Kiriman dibuat oleh Rahmawati Ayu Anggraeni

Nama: Rahmawati Ayu Anggraeni
Npm : 2213054057

1. Struktur bimbingan dan konseling
Struktur program bimbingan diklasifikasikan kedalam empat jenis layanan yaitu:
A. Layanan Dasar Bimbingan
1. pengertian
Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada semua sissa (for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal.
2. Tujuan
Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan layanan dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar: (1) memiliki kesadaran (pemahaman)tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
3. Materi
Untuk mencapai tujuan tersebut, kepada siswa disajikan materi layanan yang menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu siswa dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Materi layanan dasar bimbingan dapat diambil dari berbagai sumber, seperti majalah, buku, dan koran. Materi yang diberikan, disamping masalah yang menyangkut pengembangan sosial-pribadi, dan belajar, juga materi yang dipandang utama bagi siswa SLTP/SLTA, yaitu yang menyangkut karir. Materi-materi tersebut, diantaranya : (a) fungsi agama bagi kehidupan, (b) pemantapan pilihan program studi, (c) keterampilan kerja professional, (d) kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmani-rohani) dalam menghadapi pekerjaan, (e) perkembangan dunia kerja, (f) iklim kehidupan dunia kerja, (g) cara melamar pekerjaan, (h) kasus-kasus kriminalitas, (i) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (j) dampak pergaulan bebas. Materi lainnya yang dapat diberikan kepada para siswa adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan self-esteem
2. Pengembangan motif berprestasi
3. Keterampilan pengambilan keputusan
4. Keterampilan pemecahan masalah
5. Keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi
6. Memahami keragaman lintas budaya
7. Perilaku yang bertanggung jawab
B. Layanan Responsif
1. Pengertian
Layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera.
2. Tujuan
Tujuan layanan responsive adalah membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.
Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan atau pengembangan masalah pengembangan pendidikan
3. Materi
Materi layanan responsif bergantung kepada masalah atau kebutuhan siswa. Masalah dan kebutuhan siswa berkaitan dengan keinginan untuk memahami tentang suatu hal karena dipandang penting bagi perkembangan dirinya yang positif. Kebutuhan ini seperti keinginan untuk memperoleh informasi tentang bahaya obat terlarang, minuman keras, narkotika, pergaulan bebas dan sebagainya.
Masalah siswa lainnya adalah yang berkaitan dengan berbagai hal yang dialami atau dirasakan mengganggu kenyamanan hidupnya atau menghambat perkembangan dirinya yang positif, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Masalah siswa pada umumnya tidak mudah diketahui secara langsung tetapi dapat dipahami melalui gejala-gejala perilaku yang ditampilkannya.
Maslah (gejala masalah ) yang mungkin dialami siswa diantaranya: (a) merasa cemas tentang masa depan, (b) merasa rendah hati, (c) perilaku impulsif (kekanak-kanakan atau melakukan suatu tanpa mempertimbangkannya secara matang), (d) membolos dari sekolah, (e) malas belajar, (f) kurang memiliki kebiasaan belajar yang positif, (g) kurang bisa bergaul, (h) prestasi belajar rendah, (i) malas beribadah, (j) malas bergaul bebas (free seks), (k) masalah tauran, (l) manajemen stress dan (m) malas dalam keluarga.
Untuk memahami kebutuhan dan masalah siswa dapat ditempuh dengan cara menganalisis data siswa, baik yang bersumber dari inventori tugas-tugas berkembang (ITP), angket siswa, wawancara, observasi, sosiometri, daftar hadir siswa, leger, psikotes dan daftar masalah siswa atau alat ungkap masalah (AUM).
C. Layanan perencanaan individual
1. Pengertian
Layanan ini diartikan” proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktifitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya. Berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya”.
2. Tujuan
Layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang kelak dirumuskan nya.
Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri. Isi atau materi perencanaan individual adalah hal-hal yang menjadi kebutuhan siswa untuk memahami secara khusus tentang perkembangan dirinya sendir. Dengan demikian meskipun perencanaan individual ditujukan untuk memandu seluruh siswa, layanan yang diberikan lebih bersifat individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing siswa. Melalui layanan perencanaan individual, siswa dapat :
a. Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan karir, dan mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja, dan masyarakat.
b. Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya.
c. Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
d. Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.
3. Materi
Materi layanan perencanaan individual berkaitan erat dengan pengembangan aspek akademik, karir, dan sosial-pribadi. Materi pengembangan aspek (akademik) meliputi: memanfaatkan keterampilan belajar, melakukan pemilihan pendidikan lanjutan atau pilihan jurusan, memilih kursus atau pelajaran tambahan yang tepat, dan memahami nilai belajar sepanjang hayat; (b) karir meliputi: mengeksplorasi peluang-peluang karir, mengeksplorasi latihan-latihan pekerjaan, memahami kebutuhan untuk kebiasaan bekerja yang positif; dan (c) sosial-pribadi meliputi: pengembangan konsep diri yang positif, dan pengembangan keterampilan sosial yang efektif.
D. Layanan dukungan sistem
Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada siswa secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan siswa adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).
Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah. Dukungan sistem meliputi dua aspek yaitu: (1) pemberian layanan, dan (2) kegiatan manajemen.
1. Pemberian layanan konsultasi/kolaborasi
Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor) yang meliputi (a) konsultasi dengan guru-guru, (b) menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (c) berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah, (d) bekerjasama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa, (e) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.
2.2 Kegiatan manajemen
Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan (a) pengembangan program, (b) pengembangan staf, (c) pemanfaatan sumber daya, dan (d) pengembangan penataan kebijakan.
Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut:
a. Rasional berisi latar belakang penyusunan program bimbingan didasarkan atas landasan konseptual, hokum maupun empiric.
b. Visi dan misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan BK yang mendukung visi, misi dan tujuan sekolah
c. Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan institusi terhadap layanan bimbingan. Data diperoleh dengan mempergunakan instrument yang dapat dipertanggungjawabkan
d. Tujuan, berdasarkan kebutuhan ditetapkan kompetensi yang dicapai siswa berdasarkan perkembangan
e. Komponen program: (1) layanan dasar, program yang secar umum dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas; (2) layanan responsif, program yang secara khusus dibutuhkan untuk membantu para siswa yang memerlukan layanan bantuan khusu; (3) layanan perencanaan individual, program yang memfasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan mengelola diri dan merancang masa depan; dan (4) dukungan sistem, kebijakan yang mendukung keterlaksanaan program, program jejaring baik internal sekolah maupun eksternal.
f. Rencana operasional kegiatan
g. Pengembangan tema atau topic (silabus layanan)
h. Pengembangan satuan layanan bimbingan
i. evaluasi

