Posts made by Andika Pratama 2553032008

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Andika Pratama 2553032008 -
NAMA: Andika Pratama
KELAS: 25 C
NPM: 2553032008


Saya menonton film Keluarga Cemara episode ke-12 berjudul “Jiwa Berharga” .

Dalam episode ini, kita melihat kehidupan Abah, Emak, dan dua anak mereka, Euis dan Ara. Keluarga ini awalnya hidup makmur dan nyaman di kota, tetapi setelah Abah tertipu oleh rekan bisnisnya, mereka kehilangan semuanya dan harus pindah ke desa untuk memulai hidup baru. Mereka belajar kembali arti kerja keras, kebersamaan, dan kejujuran dari hidup di desa yang sederhana. Mereka menemukan, jauh dari gaya hidup mewah, bahwa kebahagiaan sejati berasal dari rasa terima kasih, cinta, dan dukungan satu sama lain, bukan dari harta benda.

Saya menemukan dua dilema moral yang signifikan dalam film ini. Pertama, Abah menghadapi dilema: tetap jujur atau memperbaiki ekonomi keluarga dengan cara yang tidak jujur. Meskipun hidup dalam kesulitan, Abah memilih jalan yang benar dengan bekerja keras dan tidak menempuh cara yang salah. Kedua, dilema dialami oleh Euis. Ia merasa malu dengan kondisi keluarganya yang berubah drastis setelah pindah ke desa. Awalnya ia berusaha menutupi keadaan sebenarnya agar tidak dipandang rendah oleh teman-temannya.

Namun, pada akhirnya Euis menyadari bahwa harga diri dan kebahagiaan tidak bergantung pada materi, tetapi pada rasa cinta dan kebersamaan keluarga.
Jika dikaitkan dengan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, maka perkembangan moral tokoh-tokoh dalam film ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Dia berada di antara tahap konvensional dan pasca-konvensional. Ini ditunjukkan oleh keputusannya untuk tetap jujur dan berpegang pada prinsip moral meskipun menghadapi kesulitan. Ia menunjukkan sikapnya pada tahap orientasi hukum dan orde karena menghormati nilai moral dan hukum, dan karena tindakannya didasarkan pada nilai moral universal dan hati nurani.

Euis berada di fase konvensional remaja, tepatnya fase orientasi perempuan yang baik. Ia berusaha beradaptasi agar teman-temannya menyukainya dan ingin terlihat baik di mata orang lain. Namun, Euis belajar tentang tanggung jawab dan mulai menghargai nilai-nilai keluarga, yang menunjukkan perkembangan moral ke tingkat yang lebih tinggi.
Sementara itu, Emak menggambarkan tahap pasca-konvensional, di mana perilakunya dilandasi oleh prinsip hati nurani dan nilai-nilai universal. Dalam menghadapi berbagai cobaan, ibu menunjukkan sikap sabar, tulus, dan teguh. Ia menjadi sosok panutan moral dalam keluarga, bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga lewat tindakan nyata dalam menjaga keharmonisan dan menanamkan nilai kejujuran pada anak-anaknya.

Film Keluarga Cemara episode “Jiwa Berharga” menghadirkan kisah sederhana namun penuh makna tentang perjuangan sebuah keluarga dalam menghadapi perubahan
hidup Jika mereka kehilangan kekayaan atau status sosial, itu tidak membuat mereka menyerah; sebaliknya, itu adalah titik balik untuk kembali ke nilai-nilai moral yang sebenarnya. Keluarga adalah harta yang paling berharga, itulah pesan utama. Keluarga adalah tempat berlindung dan kekuatan dalam setiap tantangan. Film ini juga menunjukkan bahwa walaupun dalam situasi terbatas, kejujuran dan kerja keras masih penting.

Abah dan Emak memberikan teladan bahwa ketulusan dan semangat pantang menyerah dapat menjaga keluarga tetap kuat dan bahagia. Selain itu, kisah Euis menunjukkan pentingnya proses penerimaan diri dan bagaimana seorang anak belajar memahami arti tanggung jawab dan cinta yang tulus. Film ini juga memperlihatkan bahwa harmoni keluarga tidak tergantung pada banyaknya uang, tetapi pada kehangatan, pengertian, dan komunikasi yang baik antaranggota keluarga.
Menyryt saya, Film ini sangat menyentuh dan penuh pelajaran hidup, menurut saya. Ceritanya mengingatkan kita bahwa nilai-nilai seperti kasih sayang, kebersamaan, dan kejujuran sering terlupakan di tengah kesibukan dan gaya hidup modern yang materialistis. Film ini mengajari kita bahwa hidup sederhana bukan berarti miskin jika dilakukan dengan tulus dan bersyukur.

