Posts made by Alya Niza Silvia

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Alya Niza Silvia -
Nama : Alya Niza Silvia
Kelas : 25 C
NPM : 2513032078

A. Bahan Ajar Pendekatan Pendidikan Moral

1. Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach)
Pendekatan ini berfokus pada penanaman nilai tertentu yang dianggap penting oleh masyarakat, sekolah, atau negara kepada peserta didik. Tujuannya untuk membentuk perilaku sesuai norma, memperkuat disiplin dan kepatuhan, serta menanamkan kebiasaan baik.

2. Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (Cognitive Moral Development Approach)
Pendekatan yang menekankan proses berpikir moral berdasarkan teori tentang perkembangan moral. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan penalaran moral, melatih siswa mengambil keputusan berdasarkan prinsip, dan mengembangkan tanggung jawab pribadi.

3. Pendekatan Klarifikasi Nilai (Values Clarification Approach)
Pendekatan ini membantu siswa menemukan, memahami, dan mengklarifikasi nilai yang mereka yakini melalui proses refleksi diri. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran nilai diri sendiri, membantu siswa membuat pilihan berdasarkan nilai pribadi, dan mengembangkan kejujuran diri dan konsistensi tindakan.

4. Pendekatan Analisis Nilai (Values Analysis Approach)
Pendekatan yang mengajak siswa menganalisis permasalahan moral menggunakan kemampuan berpikir kritis, mempertimbangkan fakta, alternatif tindakan, dan dampaknya. Tujuannya untuk melatih analisis etis, membantu memahami masalah sosial secara rasional, dan meningkatkan kemampuan argumentasi berdasarkan bukti.

5. Pendekatan Lingkungan/Iklim Sekolah (School Environment Approach)
Pendekatan ini menciptakan budaya sekolah yang mendukung perilaku moral, seperti aturan, kebiasaan, dan suasana hubungan antarwarga sekolah. Tujuannya untuk membentuk budaya positif, menjadikan nilai moral sebagai kebiasaan bersama, dan mengurangi perilaku negatif seperti bullying, intoleransi, dan kekerasan.

6. Pendekatan Pembiasaan (Habituation Approach)
Pendekatan yang menekankan kebiasaan rutin sehingga nilai moral tertanam otomatis dalam diri siswa. Tujuannya untuk membentuk karakter melalui rutinitas, mewujudkan nilai moral tanpa paksaan, dan membentuk disiplin diri dalam waktu jangka panjang.

B. Pendekatan Relevan untuk Konteks Indonesia

Pendekatan pendidikan moral yang paling relevan untuk konteks Indonesia, yaitu "Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation)". Mengapa relevan di Indonesia? Karena Indonesia memiliki nilai dasar nasional, yaitu Pancasila (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan) yang perlu ditanamkan sejak dini agar mudah mengarahkan siswa untuk mengikuti nilai dasar ini secara jelas. Pendekatan penanaman nilai cocok dengan struktur pendidikan di Indonesia yang masih bersifat hierarkis, guru dianggap figur otoritas, dan nilai moral sering disampaikan secara eksplisit. Kemudian pendekatan ini mudah diterapkan oleh guru dalam kegiatan rutin dan diterima oleh masyarakat. Masyarakat Indonesia sangat menjunjung kebersamaan, norma sosial, sopan santun, musyawarah, dan harmoni sosial, sehingga penanaman nilai menjadi dasar pembentukan moral dan karakter melalui contoh, adat, dan kebiasaan. Contoh penerapannya seperti pembiasaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), kerja bakti, gotong royong, disiplin sekolah, serta upacara bendera dan pendidikan kewarganegaraan.

C. Contoh Kegiatan Pembelajaran Penanaman Nilai “Disiplin dan Tanggung Jawab”

1. Identitas Pembelajaran
a. Jenjang: SMP/SD (bisa disesuaikan)
b. Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila / Pendidikan Karakter
c. Nilai Utama: Disiplin dan Tanggung Jawab
d. Durasi: 60 menit

2. Tujuan Pembelajaran
a. Menjelaskan arti disiplin dan tanggung jawab.
b. Menunjukkan perilaku disiplin dalam kegiatan kelas.
c. Melaksanakan tugas sederhana secara bertanggung jawab.