2. Evaluasi bimbingan perkembangan
Evaluasi bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan untuk membenahi program-program yang kurang berhasil. Untuk menghasilkan evaluasi bimbingan dan konseling yang tepat kita harus mengetahui tujuan yang akan dicapai serta dari mana evaluasi akan dimulai. Evaluasi bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk menentukan derajat kualitas pelaksanaan program kegiatan bimbingan dan konseling.
Evaluasi kegiatan bimbingan dan konseling mempunyai dua tujuan yaitu secara umum dan secara khusus. Tujuan umum evaluasi bimbingan dan konseling adalah untuk mengetahui ketercapaian pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Sedangkan tujuan khusus dari evaluasi bimbingan dan konseling adalah untuk mengetahui ketercapaian program sesuai dengan jabaran atau butir-butir kegiatan program layanan yang telah di susun dalam program bimbingan dan konseling, misalnya: program pengumpulan data, kegiatan bimbingan karir, konseling individual, konseling kelompok dll.
Fungsi evaluasi kegiatan bimbingan konseling adalah memberikan umpan balik kepada guru pembimbing (konselor) untuk memperbaiki atau mengembangkan program bimbingan dan konseling dan memberikan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan atas perkembangan sikap, perkembangan perilaku, dan perkembangan potensi subyek yang dibimbing.
Nama: Rahmawati Ayu Anggraeni
Npm : 2213054057

1. Pendekatan perkembangan dalam bimbingan dan konseling
a. Pendekatan krisis
Pendekatan ini disebut juga pendekatan kuratif merupakan upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah. Bimbingan ini bertujuan mengatasi krisis atau masalah-masalah yang dialami individu. Dalam pendekatan krisis pembimbing menunggu individu yang datang. Selanjutnya, mereka memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dirasakan individu.
b. Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial merupakan pendekatan bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kelemahan atau kekurangan. Tujuan bimbingan ini adalah untuk membantu memperbaiki kekurangan atau kelemahan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini, pembimbing memfokuskan tujuannya pada kelemahan-kelemahan individu dan selanjutnya berupaya untuk memperbaikinya.
c. Pendekatan preventif
Pendekatan yang diarahkan pada antisipasi masalah-masalah umum individu, untuk mencegah masalah tersebut menimpa individu. Pembimbing memberikan beberapa upaya, seperti informasi dan keterampilan untuk mencegah masalah tersebut. Masalah-masalah yang dimaksud seperti putus sekolah, berkelahi, merokok, membolos, menyontek, bermain game online dan sejenisnya yang secara potensial masalah itu dapat terjadi pada peserta didik secara umum.
d. Pendekatan Perkembangan
Pendekatan perkembangan menekankan pada pengembangan potensi dan kekuatan yang ada pada individu secara optimal. Setiap individu memiliki potensi tertentu melalui penerapan berbagai teknik bimbingan potensi. Dalam pendekatan ini, layanan bimbingan diberikan kepada semua individu, bukan hanya pada individu yang menghadapi masalah. Bimbingan perkembangan dapat dilaksanakan secara individual, kelompok, bahkan klasikal melalui layanan pemberian informasi, diskusi, proses kelompok, serta penyaluran bakat dan minat.

2. Teknik dalam pendekatan perkembangan
a. Mengajar, menyampaikan suatu ilmu kepada seseorang dengan tujuan menguasai pengetahuan.
b. Pemberian informasi, adanya interaksi pemberian suatu pengetahuan
c. Bermain peran, metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung untuk memerankan suatu cerita pada kehidupan nyata
d. Melatih, pelatihan peserta didik dan membimbing
e. Tutorial, dimana tutor memberikan bantuan atau bimbingan belajar yang berkaitan dengan materi ajar kepada peserta didik
f. Konseling, konseling adalah proses pemberian bantuan melalui diskusi tatap muka untuk seseorang yang mengalami masalah
tertentu.

3. Prinsip pendekatan perkembangan
dalam bimbingan
a. Bimbingan dan konseling dibutuhkan oleh semua anak
b. Bimbingan dan konseling perkembangan berfokus dalam mengembangkan kegiatan belajar anak
c. Guru atau pendamping merupakan fungsionaris bersama dalam program bimbingan perkembangan
d. Kurikulum yang terencana dan terorganisasi merupakan komponen penting dalam bimbingan perkembangan
e. Bimbingan perkembangan memperhatikan aspek perkembangan penerimaan diri, pemahaman diri,
dan penganyaan diri anak
f. Bimbingan dan konseling perkembangan membantu mendorong proses tumbuh kembang anak awal
g. Bimbingan perkembangan mengakui perkembangan yang terarah daripada akhir pengembangan yang definitif
h. Bimbingan perkembangan sebagai kegiatan yang berorientasi pada tim, semestinya dilaksanakan oleh tenaga ahli konselor yang profesional
i. Bimbingan perkembangan peduli dengan identifikasi awal akan kebutuhan-kebutuhan khusus anak
j. Bimbingan perkembangan peduli dengan penerapan aspek-aspek psikologi
k. Bimbingan perkembangan memiliki kerangka dasar yang berlandaskan pada kajian psikologi anak, psikologi perkembangan dan teori belajar
l. Bimbingan perkembangan peduli dengan identifikasi awal akan kehidupan-kehidupan khusus anak

4. Unsur-unsur lingkungan perkembangan
a. Unsur Peluang
Unsur ini berkaitan dengan topik yang disajikan yang memungkinkan anak mempelajari perilaku-perilaku baru. Hal ini mengandung implikasi bahwa tujuan tema yang terkandung dalam kurikulum yang diorganisasikan harus dimaknai dan dijabarkan ke dalam tujuan pengembangan pribadi, sosial, karier, keterampilan berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah, dan pengembangan konsep diri.
b. Unsur Pendukung
Unsur ini berkaitan dengan proses pengembangan interaksi yang dapat menumbuhkan kemampuan anak untuk mempelajari perilaku baru baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Unsur pendukung ini berkaitan dengan upaya guru dalam pengembangan relasi jaringan yang memungkinkan anak mengembangkan kemampuan dan keterlibatan anak di dalam proses interaksi.
c. Unsur Penghargaan
Esensi unsur ini terletak pada penilaian dan pemberian balikan yang dapat memperkuat pembentukan perilaku baru. Penilaian dan balikan ini perlu dilakukan sepanjang proses bimbingan berlangsung. Diagnosis dilakukan
untuk mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi anak dan perbaikan serta penguatan dilakukan untuk membentuk pola-pola perilaku baru.
Nama: Rahmawati Ayu Anggraeni
Npm : 2213054057

1. Perkembangan anak usia dini adalah kemajuan yang dialami anak secara menyeluruh, mulai dari segi fisik hingga sosio-emosional anak. Usia dini adalah masa kritis bagi anak karena di periode inilah otak anak berkembang dengan sangat pesat dan masih bisa berubah sesuai bentukan orangtua hingga faktor lingkungan.
Perkembangan anak merupakan sebuah proses di mana seorang anak berubah dari waktu ke waktu. Hal itu mencakup seluruh periode, mulai dari konsepsi hingga anak tersebut menjadi orang dewasa yang berfungsi penuh.

2. Setiap anak memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda-beda. Untuk memahami bagaimana perkembangan anak , juga perlu dipahami permasalahan-permasalahan apa yang dialami anak selama perkembangannya. Hal ini perlu di lakukan agar kita benar-benar dapat mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada diri anak.
Permasalahan yang dihadapi anak dapat dilihat melalui tingkah laku yang ditunjukkan anak maupun keluhan-keluhan yang disampaikan oleh orang-orang sekitar anak. Permasalahan perkembangan yang dihadapi anak sesuai dengan masing-masing aspek perkembangan.
1. Permasalahan dalam perkembangan Fisik-Motorik
Pola perubahan yang cenderung berbeda pada setiap anak menyebabkan pertumbuhan fisik anak-anak tampak berbeda satu sama lain. Pertumbuhan fisik yang dialami anak akan mempengaruhi proses perkembangan motoriknya. Perkembangan motoric berarti perkembangan pengendalian jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot-otot yang terkoordinasi. Sebagian waktu anak dihabiskan dengan bergerak dan kegiatan bergerak ini akan sangat menggunakan otot-otot yang ada pada tubuhnya.
Dalam perkembangan ini mungkin ditemukan beberapa hambatan, seperti: a. Gangguan fungsi panca indra; b. Cacat Tubuh; c. Kegemukan (obesitas); d. Gangguan gerak peniruan (stereotip)
2. Permasalahan dalam perkembangan kognitif
Kemampuan kognitif anak harus dikembangkan secara optimal karena menyangkut kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari anak.
3.  Permasalahan dalam perkembangan Bahasa
Kemampuan perkembangan bahas merupakan aspek penting yang perlu dikuasai anak, tetapi tidak semua anak mampu menguasai kemampuan ini. Selain itu masalah perkembangan Bahasa terkait dengan terbatasnya pembendaharaan kata anak atau adanya gangguan artikulasi seperti sulit mengucap huruf r, sy, l, f z, atau c.
4. Permasalahan dalam perkembangan sosial
Beberapa masalah social yang sering dialami anak adalah ingin menag sendiri, dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Nama : Rahmawati Ayu Anggraeni
Npm : 2213054057
1. Perspektif Biologis – Temperamen
Perspektif ini mengemukakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh faktor genetik dan biologis. Temperamen, yaitu pola pengaruh biologis yang muncul pada awal kehidupan, merupakan salah satu contoh bagaimana perspektif biologis dapat digunakan untuk memahami kepribadian manusia.
2. Perspektif Psikoanalisis - Teori psikoseksual dari Freud - Teori psikososial dari Erikson
Teori psikoanalisis merupakan teori yang berusaha untuk menjelaskan tentang hakikat dan perkembangan kepribadian manusia. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya.
a. Konsep Psikoseksual Sigmund Freud
Menurut Arif (2005) membicarakan masalah psikoseksual sebenarnya adalah membahas masalah bertumbuh-kembangnya kepribadian sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan tubuh, di mana faktor seksualitas memainkan peranan kunci. Maka teori Freud pun tak jauh dari istilah tersebut Freud percaya energi psikoseksual, atau libido, digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku. Menurut Freud kepribadian sebagian besar dibentuk pada lima tahun pertama dan akan berpengaruh besar terhadap perkembangan selanjutnya di kemudian hari. Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Freud membagi perkembangan psikoseksual menjadi 5 tahapan,
1. Fase Oral yaitu antara usia 0-1,5 tahun, dikatakan fase oral karena pada masa ini bagi bayi, mulut merupakan hal yang dapat memicu kesenangannya dengan mencicipi atau menghisap sesuatu, contohnya seperti menghisap tangannya sendiri atau payudara ibu.
2. Fase Anal Yaitu antara usia 1,5-3 tahun, pada tahap ini fungsi utama libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Contohnya seperti melatih anak untuk buang air kecil atau besar ke toilet dengan baik.
3. Fase Phallic yaitu antara usia 3-5 tahun, pada fase ini fokus utama libido adalah pada alat kelamin. Yang terpenting pada fase ini yaitu munculnya oedipus complex, yang diikuti oleh fenomena castration anxiety (Kecemasan terpotongnya penis) pada laki-laki dan penis envy(kecemburuan penis) pada perempuan. oedipus complex yaitu ketika anak laki-laki akan menganggap ayahnya sebagai kompetitornya dalam berebut kasih sayang ibunya, pun pada perempuan sebaliknya.
4. Fase Laten yaitu antara usia 5-12 tahun/pubertas, pada fase ini libido seakan “tidur” dan akan bangkit lagi dengan kekuatan penuh kelak di masa pubertas tiba. Di fase ini, anak akan memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang berbagai hal
5. Fase Genital yaitu usia 12 tahun (pubertas) sampai seterusnya merupakan tahap akhir dari psikoseksual. Pada fase ini seseorang akan mengalami perubahan yang besar dalam diri maupun dunianya, dan masa ini pula seseorang akan mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis.
2. Konsep Psikososial Erik H. Erikson
Teori psikososial adalah teori yang menjelaskan bahwa perkembangan manusia dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang menjadikan manusia matang secara fisik dan psikologis. Menurut Erikson setiap tahap memiliki kemungkinan pemecahan positif maupun negatif. Kegagalan pada tahap tertentu akan mempengaruhi tahap-tahap berikutnya. Erikson membagi rentang kehidupan dalam delapan tahap dengan nama, dan komponen-komponen dasar sebagai berikut : masa bayi, tahap percaya lawan tidak percaya; masa kanak-kanak, tahap otonomi lawan rasa malu dan ragu-ragu; usia prasekolah, tahap inisiatif lawan rasa bersalah; usia sekolah, tahap industri lawan rasa rendah diri; masa remaja, tahap identitas lawan keraguan akan identitas; masa awal dewasa, tahap keakraban lawan perasaan terasing;masa dewasa, tahap produktif lawan keadaan pasif; dan masa tua, tahap integritas lawan putus asa.
3. Perspektif Pembelajaran Teori Skinner, Watson dan Bandura

