1. Perspektif biologis-tempramen, Gagasan ini berfokus pada kesesuaian temperamen dan kondisi pengasuhan serta pentingnya agen sosialisasi, seperti orang tua dan guru, mengubah praktik mereka agar “sesuai” dengan karakteristik temperamental anak, dengan sedikit perhatian diberikan pada kontribusi pengalaman terhadap perkembangan temperamen. (misalnya, bagaimana dukungan orang tua dapat membantu anak-anak mengurangi kecenderungan reaksi ketakutan mereka terhadap lingkungan yang menantang). Meski demikian, argumen Thomas dan Chess, serta argumen Rothbart dan Lerner, memberikan landasan bagi eksplorasi faktor lingkungan, termasuk budaya, dalam perkembangan temperamen dan hubungannya dengan penyesuaian sosial dan psikologis.
2. Tahapan Psikoseksual (Sigmund Freud) Fase Lisan (0-1 Tahun) Sumber Kenikmatan utama bayi melibatkan aktivitas yang berpusat pada mulut, seperti menelan (makan, minum) dan menghisap (menyusu, memasukkan jari-jari tanagn ke mulut). Fase Anal (1-3 Tahun) Anak mendapatkan kepusan seksual dengan menahan atau melepaskan feses. Zona kepuasnnya adalh daerah anal dan toilet pelatihan merupakan aktivitas penting Fase Falik (3 6 Tahun) Anak menjadi lengket dengan hiasan tua dari jenis kelamin berlainan dan kemudian identifikasinya dengan orang tua berjenis kelamin sama. Superego berkembang. Zona kepuasannya bergeser kedaerah genital. Periode Laten (6- 12 Tahun) Masa yang relatif tenang diantara tahapan-tahapan yang lebih bergelora. Fase Kelamin (12 Tahun ke atas) Kemunculan kembali dorongan tahap seksual falik, disalurkan ke kematangan seksualitas masadewasa.
Tahapan Psikososial (Erik Erikson) Kepercayaan dasar VS Ketidakpercayaan (lahir hingga 12-18 Bulan) Bayi mengembangkan perasaan bahwa dunia merupakan tempat yang baik dan aman. Hikmah Harapan. Otonomi (Kemandirian) VS Rasa malu dan ragu (12-18 Bulan hingga 3 Tahun) Anak mengembangkan keseimbangan kemandirian dan kepuasan diri terhadap rasa malu dan keraguan. Hikmah Kehendak. Inisiatif VS Rasa bersalah (3 hingga 6 Tahun) Anak mengembangkan inisiatif ketika mencoba aktivitas baru dan tidak terlalu terbebani oleh rasa bersalah. Hikmah Tujuan. Industri VS inferioritas (6 12 Tahun) Anak harus belajar keterampilan budaya atau menghadapi perasaan tidak kompeten.
3. Teori belajar Skinner didasarkan atas gagasan bahwa belajar adalah fungsi perubahan perilaku individu secara jelas. Perubahan perilaku tersebut diperoleh sebagai hasil respon individu terhadap kejadian (stimulus) dari lingkungan.
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara rangsangan dan tanggapan, tetapi rangsangan dan tanggapan yang dimaksud harus dapat diamati dan diukur. Dia mengakui bahwa perubahan mental terjadi ketika seseorang belajar, tetapi menganggap faktor-faktor ini tidak dapat diamati dan karena itu tidak perlu.
Teori belajar sosial Albert Bandura menyimpulkan bahwa manusia mengambil informasi dan memutuskan tingkah laku yang akan diadopsi berdasarkan lingkungan dan tingkah laku orang lain yang ada disekitarnya (Suardi, 2018).
4. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget atau teori Piaget menunjukkan bahwa kecerdasan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. Perkembangan kognitif seorang anak bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, anak juga harus mengembangkan atau membangun mental. Sementara Vygotsky percaya bahwa tingkat kognitif anak-anak akan meningkat melalui instruksi dari individu yang lebih berpengetahuan (scaffolding). Selain itu, Piaget percaya anak-anak hanya akan belajar ketika mereka mencapai asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan.
