelas, luar kelas dan di Masyarakat
8. Deduksi dari teori
CIRI-CIRI MASALAH YANG BAIK
Masalah dapat dikatakan baik jika memiliki:
1. Kontribusi
2. Orisinalitas
3. Pernyataan Permasalahan
4. Aspek Kelayakan (Feasibility)
Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan mengenai apa yang ingin dicapai dari penelitian yang dilakukan. Rumusan masalah penelitian menggunakan kalimat ‘pertanyaan’ sedangkan Tujuan penelitian menggunakan kalimat ‘pernyataan’. Tujuan penelitian yang diharapkan, sesuai dengan Sifat dan Karakteristik penelitian, yaitu:
a. Tujuan harus ada hubungannya dengan rumusan masalah atau secara eksplisit diarahkan untuk menjawab perumusan masalah.
b. Tujuan penelitian dinyatakan dengan kalimat deklaratif.
c. Tujuan penelitian dikemukakan sebagai sesuatu yang ingin dicapai melalui proses penelitian.
d. Tujuan penelitian harus jelas dan tegas
JUDUL PENELITIAN
Judul penelitian merupakan bagian yang dicantumkan pada bagian paling awal penelitian. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan apa yang kita cari atau ingin kita pelajari. Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks.
Hipotesis ada dua jenis yaitu:
a. Ho adalah hipotesis ditolak
b. H1 adalah hipotesis diterima (biasa dikatakan sebagai hipótesis penelitian)
Namun, tidak setiap penelitian menggunakan hipotesis.
Hipotesis Penelitian:
a. Merupakan suatu pernyataan sementara atau dugaan jawaban yang paling memungkinkan walaupun harus dibuktikan dengan penelitian.
b. Hipotesis merupakan anggapan sementara tentang suatu fenomena tertentu yang akan diselidiki.
c. Kegunaannya untuk membantu peneliti agar proses penelitiannya lebih terarah dan mencapai hasil penelitiannya.
d. Tidak semua penelitian menggunakan hipotesis, khususnya yang menggunakan desain deskriptif, desain eksploratori dan penelitian kualitatif.
e. Dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan.
f. Sudah mengarah (bagaimana bentuk perbedaan atau hubungan yang dipermasalahkan).
g. Banyaknya sesuai dengan kerangka berpikir dan rumusan masalah, tanpa kata ‘diduga’.
Hipotesis Penelitian merupakan bagian penting dalam penelitian, karena dapat menghubungkan antara teori dan observasi dan sebaliknya. Hipotesis ini harus disusun sebelum pengumpulan data, karena dua alasan yaitu:
1. Suatu hipotesis yang baik menunjukkan bahwa penelitian mempunyai pengetahuan yang cukup luas tentang apa yang akan ditelitinya.
2. Hipotesis memberikan petunjuk tentang cara pengumpulan data yang diperlukan dan interprestasinya. Dengan demikian tidak akan terjadi pemborosan waktu yang sia-sia dalam pelaksanaan penelitian.
NPM : 2313031019
PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Masalah adalah kesenjangan (discrepancy) antara apa yang seharusnya (harapan) dengan apa yang ada dalam kenyataan sekarang. Kesenjangan tersebut dapat mengacu kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan dan lainnya. Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena atau kesenjangan baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait dengan yang lainnya, mungkin sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
IDENTIFIKASI MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN
Adanya suatu kondisi problematik tertentu, yang menandakan suatu penelitian dapat dikembangkan, yaitu:
1. Adanya kesenjangan dari yang seharusnya (teori maupun fakta empirik temuan penelitian terdahulu) dengan kenyataan sekarang yang dihadapi.
2. Dari kesenjangan tersebut dapat dikembangkan pertanyaan, mengapa kesenjangan itu terjadi.
3. Pertanyaan tersebut memungkinkan untuk dijawab, dan jawabannya lebih dari satu kemungkinan.
SUMBER-SUMBER MASALAH PENELITIAN
1. Pengalaman Pribadi
2. Lanjutan atau Perluasan Penelitian
3. Sumber Kepustakaan: buku Teks, Jurnal, Laporan Penelitian
4. Forum Pertemuan Ilmiah dan Diskusi
5. Observasi atau pengalaman langsung dalam praktek
6. Perubahan Paradigma dalam pendidikan
7. Fenomena Pendidikan dalam kelas, luar kelas dan di Masyarakat
8. Deduksi dari teori
CIRI-CIRI MASALAH YANG BAIK
Masalah dapat dikatakan baik jika memiliki:
1. Kontribusi
2. Orisinalitas
3. Pernyataan Permasalahan
4. Aspek Kelayakan (Feasibility)
Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan mengenai apa yang ingin dicapai dari penelitian yang dilakukan. Rumusan masalah penelitian menggunakan kalimat ‘pertanyaan’ sedangkan Tujuan penelitian menggunakan kalimat ‘pernyataan’. Tujuan penelitian yang diharapkan, sesuai dengan Sifat dan Karakteristik penelitian, yaitu:
a. Tujuan harus ada hubungannya dengan rumusan masalah atau secara eksplisit diarahkan untuk menjawab perumusan masalah.
b. Tujuan penelitian dinyatakan dengan kalimat deklaratif.
c. Tujuan penelitian dikemukakan sebagai sesuatu yang ingin dicapai melalui proses penelitian.
d. Tujuan penelitian harus jelas dan tegas
JUDUL PENELITIAN
Judul penelitian merupakan bagian yang dicantumkan pada bagian paling awal penelitian. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan apa yang kita cari atau ingin kita pelajari. Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks.
Hipotesis ada dua jenis yaitu:
a. Ho adalah hipotesis ditolak
b. H1 adalah hipotesis diterima (biasa dikatakan sebagai hipótesis penelitian)
Namun, tidak setiap penelitian menggunakan hipotesis.
Hipotesis Penelitian:
a. Merupakan suatu pernyataan sementara atau dugaan jawaban yang paling memungkinkan walaupun harus dibuktikan dengan penelitian.
b. Hipotesis merupakan anggapan sementara tentang suatu fenomena tertentu yang akan diselidiki.
c. Kegunaannya untuk membantu peneliti agar proses penelitiannya lebih terarah dan mencapai hasil penelitiannya.
d. Tidak semua penelitian menggunakan hipotesis, khususnya yang menggunakan desain deskriptif, desain eksploratori dan penelitian kualitatif.
e. Dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan.
f. Sudah mengarah (bagaimana bentuk perbedaan atau hubungan yang dipermasalahkan).
g. Banyaknya sesuai dengan kerangka berpikir dan rumusan masalah, tanpa kata ‘diduga’.
