Inggrid Purwaningtyas
1913024040
1. 5 Kearifan lokal pesisir
a) Tradisi Nadran
b) Nyalau
c) Ngebuyu
d) Bediom
e.) Tradisi Penyelamatan Mangrove
2. a) Tanggamus (Tradisi Nadran)
Nadran sebenarnya merupakan suatu tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Kata nadran sendiri, menurut sebagian masyarakat, berasal dari kata nazar yang mempunyai makna dalam agama Islam: pemenuhan janji. Adapun inti upacara nadran adalah mempersembahkan sesajen (yang merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan).
Sesajen yang diberikan, disebut ancak, yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband), di setiap acara nadran selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.
b) Lampung Selatan (Nyalau dan Ngebuyu)
-Nyalau
Bagi masyarakat Lampung Selatan yang memiliki sawah, biasanya 1 bulan setelah masa tanam padi, mereka melakukan “bersih-bersih” pada sawah mereka, yaitu membuang rumput (gulma) yang tumbuh mengelilingi tanaman padi mereka. Kegiatan membuang gulma ini disebut dengan istilah “Nyalau”. Cara nyalau sendiri adalah dengan cara membuang gulma dari petak sawah atau menenggelamkan gulma tersebut (yang sudah terlebih dahulu dicabut tentunya) kedasar lumpur sawah yang tujuannya agar gulma-gulma tersebut mati dan menjadi pupuk bagi tanaman padi tersebut
- Ngebuyu
Ngebuyu merupakan sebuah upacara tradisional sederhana dan singkat. Persiapan dilakukan sehari sebelumnya, yaitu untuk membeli dan merangkai alat upacara. Bahan upacara hanya terdiri dari beras kuning, kemiri, uang (logam dan kertas), kertas hias, kayu/bambu, lem, dan permen. Kertas hias warna (biasanya berwarna merah dan putih), kayu/bambu, dan lem digunakan untuk merangkai uang kertas dan permen hingga menyerupai pohon. Puncak pohon buatan tersebut diberi foto sang anak yang akan Ngabuyu. Beras kuning, kemiri, dan uang (logam dan receh) ditaruh dalam sebuah baskom yang sudah diberi alas sehelai kain. Tradisi ini dilaksanakan paling lama 9-10 hari setelah bayi lahir. Selama waktu tersebut, bayi tidak boleh dibawa keluar rumah sebelum berumur 9 hari dimana seluruh aktifitas dilakukan di dalam rumah. Setelah lebih dari 9 hari, sang bayi baru boleh berada di luar dan boleh dibawa mandi ke sungai (kabuyon atau diduayon). Tradisi Ngebuyu merupakan syarat yang wajib dilakukan sebelum Aqiqah, yaitu kurban hewan dalam syariat Islam.
c) Lampung Barat (Bediom)
Bediom adalah suatu adat pindah rumah (lamban) yang umum dilaksanakan oleh warga masyarakat Lampung Barat bagian pesisir. Tradisi Bediom ini tidak hanya dilakukan oleh suatu keluarga ketika akan pindah ke rumah yang baru dibangun, tetapi juga rumah lama yang akan ditempati lagi setelah ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya. Adapun tujuannya adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang telah diberikan.
Adat bediom biasanya dilaksanakan pada bulan-bulan yang dianggap baik dalam kalender Islam, seperti Muharam, Maulud atau Bulan Haji dengan waktu pelaksanaan sebelum subuh dan isha (antara pukul 04.30-05.00 pagi). Sementara prosesinya sendiri diawali dengan kepala keluarga meninggalkan rumah lama diikuti oleh isteri, anak-anaknya, sanak saudara dan para tetangga menuju ke tempat tinggal baru.
d) Pesawaran (Tradisi Penyelamatan Mangrove)
Desa Pulau Pahawang memiliki Peraturan Desa (Perdes) Penyelamatan Mangrove yang berisi tentang larangan dan sanksi bagi warga desa maupun pendatang yang menebang pohon mangrove. Perdes tersebut dibuat warga bukan semata-mata karena keberhasilan kampanye NGO lingkungan, tetapi karena adanya kearifan lokal yang muncul kembali setelah terjadinya bencana besar. Lampung memang punya kearifan lokal yang kuat. Etnik ini punya filosofi piil pesenggiri atau menjaga benar martabatnya. Mereka tidak mau terus-terusan malu dengan kondisi alam yang makin rusak. Mereka mau bergerak, berupaya memperbaiki kesalahan di masa lampau. Termasuk menjaga dengan baik lingkungan di sekitar.
3. Nilai positif dan nilai mistis:
a) Tradisi Nadran: nilai mistis. pada tradisi Nadran, terdapat ritual mistis yaitu mempersembahkan sesajen (yang merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan).
Sesajen yang diberikan, disebut ancak, yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband), di setiap acara nadran selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.
Nilai positif: merupakan tradisi untuk menunjukkan ucapan rasa syukur yang amat tulus muncul dari masyarakat pesisir atas penghasilan yang didapat dari hasil laut dan mengharapkan peningkatan atau hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Serta meminta kepada sang pencipta untuk di jauhkan dari bencana atau bala ketika sedang mencari nafkah di laut.
b) Nyalau: memiliki nilai postitif dalam mengeratkan tali silaturahmi dan tradisi saling tolong-menolong antar anggota masyarakat dalam kegiatan membersihkan sawah
c) Ngebuyu: memiliki nilai positif dimana merupakan sebagai ungkapan rasa bersyukur karena telah dikaruniai anak serta nilai kegotongroyongan, tolong menolong, dan meningkatkan silaturrahmi serta mempererat hubungan baik antar kerabat maupun antar tetangga
d) Bediom: memiliki nilai positif yaitu ucapan syukur kepada Tuhan karena telah diberi berkah serta nilai gotong royong dan kekeluargaan antar keluarga ataupun tetangga, serta nilai agama
e) Penyelamatan Mangrove: memiliki nilai positif terutama terhadap lingkungan hutan mangrove, masyarakat saling peduli dengan lingkungan dan malu jika lingkungan tersebut rusak. oleh karena itu tradisi ini sangat positif dalam penyelamatan ekologi.
1913024040
1. 5 Kearifan lokal pesisir
a) Tradisi Nadran
b) Nyalau
c) Ngebuyu
d) Bediom
e.) Tradisi Penyelamatan Mangrove
2. a) Tanggamus (Tradisi Nadran)
Nadran sebenarnya merupakan suatu tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Kata nadran sendiri, menurut sebagian masyarakat, berasal dari kata nazar yang mempunyai makna dalam agama Islam: pemenuhan janji. Adapun inti upacara nadran adalah mempersembahkan sesajen (yang merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan).
Sesajen yang diberikan, disebut ancak, yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband), di setiap acara nadran selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.
b) Lampung Selatan (Nyalau dan Ngebuyu)
-Nyalau
Bagi masyarakat Lampung Selatan yang memiliki sawah, biasanya 1 bulan setelah masa tanam padi, mereka melakukan “bersih-bersih” pada sawah mereka, yaitu membuang rumput (gulma) yang tumbuh mengelilingi tanaman padi mereka. Kegiatan membuang gulma ini disebut dengan istilah “Nyalau”. Cara nyalau sendiri adalah dengan cara membuang gulma dari petak sawah atau menenggelamkan gulma tersebut (yang sudah terlebih dahulu dicabut tentunya) kedasar lumpur sawah yang tujuannya agar gulma-gulma tersebut mati dan menjadi pupuk bagi tanaman padi tersebut
- Ngebuyu
Ngebuyu merupakan sebuah upacara tradisional sederhana dan singkat. Persiapan dilakukan sehari sebelumnya, yaitu untuk membeli dan merangkai alat upacara. Bahan upacara hanya terdiri dari beras kuning, kemiri, uang (logam dan kertas), kertas hias, kayu/bambu, lem, dan permen. Kertas hias warna (biasanya berwarna merah dan putih), kayu/bambu, dan lem digunakan untuk merangkai uang kertas dan permen hingga menyerupai pohon. Puncak pohon buatan tersebut diberi foto sang anak yang akan Ngabuyu. Beras kuning, kemiri, dan uang (logam dan receh) ditaruh dalam sebuah baskom yang sudah diberi alas sehelai kain. Tradisi ini dilaksanakan paling lama 9-10 hari setelah bayi lahir. Selama waktu tersebut, bayi tidak boleh dibawa keluar rumah sebelum berumur 9 hari dimana seluruh aktifitas dilakukan di dalam rumah. Setelah lebih dari 9 hari, sang bayi baru boleh berada di luar dan boleh dibawa mandi ke sungai (kabuyon atau diduayon). Tradisi Ngebuyu merupakan syarat yang wajib dilakukan sebelum Aqiqah, yaitu kurban hewan dalam syariat Islam.