a. Teori Skinner
BF Skinner (1904-1990) mengembangkan penjelasan tentang pembelajaran yang menekankan konsekuensi perilaku—apa yang terjadi setelah kita melakukan sesuatu adalah hal yang penting.
Misalnya, bayangkan seorang anak berusia 10 tahun yang menyukai makanan manis. Ayahnya terus-menerus mendesaknya sepanjang musim panas untuk memotong rumput: “Lakukan hari ini, lakukan sebelum aku pulang, atau yang lain.” Namun ibunya, yang memiliki pemahaman cerdas tentang perilaku manusia, menemukan bahwa toko setempat menjual es krim batangan yang disukai putranya, namun harganya agak mahal. Dia menjanjikannya sebuah paket setiap minggu setelah dia memotong rumput. Pada akhir musim panas, anak laki-laki tersebut memotong rumput secara teratur tanpa ancaman, paksaan, atau omelan. Penggunaan penguatan yang terampil sangat meningkatkan perilaku yang diinginkan. Pengondisian operan mengacu pada bagaimana konsekuensi suatu perilaku meningkatkan atau menurunkan kemungkinan perilaku tersebut akan terulang kembali.
b. Teori Watson
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur.
c. Bandura
Teori belajar sosial Albert Bandura menyimpulkan bahwa manusia mengambil informasi dan memutuskan tingkah laku yang akan diadopsi berdasarkan lingkungan dan tingkah laku orang lain yang ada disekitarnya (Suardi, 2018). Terdapat beberapa literature yang telah mengkaji mengenai teori belajar sosial Albert Bandura ini.
Menurut Bandura, suatu perilaku belajar adalah hasil dari kemampuan individu memaknai suatu pengetahuan atau informasi, memaknai suatu model yang ditiru, kemudian mengolah secara kognitif dan menentukan tindakan sesuai tujuan yang dikehendaki.
4. Perspektif Kognitif - Teori Piaget and Vygotsky
a. Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek seperti mainan, perabot, dan makanan serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua dan teman. Bagaimana cara anak mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek dan peristiwa-peristiwa dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut. Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi.
Teori Piaget merupakan akar revolusi kognitif saat ini yang menekankan pada proses mental. Piaget mengambil perspektif organismik, yang memandang perkembangan kognitif sebagai produk usaha anak untuk memahami dan bertindak dalam dunia mereka. Menurut Piaget, bahwa perkembangan kognitif dimulai dengan kemampuan bawaan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Dengan kemampuan bawaan yang bersifat biologis itu, Piaget mengamati bayi-bayi mewarisi reflek-reflek seperti reflek menghisap. Reflek ini sangat penting dalam bulan-bulan pertama kehidupan mereka, namun semakin berkurang signifikansinya pada perkembangan selanjutnya. Jean Piaget menyelidiki mengapa dan bagaimana kemampuan mental berubah lama-kelamaan. Bagi Piaget, perkembangan bergantung sebagian besar pada manipulasi anak terhadap dan interaksi aktif dengan lingkungan. Dalam pandangan Piaget, pengetahuan berasal dari tindakan. Teori perkembangan kognisi Piaget menyatakan bahwa kecerdasan atau kemampuan kognisi seorang anak mengalami kemajuan melalui empat tahap yang jelas. Masing-masing tahap dicirikan oleh kemunculan kemampuan-kemampuan baru dan cara mengolah informasi.
b. Vygotsky
Berbeda dari Piaget, Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan kognisi sangat terkait dengan masakan dari orang-orang lain. Teori Vygotsky mengatakan bahwa pembelajaran mendahului perkembangan. Bagi Vygotsky, pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi dari orang lain. Perkembangan melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain, kemampuan ini disebut pengaturan diri (self regulation).
5. Perspektif Kontekstual - Teori ekologi Bronfren brenner
Teori ekologi diperkenalkan oleh Uri Bronfenbrenner, seseorang ahli psikologi dari Cornell University Amerika Serikat.26 Teori ekologi memandang bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh konteks lingkungan. Hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan akan membentuk tingkah laku individu tersebut. Informasi lingkungan tempat tinggal anak akan menggambarkan, mengorganisasi, dan mengklarifikasi efek dari lingkungan yang bervariasi. Bronfenbrenner menyebutkan adanya lima sistem lingkungan berlapis yang saling berkaitan, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem.Satu hal yang terpenting dalam teori ekologi Brofen benner adalah bahwa pengkajian perkembangan anak dari subsistem manapun, harus berpusat pada anak, artinya pengalaman hidup anak yang dianggap menjadi penggerak utama bagi perkembangan karakter dan habitatnya di kemudian hari. Masing-masing subsistem dalam teori Brofen brenner tersebut dapat diuraikan sebagaimana berikut:
a. Mikrosistem
Mikrosistem merupakan lingkungan yang paling dekat dengan pribadi peserta didik yaitu meliputi keluarga, guru, individu, teman-teman sebaya, sekolah, lingkungan tempat tinggal, dan hal-hal lain yang sehari-hari ditemui oleh peserta didik. Dalam mikrosistem inilah terjadi interaksi yang paling langsung dengan agen-agen sosial tersebut. Individu tidak dipandang sebagai penerima pengalaman yang pasif dalam setting ini, tetapi individu bahkan ikut aktif membangun setting pada mikrosistem ini.
b. Mesosistem
Mesosistem mencakup interaksi di antara mikrosistem di mana masalah yang terjadi dalam sebuah mikrosistem akan berpengaruh pada kondisi mikrosistem yang lain. Misalnya hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, dan pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya, serta hubungan keluarga dengan tetangga.
c. Ekosistem
Eksosistem adalah sistem sosial yang lebih besar di mana anak tidak terlibat interaksi secara langsung, akan tetapi dapat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak.
d. Makrosistem
Makrosistem adalah sistem lapisan terluar dari lingkungan anak. Subsistem makrosistem terdiri dari ideologi negara, pemerintah, tradisi, agama, hukum, adat istiadat, budaya, nilai masyarakat secara umum, dan lain sebagainya, di mana individu berada. Prinsip-prinsip yang terdapat dalam lapisan makrosistem tersebut akan berpengaruh pada keseluruhan interaksi di semua lapisan.
e. Kronosistem
Kronosistem mencakup pengaruh lingkungan dari waktu ke waktu beserta caranya mempengaruhi perkembangan dan perilaku. Contohnya seperti perkembangan teknologi dengan produk-produk turunannya, seperti internet dan gadget, membuat peserta didik mahir, nyaman, dan terbiasa menggunakannya untuk pendidikan maupun hiburan.
6. Perspektif Evolusionari/ Sosio-biologik -Teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth
a. Bowlby
Attachment adalah ikatan emosional dengan orang lain. Bowlby percaya bahwa ikatan paling awal yang dibentuk oleh anak-anak dengan pengasuhnya memiliki dampak luar biasa yang berlanjut sepanjang hidup. Ia berpendapat bahwa keterikatan juga berfungsi untuk menjaga bayi tetap dekat dengan ibunya, sehingga meningkatkan peluang anak untuk bertahan hidup.
Bowlby memandang keterikatan sebagai produk proses evolusi. Meskipun teori keterikatan perilaku menyatakan bahwa keterikatan adalah proses yang dipelajari, Bowlby dan yang lainnya berpendapat bahwa anak-anak dilahirkan dengan dorongan bawaan untuk membentuk keterikatan dengan pengasuhnya.
b. Ainsworth
Menurut Ainsworth (1969) attachment adalah ikatan emosional yang dibentuk seorang individu dengan orang lain yang bersifat spesifik, mengikat mereka dalan suatu attachment yang bersifat kekal sepanjang waktu. Attachment merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut (Durkin, 1995). Attachment merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (Mc Cartney dan Dearing, 2002).

7. Perspektif Moral – Teori Kohlberg
Teori perkembangan moral Kohlberg merupakan teori yang berfokus pada bagaimana anak mengembangkan moralitas dan penalaran moral. Teori Kohlberg menyatakan bahwa perkembangan moral terjadi dalam serangkaian enam tahap dan logika moral terutama terfokus pada pencarian dan pemeliharaan keadilan.
Nama : Rahmawati Ayu Anggraeni
NPM: 2213054057

1. Karakteristik
Karakteristik perkembangan AUD, yaitu :
1. Anak usia dini bersifat unik
2. Anak usia dini berada dalam masa potensial
3. Anak usia dini bersifat relatif spontan
4. Anak usia dini cenderung ceroboh
5. Anak usia dini bersifat aktif dan energik
6. Anak usia dini bersifat egosentris
7. Anak usia dini memiliki rasa ingin tahu yang kuat

2. Ciri-ciri
a. Terjadinya perubahan
dalam aspek fisik (perubahan berat badan dan organ-organ tubuh) dan aspek psikis (matangnya kemampuan berpikir,mengingat dan
berkreasi).
b. Terjadinya perubahan
dalam proporsi; aspek fisik
(proporsi tubuh anak
berubah sesuai dengan fase
perkembangannya) dan aspek psikis (perubahan imajinasi
dari fantasi ke realitas).
c. Lenyapnya tanda-tanda
lam; tanda- tanda fisik
(lenyapnya kelenjar
thymus kelenjar anak-anak
seiring bertambahnya usia)
aspek psikis (lenyapnya
gerak-gerik kanak-kanak
dan perilaku impulsif).
d. Diperoleh tanda-tanda
yang baru: tanda-tanda
fisik (pergantian gigi dan
karakter seks usia remaja)
tanda-tanda psikis
(berkembangnya rasa ingin
tahu tentang pengetahuan, moral, interaksi dengan
lawan jenis).