Hipotesis Penelitian merupakan bagian penting dalam penelitian, karena dapat menghubungkan antara teori dan observasi dan sebaliknya. Hipotesis ini harus disusun sebelum pengumpulan data, karena dua alasan yaitu:
1. Suatu hipotesis yang baik menunjukkan bahwa penelitian mempunyai pengetahuan yang cukup luas tentang apa yang akan ditelitinya.
2. Hipotesis memberikan petunjuk tentang cara pengumpulan data yang diperlukan dan interprestasinya. Dengan demikian tidak akan terjadi pemborosan waktu yang sia-sia dalam pelaksanaan penelitian.
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003
Penelitian selalu berawal dari adanya masalah yang perlu ditemukan jawabannya. Masalah penelitian muncul karena ada perbedaan antara harapan dan kenyataan yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah mengenali dan merumuskan masalah dengan jelas. Masalah yang baik adalah masalah yang penting, bermanfaat, bisa dijawab dengan metode ilmiah, serta memiliki hubungan dengan bidang ilmu yang dikaji. Sumber masalah penelitian dapat berasal dari pengalaman pribadi, hasil penelitian terdahulu, fenomena sosial, perkembangan ilmu pengetahuan, maupun kebijakan yang sedang berlaku. Dari berbagai sumber tersebut, peneliti kemudian memilih masalah yang paling relevan untuk dikaji lebih dalam.
Setelah masalah ditemukan, langkah berikutnya adalah merumuskannya dalam bentuk pertanyaan penelitian yang spesifik. Rumusan masalah menjadi dasar utama yang akan mengarahkan seluruh proses penelitian, mulai dari tujuan, teori yang digunakan, hingga metode pengumpulan data dan penarikan kesimpulan. Rumusan masalah bisa bersifat deskriptif jika penelitian hanya ingin menggambarkan suatu keadaan, komparatif jika ingin membandingkan dua atau lebih variabel, atau asosiatif jika ingin mencari hubungan antarvariabel. Dari rumusan masalah inilah peneliti kemudian menetapkan tujuan penelitian, yaitu apa yang ingin dicapai atau dijawab melalui penelitian yang dilakukan.
Tahapan berikutnya adalah menyusun hipotesis, yaitu dugaan sementara terhadap hasil penelitian yang nantinya akan dibuktikan melalui data. Hipotesis disusun berdasarkan teori yang relevan dan harus dapat diuji secara empiris. Sebuah hipotesis yang baik mencerminkan hubungan yang jelas antarvariabel dan dapat diukur kebenarannya melalui penelitian. Hipotesis juga membantu peneliti untuk fokus dan tidak keluar dari konteks permasalahan utama.
Selain itu, penelitian juga membutuhkan penentuan judul yang tepat. Judul penelitian sebaiknya menggambarkan isi dan arah penelitian, memuat variabel yang diteliti, serta menunjukkan hubungan antarvariabel secara singkat dan jelas. Judul yang baik tidak terlalu panjang, namun cukup untuk memberikan gambaran utuh mengenai fokus penelitian. Dalam prosesnya, judul bisa disesuaikan kembali apabila terjadi pengembangan atau penyempurnaan selama penelitian berlangsung.
Secara keseluruhan, proses penelitian harus dilakukan secara sistematis mulai dari penentuan masalah, perumusan tujuan, penyusunan hipotesis, hingga penetapan judul. Semua tahapan ini saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Keberhasilan penelitian sangat bergantung pada sejauh mana peneliti mampu mengenali masalah dan merumuskannya dengan tepat, karena dari sanalah arah penelitian akan ditentukan. Dengan langkah yang terencana dan berlandaskan teori, penelitian dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta membantu memecahkan persoalan yang ada di masyarakat.
NPM: 2313031003
Penelitian selalu berawal dari adanya masalah yang perlu ditemukan jawabannya. Masalah penelitian muncul karena ada perbedaan antara harapan dan kenyataan yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang peneliti adalah mengenali dan merumuskan masalah dengan jelas. Masalah yang baik adalah masalah yang penting, bermanfaat, bisa dijawab dengan metode ilmiah, serta memiliki hubungan dengan bidang ilmu yang dikaji. Sumber masalah penelitian dapat berasal dari pengalaman pribadi, hasil penelitian terdahulu, fenomena sosial, perkembangan ilmu pengetahuan, maupun kebijakan yang sedang berlaku. Dari berbagai sumber tersebut, peneliti kemudian memilih masalah yang paling relevan untuk dikaji lebih dalam.
Setelah masalah ditemukan, langkah berikutnya adalah merumuskannya dalam bentuk pertanyaan penelitian yang spesifik. Rumusan masalah menjadi dasar utama yang akan mengarahkan seluruh proses penelitian, mulai dari tujuan, teori yang digunakan, hingga metode pengumpulan data dan penarikan kesimpulan. Rumusan masalah bisa bersifat deskriptif jika penelitian hanya ingin menggambarkan suatu keadaan, komparatif jika ingin membandingkan dua atau lebih variabel, atau asosiatif jika ingin mencari hubungan antarvariabel. Dari rumusan masalah inilah peneliti kemudian menetapkan tujuan penelitian, yaitu apa yang ingin dicapai atau dijawab melalui penelitian yang dilakukan.
Tahapan berikutnya adalah menyusun hipotesis, yaitu dugaan sementara terhadap hasil penelitian yang nantinya akan dibuktikan melalui data. Hipotesis disusun berdasarkan teori yang relevan dan harus dapat diuji secara empiris. Sebuah hipotesis yang baik mencerminkan hubungan yang jelas antarvariabel dan dapat diukur kebenarannya melalui penelitian. Hipotesis juga membantu peneliti untuk fokus dan tidak keluar dari konteks permasalahan utama.
Selain itu, penelitian juga membutuhkan penentuan judul yang tepat. Judul penelitian sebaiknya menggambarkan isi dan arah penelitian, memuat variabel yang diteliti, serta menunjukkan hubungan antarvariabel secara singkat dan jelas. Judul yang baik tidak terlalu panjang, namun cukup untuk memberikan gambaran utuh mengenai fokus penelitian. Dalam prosesnya, judul bisa disesuaikan kembali apabila terjadi pengembangan atau penyempurnaan selama penelitian berlangsung.
Secara keseluruhan, proses penelitian harus dilakukan secara sistematis mulai dari penentuan masalah, perumusan tujuan, penyusunan hipotesis, hingga penetapan judul. Semua tahapan ini saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Keberhasilan penelitian sangat bergantung pada sejauh mana peneliti mampu mengenali masalah dan merumuskannya dengan tepat, karena dari sanalah arah penelitian akan ditentukan. Dengan langkah yang terencana dan berlandaskan teori, penelitian dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta membantu memecahkan persoalan yang ada di masyarakat.