c) Lampung Barat (Bediom)
Bediom adalah suatu adat pindah rumah (lamban) yang umum dilaksanakan oleh warga masyarakat Lampung Barat bagian pesisir. Tradisi Bediom ini tidak hanya dilakukan oleh suatu keluarga ketika akan pindah ke rumah yang baru dibangun, tetapi juga rumah lama yang akan ditempati lagi setelah ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya. Adapun tujuannya adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang telah diberikan.
Adat bediom biasanya dilaksanakan pada bulan-bulan yang dianggap baik dalam kalender Islam, seperti Muharam, Maulud atau Bulan Haji dengan waktu pelaksanaan sebelum subuh dan isha (antara pukul 04.30-05.00 pagi). Sementara prosesinya sendiri diawali dengan kepala keluarga meninggalkan rumah lama diikuti oleh isteri, anak-anaknya, sanak saudara dan para tetangga menuju ke tempat tinggal baru.
d) Pesawaran (Tradisi Penyelamatan Mangrove)
Desa Pulau Pahawang memiliki Peraturan Desa (Perdes) Penyelamatan Mangrove yang berisi tentang larangan dan sanksi bagi warga desa maupun pendatang yang menebang pohon mangrove. Perdes tersebut dibuat warga bukan semata-mata karena keberhasilan kampanye NGO lingkungan, tetapi karena adanya kearifan lokal yang muncul kembali setelah terjadinya bencana besar. Lampung memang punya kearifan lokal yang kuat. Etnik ini punya filosofi piil pesenggiri atau menjaga benar martabatnya. Mereka tidak mau terus-terusan malu dengan kondisi alam yang makin rusak. Mereka mau bergerak, berupaya memperbaiki kesalahan di masa lampau. Termasuk menjaga dengan baik lingkungan di sekitar.
3. Nilai positif dan nilai mistis:
a) Tradisi Nadran: nilai mistis. pada tradisi Nadran, terdapat ritual mistis yaitu mempersembahkan sesajen (yang merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan).
Sesajen yang diberikan, disebut ancak, yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband), di setiap acara nadran selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.
Nilai positif: merupakan tradisi untuk menunjukkan ucapan rasa syukur yang amat tulus muncul dari masyarakat pesisir atas penghasilan yang didapat dari hasil laut dan mengharapkan peningkatan atau hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Serta meminta kepada sang pencipta untuk di jauhkan dari bencana atau bala ketika sedang mencari nafkah di laut.
b) Nyalau: memiliki nilai postitif dalam mengeratkan tali silaturahmi dan tradisi saling tolong-menolong antar anggota masyarakat dalam kegiatan membersihkan sawah
c) Ngebuyu: memiliki nilai positif dimana merupakan sebagai ungkapan rasa bersyukur karena telah dikaruniai anak serta nilai kegotongroyongan, tolong menolong, dan meningkatkan silaturrahmi serta mempererat hubungan baik antar kerabat maupun antar tetangga
d) Bediom: memiliki nilai positif yaitu ucapan syukur kepada Tuhan karena telah diberi berkah serta nilai gotong royong dan kekeluargaan antar keluarga ataupun tetangga, serta nilai agama
e) Penyelamatan Mangrove: memiliki nilai positif terutama terhadap lingkungan hutan mangrove, masyarakat saling peduli dengan lingkungan dan malu jika lingkungan tersebut rusak. oleh karena itu tradisi ini sangat positif dalam penyelamatan ekologi.