Posts made by Via Dwi Silviani

Nama : Via Dwi Silviani
NPM : 2513032085
Kelas : C

Menurut saya, tujuan pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pada memerdekakan manusia sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga pada pembentukan manusia seutuhnya yang selamat raganya dan bahagia jiwanya.

Konsep “selamat raga” berarti pendidikan harus memperhatikan kesehatan fisik dan kesejahteraan siswa, karena tubuh yang sehat menjadi dasar bagi proses belajar yang baik.

Sementara “bahagia jiwa” menekankan pentingnya keseimbangan emosional dan spiritual agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang tenang, percaya diri, dan berkarakter kuat.Saya setuju bahwa pendidikan yang memerdekakan adalah pendidikan yang menuntun, bukan memaksa. Setiap anak memiliki potensi, minat, dan cara belajar yang berbeda, sehingga tugas pendidikan adalah membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi tersebut secara alami, bukan mengekang dengan sistem yang kaku.


Jika saya menjadi guru, saya akan berusaha menerapkan nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara dalam proses belajar mengajar, antara lain:

1.Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan aman agar siswa merasa bebas untuk berekspresi, bertanya, dan berpendapat tanpa takut salah.

2.Menjadi teladan bagi siswa dengan menunjukkan sikap disiplin, jujur, dan menghargai orang lain.

3.Menggunakan metode pembelajaran yang kreatif dan berpusat pada siswa, seperti diskusi, proyek, atau permainan edukatif, sehingga siswa aktif dan termotivasi.

4.Menumbuhkan nilai karakter dan empati, bukan hanya kecerdasan intelektual.

5.Mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mandiri, agar mereka mampu mengambil keputusan sendiri dengan penuh tanggung jawab

DKPM PPKn 2025C -> Analisis Video

by Via Dwi Silviani -

Nama : Via Dwi Silviani 

NPM  : 2513032085

Kelas : C


Tahap-tahap perkembangan moral menurut Lawrence kohlberg 


Menurut kohlberg terdapat tiga tahap perkembangan moral yaitu:

1.  PRA KONVENSIONAL 

 pada level ini seseorang menilai baik dan buruk berdasarkan faktor-faktor di luar dirinya seperti; hubungan sebab akibat, ganjaran dan hukuman, menyenangkan dan tidak menyenangkan. pada level ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu dengan 

PERTAMA,orientasi hukuman dan kepatuhan (pada tahap ini seseorang menilai baik dan buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut karena adanya hukuman.misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan merasa bersalah apabila melanggar perkataannya. Penalaran moral seperti ini pada didasarkan atas dasar kesadaran di mana bila ia tidak patuh dia akan mendapatkan hukuman yang akan menimbulkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman. Sikap egosentrisme sangat menonjol. Pertama-tama seseorang melakukan kebaikan untuk untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

kedua, orientasi relativis instrumental, seseorang melakukan perbuatan baik Karena mengharapkan imbalan, tahap ini ya sudah menyadari bahwa orang lain memiliki kepentingan yang sama dengan dirinya, perbuatan baik dijadikan instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain. contohnya, melihat perilaku anak-anak kecil yang baru mau melakukan sesuatu ketika diiming-imingi hadiah yang menarik, jadi seseorang di tahap ini terlihat baik dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan. 

2. KONVENSIONAL, 

pada level konvensional seseorang sudah mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertentu atau tertib sosial yang berlaku dalam masyarakat tertentu, ya sudah mulai keluar dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri, demi melihat kebahagiaan dan kenyamanan orang lain sebagai sesuatu yang patut diperjuangkan dan sudah menaruh loyalitas pada tertib sosial atau norma-norma yang berlaku pada masyarakat. Pada level ini dibagi menjadi 2 tahap yakni; 

KETIGA, orientasi anak manis (seseorang menganggap bahwa saya merupakan anak manis dan berbuat baik merupakan perilaku yang menyenangkan dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain, oleh karena itu ia selalu berusaha mematuhi norma-norma agar tidak merasa bersalah. di sini unsur-unsur unsur setia kawan dan loyalitas terhadap kelompok sangat dijunjung, misalnya kelompok-kelompok remaja dan ABG, biasanya anak-anak remaja lebih memilih berbohong untuk melindungi temannya daripada dianggap penghianat oleh kelompoknya. 

KEEMPAT, hukum dan ketertiban (makna kelompok diperluas, seseorang mulai menyadari di luar kelompok lokal seperti keluarga, teman sebaya ,teman sekolah, organisasi dll. Iya sudah menyadari bahwa dirinya bagian dari masyarakat seperti iya sudah menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari suku tertentu.. penekanannya pada tahap ini yaitu harus mematuhi hukum secara mutlak agar ketertiban sosial dapat terwujud. Kebanyakan orang dewasa sudah berada di tahap ini. 

