Posts made by Via Dwi Silviani

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Via Dwi Silviani -
Nama : Via Dwi Silviani
Kelas. : C
NPM. : 2513032085

1. Pendekatan Kognitif dalam Pendidikan Moral

Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (Kohlberg) menekankan bahwa moralitas berkembang melalui tahapan penalaran, bukan sekadar pembiasaan.
Ciri-ciri utamanya:

1.Siswa diajak memecahkan dilema moral, bukan diberi jawaban benar-salah.
2.Guru berperan sebagai fasilitator dialog, bukan pemberi nilai moral.
3.Tujuan utamanya adalah meningkatkan tahap penalaran moral siswa.
4.Diskusi kelompok digunakan untuk mengeksplorasi alasan, bukan keputusan akhir.
5.Nilai moral dipahami melalui argumentasi, penalaran, dan analisis konsekuensi.

2. Mengapa Pendekatan Kognitif Relevan untuk KONTEKS INDONESIA

Pendekatan kognitif cocok untuk Indonesia karena:

a. Membantu siswa berpikir kritis terhadap isu moral

Indonesia menghadapi berbagai tantangan moral: intoleransi, bullying, korupsi, sampah, dll.
Pendekatan kognitif membantu siswa menalar, bukan hanya menghafal nilai.

b. Mendorong dialog toleransi

Diskusi dilema moral melatih siswa:
1.menghargai pendapat berbeda,
2.bersikap terbuka,
3.menjelaskan alasan moralnya.
Sangat relevan untuk masyarakat yang majemuk.

c. Mendukung pembelajaran abad 21
Melatih:
1.critical thinking,
2.komunikasi,
3.problem solving.

d. Sesuai kurikulum Indonesia yang menekankan “berpikir tingkat tinggi (HOTS)”
Dilema moral sangat cocok untuk pembelajaran berbasis HOTS di kurikulum Merdeka maupun Kurikulum 2013.

3. Alasan Pemilihan Pendekatan Kognitif
1.Mengembangkan kedewasaan moral, bukan hanya kepatuhan.
2.Menanamkan kemampuan melihat dampak moral suatu tindakan.
3.Siswa belajar membuat keputusan moral sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan.
4.Relevan dengan nilai-nilai Pancasila tentang kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan musyawarah.
5.Menghindari indoktrinasi; siswa membangun pemahamannya sendiri secara rasional.

4. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Kognitif

Tema: Kejujuran dan Tanggung Jawab
Metode Utama:
1.Diskusi dilema moral (Kohlberg)
2.Tanya-jawab transformatif
3.Penalaran moralPendidikan Moral – Pendekatan Kognitif (Kohlberg)

Mata Pelajaran: PPKn / IPS Kelas: Waktu: 1 JP (60 menit)
I. Tujuan Pembelajaran

1.Siswa mampu menganalisis
dilema moral.
2.Siswa mampu memberi alasan moral secara logis.
3 Siswa menghargai pendapat teman.

II. Materi Pembelajaran
1.Pengertian dilema moral.
2.Prinsip penalaran moral.
3.Contoh kasus dilema moral.
III. Metode & Media
Metode: Diskusi dilema moral (Kohlberg).
Media: Lembar kasus

IV. Langkah Pembelajaran
A. Pendahuluan (5–10 menit)
Guru memberi salam, apersepsi.Guru menyampaikan tujuan.

B. Kegiatan Inti (40 menit)

1. Dilema Moral

Budi menemukan dompet berisi uang. Uang itu bisa membantu membeli buku tugas kelompok. Jika dikembalikan, ia tidak bisa membeli buku. Apa yang harus dilakukan?

2. Diskusi Kelompok

1.Pilihan tindakan Budi.
2.Akibat setiap pilihan.
3.Alasan moral yang mendukung.

3. Diskusi Kelas

Guru menggali alasan moral dengan pertanyaan reflektif: "Mengapa memilih itu?" "Apa dampaknya?"

C. Penutup (10 menit)

1.Siswa menulis refleksi nilai terpenting dalam kasus.
2.Guru menyimpulkan pembelajaran.

V. Penilaian

1.Sikap: Menghargai pendapat.
2.Pengetahuan: Alasan moral.
3.Keterampilan: Keaktifan diskusi.

Sumber referensi:

1.Kesuma, D., Triatna, C., & Permana, J. (2011). Pendidikan Karakter. PT Remaja Rosdakarya.

2.Kemdikbud RI. (2022). Kurikulum Merdeka: Pedoman Pembelajaran.