3. Pendekatan yang Digunakan
Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation) dengan cara:
a. Pembiasaan
b. Penguatan positif
c. Pemberian contoh
d. Pemberian aturan yang jelas
e. Pemberian konsekuensi

4. Langkah-Langkah Pembelajaran (60 menit)
A. Pendahuluan (10 menit)
1) Guru menyapa dan memastikan semua siswa masuk kelas tepat waktu.
2) Guru memberi penguatan verbal.
3) Guru menampilkan gambar/video singkat tentang siswa yang disiplin.
4) Guru bertanya singkat.

B. Kegiatan Inti (40 menit)
1) Penanaman Nilai melalui Pembiasaan (10 menit)
2) Pemberian Aturan dan Penekanan Nilai (10 menit)
3) Kegiatan Tugas untuk Menanamkan Nilai (15 menit)
4) Pemberian Konsekuensi Ringan (5 menit)

C. Penutup (10 menit)
1) Guru mengajak siswa refleksi singkat.
2) Guru memberi apresiasi pada siswa.
3) Guru menutup dengan pembiasaan merapikan kelas sebelum pulang.

5. Penilaian
a. Sikap
b. Pengetahuan
c. Keterampilan

Tujuan kegiatan pembelajaran ini adalah agar siswa memahami arti disiplin dan tanggung jawab dalam aktivitas sehari-hari. Siswa diharapkan mampu menunjukkan perilaku disiplin serta melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab selama proses belajar. Selain itu, kegiatan ini bertujuan membentuk kebiasaan positif yang mendukung sikap tertib dan konsisten dalam kehidupan sekolah.

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Penugasan

by Alya Niza Silvia -
Nama : Aya Niza Silvia
Kelas : 25 C
NPM : 2513032078

Kajian Kasus-kasus di Bidang Pendidikan

1. Banyak Guru Dipolisikan
Banyak orang tua siswa yang melaporkan guru ke pihak kepolisian. Hal itu merupakan fakta di lapangan. Guru selalu berusaha melakukan tindakan untuk mendisiplinkan siswa-siswi nya, kemudian menegur atau menghukum siswa-siswi nya agar menjadi teratur (tertib), dan lain sebagainya. Hal itu menjadi bentuk tidak terimanya orang tua siswa terhadap tindakan guru di sekolah. Kasus tersebut sangat memprihatikan, karena anak yang dididik merupakan anak dari orang tua tersebut, sedangkan guru adalah orang yang memiliki kualifikasi yang dianggap memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan pendidikan di sekolah. Penyebab utama kasus seperti ini antara lain kurangnya pemahaman guru tentang batas hukum dan etika pendidikan, perubahan cara pandang masyarakat terhadap hukuman fisik, kurangnya komunikasi antara guru, orang tua, dan siswa, serta emosi guru yang kadang tidak terkendali karena tekanan pekerjaan. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan pelatihan bagi guru tentang cara mendisiplinkan siswa tanpa kekerasan, peningkatan komunikasi antara sekolah dan orang tua agar masalah bisa diselesaikan bersama, serta adanya perlindungan hukum yang seimbang bagi guru dan siswa.

2. Perilaku asusila pada pelajar adalah tindakan yang melanggar norma kesopanan, terutama terkait sikap dan etika dalam berinteraksi.
Penyebabnya beragam, mulai dari keluarga, pergaulan, hingga media sosial. Solusinya adalah memperkuat kontrol diri, pendidikan karakter, mengawasi penggunaan teknologi, dan membangun komunikasi yang baik antara keluarga, sekolah, dan pelajar.

3. Penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa merupakan masalah serius yang terus meningkat seiring berkembangnya zaman. Banyak generasi muda yang terjerumus karena pengaruh lingkungan, ajakan teman, hingga rasa penasaran untuk mencoba hal baru tanpa memahami risiko yang ditimbulkan. Selain itu, kondisi psikologis seperti stres akademik, tekanan pergaulan, dan kurangnya kontrol diri dapat menjadi pemicu kuat terjadinya penyalahgunaan narkoba. Kemudahan akses melalui internet dan media sosial juga membuat peredaran narkoba semakin sulit diawasi. Untuk mencegah penyalahgunaan narkoba, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Individu harus memiliki kesadaran diri serta kemampuan menolak ajakan negatif dan memilih pergaulan yang sehat.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Alya Niza Silvia -
Nama : Alya Niza Silvia
Kelas : 25 C
NPM : 2513032078

FILM KELUARGA CEMARA 2019

Mengidentifikasi minimal dua dilema moral
1. Dilema antara kejujuran dan kebutuhan ekonomi = Setelah ayahnya, Abah, mengalami kebangkrutan, keluarga mereka jatuh miskin dan harus pindah ke desa. Dalam kondisi sulit, muncul dilema moral antara mempertahankan kejujuran dan harga diri atau mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Contohnya: Abah menolak untuk menempuh cara curang atau meminta belas kasihan, meski keluarganya kesulitan ekonomi. Ini menimbulkan konflik batin antara rasa tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan prinsip moral yang ia pegang.

2. Dilema anak (Euis) antara gengsi dan rasa hormat kepada keluarga = Euis, sebagai anak remaja, merasa malu karena kondisi keluarganya berubah drastis dari kaya menjadi miskin. Ia menghadapi dilema moral antara menjaga harga diri dan gengsinya di hadapan teman-teman atau menerima keadaan dan tetap menghormati orang tuanya.

3. Dilema Abah dan Emak antara kebahagiaan keluarga dan ambisi pribadi = Abah harus memilih antara menerima pekerjaan dengan prinsip kejujuran dan tanggung jawab, atau mengejar kesuksesan materi yang lebih cepat tapi berisiko moral. Emak pun berjuang antara keinginan mendukung suami secara moral dan dorongan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga secepatnya.

4. Dilema solidaritas dan ego pribadi = Dalam situasi sulit, setiap anggota keluarga diuji antara memikirkan diri sendiri atau saling mendukung. Euis yang awalnya egois dan Cemara (Ara) yang polos, sama-sama belajar bahwa nilai keluarga dan kasih sayang jauh lebih penting daripada kenyamanan pribadi.

Mengidentifikasi perkembangan moral menurut Kohlberg:
1. Tahap Prakonvensional (anak menilai baik-buruk berdasarkan akibat langsung bagi dirinya)
Pada tahap ini, Ara sebagai anak kecil pada awalnya menunjukkan moral prakonvensional. Ia patuh pada orang tuanya karena takut dimarahi atau tidak ingin membuat mereka sedih, bukan karena memahami alasan moral di balik aturan itu. Kemudian, pada awalnya juga Euis menunjukkan moral prakonvensional ketika ia merasa malu dengan kondisi miskin keluarganya dan berusaha menyelamatkan dirinya dari rasa malu. Ia lebih fokus pada pandangan orang lain terhadap dirinya.

2. Tahap Konvensional (seseorang mulai berperilaku baik agar diterima, dihormati, dan sesuai dengan norma sosial atau aturan kelompok)
Euis mulai berpindah ke tahap konvensional ketika ia memahami bahwa kebahagiaan keluarga lebih penting daripada gengsi sosial. Seperti, Euis berhenti menyalahkan keadaan dan mulai membantu keluarga, ia menunjukkan rasa tanggung jawab dan empati. Jadi, ia mulai menerima keadaan dan mendukung Abah serta Emaknya dengan tulus. Kemudian, Abah dan Emak juga menunjukkan tahap konvensional ketika mereka tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab meski dalam tekanan ekonomi. Mereka berpegang pada norma sosial dan moral keluarga, bahwa hidup harus dijalani dengan kejujuran dan kebersamaan.

3. Tahap Pascakonvensional (seseorang menilai benar-salah bukan semata karena aturan sosial, tapi karena prinsip moral dan nilai kemanusiaan yang diyakini)
Abah menjadi tokoh yang paling jelas menunjukkan tahap pascakonvensional. Meskipun ia bisa saja mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang, ia tetap memilih kejujuran dan tanggung jawab moral. Emak juga memperlihatkan moral pascakonvensional karena ia mendukung keputusan Abah atas dasar prinsip moral, bukan sekadar aturan sosial. Ia memaknai penderitaan mereka sebagai proses untuk menjaga kehormatan keluarga dan menanamkan nilai kehidupan bagi anak-anaknya.