Nama : Selvidar Armalia
NPM : 2313031014
Nama: Najwa Ayudia Aura Rachim
NPM: 2313031027
Kelas: A
NPM: 2313031027
Kelas: A
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016
Perumusan Masalah Penelitian
Modul menegaskan bahwa penelitian selalu berangkat dari adanya persoalan yang perlu dijawab. Tanpa masalah yang jelas, peneliti tidak memiliki arah dalam merancang langkah penelitian, memilih teori, mengumpulkan data, ataupun menarik kesimpulan. Karena itu, perumusan masalah dianggap sebagai fondasi utama dalam kegiatan ilmiah.
Masalah penelitian dipahami sebagai kesenjangan antara keadaan yang seharusnya terjadi menurut teori atau tujuan yang diharapkan, dengan kondisi yang berlangsung di dunia nyata. Kesenjangan inilah yang memunculkan pertanyaan dan mendorong peneliti mencari penjelasan. Tidak semua masalah dapat dijadikan objek penelitian; hanya masalah yang memunculkan pertanyaan ilmiah, memiliki urgensi yang jelas, dan memungkinkan dijawab melalui metode ilmiah yang dianggap dapat diteliti lebih lanjut. Untuk itu, peneliti perlu menguraikan latar belakang masalah secara terstruktur dan logis, sehingga pembaca memahami mengapa topik tersebut penting untuk dikaji.
Dalam proses mengidentifikasi masalah, peneliti harus mampu menunjukkan kondisi faktual yang menimbulkan persoalan, menjelaskan relevansinya, serta mempertimbangkan apakah penelitian tersebut mungkin dilakukan dengan keterbatasan waktu, data, dan kemampuan. Modul membedakan beberapa jenis masalah yang umum digunakan dalam penelitian: masalah deskriptif yang menekankan gambaran terhadap suatu variabel, masalah komparatif yang mengkaji perbedaan antar kelompok, dan masalah asosiatif atau korelatif yang menyelidiki hubungan antar variabel. Ketiga jenis masalah tersebut direpresentasikan melalui bentuk rumusan yang berbeda sesuai fokus penelitian.
Sumber masalah bisa berasal dari banyak hal: pengalaman pribadi peneliti, temuan penelitian terdahulu, teori yang menimbulkan pertanyaan lanjut, diskusi akademik, perubahan kebijakan, fenomena sosial, hingga pengamatan di lapangan. Modul menegaskan bahwa masalah yang baik tidak hanya menarik perhatian peneliti, tetapi juga memiliki kontribusi teoretis atau praktis bagi bidang yang diteliti. Masalah juga harus realistis untuk dikerjakan, tidak terlalu luas, jelas ruang lingkupnya, dan memungkinkan diperoleh data yang mendukung.
Setelah masalah diidentifikasi, peneliti harus merumuskannya menjadi kalimat yang jelas dan terarah. Rumusan masalah biasanya berupa pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengumpulan data dan analisis. Perumusan masalah merupakan inti penelitian karena akan menentukan teori yang digunakan, teknik pengumpulan data, hingga metode analisis yang relevan. Rumusan masalah untuk penelitian deskriptif, komparatif, maupun asosiatif memiliki pola yang berbeda dan harus disesuaikan dengan tujuan kajian.
Modul kemudian membahas penyusunan judul penelitian. Judul tidak dibuat secara sembarangan, tetapi lahir dari rumusan masalah yang telah matang. Judul harus informatif, spesifik, dan menggambarkan variabel serta ruang lingkup penelitian. Judul yang terlalu panjang atau terlalu singkat, ambigu, atau menggunakan istilah yang tidak jelas perlu dihindari. Judul yang baik mampu memberi gambaran singkat tentang topik utama yang akan diteliti.
Modul menegaskan bahwa proses penelitian harus dimulai dari latar belakang yang kuat, rumusan masalah yang jelas, tujuan penelitian yang ingin dicapai, serta manfaat yang dapat diberikan penelitian tersebut. Keempat komponen ini saling berkaitan dan menentukan kualitas keseluruhan penelitian. Modul juga menyediakan latihan serta tes formatif untuk memastikan pemahaman mahasiswa terhadap perumusan masalah penelitian.
NPM: 2313031016
Perumusan Masalah Penelitian
Modul menegaskan bahwa penelitian selalu berangkat dari adanya persoalan yang perlu dijawab. Tanpa masalah yang jelas, peneliti tidak memiliki arah dalam merancang langkah penelitian, memilih teori, mengumpulkan data, ataupun menarik kesimpulan. Karena itu, perumusan masalah dianggap sebagai fondasi utama dalam kegiatan ilmiah.
Masalah penelitian dipahami sebagai kesenjangan antara keadaan yang seharusnya terjadi menurut teori atau tujuan yang diharapkan, dengan kondisi yang berlangsung di dunia nyata. Kesenjangan inilah yang memunculkan pertanyaan dan mendorong peneliti mencari penjelasan. Tidak semua masalah dapat dijadikan objek penelitian; hanya masalah yang memunculkan pertanyaan ilmiah, memiliki urgensi yang jelas, dan memungkinkan dijawab melalui metode ilmiah yang dianggap dapat diteliti lebih lanjut. Untuk itu, peneliti perlu menguraikan latar belakang masalah secara terstruktur dan logis, sehingga pembaca memahami mengapa topik tersebut penting untuk dikaji.
Dalam proses mengidentifikasi masalah, peneliti harus mampu menunjukkan kondisi faktual yang menimbulkan persoalan, menjelaskan relevansinya, serta mempertimbangkan apakah penelitian tersebut mungkin dilakukan dengan keterbatasan waktu, data, dan kemampuan. Modul membedakan beberapa jenis masalah yang umum digunakan dalam penelitian: masalah deskriptif yang menekankan gambaran terhadap suatu variabel, masalah komparatif yang mengkaji perbedaan antar kelompok, dan masalah asosiatif atau korelatif yang menyelidiki hubungan antar variabel. Ketiga jenis masalah tersebut direpresentasikan melalui bentuk rumusan yang berbeda sesuai fokus penelitian.
Sumber masalah bisa berasal dari banyak hal: pengalaman pribadi peneliti, temuan penelitian terdahulu, teori yang menimbulkan pertanyaan lanjut, diskusi akademik, perubahan kebijakan, fenomena sosial, hingga pengamatan di lapangan. Modul menegaskan bahwa masalah yang baik tidak hanya menarik perhatian peneliti, tetapi juga memiliki kontribusi teoretis atau praktis bagi bidang yang diteliti. Masalah juga harus realistis untuk dikerjakan, tidak terlalu luas, jelas ruang lingkupnya, dan memungkinkan diperoleh data yang mendukung.
Setelah masalah diidentifikasi, peneliti harus merumuskannya menjadi kalimat yang jelas dan terarah. Rumusan masalah biasanya berupa pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengumpulan data dan analisis. Perumusan masalah merupakan inti penelitian karena akan menentukan teori yang digunakan, teknik pengumpulan data, hingga metode analisis yang relevan. Rumusan masalah untuk penelitian deskriptif, komparatif, maupun asosiatif memiliki pola yang berbeda dan harus disesuaikan dengan tujuan kajian.
Modul kemudian membahas penyusunan judul penelitian. Judul tidak dibuat secara sembarangan, tetapi lahir dari rumusan masalah yang telah matang. Judul harus informatif, spesifik, dan menggambarkan variabel serta ruang lingkup penelitian. Judul yang terlalu panjang atau terlalu singkat, ambigu, atau menggunakan istilah yang tidak jelas perlu dihindari. Judul yang baik mampu memberi gambaran singkat tentang topik utama yang akan diteliti.
Modul menegaskan bahwa proses penelitian harus dimulai dari latar belakang yang kuat, rumusan masalah yang jelas, tujuan penelitian yang ingin dicapai, serta manfaat yang dapat diberikan penelitian tersebut. Keempat komponen ini saling berkaitan dan menentukan kualitas keseluruhan penelitian. Modul juga menyediakan latihan serta tes formatif untuk memastikan pemahaman mahasiswa terhadap perumusan masalah penelitian.
Nama : Lis Tiara Putri
NPM : 2213031001
Nama: Yesi Novia Pitriani
NPM: 2313031006
Perumusan masalah penelitian merupakan langkah awal yang sangat menentukan kualitas keseluruhan penelitian, khususnya dalam konteks Studi Mandiri dan Seminar Proposal Penelitian untuk persiapan tesis. Masalah penelitian didefinisikan sebagai kesenjangan antara kondisi ideal (harapan, teori, standar) dengan kenyataan yang terjadi dalam bidang seperti pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Kesenjangan inilah yang melahirkan pertanyaan penelitian yang ingin dijawab melalui proses ilmiah, sehingga rumusan masalah yang jelas dan tajam dianggap sebagai “separuh dari penelitian”.
Tujuan instruksional antara lain agar mahasiswa mampu: menjabarkan inti permasalahan penelitian, memahami ciri masalah penelitian yang baik, menemukan sumber-sumber masalah, menjelaskan tujuan penelitian, merumuskan masalah, dan menyusun rancangan judul penelitian yang sesuai. Peneliti dituntut untuk mampu mengidentifikasi secara konkret masalah yang penting, urgen, dan bermanfaat untuk diteliti, dengan didukung latar belakang yang kuat.
Identifikasi masalah dimulai dari kesadaran bahwa penelitian hanya layak dilakukan jika ada situasi problematik yang nyata dan penting diselesaikan. Latar belakang penelitian berfungsi menjelaskan situasi dan kondisi yang melahirkan masalah, mengungkap kesenjangan antara harapan dan kenyataan, serta menunjukkan alasan akademik dan praktis mengapa masalah tersebut menarik dan layak diteliti dalam batas kemampuan, waktu, dan biaya peneliti. Ditekankan bahwa pentingnya pembatasan masalah agar penelitian fokus, tidak melebar, dan mengurangi bias, misalnya dengan memilih faktor-faktor tertentu saja yang diteliti dari sekian banyak faktor yang mungkin berpengaruh.
Sumber-sumber masalah penelitian dapat berasal dari pengalaman pribadi, kelanjutan penelitian sebelumnya, literatur (buku, jurnal, laporan penelitian), forum ilmiah dan diskusi, observasi langsung, perubahan paradigma pendidikan, fenomena pendidikan di kelas maupun masyarakat, serta deduksi dari teori. Dari berbagai sumber ini, peneliti harus memilih masalah yang esensial (penting secara ilmiah), urgen (perlu segera dipecahkan), dan bermanfaat (memberi kegunaan bagi pengembangan ilmu dan praktik). Perbedaan antara masalah dan peluang; peluang adalah kondisi yang menguntungkan bila dimanfaatkan, tetapi dapat menjadi ancaman jika tidak dimanfaatkan oleh peneliti sendiri.
Ciri-ciri masalah penelitian yang baik mencakup kontribusi, orisinalitas, kejelasan pernyataan, dan kelayakan. Kontribusi mencakup potensi pengembangan teori, perbaikan metode, dan manfaat aplikatif. Orisinalitas menuntut adanya kebaruan, baik pada masalah, kerangka konsep, maupun pendekatan. Dari sisi kelayakan, masalah harus dapat dijawab secara ilmiah, realistis dikerjakan dalam keterbatasan peneliti, serta didukung fasilitas yang cukup.
Masalah penelitian dibagi menjadi tiga jenis utama: deskriptif, komparatif, dan asosiatif/korelatif. Problema deskriptif berfokus pada penggambaran kondisi suatu variabel, problema komparatif membandingkan satu atau lebih variabel pada dua atau lebih kelompok, sedangkan problema asosiatif mencari hubungan antarvariabel, baik simetris, kausal, maupun interaktif. Bentuk rumusan masalah mengikuti jenis tersebut dan umumnya disarankan dalam bentuk kalimat tanya agar lebih tajam dan spesifik.
Selain itu, hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang akan diuji secara empiris, yang menghubungkan teori dengan observasi dan mengarahkan pengumpulan serta analisis data. Hipotesis disusun berdasarkan landasan teori yang relevan, dirumuskan dalam kalimat pernyataan yang jelas, dan tidak selalu wajib pada semua jenis penelitian (misalnya tidak mutlak pada penelitian deskriptif atau kualitatif). Judul penelitian sebaiknya ditetapkan setelah identifikasi dan perumusan masalah, harus singkat, jelas, spesifik, memuat variabel yang diteliti, serta mencerminkan fokus dan aktualitas masalah penelitian.
NPM: 2313031006
Perumusan masalah penelitian merupakan langkah awal yang sangat menentukan kualitas keseluruhan penelitian, khususnya dalam konteks Studi Mandiri dan Seminar Proposal Penelitian untuk persiapan tesis. Masalah penelitian didefinisikan sebagai kesenjangan antara kondisi ideal (harapan, teori, standar) dengan kenyataan yang terjadi dalam bidang seperti pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Kesenjangan inilah yang melahirkan pertanyaan penelitian yang ingin dijawab melalui proses ilmiah, sehingga rumusan masalah yang jelas dan tajam dianggap sebagai “separuh dari penelitian”.
Tujuan instruksional antara lain agar mahasiswa mampu: menjabarkan inti permasalahan penelitian, memahami ciri masalah penelitian yang baik, menemukan sumber-sumber masalah, menjelaskan tujuan penelitian, merumuskan masalah, dan menyusun rancangan judul penelitian yang sesuai. Peneliti dituntut untuk mampu mengidentifikasi secara konkret masalah yang penting, urgen, dan bermanfaat untuk diteliti, dengan didukung latar belakang yang kuat.
Identifikasi masalah dimulai dari kesadaran bahwa penelitian hanya layak dilakukan jika ada situasi problematik yang nyata dan penting diselesaikan. Latar belakang penelitian berfungsi menjelaskan situasi dan kondisi yang melahirkan masalah, mengungkap kesenjangan antara harapan dan kenyataan, serta menunjukkan alasan akademik dan praktis mengapa masalah tersebut menarik dan layak diteliti dalam batas kemampuan, waktu, dan biaya peneliti. Ditekankan bahwa pentingnya pembatasan masalah agar penelitian fokus, tidak melebar, dan mengurangi bias, misalnya dengan memilih faktor-faktor tertentu saja yang diteliti dari sekian banyak faktor yang mungkin berpengaruh.
Sumber-sumber masalah penelitian dapat berasal dari pengalaman pribadi, kelanjutan penelitian sebelumnya, literatur (buku, jurnal, laporan penelitian), forum ilmiah dan diskusi, observasi langsung, perubahan paradigma pendidikan, fenomena pendidikan di kelas maupun masyarakat, serta deduksi dari teori. Dari berbagai sumber ini, peneliti harus memilih masalah yang esensial (penting secara ilmiah), urgen (perlu segera dipecahkan), dan bermanfaat (memberi kegunaan bagi pengembangan ilmu dan praktik). Perbedaan antara masalah dan peluang; peluang adalah kondisi yang menguntungkan bila dimanfaatkan, tetapi dapat menjadi ancaman jika tidak dimanfaatkan oleh peneliti sendiri.
Ciri-ciri masalah penelitian yang baik mencakup kontribusi, orisinalitas, kejelasan pernyataan, dan kelayakan. Kontribusi mencakup potensi pengembangan teori, perbaikan metode, dan manfaat aplikatif. Orisinalitas menuntut adanya kebaruan, baik pada masalah, kerangka konsep, maupun pendekatan. Dari sisi kelayakan, masalah harus dapat dijawab secara ilmiah, realistis dikerjakan dalam keterbatasan peneliti, serta didukung fasilitas yang cukup.
Masalah penelitian dibagi menjadi tiga jenis utama: deskriptif, komparatif, dan asosiatif/korelatif. Problema deskriptif berfokus pada penggambaran kondisi suatu variabel, problema komparatif membandingkan satu atau lebih variabel pada dua atau lebih kelompok, sedangkan problema asosiatif mencari hubungan antarvariabel, baik simetris, kausal, maupun interaktif. Bentuk rumusan masalah mengikuti jenis tersebut dan umumnya disarankan dalam bentuk kalimat tanya agar lebih tajam dan spesifik.
Selain itu, hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang akan diuji secara empiris, yang menghubungkan teori dengan observasi dan mengarahkan pengumpulan serta analisis data. Hipotesis disusun berdasarkan landasan teori yang relevan, dirumuskan dalam kalimat pernyataan yang jelas, dan tidak selalu wajib pada semua jenis penelitian (misalnya tidak mutlak pada penelitian deskriptif atau kualitatif). Judul penelitian sebaiknya ditetapkan setelah identifikasi dan perumusan masalah, harus singkat, jelas, spesifik, memuat variabel yang diteliti, serta mencerminkan fokus dan aktualitas masalah penelitian.
Nama : Marista Febria Safutri
NPM : 2313031007
SUMMARY MODUL 1 – PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Modul ini membahas secara komprehensif tentang konsep dasar permasalahan penelitian, cara mengidentifikasi, merumuskan, dan menyusunnya sebagai fondasi dari keseluruhan kegiatan penelitian. Di awal, modul menegaskan bahwa perumusan masalah merupakan tahap yang paling krusial dalam penelitian, bahkan dianggap sebagai setengah dari keseluruhan proses penelitian. Sebab, seluruh proses mulai dari penyusunan tujuan, kerangka teori, pengajuan hipotesis, metode, analisis data, hingga interpretasi hasil sangat bergantung pada kejelasan rumusan masalah yang digunakan.
Makna Permasalahan Penelitian
Masalah penelitian dipahami sebagai kesenjangan (discrepancy) antara kondisi ideal atau harapan dengan kenyataan aktual. Kesenjangan ini dapat muncul di bidang pendidikan, teknologi, ekonomi, sosial, budaya, maupun sektor lainnya. Namun tidak semua kesenjangan otomatis layak menjadi masalah penelitian; masalah yang dapat diteliti harus memiliki potensi untuk dikaji secara ilmiah, dapat dijawab, dan memiliki nilai manfaat teoritis maupun praktis.
Suatu kondisi dianggap problematik jika memenuhi tiga unsur utama:
Terdapat kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi.
Dari kesenjangan tersebut muncul pertanyaan “mengapa hal ini terjadi?”.
Pertanyaan tersebut memungkinkan untuk dijawab melalui penelitian dan memiliki lebih dari satu kemungkinan jawaban.
Pentingnya Latar Belakang Masalah
Modul menekankan bahwa sebelum merumuskan masalah penelitian, peneliti perlu menyusun latar belakang masalah yang menggambarkan situasi, kondisi, dan alasan pentingnya masalah tersebut dikaji. Latar belakang harus berisi uraian kesenjangan antara teori dan praktik, fenomena lapangan, variabel-variabel yang memengaruhi, serta alasan akademik dan praktis mengapa penelitian perlu dilakukan. Latar belakang juga menjadi dasar untuk menunjukkan urgensi dan relevansi masalah.
Identifikasi Masalah dan Kriteria Permasalahan yang Layak
Identifikasi masalah dilakukan dengan memetakan sebanyak mungkin persoalan yang muncul dari fenomena yang dikaji. Namun peneliti harus memilih masalah yang paling esensial, urgen, dan bermanfaat. Tiga kriteria utama masalah penelitian yang baik adalah:
Kontribusi – dapat memberi manfaat teoretis, metodologis, dan aplikatif.
Orisinalitas – tidak sekadar mengulang penelitian yang sudah ada.
Feasibility – dapat diteliti dengan sumber daya yang tersedia (waktu, biaya, kemampuan peneliti, dan akses data).
Setelah identifikasi dilakukan, peneliti wajib menetapkan batasan masalah agar fokus penelitian tidak melebar dan tetap relevan dengan tujuan penelitian.
Sumber-Sumber Masalah Penelitian
Modul menguraikan berbagai sumber masalah penelitian yang dapat digali, antara lain:
Pengalaman pribadi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman akademik.
Penelitian terdahulu, terutama bagian saran penelitian.
Literatur ilmiah seperti buku, jurnal, atau laporan penelitian.
Diskusi di forum ilmiah atau konsultasi dengan pakar.
Observasi langsung di lapangan.
Perubahan paradigma pendidikan, termasuk kurikulum dan metode pembelajaran.
Fenomena sosial dan pendidikan baik di kelas, sekolah, maupun masyarakat.
Deduksi dari teori atau kajian teoretis baru.
Hal ini menunjukkan bahwa masalah penelitian dapat muncul dari berbagai konteks akademik maupun praktis.
Jenis-Jenis Problema Penelitian
Modul membagi problema penelitian ke dalam tiga jenis utama:
Deskriptif – menggambarkan fenomena atau variabel tanpa perbandingan atau hubungan.
Komparatif – membandingkan dua atau lebih fenomena.
Asosiatif/Korelatif – mencari hubungan antar variabel, baik simetris, kausal, maupun interaktif.
Kategori ini penting karena menentukan bentuk rumusan masalah dan rancangan penelitian yang akan digunakan.
Perumusan Masalah Penelitian
Merumuskan masalah berbeda dengan mengidentifikasi masalah. Rumusan masalah merupakan pertanyaan penelitian yang spesifik, tajam, dan jelas serta menggambarkan kesenjangan yang ingin dijawab. Rumusan masalah idealnya berbentuk kalimat interogatif untuk memudahkan fokus penelitian, meskipun tidak wajib.
Untuk menghasilkan rumusan masalah yang baik, peneliti harus melalui langkah-langkah:
Mengidentifikasi fenomena problematik.
Menganalisis kesenjangan.
Mengkaji literatur yang relevan.
Menentukan inti permasalahan yang paling penting.
Merumuskan pertanyaan yang sesuai dengan metode dan jenis penelitian.
Modul juga menguraikan berbagai kesalahan umum dalam perumusan masalah, seperti konsep yang belum matang, kontribusi yang lemah, ketidaktepatan metode, dan rumusan yang terlalu umum atau ambigu.
Judul Penelitian, Tujuan, dan Hipotesis
Penetapan judul dilakukan setelah masalah dan rumusan masalah ditentukan. Judul harus mencerminkan variabel, ruang lingkup, dan desain penelitian secara jelas, akurat, dan tidak terlalu luas maupun sempit. Judul yang baik juga menonjolkan signifikansi penelitian baik secara teoretis maupun praktis.
Tujuan penelitian dirumuskan sebagai pernyataan deklaratif yang menjawab rumusan masalah. Sementara itu, hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian dan digunakan pada penelitian kuantitatif yang memiliki variabel terukur.
Hipotesis memiliki peran penting dalam menentukan arah penelitian, fokus data yang dikumpulkan, serta proses analisis. Ciri hipotesis yang baik mencakup dapat diuji, selaras dengan teori, sederhana, serta menunjukkan hubungan antarvariabel.
NPM : 2313031007
SUMMARY MODUL 1 – PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Modul ini membahas secara komprehensif tentang konsep dasar permasalahan penelitian, cara mengidentifikasi, merumuskan, dan menyusunnya sebagai fondasi dari keseluruhan kegiatan penelitian. Di awal, modul menegaskan bahwa perumusan masalah merupakan tahap yang paling krusial dalam penelitian, bahkan dianggap sebagai setengah dari keseluruhan proses penelitian. Sebab, seluruh proses mulai dari penyusunan tujuan, kerangka teori, pengajuan hipotesis, metode, analisis data, hingga interpretasi hasil sangat bergantung pada kejelasan rumusan masalah yang digunakan.
Makna Permasalahan Penelitian
Masalah penelitian dipahami sebagai kesenjangan (discrepancy) antara kondisi ideal atau harapan dengan kenyataan aktual. Kesenjangan ini dapat muncul di bidang pendidikan, teknologi, ekonomi, sosial, budaya, maupun sektor lainnya. Namun tidak semua kesenjangan otomatis layak menjadi masalah penelitian; masalah yang dapat diteliti harus memiliki potensi untuk dikaji secara ilmiah, dapat dijawab, dan memiliki nilai manfaat teoritis maupun praktis.
Suatu kondisi dianggap problematik jika memenuhi tiga unsur utama:
Terdapat kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi.
Dari kesenjangan tersebut muncul pertanyaan “mengapa hal ini terjadi?”.
Pertanyaan tersebut memungkinkan untuk dijawab melalui penelitian dan memiliki lebih dari satu kemungkinan jawaban.
Pentingnya Latar Belakang Masalah
Modul menekankan bahwa sebelum merumuskan masalah penelitian, peneliti perlu menyusun latar belakang masalah yang menggambarkan situasi, kondisi, dan alasan pentingnya masalah tersebut dikaji. Latar belakang harus berisi uraian kesenjangan antara teori dan praktik, fenomena lapangan, variabel-variabel yang memengaruhi, serta alasan akademik dan praktis mengapa penelitian perlu dilakukan. Latar belakang juga menjadi dasar untuk menunjukkan urgensi dan relevansi masalah.
Identifikasi Masalah dan Kriteria Permasalahan yang Layak
Identifikasi masalah dilakukan dengan memetakan sebanyak mungkin persoalan yang muncul dari fenomena yang dikaji. Namun peneliti harus memilih masalah yang paling esensial, urgen, dan bermanfaat. Tiga kriteria utama masalah penelitian yang baik adalah:
Kontribusi – dapat memberi manfaat teoretis, metodologis, dan aplikatif.
Orisinalitas – tidak sekadar mengulang penelitian yang sudah ada.
Feasibility – dapat diteliti dengan sumber daya yang tersedia (waktu, biaya, kemampuan peneliti, dan akses data).