5. Teori ekologi dicetuskan oleh Urie Bronfenbrenner (1917-2005). Dalam teori ini lebih mengedepankan faktor lingkungan daripada faktor biologis. Teori ini menekankan pentingnya dimensi mikro dan makro dari lingkungan yang menjadi tempat hidup anak. Teori ekologi Bronfenbrenner (Bronfenbrenner, 1986, 2004; Bronfenbrenner & Morris, 1998, 2006) menyatakan bahwa perkembangan mencerminkan pengaruh dari sejumlah sistem lingkungan.[1] Adapun sistem lingkungan yang diidentifikasi dalam teori ini yaitu mikrositem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem.
6. Perspektif Evolusionari/ Sosio-biologik -Teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth
• teori evolusionari
Bowlby memandang keterikatan sebagai produk proses evolusi Meskipun teori perilaku keterikatan menyatakan bahwa keterikatan adalah proses yang dipelajari, Bowlby dan yang lainnya berpendapat bahwa anak-anak dilahirkan dengan dorongan bawaan untuk membentuk keterikatan dengan pengasuhnya. Ainsworth mengungkapkan dampak mendalam dari keterikatan terhadap perilaku. Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati anak-anak berusia antara 12 dan 18 bulan ketika mereka merespons situasi di mana mereka ditinggal sendirian sebentar dan kemudian dipertemukan kembali dengan ibu mereka
• teori sosio-biologik
Dalam konteks teori keterikatan, penting untuk membedakan perilaku keterikatan dan ikatan keterikatan. Perilaku kelekatan adalah perilaku bayi yang mendorong kedekatan dengan sosok kelekatan, seperti tersenyum dan bersuara Namun, ikatan keterikatan digambarkan oleh Ainsworth dan Bowlby bukan sebagai hubungan diadik dan timbal balik antara bayi dan pengasuhnya, melainkan sebagai interpretasi bayi terhadap hubungannya dengan ibunya.
• Teori attachment
Kelekatan (attachment) merupakan istilah yang pertama kali ditemukan oleh seorang psikologi dari Inggris yang bernama John Bowlby. Kelekatan merupakan tingkah laku yang khusus pada manusia, yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain dan mencari kepuasan dalam hubungan dengan orang tersebut. terbentuknya kelekatan (attachment), aspek percaya yaitu percaya figur lekat memandang positif diri anak, anak percaya kebaikan hati figur lekat, aspek komunikasi berupa intensitas komunikasi dengan figur lekat dan keterbukaankomunikasi dengan figur lekat, aspek kedekatan dalam arti puas terhadap kualitas hubungandengan figur lekat juga afiliasi dengan figur lekat.
7. Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak.
2. Tahapan Psikoseksual (Sigmund Freud) Fase Lisan (0-1 Tahun) Sumber Kenikmatan utama bayi melibatkan aktivitas yang berpusat pada mulut, seperti menelan (makan, minum) dan menghisap (menyusu, memasukkan jari-jari tanagn ke mulut). Fase Anal (1-3 Tahun) Anak mendapatkan kepusan seksual dengan menahan atau melepaskan feses. Zona kepuasnnya adalh daerah anal dan toilet pelatihan merupakan aktivitas penting Fase Falik (3 6 Tahun) Anak menjadi lengket dengan hiasan tua dari jenis kelamin berlainan dan kemudian identifikasinya dengan orang tua berjenis kelamin sama. Superego berkembang. Zona kepuasannya bergeser kedaerah genital. Periode Laten (6- 12 Tahun) Masa yang relatif tenang diantara tahapan-tahapan yang lebih bergelora. Fase Kelamin (12 Tahun ke atas) Kemunculan kembali dorongan tahap seksual falik, disalurkan ke kematangan seksualitas masadewasa.
Tahapan Psikososial (Erik Erikson) Kepercayaan dasar VS Ketidakpercayaan (lahir hingga 12-18 Bulan) Bayi mengembangkan perasaan bahwa dunia merupakan tempat yang baik dan aman. Hikmah Harapan. Otonomi (Kemandirian) VS Rasa malu dan ragu (12-18 Bulan hingga 3 Tahun) Anak mengembangkan keseimbangan kemandirian dan kepuasan diri terhadap rasa malu dan keraguan. Hikmah Kehendak. Inisiatif VS Rasa bersalah (3 hingga 6 Tahun) Anak mengembangkan inisiatif ketika mencoba aktivitas baru dan tidak terlalu terbebani oleh rasa bersalah. Hikmah Tujuan. Industri VS inferioritas (6 12 Tahun) Anak harus belajar keterampilan budaya atau menghadapi perasaan tidak kompeten.