Perbandingan Film Keluarga Cemara (2019) dengan Kehidupan Nyata

Dalam kehidupan nyata masyarakat Indonesia, situasi serupa sering terjadi. Banyak keluarga harus beradaptasi ketika mengalami penurunan ekonomi atau kehilangan pekerjaan. Pada tahap prakonvensional, anak-anak di dunia nyata biasanya berperilaku baik karena takut dihukum atau ingin mendapat hadiah, sebagaimana terlihat pada Cemara yang patuh karena takut membuat orang tuanya sedih. Seiring bertambahnya usia, moralitas berkembang menuju tahap konvensional, seperti Euis yang mulai memahami pentingnya norma, tanggung jawab, dan kebersamaan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam budaya Indonesia, di mana perilaku baik sering didasarkan pada keinginan untuk diterima dan dihormati oleh masyarakat. Tokoh Abah menjadi cerminan tahap moral pascakonvensional dalam kehidupan nyata. Ia tetap menjunjung tinggi kejujuran dan prinsip hidup meski tertekan oleh kebutuhan ekonomi. Di masyarakat Indonesia, nilai ini masih dijunjung tinggi, namun sering kali diuji oleh realitas sosial dan ekonomi. Tidak semua orang mampu bertahan dalam kejujuran saat menghadapi kesulitan, sehingga Abah menjadi simbol ideal moral yang diharapkan dapat diteladani oleh masyarakat. Film ini menunjukkan bahwa mempertahankan nilai moral universal seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang adalah bentuk moralitas tertinggi yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, film Keluarga Cemara merefleksikan kondisi nyata kehidupan keluarga Indonesia yang berjuang antara tuntutan ekonomi dan nilai moral. Yandy Laurens berhasil menampilkan kisah yang tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga menggugah kesadaran penonton tentang pentingnya perkembangan moral di dalam keluarga. Baik dalam film maupun kehidupan nyata, keluarga menjadi tempat pertama seseorang belajar tentang benar dan salah, serta bagaimana mempertahankan nilai moral meski dalam kesulitan. Pesan film ini selaras dengan teori Kohlberg, bahwa perkembangan moral manusia adalah proses bertahap yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan kekuatan nilai yang ditanamkan sejak dini.
Nama : Alya Niza Silvia
NPM : 2513032078
Kelas : 25 C

Menurut Ki Hajar Dewankara, tujuan pendidikan adalah untuk memerdekakan manusia. Apa yg dimaksud manusia merdeka? Yaitu selamat raganya dan bahagia jiwanya. Tujuan hidup kita sebenarnya adalah keselamatan dan kebahagiaan. Kesimpulannya, pendidikan harusnya memerdekakan manusia, menghasilkan manusia yang selamat dan merdeka. Selain itu, peran pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah memajukan dan menjaga diri, memelihara dan menjaga bangsa, memelihara dan menjaga dunia. Tiga peran tersebut, dikenal sebagai filosofi Tri Rahayu.

Jika saya menjadi seorang guru, saya akan menerapkan cara belajar seperti:
1. Sebagai guru, kita perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berani berbicara, bukan hanya diam dan mendengar. Siswa harus diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, mengkritik, atau memberi komentar terhadap suatu masalah.

2. Guru tidak langsung memotong atau menyalahkan, tetapi mendengarkan lalu membimbing agar pendapat mereka lebih tepat dan sopan. Mereka akan belajar berpikir, berani mengungkapkan ide, dan menghargai perbedaan.

3. Anak diajari sampai akhirnya bisa mengerjakan, memilih, dan berpikir sendiri tanpa disuruh maupun diarahkan.

4. Dalam pendidikan, tugas seorang guru harus menolong anak agar tidak tersesat dalam sikap, pilihan, dan pergaulan. Supaya hidup para anak didik baik dan benar.

5. Guru harus membuat proses pembelajaran itu menyenangkan dan manusiawi, sehingga anak merasa dihargai, tidak takut, dan semangat belajar.