Film menunjukkan prinsip-prinsip seperti tanggung jawab, empati, kasih sayang, dan kerja sama yang sangat relevan hingga hari ini. Dalam kehidupan nyata, saya percaya bahwa kebahagiaan sebuah keluarga tidak selalu diukur oleh kekayaan, tetapi lebih dari bagaimana satu sama lain saling memahami dan mendukung. Keluarga sering menghadapi tantangan karena perubahan sosial, kesibukan pekerjaan, atau tekanan hidup. Namun, dengan komunikasi yang baik dan nilai moral yang kuat, keluarga akan tetap harmonis. Film Family Tree ini menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat pertama seorang anak belajar empati, tanggung jawab, dan kejujuran. Keluarga membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, film ini tidak hanya menyenangkan untuk dilihat, tetapi juga memberi kita pelajaran moral tentang pentingnya menjaga dan menghargai nilai-nilai keluarga.
NAMA: ANDIKA PRATAMA
NPM: 2553032008
KELAS: 25 C



Menurut pandangan Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat berkembang secara lahir dan batin sesuai dengan alam dan zamannya. Pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk karakter, moral, serta kepribadian yang berbudaya. Dengan demikian, pendidikan diharapkan mampu melahirkan manusia yang merdeka dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak, serta memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan masyarakat.


Apabila saya menjadi seorang guru, saya akan berusaha menjalankan peran sebagai pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan menuntun peserta didik agar mereka dapat menemukan serta mengembangkan potensi yang dimilikinya. Saya akan berusaha menjadi teladan yang baik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta menanamkan nilai-nilai moral dan kebangsaan agar peserta didik tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungannya.

DKPM PPKn 2025C -> Analisis Video

by Andika Pratama 2553032008 -

NAMA: ANDIKA PRATAMA

KELAS: 25C

NPM: 2553032008



Lawrence Kohlberg adalah seorang psikolog Amerika yang mengembangkan teori tentang perkembangan moral manusia berdasarkan pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget.

Menurutnya, perkembangan moral seseorang dipengaruhi oleh kemampuan berpikir dan pengalaman sosial, bukan hanya karena peraturan atau hukuman.

Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang menalar tentang benar dan salah dalam berbagai situasi kehidupan.


2.Tahap-Tahap 

Perkembangan Moral

Kohlberg membagi perkembangan moral ke dalam tiga tingkat utama, yang masing-masing terdiri dari dua tahap, sehingga total ada enam tahap perkembangan moral.

 Tingkat I: Moralitas Pra-Konvensional (anak-anak)

Pada tingkat ini, moral didasarkan pada konsekuensi fisik dari tindakan.

Tahap 1 – Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Anak menilai sesuatu benar atau salah berdasarkan hukuman.

Contoh: Anak tidak mau mencuri karena takut dimarahi atau dihukum.

Tahap 2 – Orientasi Instrumental dan Relativis (Hedonisme Naif)

Anak berbuat baik untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Contoh: Anak membantu teman agar dapat imbalan atau bantuan balik.

 Tingkat II: Moralitas Konvensional (remaja–dewasa awal)

Pada tingkat ini, seseorang menilai tindakan berdasarkan norma sosial dan harapan masyarakat. 3. 

Tahap 3 – Orientasi “Anak Baik” (Good Boy–Nice Girl Orientation)

Tindakan moral dilakukan agar diterima dan disukai orang lain.

Contoh: Remaja menuruti aturan sekolah agar dianggap siswa baik.

Tahap 4 – Orientasi Hukum dan Ketertiban (Law and Order Orientation)

Moralitas didasarkan pada kepatuhan terhadap hukum dan ketertiban.

Contoh: Warga mematuhi aturan lalu lintas karena sadar pentingnya keteraturan.

 Tingkat III: Moralitas Pascakonvensional (dewasa matang)

Pada tingkat ini, moralitas ditentukan oleh prinsip universal dan hati nurani pribadi. 5. Tahap 5 – Orientasi Kontrak Sosial dan Hak Individu

Hukum dipandang sebagai kesepakatan sosial yang bisa diubah demi keadilan.

Contoh: Seseorang memperjuangkan revisi undang-undang yang tidak adil.

Tahap 6 – Prinsip Etika Universal

Tindakan didasarkan pada nilai kemanusiaan seperti keadilan dan kebenaran.

Contoh: Menolong orang meski melanggar aturan, karena itu benar secara moral.


3. Analisis kritis

Kelebihan:

Menunjukkan bahwa moralitas berkembang melalui tahapan berpikir logis dan rasional.

Menekankan pentingnya penalaran moral, bukan hanya perilaku atau kepatuhan.

Dapat digunakan untuk memahami proses pendidikan moral di sekolah atau keluarga.

Kelemahan:

Terlalu menitikberatkan pada penalaran logis, kurang memperhatikan aspek emosional dan budaya.

Tidak selalu mencerminkan tindakan nyata (orang bisa tahu yang benar tapi tidak melakukannya).

Lebih cocok untuk budaya Barat yang menekankan individualisme dan keadilan.


 4. Kesimpulan

Teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa moralitas berkembang melalui enam tahap dari tingkat pra-konvensional hingga pascakonvensional.

Semakin tinggi tahap moral seseorang, semakin besar kemampuannya untuk berpikir kritis, menilai keadilan, dan bertindak sesuai hati nurani.

Pemahaman terhadap teori ini penting untuk membantu membentuk karakter dan kesadaran etis dalam pendidikan maupun kehidupan sosial.

Nama = Andika Pratama 

NPM = 2553032008

Kelas = 25 C



Aliran-aliran Pokok Pendidikan

 A. Aliran konvensional

Aliran konvensional merupakan pandangan atau pendapat yang membahas tentang faktor-faktor yang menentukan perkembangan manusia dan kepribadiannya.


Macam Aliran Konvensional

1. Empirisme

Aliran ini berpandangan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan bersih tanpa mempunyai pembawaan yang sama sekali sejak lahirnya, namun perkembangan anak ditentukan oleh lingkungan yang akan menentukan arah hidupnya.

-Aliran ini dipelopori oleh John Locke 

Aliran ini disebut juga dengan “Tabularasa” yang berarti anak lahir seperti kertas putih yang masih kosong dan dapat ditulis sesuai dengan keinginan orang yang akan menulisnya.


2. Aliran Nativisme

Menurut pandangan aliran ini manusia ketika dilahirkan telah mempunyai pembawaan (baik atau buruk).

-Aliran ini dipelopori oleh Schopenhauer

Pandangan aliran ini bersifat pesimis terhadap pendidikan untuk bisa mengubah anak ke arah lain selain dari pembawaan yang dibawa sejak lahir.

Jika pembawaannya baik, maka anak akan berkembang ke arah yang baik, tetapi jika pembawa itu jelek, anak akan berkembang ke arah yang jelek tanpa bisa diubah / di pengaruhi.


3. Aliran Naturalisme

Pandangan ini berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, namun pembawaan itu manjadi rusak karena pengaruh lingkungan, bahkan pendidikan yang diberikan orang dewasa kepada anak dapat merusak pembawaan baik itu.

-Aliran ini dipelopori oleh John Jacke Rousseau.

Aliran ini disebut juga dengan “Negativisme” yang beranggapan bahwa pendidikan itu tidak perlu tetapi anak menyerahkan saja kepada alam agar pembawaan yang baik tidak menjadi rusak.


4. Aliran Konvergensi

Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh pembawaan dan pendidikan.

Bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan yang sesuai dengan perkembangan bakat tersebut. 

Sebaliknya lingkungan yang baik tidak alias menghasilkan pendidikan yang optimal jika tidak ada bakat yang kuat.

-Aliran ini dipelopori oleh William Stern yang mempunyai pandangan positif terhadap pendidikan.



*B. Gerakan (Aliran) Baru*

Gerakan baru dalam pendidikan merupakan upaya yang dilakukan untuk mencari perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan khususnya perbaikan dalam proses pembelajaran.

Ada beberapa model (bentuk) perbaikan yang dajukan oleh gerakan baru pendidikan ini.


1. Pengajaran Alam Sekitar

Pengajaran alam sekitar lebih banyak tekanan kepada kegiatan pengajaran yang dilakukan di sekolah harus terkait dengan kehidupan nyata yang dialami oleh anak, sehingga lebih kongkrit dan terkait secara emosional dengan kebutuhan dan kehidupan anak.

-Pelopornya FAFinger dan J.Ligthart


Prinsip Pengajaran Alam Sekitar:

~Peragaan

~Aktivitas anak

~Pengajaran totalitas

~Menyatu dengan pengalaman anak

~Memberikan apersepsi emosional anak



2. Pengajaran Pusat Perhatian

Dirintis oleh Ovideminat Decroly dari Belgia dengan semboyan “Sekolah untuk hidup dan oleh hidup"

Anak harus mempunyai pengetahuan terhadap dirinya sendiri dan tentang dunianya yaitu lingkungan tempat hidup di hari sebelumnya.

Metode yang dikemukakan oleh Decroly:

1. Metode global (gestalt) yaitu pendidikan hendaknya dimulai dari suatu keseluruhan yang mempunyai pemahaman

2. Pusat minat yaitu dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan minat spontan yang dimiliki anak



⁠3. Sekolah Kerja


Sekolah kerja dipelopori oleh G. Kerschenteiner dengan nama “Arbeitsschule” di Jerman.


Sekolah kerja bertolak dari pandangan bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu tetapi juga demi kepentingan masyarakat.

-Bentuk Sekolah Kerja

A. Sekolah Kerja Sosiologis (kebutuhan masyarakat)

B. Sekolah Kerja Psikologis (pengembangan bakat anak)

C. Sekolah Kerja Sosiologis-Psikologis (gabungan)

D. Sekolah Kerja Kepribadian (Pembentukan Pribadi)


4. Pengajaran Proyek

Konsep pengajaran proyek dikemukakan oleh John Dewey dan dilaksanakan oleh WHKilpatrick.

Dalam pengajaran proyek anak bebas menentukan pilihannya (jenis pekerjaan), merencanakan dan memimpin kegiatan proyek.

Proyek yang ditentukan sendiri oleh anak akan mendorong mereka untuk mencari cara pemecahan masalah yang ditemui secara aktif (sesuai keinginannya).

Mata pelajaran tidak dipisahkan antara satu dengan yang lain, tetapi didasarkan atas tujuan penyelesaian masalah.