3. PASCAKONVENSIONAL, 

hidup baik sudah menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing, atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin. Di sini seseorang sudah mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu diterima secara mentah-mentah. Hukum bukanlah sesuatu yang harus ditaati secara mutlak melainkan sesuatu yang terlebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul di dalam hati nurani. Pada level ini juga dibagi menjadi 2 tahap yakni :

 KELIMA, kontrak sosial legalistis, (segi hukum masih diterapkan namun seseorang sudah mulai menyadari bahwa hukum belum tentu bisa diterapkan dalam segi kehidupan manusia, di sini orang sudah mulai berpikir bahwa hukum itu dapat diubah dan disesuaikan sesuai konteks atau situasi yang ada sejauh dapat memberi manfaat sosial atau dapat memberi manfaat sosial atau masyarakat umum. Oleh karena itu dapat diberikan persetujuan demokratis kontrak sosial dan konsensus bebas agar mencapai kesepakatan yang baru.

 KEENAM , tahap prinsip hati nurani universal (seseorang sudah mulai menyadari bahwa di dalam lubuk hatinya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku universal, prinsip-prinsip yang menganut universal tersebut seperti: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan misalnya keadilan dan ketulusan. Prinsip-prinsip tersebut berlaku di manapun dan kapanpun. Seseorang yang berada di tahap ini mengatur tingkah laku sesuai hati nurani pribadi yang berlaku secara universal. Iya akan mengalami penyesalan yang mendalam ketika melanggar prinsip-prinsip hati nurani tersebut.


 Dapat disimpulkan bahwa hukum tertinggi adalah prinsip batin nurani universal. Dibutuhkan kepekaan hati nurani yang besar ketika menghadapi suatu kenyataan. Prinsip-prinsip ini juga dapat bertentangan dengan aturan yang berada di masyarakat. Pertama-tama bukan karena egoisme pribadi ataupun kepentingan pribadi melainkan karena menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta hormat terhadap martabat sesamanya.

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Analisis Video

by Via Dwi Silviani -

Nama : Via Dwi Silviani 

Npm: 2513032085

Kelas : 25 C

Aliran-aliran pendidikan 


A. Aliran konvensional 

     Membahas tentang faktor-faktor yang menentukan perkembangan manusia dan kepribadiannya .4 macam aliran konvensional ;

1. Aliran empirisme/optimisme : seseorang dilahirkan dalam keadaan bersih, perkembangannya dipengaruhi lingkungan .

2. Aliran nativisme: seseorang mempunyai pembawaan sejak lahir dan tidak bisa dipengaruhi oleh lingkungan ataupun pendidikan. 

3. Aliran nativisme/pesimisme : sejak lahir seseorang memiliki pembawaan dan pengaruh pendidikan bergaris lurus dengan pembawaannya. 

4. Aliran konvergensi: setiap anak memiliki pembawaan baik namun bisa rusak karena lingkungan maupun pendidikan.


B. Gerakan/aliran baru

Adalah upaya mencari perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Berikut bentuk aliran baru: 

1. Pengajaran alam sekitar: pengajaran di sekolah harus sesuai dengan kehidupan yang dialami anak (konkret). Prinsipnya: peragaan, aktivitas anak, pengajaran totalitas, menyatu dengan pengalaman anak, memberikan apersepsi emosional anak.

2. Pengajaran pusat perhatian: anak harus mempunyai pengetahuan tentang dirinya sendiri dan dunianya.metodenya;1.) Metode global.2.) pusat minat

3. Sekolah kerja:bertolak memandang bahwa pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu, tetapi juga demi kepentingan masyarakat.bentuk bentuk sekolah kerja:1). sosiologis 2). psikologis 3). sosiologis-psikologia 4) kepribadian

4. Pengajaran : Proyek untuk mencari permasalahan secara aktif.

AI PPKn C -> FORUM DISKUSI

by Via Dwi Silviani -
Nama : Via Dwi Silviani
Kelas : 25 C
NPM : 2513032085

Sunnah merupakan sumber hukum Islam setelah Al-Qur'an , yang mencakup perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW. Sunnah berfungsi sebagai penjelas dan penguat dari Al-Qur'an, serta memberikan pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami sunnah, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Islam dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sunnah juga membantu kita untuk memahami konteks dan makna yang lebih luas dari Al-Qur'an, serta memberikan contoh konkret tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalankan ajaran Islam dalam kehidupannya.

Hadis dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan beberapa kriteria. Berikut adalah beberapa jenis hadis:

1. Hadis qauliyah: (Hadis Perkataan): Hadis yang berisi perkataan Nabi Muhammad SAW.
2.hadis fi'liyah(Hadis Perbuatan): Hadis yang berisi perbuatan Nabi Muhammad SAW.
3. Hadis Taqririyah (Hadis Ketetapan): Hadis yang berisi ketetapan Nabi Muhammad SAW terhadap perbuatan atau perkataan orang lain.

Berdasarkan kualitasnya, hadis dapat dibagi menjadi:

1. Hadis Shahih: Hadis yang sahih dan dapat dipercaya karena memiliki sanad yang kuat dan matan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an atau hadis lain.
2. hadis Hasan: Hadis yang baik dan dapat diterima karena memiliki sanad yang cukup kuat dan matan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an atau hadis lain.
3. Hadis Dhaif: Hadis yang lemah karena memiliki sanad yang lemah atau matan yang bertentangan dengan Al-Qur'an atau hadis lain.