3. Teori belajar Skinner didasarkan atas gagasan bahwa belajar adalah fungsi perubahan perilaku individu secara jelas. Perubahan perilaku tersebut diperoleh sebagai hasil respon individu terhadap kejadian (stimulus) dari lingkungan.
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara rangsangan dan tanggapan, tetapi rangsangan dan tanggapan yang dimaksud harus dapat diamati dan diukur. Dia mengakui bahwa perubahan mental terjadi ketika seseorang belajar, tetapi menganggap faktor-faktor ini tidak dapat diamati dan karena itu tidak perlu.
Teori belajar sosial Albert Bandura menyimpulkan bahwa manusia mengambil informasi dan memutuskan tingkah laku yang akan diadopsi berdasarkan lingkungan dan tingkah laku orang lain yang ada disekitarnya (Suardi, 2018).
4. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget atau teori Piaget menunjukkan bahwa kecerdasan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. Perkembangan kognitif seorang anak bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, anak juga harus mengembangkan atau membangun mental. Sementara Vygotsky percaya bahwa tingkat kognitif anak-anak akan meningkat melalui instruksi dari individu yang lebih berpengetahuan (scaffolding). Selain itu, Piaget percaya anak-anak hanya akan belajar ketika mereka mencapai asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan.
5. Teori ekologi dicetuskan oleh Urie Bronfenbrenner (1917-2005). Dalam teori ini lebih mengedepankan faktor lingkungan daripada faktor biologis. Teori ini menekankan pentingnya dimensi mikro dan makro dari lingkungan yang menjadi tempat hidup anak. Teori ekologi Bronfenbrenner (Bronfenbrenner, 1986, 2004; Bronfenbrenner & Morris, 1998, 2006) menyatakan bahwa perkembangan mencerminkan pengaruh dari sejumlah sistem lingkungan.[1] Adapun sistem lingkungan yang diidentifikasi dalam teori ini yaitu mikrositem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem.
6. Perspektif Evolusionari/ Sosio-biologik -Teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth
• teori evolusionari
Bowlby memandang keterikatan sebagai produk proses evolusi Meskipun teori perilaku keterikatan menyatakan bahwa keterikatan adalah proses yang dipelajari, Bowlby dan yang lainnya berpendapat bahwa anak-anak dilahirkan dengan dorongan bawaan untuk membentuk keterikatan dengan pengasuhnya. Ainsworth mengungkapkan dampak mendalam dari keterikatan terhadap perilaku. Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati anak-anak berusia antara 12 dan 18 bulan ketika mereka merespons situasi di mana mereka ditinggal sendirian sebentar dan kemudian dipertemukan kembali dengan ibu mereka
• teori sosio-biologik
Dalam konteks teori keterikatan, penting untuk membedakan perilaku keterikatan dan ikatan keterikatan. Perilaku kelekatan adalah perilaku bayi yang mendorong kedekatan dengan sosok kelekatan, seperti tersenyum dan bersuara Namun, ikatan keterikatan digambarkan oleh Ainsworth dan Bowlby bukan sebagai hubungan diadik dan timbal balik antara bayi dan pengasuhnya, melainkan sebagai interpretasi bayi terhadap hubungannya dengan ibunya.
• Teori attachment
Kelekatan (attachment) merupakan istilah yang pertama kali ditemukan oleh seorang psikologi dari Inggris yang bernama John Bowlby. Kelekatan merupakan tingkah laku yang khusus pada manusia, yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain dan mencari kepuasan dalam hubungan dengan orang tersebut. terbentuknya kelekatan (attachment), aspek percaya yaitu percaya figur lekat memandang positif diri anak, anak percaya kebaikan hati figur lekat, aspek komunikasi berupa intensitas komunikasi dengan figur lekat dan keterbukaankomunikasi dengan figur lekat, aspek kedekatan dalam arti puas terhadap kualitas hubungandengan figur lekat juga afiliasi dengan figur lekat.
7. Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak.