གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Habsah afifatul amri 2213053153

Nama : Habsah afifatul amri
Npm : 2213053153

Dalam jurnal yang berjudul PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG
Menjelaskan bahwa

Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari dalam kandungan dan berlangsung sampai akhir dari kehidupan. Pendidikan
tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda. Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi luar dan dari sisi dalam. Dilihat dari luar, moralitas mengatur
cara bergaul dengan orang lain, dan dari dalam mengatur cara bergaul dengan diri sendiri.

Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut cognitive-dvelopmental theory of moralization, yang berakar pada
karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya. Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak mengenai kematangan moral. Memang seorang dewasa yang sudah matang dan seorang anak kecil keduanya barangkali tidak mau mencuri mangga. Dalam hal ini tingkah laku mereka sama. Tetapi seandainya kematangan moral mereka berbeda, kematangan moral itu tidak tercermin dalam tingkah laku mereka, melainkan pertimbangan
(penalaran) mereka mengapa tidak mau mencuri mencerminkan perbedaan kematangan tersebut. Kohlberg juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) seseorang, apakah dia mengatakan sesuatu hal benar atau salah. Alasannya sama dengan hal pertama tadi. Seorang dewasa yang sudah matang dan seorang anak kecil, mungkin berkata bahwa mencuri mangga itu salah. Sekali lagi tidak tampak perbedaan antara orang dewasa dengan anak kecil.

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi
beberapa tahap sebagai berikut: Level 1 Moralitas Pra-konvensional , Level 2 Moralitas Konvensional, Level 3 Moralitas Pasca-konvensional.
Nama : Habsah Afifatul Amri
Npm : 2213053153

Dalam jurnal yang berjudul PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL menjelaskab tentang
1. Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan
nilai moral secara luas, berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan
nilai moral, dan strategi pendidikan
nilai moral.

A. Teori perkembangan moral
Pada dasarnya setiap
pribadi memperoleh nilainya sendiri
dari kebudayaan eksternal. Nilai moral
merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh anggota masyarakat tertentu sebagai yang
salah atau benar (Berkowitz, 1964; dikutip Muhaimin, 2001: 215). Definisi itu
mencerminkan pandangan bahwa nilai
moral bersifat relatif. Para ahli lain memandang bahwa perkembangan moral
dan bentuk-bentuk sosialisasi lainnya
sebagai keseluruhan proses, di mana
seorang pribadi lahir dengan banyak
kemungkinan tingkah laku aktual yang
dibatasi pada bidang yang jauh lebih spirital, yaitu suatu bidang yang lazim
diterima sesuai dengan ukuran kelompoknya. Dengan demikian, perkembangan moral dipahami sebagai suatu internalisasi langsung norma-norma
budaya eksternal.

B. Pendidikan nilai moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha mengembangkan komponen komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat dilukiskan
sekurang-kurangnya
dengan
empat
gambaran kepribadian. Menurut John
P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa karakteristik. Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan pertumbuhan dan perkembangan. Maksudnya,
ia memandang hidupnya sebagai suatu
proses menjadi dan berusaha memilih
pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan perkembangan tersebut. Oleh
karenanya, ia berani menanggung resiko dan menghadapi konflik, selagi ia
tahu bahwa tanpa resiko itu perkembangannya tertahan. Dengan kata lain,
ia memiliki kesadaran terhadap perubahan perkembangan yang mesti dialami.

C. Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut Kirschenbaum
dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37)
meliputi pendekatan (i) inculcating,
yaitu menanamkan nilai dan moralitas,
(ii) modelling, yaitu meneladankan nilai
dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan perkembangan nilai dan
moral, dan (iv) skill development, yaitu
pengembangan keterampilan untuk
mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial yang kondusif.
Pendekatan dapat dipilih sesuai dengan banyaknya nilai yang dipilih untuk ditanamkan dan dikembangkan.
Demikian pula, banyak sumber pengembangan nilai-nilai dan banyak
pula faktor lain yang membatasinya. Di
sisi lain, keseluruhan kurikulum sekolah berfungsi sebagai suatu sumber
penting pendidikan nilai.