Setelah identifikasi dilakukan, peneliti wajib menetapkan batasan masalah agar fokus penelitian tidak melebar dan tetap relevan dengan tujuan penelitian.
Sumber-Sumber Masalah Penelitian
Modul menguraikan berbagai sumber masalah penelitian yang dapat digali, antara lain:
Pengalaman pribadi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman akademik.
Penelitian terdahulu, terutama bagian saran penelitian.
Literatur ilmiah seperti buku, jurnal, atau laporan penelitian.
Diskusi di forum ilmiah atau konsultasi dengan pakar.
Observasi langsung di lapangan.
Perubahan paradigma pendidikan, termasuk kurikulum dan metode pembelajaran.
Fenomena sosial dan pendidikan baik di kelas, sekolah, maupun masyarakat.
Deduksi dari teori atau kajian teoretis baru.
Hal ini menunjukkan bahwa masalah penelitian dapat muncul dari berbagai konteks akademik maupun praktis.
Jenis-Jenis Problema Penelitian
Modul membagi problema penelitian ke dalam tiga jenis utama:
Deskriptif – menggambarkan fenomena atau variabel tanpa perbandingan atau hubungan.
Komparatif – membandingkan dua atau lebih fenomena.
Asosiatif/Korelatif – mencari hubungan antar variabel, baik simetris, kausal, maupun interaktif.
Kategori ini penting karena menentukan bentuk rumusan masalah dan rancangan penelitian yang akan digunakan.
Perumusan Masalah Penelitian
Merumuskan masalah berbeda dengan mengidentifikasi masalah. Rumusan masalah merupakan pertanyaan penelitian yang spesifik, tajam, dan jelas serta menggambarkan kesenjangan yang ingin dijawab. Rumusan masalah idealnya berbentuk kalimat interogatif untuk memudahkan fokus penelitian, meskipun tidak wajib.
Untuk menghasilkan rumusan masalah yang baik, peneliti harus melalui langkah-langkah:
Mengidentifikasi fenomena problematik.
Menganalisis kesenjangan.
Mengkaji literatur yang relevan.
Menentukan inti permasalahan yang paling penting.
Merumuskan pertanyaan yang sesuai dengan metode dan jenis penelitian.
Modul juga menguraikan berbagai kesalahan umum dalam perumusan masalah, seperti konsep yang belum matang, kontribusi yang lemah, ketidaktepatan metode, dan rumusan yang terlalu umum atau ambigu.
Judul Penelitian, Tujuan, dan Hipotesis
Penetapan judul dilakukan setelah masalah dan rumusan masalah ditentukan. Judul harus mencerminkan variabel, ruang lingkup, dan desain penelitian secara jelas, akurat, dan tidak terlalu luas maupun sempit. Judul yang baik juga menonjolkan signifikansi penelitian baik secara teoretis maupun praktis.
Tujuan penelitian dirumuskan sebagai pernyataan deklaratif yang menjawab rumusan masalah. Sementara itu, hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian dan digunakan pada penelitian kuantitatif yang memiliki variabel terukur.
Hipotesis memiliki peran penting dalam menentukan arah penelitian, fokus data yang dikumpulkan, serta proses analisis. Ciri hipotesis yang baik mencakup dapat diuji, selaras dengan teori, sederhana, serta menunjukkan hubungan antarvariabel.
Nama : malik Fajar
NPM : 2213031090
Di dalam modul tersebut menekankan bahwa penelitian yang dimulai tanpa perumusan masalah yang tepat akan berisiko tidak menghasilkan apa-apa. Perumusan masalah penelitian adalah inti dari proses penelitian karena berfungsi sebagai panduan untuk mengembangkan kerangka teori, merumuskan hipotesis, dan mendesain metodologi penelitian yang sesuai.
Masalah penelitian didefinisikan sebagai perbedaan antara kenyataan yang ada dan apa yang seharusnya terjadi. Perbedaan ini bisa merujuk pada bidang seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya, serta pendidikan. Perumusan masalah yang baik adalah langkah awal yang krusial dalam penelitian, karena memberikan peneliti panduan yang jelas dalam seluruh tahapan penelitian mulai dari perancangan hingga analisis data.
Pentingnya merumuskan masalah dengan benar, yang digambarkan sebagai setengah dari proses penelitian. Hal ini karena perumusan masalah memungkinkan peneliti untuk mengembangkan kerangka konsep, melakukan operasionalisasi konsep, dan merancang penelitian yang sesuai. Dengan perumusan masalah yang jelas, seorang peneliti dapat memilih judul penelitian, menulis tujuan, dan memprediksi keberhasilan penelitian.
Dalam modul ini, dijelaskan bahwa masalah penelitian dapat diidentifikasi dari beberapa sumber, seperti pengalaman pribadi, penelitian sebelumnya, kepustakaan, forum ilmiah, diskusi, hingga observasi langsung di lapangan. Sumber-sumber ini membantu peneliti dalam menemukan kesenjangan antara teori dan kenyataan yang ada.
Setiap masalah yang diidentifikasi tidak serta-merta bisa dijadikan permasalahan penelitian. Beberapa kondisi harus dipenuhi untuk menentukan apakah masalah tersebut layak untuk diteliti, seperti adanya kesenjangan antara teori atau fakta yang ada dengan kenyataan saat ini, serta kemampuan untuk menjawab pertanyaan yang timbul dari kesenjangan tersebut.
Ciri-ciri masalah penelitian yang baik adalah sebagai berikut:
1. Kontribusi: Masalah yang baik harus memberikan kontribusi, baik dalam pengembangan teori, metode, maupun manfaat aplikatif.
2. Orisinalitas: Masalah yang diangkat haruslah orisinal, bukan pengulangan dari penelitian lain.
3. Feasibility (Kelayakan): Masalah tersebut harus bisa dijawab, dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu, biaya, serta fasilitas yang ada.
Jenis-jenis masalah penelitian menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Masalah Deskriptif: Masalah yang berkaitan dengan pertanyaan tentang variabel yang berdiri sendiri. Tujuannya untuk mengetahui status atau mendeskripsikan fenomena tersebut.
2. Masalah Komparatif: Masalah yang membandingkan dua fenomena atau lebih untuk mencari persamaan dan perbedaan.
3. Masalah Asosiatif: Masalah yang mencari hubungan antara dua variabel atau lebih. Hubungan ini bisa berupa hubungan simetris, kausal, atau interaktif.
Setelah mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah merumuskannya dalam bentuk kalimat interogatif. Rumusan masalah harus mempertanyakan kesenjangan yang ditemukan atau yang ingin diuji peneliti, dan sebaiknya menggunakan kalimat tanya agar lebih spesifik dan tajam. Rumusan masalah yang baik akan membantu penelitian menjadi lebih fokus dan terarah.
Beberapa sumber yang dapat menjadi dasar perumusan masalah penelitian antara lain:
1. Pengalaman pribadi: Masalah bisa muncul dari pengalaman akademik atau pekerjaan.
2. Penelitian sebelumnya: Penelitian sebelumnya dapat memberikan saran atau rekomendasi untuk penelitian lanjutan.
3. Kepustakaan: Buku teks, jurnal, dan laporan penelitian bisa menjadi sumber masalah.
4. Forum ilmiah: Diskusi dengan pakar atau orang yang lebih berpengalaman dapat membuka wawasan untuk penelitian.
5. Observasi langsung: Hasil pengamatan langsung di lapangan dapat menjadi sumber masalah.
Tanpa perumusan masalah yang jelas, penelitian tidak akan berjalan dengan baik. Perumusan masalah yang kuat memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan tujuan yang jelas dan hasilnya bermanfaat. Penelitian dianggap penting jika ada masalah yang mendesak untuk dipecahkan dan dapat memberikan kontribusi signifikan.
Jadi, dalam modul tersebut menekankan pentingnya perumusan masalah dalam penelitian. Perumusan masalah yang tepat akan memandu peneliti untuk menentukan tujuan, mengembangkan hipotesis, dan merancang penelitian yang sesuai. Identifikasi masalah yang akurat, pemilihan sumber yang tepat, dan perumusan masalah yang jelas akan memastikan penelitian berjalan dengan efektif dan memberikan hasil yang bermanfaat.
NPM : 2213031090
Di dalam modul tersebut menekankan bahwa penelitian yang dimulai tanpa perumusan masalah yang tepat akan berisiko tidak menghasilkan apa-apa. Perumusan masalah penelitian adalah inti dari proses penelitian karena berfungsi sebagai panduan untuk mengembangkan kerangka teori, merumuskan hipotesis, dan mendesain metodologi penelitian yang sesuai.
Masalah penelitian didefinisikan sebagai perbedaan antara kenyataan yang ada dan apa yang seharusnya terjadi. Perbedaan ini bisa merujuk pada bidang seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya, serta pendidikan. Perumusan masalah yang baik adalah langkah awal yang krusial dalam penelitian, karena memberikan peneliti panduan yang jelas dalam seluruh tahapan penelitian mulai dari perancangan hingga analisis data.
Pentingnya merumuskan masalah dengan benar, yang digambarkan sebagai setengah dari proses penelitian. Hal ini karena perumusan masalah memungkinkan peneliti untuk mengembangkan kerangka konsep, melakukan operasionalisasi konsep, dan merancang penelitian yang sesuai. Dengan perumusan masalah yang jelas, seorang peneliti dapat memilih judul penelitian, menulis tujuan, dan memprediksi keberhasilan penelitian.
Dalam modul ini, dijelaskan bahwa masalah penelitian dapat diidentifikasi dari beberapa sumber, seperti pengalaman pribadi, penelitian sebelumnya, kepustakaan, forum ilmiah, diskusi, hingga observasi langsung di lapangan. Sumber-sumber ini membantu peneliti dalam menemukan kesenjangan antara teori dan kenyataan yang ada.
Setiap masalah yang diidentifikasi tidak serta-merta bisa dijadikan permasalahan penelitian. Beberapa kondisi harus dipenuhi untuk menentukan apakah masalah tersebut layak untuk diteliti, seperti adanya kesenjangan antara teori atau fakta yang ada dengan kenyataan saat ini, serta kemampuan untuk menjawab pertanyaan yang timbul dari kesenjangan tersebut.
Ciri-ciri masalah penelitian yang baik adalah sebagai berikut:
1. Kontribusi: Masalah yang baik harus memberikan kontribusi, baik dalam pengembangan teori, metode, maupun manfaat aplikatif.
2. Orisinalitas: Masalah yang diangkat haruslah orisinal, bukan pengulangan dari penelitian lain.
3. Feasibility (Kelayakan): Masalah tersebut harus bisa dijawab, dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu, biaya, serta fasilitas yang ada.
Jenis-jenis masalah penelitian menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Masalah Deskriptif: Masalah yang berkaitan dengan pertanyaan tentang variabel yang berdiri sendiri. Tujuannya untuk mengetahui status atau mendeskripsikan fenomena tersebut.
2. Masalah Komparatif: Masalah yang membandingkan dua fenomena atau lebih untuk mencari persamaan dan perbedaan.
3. Masalah Asosiatif: Masalah yang mencari hubungan antara dua variabel atau lebih. Hubungan ini bisa berupa hubungan simetris, kausal, atau interaktif.
Setelah mengidentifikasi masalah, langkah selanjutnya adalah merumuskannya dalam bentuk kalimat interogatif. Rumusan masalah harus mempertanyakan kesenjangan yang ditemukan atau yang ingin diuji peneliti, dan sebaiknya menggunakan kalimat tanya agar lebih spesifik dan tajam. Rumusan masalah yang baik akan membantu penelitian menjadi lebih fokus dan terarah.
Beberapa sumber yang dapat menjadi dasar perumusan masalah penelitian antara lain:
1. Pengalaman pribadi: Masalah bisa muncul dari pengalaman akademik atau pekerjaan.
2. Penelitian sebelumnya: Penelitian sebelumnya dapat memberikan saran atau rekomendasi untuk penelitian lanjutan.
3. Kepustakaan: Buku teks, jurnal, dan laporan penelitian bisa menjadi sumber masalah.
4. Forum ilmiah: Diskusi dengan pakar atau orang yang lebih berpengalaman dapat membuka wawasan untuk penelitian.
5. Observasi langsung: Hasil pengamatan langsung di lapangan dapat menjadi sumber masalah.
Tanpa perumusan masalah yang jelas, penelitian tidak akan berjalan dengan baik. Perumusan masalah yang kuat memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan tujuan yang jelas dan hasilnya bermanfaat. Penelitian dianggap penting jika ada masalah yang mendesak untuk dipecahkan dan dapat memberikan kontribusi signifikan.
Jadi, dalam modul tersebut menekankan pentingnya perumusan masalah dalam penelitian. Perumusan masalah yang tepat akan memandu peneliti untuk menentukan tujuan, mengembangkan hipotesis, dan merancang penelitian yang sesuai. Identifikasi masalah yang akurat, pemilihan sumber yang tepat, dan perumusan masalah yang jelas akan memastikan penelitian berjalan dengan efektif dan memberikan hasil yang bermanfaat.