3. Prinsip perkembangan AUD
a. Perkembangan merupakan proses yang
tidak pernah berhenti (never ending process)
b. Semua aspek perkembangan saling
mempengaruhi
c. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah
tertentu.
d. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.
e. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas

4. Aspek-aspek perkembangan AUD
a. Aspek nilai moral
lingkup perkembangan moral pada anak usia dini meliputi kemampuan untuk bertindak sopan, jujur, penolong, hormat, toleran terhadap perbedaan orang lain, sportif, serta menjaga kebersihan. Moral merupakan aspek perkembangan anak usia dini yang penting untuk diperhatikan oleh orang tua.
b. Aspek fisik-motorik
Perkembangan fisik motorik AUD merupakan proses perkembangan yang berkesinambungan, terjadi secara signifikan dalam pembentukan tulang, tumbuh kembang gerakan otot-otot dan saraf sesuai dengan rentang usianya yang akan mempengaruhi keterampilan anak dalam bergerak.
c. Aspek kognitif
tahapan kemampuan seorang anak dalam memperoleh makna dan pengetahuan dari pengalaman serta informasi yang ia dapatkan. Perkembangan kognitif meliputi proses mengingat, pemecahan masalah, dan juga pengambilan keputusan.
d. Aspek sosio-emosional
Perkembangan sosio-emosional adalah perubahan yang terjadi dalam hal interaksi atau hubungan dengan orang lain, seperti perubahan pada emosi. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan ini, diantaranya adalah faktor genetik atau faktor hereditas dan faktor lingkungan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
e. Aspek komunikasi dan bahasa
Sebagai alat sosialisasi, bahasa merupakan suatu cara merespons orang lain. Bromley (1992) menyebutkan empat aspek bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan berbahasa berbeda dengan kemampuan berbicara.
f. Aspek seni
Perkembangan seni pada anak usia dini meliputi kemampuan untuk melakukan eksplorasi, mengekspresikan diri, berimajinasi dengan gerakan, musik, drama, dan beragam bidang seni lainnya, serta mampu mengapresiasi karya seni, gerak dan tari, serta drama.

5. Faktor yang mempengaruhi perkembangan
a. Faktor genetik atau keturunan
Genetik orang tua atau faktor keturunan berperan paling besar untuk memengaruhi tumbuh kembang anak. Mulai dari karakteristik fisik anak seperti tinggi badan, berat badan, struktur tubuh, warna mata, tekstur rambut, hingga bahkan kecerdasan dan bakat
b. Faktor hormon
Hormon dapat memengaruhi pertumbuhan karena menghasilkan pesan sinyal kepada sel untuk melakukan pembelahan dan juga dapat mengaktivasi enzim. Hormon pada tumbuhan atau fitohormon yang dapat memicu pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan adalah auksin, sitokinin, giberelin, dan etilen.
c. Faktor gizi
Gizi juga menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Hal ini karena makan makanan yang bernutrisi dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki dirinya sendiri.
Kekurangan nutrisi dapat memicu gizi buruk yang berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Namun, makan yang berlebihan dapat memicu obesitas dan gangguan kesehatan dalam jangka panjang, seperti diabetes dan penyakit jantung.
Oleh karena itu, menerapkan pola makan seimbang yang kaya vitamin, mineral, protein, karbohidrat, dan lemak sangat penting untuk perkembangan otak dan tubuh.
d. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan berperan penting dalam perkembangan anak dan mewakili jumlah total rangsangan fisik dan psikologis yang anak terima. Beberapa faktor lingkungan yang memengaruhi perkembangan anak usia dini terkait lingkungan fisik dan kondisi geografis tempat tinggal anak, serta lingkungan sosial dan hubungan dengan keluarga dan teman sebayanya.
Sekolah yang baik dan memiliki keluarga yang penuh kasih dapat membangun dalam diri anak-anak terhadap keterampilan sosial dan interpersonal yang kuat. Hal ini akan memungkinkan anak unggul di bidang lain, seperti akademisi dan kegiatan ekstrakurikuler.
e. Faktor kesehatan
Anak yang sehat akan lebih cepat tumbuh dan berkembang dibandingkan anak yang tidak sehat dan sering sakit. Kesehatan sangat penting artinya bagi anak-anak dalam masa penumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental
f. Faktor pendidikan
Pendidikan dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal, yaitu mengembangkan potensi individu yang setinggi tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan sosial budaya dimana dia hidup