D. Metode dan Teknik Pendidikan
Nilai Moral
Dengan penerapan metode langsung dimungkinkan nilai-nilai yang
diindoktrinasi dapat diserap peserta didik, bahkan dihafal di luar kepala, tetapi tidak terinternalisasikan, apalagi
teramalkan. Kemungkinan kedua, nilainilai tersebut diterapkan dalam kehidupan, tetapi berkat pengawasan pihak
penguasa bukan atas kesadaran diri
peserta didik. pendidikan nilai
moral dapat diselenggarakan dengan
menggunakan (i) metode dogmatis, (ii)
metode deduktif, (iii) metode induktif,
atau (iv) metode reflektif (Muhadjir,
1988:161)
Nama : Habsah afifatul amri
Npm : 2213053153

Dari vidio diatas dapat saya tarik kesimpulan bahwa dalam vidio dipaparkan tragedi tragis dimana seorang peserta didik menganiaya gurunya sendiri hingga tewas. Masalah ini cukup mengerikan jika tidak di tindak dengan tegas karena moral anak akan hilang,tidak merasa takut oleh gurunya sendiri dan emosi anak tidak terkontrol jika ada masalah yang sedang terjadi. Guru yang ada khususnya guru kelas harus memberikan pengajaran dan penerapan tentang adab sopan santun dan moral yang baik kepada peserra didik agar kejadian-kejadian yang tidak seharusnya terjadi jangan sampai terulang kembali
Nama : Habsah afifatul amri
Npm : 2213053153

"6 Tahap perkembangan moral menurut kholberg"
1. Tahap menghindari hukum
Setiap orang mempunyai alasan sendiri untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu kerena agar menghindari hukuman. Contohnya yaitu ketika seseorang menerobos lampu merah karena ingin menghindari dari kejaran polisi.
2. Tahap keuntungan dan minat pribadi
Tahap keuntungan dan minat pribadi adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan atau memperhitungkan apa yang akan didapatkan dirinya.
3. Tahap menjaga sikap orang baik
Tahap ini memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan juga pendapat orang lain terhadapnya. Contohnya ketika seseorang menghindari pertengkaran karena itu akan berdampak negatif jika diteruskan.
4. Tahap memelihara peraturan
Peraturan harus selalu kita tegakkan jika peraturan tidak kita patuhi maka keadaan akan menjadi berantakan atau kacau. Karena peraturan sejatinya harus selalu kita patuhi untuk kenyamanan bersama.
5. Tahap orientasi kontrak sosial
Harus kita sadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, tidak ada yang pasti ketika kita melihat sebuah kasus. Hak-hak setiap orang harus dilihat bersamaan dengan hukum yang sudah ada
6. Tahap prinsip etika universal
Tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang, seseorang akan melakukan hal yang mereka anggap benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.
Nama: habsah afifatul amri
Npm:2213053153

Selama ini pendidikan nilai-nilai moral seringkali mengandung unsur pemaksaan, yaitu nilai-nilai yang diajarkan secara paksa agar dapat disadari dan diwujudkan secara kognitif. Namun karena hal ini dipaksakan dan tidak ditanamkan secara mendalam dalam hati, akibatnya sikap dan perilaku siswa tidak bersumber dari pengalaman yang benar-benar berharga. Secara individu, setiap pendidik harus berusaha melaksanakan fungsi pengajaran dan pendidikannya secara bertanggung jawab. Sangat penting untuk mengajari siswa cara terbaik menggunakan pikiran dan hati mereka. Melalui segala kegiatan yang bisa dimatangkan untuk menyelamatkan mahasiswa dari arus globalisasi. Harus mempunyai pikiran dan hati yang benar, standar dan agama yang kuat, semangat kebangsaan yang sejati dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.