གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Inggrid Purwaningtyas

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Tes Formatif 6

Inggrid Purwaningtyas གིས-
Inggrid Purwaningtyas
1913024040

1. 5 Kearifan lokal pesisir
a) Tradisi Nadran
b) Nyalau
c) Ngebuyu
d) Bediom
e.) Tradisi Penyelamatan Mangrove

2. a) Tanggamus (Tradisi Nadran)
Nadran sebenarnya merupakan suatu tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Kata nadran sendiri, menurut sebagian masyarakat, berasal dari kata nazar yang mempunyai makna dalam agama Islam: pemenuhan janji. Adapun inti upacara nadran adalah mempersembahkan sesajen (yang merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan).
Sesajen yang diberikan, disebut ancak, yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband), di setiap acara nadran selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.

b) Lampung Selatan (Nyalau dan Ngebuyu)
-Nyalau
Bagi masyarakat Lampung Selatan yang memiliki sawah, biasanya 1 bulan setelah masa tanam padi, mereka melakukan “bersih-bersih” pada sawah mereka, yaitu membuang rumput (gulma) yang tumbuh mengelilingi tanaman padi mereka. Kegiatan membuang gulma ini disebut dengan istilah “Nyalau”. Cara nyalau sendiri adalah dengan cara membuang gulma dari petak sawah atau menenggelamkan gulma tersebut (yang sudah terlebih dahulu dicabut tentunya) kedasar lumpur sawah yang tujuannya agar gulma-gulma tersebut mati dan menjadi pupuk bagi tanaman padi tersebut

- Ngebuyu
Ngebuyu merupakan sebuah upacara tradisional sederhana dan singkat. Persiapan dilakukan sehari sebelumnya, yaitu untuk membeli dan merangkai alat upacara. Bahan upacara hanya terdiri dari beras kuning, kemiri, uang (logam dan kertas), kertas hias, kayu/bambu, lem, dan permen. Kertas hias warna (biasanya berwarna merah dan putih), kayu/bambu, dan lem digunakan untuk merangkai uang kertas dan permen hingga menyerupai pohon. Puncak pohon buatan tersebut diberi foto sang anak yang akan Ngabuyu. Beras kuning, kemiri, dan uang (logam dan receh) ditaruh dalam sebuah baskom yang sudah diberi alas sehelai kain. Tradisi ini dilaksanakan paling lama 9-10 hari setelah bayi lahir. Selama waktu tersebut, bayi tidak boleh dibawa keluar rumah sebelum berumur 9 hari dimana seluruh aktifitas dilakukan di dalam rumah. Setelah lebih dari 9 hari, sang bayi baru boleh berada di luar dan boleh dibawa mandi ke sungai (kabuyon atau diduayon). Tradisi Ngebuyu merupakan syarat yang wajib dilakukan sebelum Aqiqah, yaitu kurban hewan dalam syariat Islam.

c) Lampung Barat (Bediom)
Bediom adalah suatu adat pindah rumah (lamban) yang umum dilaksanakan oleh warga masyarakat Lampung Barat bagian pesisir. Tradisi Bediom ini tidak hanya dilakukan oleh suatu keluarga ketika akan pindah ke rumah yang baru dibangun, tetapi juga rumah lama yang akan ditempati lagi setelah ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya. Adapun tujuannya adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang telah diberikan.
Adat bediom biasanya dilaksanakan pada bulan-bulan yang dianggap baik dalam kalender Islam, seperti Muharam, Maulud atau Bulan Haji dengan waktu pelaksanaan sebelum subuh dan isha (antara pukul 04.30-05.00 pagi). Sementara prosesinya sendiri diawali dengan kepala keluarga meninggalkan rumah lama diikuti oleh isteri, anak-anaknya, sanak saudara dan para tetangga menuju ke tempat tinggal baru.

d) Pesawaran (Tradisi Penyelamatan Mangrove)
Desa Pulau Pahawang memiliki Peraturan Desa (Perdes) Penyelamatan Mangrove yang berisi tentang larangan dan sanksi bagi warga desa maupun pendatang yang menebang pohon mangrove. Perdes tersebut dibuat warga bukan semata-mata karena keberhasilan kampanye NGO lingkungan, tetapi karena adanya kearifan lokal yang muncul kembali setelah terjadinya bencana besar. Lampung memang punya kearifan lokal yang kuat. Etnik ini punya filosofi piil pesenggiri atau menjaga benar martabatnya. Mereka tidak mau terus-terusan malu dengan kondisi alam yang makin rusak. Mereka mau bergerak, berupaya memperbaiki kesalahan di masa lampau. Termasuk menjaga dengan baik lingkungan di sekitar.

3. Nilai positif dan nilai mistis:
a) Tradisi Nadran: nilai mistis. pada tradisi Nadran, terdapat ritual mistis yaitu mempersembahkan sesajen (yang merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan).
Sesajen yang diberikan, disebut ancak, yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband), di setiap acara nadran selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.

Nilai positif: merupakan tradisi untuk menunjukkan ucapan rasa syukur yang amat tulus muncul dari masyarakat pesisir atas penghasilan yang didapat dari hasil laut dan mengharapkan peningkatan atau hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Serta meminta kepada sang pencipta untuk di jauhkan dari bencana atau bala ketika sedang mencari nafkah di laut.

b) Nyalau: memiliki nilai postitif dalam mengeratkan tali silaturahmi dan tradisi saling tolong-menolong antar anggota masyarakat dalam kegiatan membersihkan sawah

c) Ngebuyu: memiliki nilai positif dimana merupakan sebagai ungkapan rasa bersyukur karena telah dikaruniai anak serta nilai kegotongroyongan, tolong menolong, dan meningkatkan silaturrahmi serta mempererat hubungan baik antar kerabat maupun antar tetangga

d) Bediom: memiliki nilai positif yaitu ucapan syukur kepada Tuhan karena telah diberi berkah serta nilai gotong royong dan kekeluargaan antar keluarga ataupun tetangga, serta nilai agama

e) Penyelamatan Mangrove: memiliki nilai positif terutama terhadap lingkungan hutan mangrove, masyarakat saling peduli dengan lingkungan dan malu jika lingkungan tersebut rusak. oleh karena itu tradisi ini sangat positif dalam penyelamatan ekologi.

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Forum Diskusi 6

Inggrid Purwaningtyas གིས-
Inggrid Purwaningtyas
1913024040

Dalam kearifan lokal di pesisir, ada suatu tradisi yang terdapat ritual mistis, yaitu pada Tradisi Nadran.
Tradisi Nadran merupakan suatu upacara adat yang rutin di adakan oleh masyarakat pesisir yang hidup nya sangat bergantung terhadap hasil laut. Tradisi Nadran termasuk bentuk interaksi manusia kepada sang pencipta atau Tuhan. Interaksi ini merupakan ucapan rasa syukur yang amat tulus muncul dari sebuah ekspresi yang dimiliki manusia dalam menjalani kehidupan. Muncul nya rasa syukur pada masyarakat pesisir melatar belakangin akan rasa syukur atas penghasilan yang didapat dari hasil laut dan mengharapkan peningkatan atau hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Serta meminta kepada sang pencipta untuk di jauhkan dari bencana atau bala ketika sedang mencari nafkah di laut.

Nadran sebenarnya merupakan suatu tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Kata nadran sendiri, menurut sebagian masyarakat, berasal dari kata nazar yang mempunyai makna dalam agama Islam: pemenuhan janji.

Adapun inti upacara nadran adalah mempersembahkan sesajen (yang merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhurnya) kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala (keselamatan).
Sesajen yang diberikan, disebut ancak, yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband), di setiap acara nadran selalu digelar wayang kulit selama 1 minggu.

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Latihan Tugas 6

Inggrid Purwaningtyas གིས-
Inggrid Purwaningtyas
1913024040

1. Tradisi Nadran
Tradisi Nadran merupakan suatu upacara adat yang rutin di adakan oleh masyarakat pesisir yang hidupnya sangat bergantung terhadap hasil laut. Tradisi Nadran tradisi tahunan yang pelaksanaannya dipimpin oleh tetua adat. Bukan hanya sekedar hiburan, tetapi di dalamnya juga ada kegiatan transaksi ekonomi.

2. Nyalau
Bagi masyarakat Lampung Selatan yang memiliki sawah, biasanya 1 bulan setelah masa tanam padi, mereka melakukan “bersih-bersih” pada sawah mereka, yaitu membuang rumput (gulma) yang tumbuh mengelilingi tanaman padi mereka.

3. Ngebuyu
Ngebuyu merupakan sebuah upacara tradisional sederhana dan singkat. Persiapan dilakukan sehari sebelumnya, yaitu untuk membeli dan merangkai alat upacara. Bahan upacara hanya terdiri dari beras kuning, kemiri, uang (logam dan kertas)

4. Paksi Pak Sekala Brak
Kerajaan Sekala Brak dianggap sebagai simbol peradaban, kebudayaan dan eksistensi Orang Lampung. Saibatin sebagai pucuk pimpinan juga tetap eksis mengatur struktur pemerintahan dan prosesi adat. Terpenting, pengakuan, pengabdian dan kesetiaan dari masyarakat adat pun tetap terpelihara dengan baik. Itu dibuktikan dengan adanya iyukh sumbai, tidak ada seorang pun anggota masyarakat adat yang tidak jelas identitasnya. Kata Saibatin dimaknai sebagai Satu Orang Pemilik. Saibatin Kedau Adat/pemilik adat, Saibatin Kedau Harkat/pemilik harkat

5. Bediom
Bediom adalah suatu adat pindah rumah (lamban) yang umum dilaksanakan oleh warga masyarakat Lampung Barat bagian pesisir. Adat bediom biasanya dilaksanakan pada bulan-bulan yang dianggap baik dalam kalender Islam, seperti Muharam, Maulud atau Bulan Haji dengan waktu pelaksanaan sebelum subuh dan isha (antara pukul 04.30-05.00 pagi).

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Tes Formatif 5

Inggrid Purwaningtyas གིས-
Inggrid Purwaningtyas
1913024040

1. Ngumo
Sistem pertanial tradisional pada masyarakat Lampung khususnya masyarakat adat Lampung Pepadun yang tinggal di daerah Pedalaman. Makna Ngumo merupakan simbol dari penghormatan orang lampung terhadap lingkungan alamnya, yakni memanfaatkan hutan sekaligus memelihara hutan. Ritual dalam tradisi Ngumo itu antara lain nyuwah (membakar), kusi (menebang pohon kecil) dan tuwagh (menebang pohon besar).

2. Sebambangan
Sebambangan atau Ngebambambang, Ninjuk atau Nakat, dan Nunggang ialah istilah yang digunakan “kawin lari” oleh masyarakat Lampung Pepadun. Secara harfiah Sebambangan berasal dari kata “se” (saling) dan “bumbang” (bawa atau pergi). Sebambangan berarti sebuah perkawinan tanpa melalui proses lamaran dan merupakan inisiatif yang kemudian diusahakan dan diperjuangkan oleh pasangan laki-laki dan perempuan yang akan menikah. Dengan kata lain seorang laki-laki membawa seorang perempuan untuk diajak menikah.

4. Toupang tawi
Yaitu mengoleskan ke telapak tangan pengantin yang akan menikah dengan tepung beras tiga warna yaitu warna putih, merah dan hijau. Makna dari toupang tawi ini sebagai penawar segala marabahaya dan menaburkan beras di campur bunga tujuh warna bermakna segara restu orang tua, segala doa terbaik agar sepasang suami istri ini menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah.

4. Peppung adat
Peppung adat artinya kegiatan berkumpul bersama antara penyeimbang adat untuk mencapai kesepakatan tentang kepentingan yang berkaitan dengan penyelesaian masalah adat, revitalisasi, hukum-hukum adat atau untuk mengembangkan rasionalisasi adat istiadat demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat adat setempat.

5. Upacara adat Daduai
Upacara adat Daduai tercipta karena adanya pernikahan sebambangan. Pernikahan sebambangan adalah adat Lampung yang mengatur pelarian gadis oleh bujang ke rumah kepala adat untuk meminta persetujuan dari orang tua si gadis, melalui musyawarah adat antara kepala adat dengan kedua orang tua bujang dan gadis, sehingga diambil kesepakatan dan persetujuan antara kedua orang tua tersebut. Upacara adat Daduai dilakukan apabila sebambangan ini tidak disetujui oleh pihak keluarga gadis yang tidak rela gadisnya dinikahkan oleh bujang. Hal ini dapat menimbulkan konflik amarah antara kedua belah pihak, baik pihak gadis maupun pihak bujang.
Adat Daduai dimaksudkan mendamaikan perselisihan antara kedua pihak keluarga yang terjadi akibat sebambangan pihak bujang dan gadis, sehingga diharapkan dapat terjadi perdamaian dari kedua belah pihak, dan dapat kembali rukun menjadi satu. Sesuai dengan asal kata Daduai yaitu 'uai' yang dapat dibaca 'wai/way'. Dalam bahasa Lampung, way berarti air. Air berfungsi untuk memadamkan api. Dengan demikian, upacara adat Daduai bertujuan untuk memberikan kesejukan air yang dapat memadamkan 'api amarah' dan membuat hati kedua belah pihak tentram, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara kedua belah pihak.

PSPB Etnosains B Ganjil 2021/2022 -> Rangkuman 5

Inggrid Purwaningtyas གིས-
Inggrid Purwaningtyas
1913024040

KEARIFAN LOKAL ADAT PEPADUN
Nama pepadun diambil dari kata “Pepadun” tempat penobatan Penyimbang di Paksi Pak Skala Brak yang beradat Sai Batin. Didirikan sekitar abad ke-16 pada zaman kesultanan Banten. Pada mulanya terdiri dari 12 kebuaian (Abung Siwo Mego dan Pubian Telu Suku), kemudian ditambah 12 kebuaian lain yaitu Mego Pak Tulang Bawang, Buay Lima Way Kanan dan Sungkai Bunga Mayang (3 Buay) sehingga menjadi 24 kebuaian.

Kearifan lokal Lampung Pepadun antara lain:
1. Perkawinan adat
a. Rasan sanak: atas kehendak kedua muda mudi yang dilakukan dengan cara berlarian/sebambangan
b. Rasan tuho: dilakukan dengan cara lamaran atau pinangan dari pihak orang tua laki-laki kepada pihak orang tua perempuan

2. Budaya masyarakat dalam pernikahan
Cakak sai tuha (pertemuan keluarga),
Intar padang (lamaran),
Ngulom adat (izin kampung),
Kampung suku (pembentukan panitia),
Cangget muli meranai (tarian pelepasan masa lajang),
Khatam Al-Qur’an,
Akad nikah,
Bersimpuh kepada orang tua,
Toupang tawi (penawar segala marabahaya),
Musek (suap-suapan),
Begawi (pemberian gelar adat),
dan menjau kawin (kunjungan setelah menikah).

3. Falsafah Hidup Adat Lampung Pepadun
Piil pesenggiri
a. Juluk adek (prinsip keberhasilan)
b. Nemui nyimah (prinsip penghargaan)
c. Nengah nyappur (prinsip persamaan)
d. Sakai sambayan (prinsip kerja sama)


Nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal adat pepadun:
1. Nilai religius: sebelum pernikahan membacakan ayat suci Al-Quran bacaan sebelum dan seduah akad nikah dalam masyarakat adat pernikahan pepadun.
2. Nilai Gotong royong : sesama masyarakat yang terdapat dalam perkawinan adat Lampung pepadun adalah cakak sai tuha, intar padang, dan kampung suku. Disini sanak keluarga, para tetangga berkumpul bekerjasama untuk membantu melancarkan acara perkawinan adat ini.
3. Nilai Musyawarah Mufakat: acara awal sebelum perkawinan cakak sai tuha. Disini calon mempelai laki-laki beserta keluarga besar dan rombongan datang ke rumah calon mempelai perempuan menyampaikan niat baik untuk menikah dan membicarakan kesepakatan hari pernikahan. Selain cakak sai tuha, nilai musyawarah mufakat terlihat dalam prosesi acara ngulom adat dan kampung suku. Mengundang para penyimbang dan para tetangga dalam pembentukan panitia
4. Nilai Sosial Budaya: selalu diajarkan kepada setiap anak cucuk dan tidak bisa dilupakan. Adat ini tidak bisa ditinggalkan. Adat pernikahan pepadun menjadi budaya yang kuat dan selalu dipertahankan oleh masyarakat Lampung Pepadun.


Keterkaitan Kearifan Lokal Masyarakat Lampung Pepadun Dalam Proses Pembelajaran Etnosains
Proses pembelajaran etnosains dengan penanaman nilai Piil pesenggiri peting untuk diberikan terhadap peserta didik.
Penanaman dari dini di perlukan agar peserta didik memiliki bekal dalam kehidupan sosial di dalam masyarakat sehingga terjalain kerukuanan di dalamnya.
Lampung merupakan sebuah provinsi yang di huni oleh berbagai suku dari mulai suku lampung asli, suku jawa, suku sunda, suku banten. Sehingga di perlukan penanaman rasa toleransi melalui nilai-nilai Piil pesenggiri yang merupakan sebuah kebudayaan Islam yang di miliki provinsi Lampung.