Posts made by Via Dwi Silviani

Nama : Via Dwi Silviani
NPM : 25130320851.Rasa

1.Aman (keamanan, keteraturan, stabilitas)

Contoh yang bisa dilakukan guru:

1.Membuat aturan kelas yang jelas dan konsisten (misalnya aturan berbicara, mengumpulkan tugas)
2.Tidak bersikap kasar atau mempermalukan siswa di depan kelas
3.Menjaga suasana kelas tetap tertib dan kondusif
4.Menangani konflik atau bullying dengan tegas
Memberikan rasa aman secara emosional

2. Kebutuhan Sosial (afeksi, relasi, keluarga)

Contoh yang bisa dilakukan guru:

1.Mengadakan kerja kelompok atau diskusi
2.Menjalin hubungan yang akrab dan peduli dengan siswa
3.Memberikan perhatian pada siswa yang terlihat menyendiri
4.Mengadakan kegiatan yang mempererat kebersamaan (ice breaking)
5.Melibatkan orang tua dalam perkembangan belajar siswa

3. Kebutuhan Penghargaan (pencapaian, status, tanggung jawab, reputasi)

Contoh yang bisa dilakukan guru:

1.Memberikan pujian atas usaha dan hasil belajar siswa
2.Memberikan penghargaan seperti nilai, sertifikat, atau ucapan apresiasi
3.Memberi tanggung jawab (ketua kelas, pemimpin diskusi)
4.Mengakui prestasi siswa di depan kelas
5.Mendorong siswa untuk percaya diri menunjukkan kemampuannya

4. Aktualisasi Diri (pengembangan diri dan pemenuhan ideologi)

Contoh yang bisa dilakukan guru:

1.Memberikan tugas proyek kreatif sesuai minat siswa
2.Memberi kebebasan siswa memilih topik atau cara belajar
3.Mengembangkan bakat siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler
4.Melatih siswa berpikir kritis dan menyampaikan pendapat
5.Membimbing siswa mencapai potensi terbaiknya

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Via Dwi Silviani -
Nama : Via Dwi Silviani
Kelas. : C
NPM. : 2513032085

1. Pendekatan Kognitif dalam Pendidikan Moral

Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (Kohlberg) menekankan bahwa moralitas berkembang melalui tahapan penalaran, bukan sekadar pembiasaan.
Ciri-ciri utamanya:

1.Siswa diajak memecahkan dilema moral, bukan diberi jawaban benar-salah.
2.Guru berperan sebagai fasilitator dialog, bukan pemberi nilai moral.
3.Tujuan utamanya adalah meningkatkan tahap penalaran moral siswa.
4.Diskusi kelompok digunakan untuk mengeksplorasi alasan, bukan keputusan akhir.
5.Nilai moral dipahami melalui argumentasi, penalaran, dan analisis konsekuensi.

2. Mengapa Pendekatan Kognitif Relevan untuk KONTEKS INDONESIA

Pendekatan kognitif cocok untuk Indonesia karena:

a. Membantu siswa berpikir kritis terhadap isu moral

Indonesia menghadapi berbagai tantangan moral: intoleransi, bullying, korupsi, sampah, dll.
Pendekatan kognitif membantu siswa menalar, bukan hanya menghafal nilai.

b. Mendorong dialog toleransi

Diskusi dilema moral melatih siswa:
1.menghargai pendapat berbeda,
2.bersikap terbuka,
3.menjelaskan alasan moralnya.
Sangat relevan untuk masyarakat yang majemuk.

c. Mendukung pembelajaran abad 21
Melatih:
1.critical thinking,
2.komunikasi,
3.problem solving.

d. Sesuai kurikulum Indonesia yang menekankan “berpikir tingkat tinggi (HOTS)”
Dilema moral sangat cocok untuk pembelajaran berbasis HOTS di kurikulum Merdeka maupun Kurikulum 2013.

3. Alasan Pemilihan Pendekatan Kognitif
1.Mengembangkan kedewasaan moral, bukan hanya kepatuhan.
2.Menanamkan kemampuan melihat dampak moral suatu tindakan.
3.Siswa belajar membuat keputusan moral sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan.
4.Relevan dengan nilai-nilai Pancasila tentang kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan musyawarah.
5.Menghindari indoktrinasi; siswa membangun pemahamannya sendiri secara rasional.

4. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Kognitif

Tema: Kejujuran dan Tanggung Jawab
Metode Utama:
1.Diskusi dilema moral (Kohlberg)
2.Tanya-jawab transformatif
3.Penalaran moralPendidikan Moral – Pendekatan Kognitif (Kohlberg)

Mata Pelajaran: PPKn / IPS Kelas: Waktu: 1 JP (60 menit)
I. Tujuan Pembelajaran

1.Siswa mampu menganalisis
dilema moral.
2.Siswa mampu memberi alasan moral secara logis.
3 Siswa menghargai pendapat teman.

II. Materi Pembelajaran
1.Pengertian dilema moral.
2.Prinsip penalaran moral.
3.Contoh kasus dilema moral.
III. Metode & Media
Metode: Diskusi dilema moral (Kohlberg).
Media: Lembar kasus

IV. Langkah Pembelajaran
A. Pendahuluan (5–10 menit)
Guru memberi salam, apersepsi.Guru menyampaikan tujuan.

B. Kegiatan Inti (40 menit)

1. Dilema Moral

Budi menemukan dompet berisi uang. Uang itu bisa membantu membeli buku tugas kelompok. Jika dikembalikan, ia tidak bisa membeli buku. Apa yang harus dilakukan?

2. Diskusi Kelompok

1.Pilihan tindakan Budi.
2.Akibat setiap pilihan.
3.Alasan moral yang mendukung.

3. Diskusi Kelas

Guru menggali alasan moral dengan pertanyaan reflektif: "Mengapa memilih itu?" "Apa dampaknya?"

C. Penutup (10 menit)

1.Siswa menulis refleksi nilai terpenting dalam kasus.
2.Guru menyimpulkan pembelajaran.

V. Penilaian

1.Sikap: Menghargai pendapat.
2.Pengetahuan: Alasan moral.
3.Keterampilan: Keaktifan diskusi.

Sumber referensi:

1.Kesuma, D., Triatna, C., & Permana, J. (2011). Pendidikan Karakter. PT Remaja Rosdakarya.

2.Kemdikbud RI. (2022). Kurikulum Merdeka: Pedoman Pembelajaran.

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Penugasan

by Via Dwi Silviani -
Nama : Via Dwi Silviani
NPM. : 2513032085
Kelas. : C
Kajian kasus dalam bidang pendidikan memperlihatkan beragam persoalan yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak, terutama sekolah, orang tua, dan masyarakat. Salah satu permasalahan yang muncul adalah rasa takut guru dalam menegur siswa karena khawatir akan dilaporkan atau bahkan dipenjara. Situasi ini menunjukkan lemahnya hubungan emosional antara sekolah dan orang tua serta adanya kesalahpahaman terhadap maksud tindakan disiplin yang dilakukan guru. Akibatnya, guru menjadi ragu untuk menegakkan kedisiplinan, padahal tujuannya adalah membentuk karakter peserta didik. Untuk itu, guru perlu mengutamakan pendekatan pencegahan dalam pembinaan karakter siswa, dan apabila diperlukan hukuman, hendaknya dilakukan melalui cara-cara edukatif yang mendidik, bukan menghukum secara keras.

Selain itu, kasus tindakan asusila di kalangan pelajar juga menjadi peringatan penting bagi dunia pendidikan. Lemahnya penanaman nilai agama dan moral di lingkungan keluarga serta kurangnya kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam mengawasi perilaku anak menjadi faktor utama penyebabnya. Solusinya adalah dengan memperkuat peran keluarga dalam memberikan contoh dan pembinaan moral sejak dini, serta menciptakan suasana sekolah yang positif dan mampu menumbuhkan minat serta bakat siswa agar mereka terhindar dari perilaku menyimpang.

Masalah lain yang tidak kalah serius adalah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Berdasarkan data dari periode 1 hingga 21 Januari 2023, terdapat 2.650 kasus narkoba yang dilaporkan, dan sekitar 8,3% di antaranya melibatkan mahasiswa serta pelajar. Angka ini menunjukkan tingginya risiko penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda. Untuk mengatasi hal tersebut, penting bagi sekolah dan orang tua untuk memiliki persepsi yang sejalan dalam memahami dan mendampingi peserta didik. Kerja sama yang erat antara keduanya akan menciptakan sistem pengawasan yang berkelanjutan di rumah maupun di sekolah. Dengan demikian, pendidikan karakter yang kuat, komunikasi yang terbuka, serta lingkungan sosial yang positif menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi muda yang beretika, disiplin, dan bebas dari pengaruh buruk.