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Penugasan

by Via Dwi Silviani -
Nama : Via Dwi Silviani
NPM. : 2513032085
Kelas. : C
Kajian kasus dalam bidang pendidikan memperlihatkan beragam persoalan yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak, terutama sekolah, orang tua, dan masyarakat. Salah satu permasalahan yang muncul adalah rasa takut guru dalam menegur siswa karena khawatir akan dilaporkan atau bahkan dipenjara. Situasi ini menunjukkan lemahnya hubungan emosional antara sekolah dan orang tua serta adanya kesalahpahaman terhadap maksud tindakan disiplin yang dilakukan guru. Akibatnya, guru menjadi ragu untuk menegakkan kedisiplinan, padahal tujuannya adalah membentuk karakter peserta didik. Untuk itu, guru perlu mengutamakan pendekatan pencegahan dalam pembinaan karakter siswa, dan apabila diperlukan hukuman, hendaknya dilakukan melalui cara-cara edukatif yang mendidik, bukan menghukum secara keras.

Selain itu, kasus tindakan asusila di kalangan pelajar juga menjadi peringatan penting bagi dunia pendidikan. Lemahnya penanaman nilai agama dan moral di lingkungan keluarga serta kurangnya kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam mengawasi perilaku anak menjadi faktor utama penyebabnya. Solusinya adalah dengan memperkuat peran keluarga dalam memberikan contoh dan pembinaan moral sejak dini, serta menciptakan suasana sekolah yang positif dan mampu menumbuhkan minat serta bakat siswa agar mereka terhindar dari perilaku menyimpang.

Masalah lain yang tidak kalah serius adalah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Berdasarkan data dari periode 1 hingga 21 Januari 2023, terdapat 2.650 kasus narkoba yang dilaporkan, dan sekitar 8,3% di antaranya melibatkan mahasiswa serta pelajar. Angka ini menunjukkan tingginya risiko penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda. Untuk mengatasi hal tersebut, penting bagi sekolah dan orang tua untuk memiliki persepsi yang sejalan dalam memahami dan mendampingi peserta didik. Kerja sama yang erat antara keduanya akan menciptakan sistem pengawasan yang berkelanjutan di rumah maupun di sekolah. Dengan demikian, pendidikan karakter yang kuat, komunikasi yang terbuka, serta lingkungan sosial yang positif menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi muda yang beretika, disiplin, dan bebas dari pengaruh buruk.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Via Dwi Silviani -
Nama : Via Dwi Silviani
NPM. : 2513032085
Kelas. : C

Film Keluarga Cemara menggambarkan kehidupan keluarga sederhana yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dalam ceritanya, terdapat berbagai dilema moral yang dihadapi oleh para tokoh, terutama Abah dan anak-anaknya. Salah satu dilema moral utama muncul ketika Abah harus memilih antara mempertahankan kejujuran atau melakukan kecurangan demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Setelah kehilangan harta bendanya akibat ditipu rekan bisnis, Abah memutuskan untuk hidup jujur dan bekerja keras, meski penghasilannya kecil. Pilihan ini menunjukkan bahwa baginya, kejujuran dan harga diri jauh lebih penting daripada kekayaan material.

Dilema moral kedua dapat dilihat melalui tokoh Euis, anak sulung keluarga Cemara. Sebagai remaja, Euis sering merasa malu dengan kondisi keluarganya yang kini hidup dalam kesederhanaan. Ia menghadapi konflik batin antara keinginannya untuk diterima oleh lingkungan sosialnya dan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga. Pada akhirnya, Euis memilih untuk menerima keadaan keluarganya dengan lapang dada dan tetap bangga pada orang tuanya. Sikap ini menggambarkan bahwa ia telah belajar menempatkan nilai kasih sayang dan kebersamaan di atas rasa gengsi dan penilaian orang lain.
Analisis Perkembangan Moral Berdasarkan Teori Kohlberg

Menurut teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, perkembangan moral seseorang terbagi menjadi tiga tingkat: pra-konvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Tokoh Abah digambarkan berada pada tahap pascakonvensional. Ia bertindak berdasarkan prinsip moral universal seperti kejujuran dan tanggung jawab, bukan semata karena aturan atau pandangan masyarakat. Keputusannya untuk tetap jujur meskipun hidup susah menunjukkan bahwa tindakannya didasari oleh keyakinan pribadi terhadap nilai moral yang luhur. Ia tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi berusaha memberikan teladan bagi anak-anaknya agar tetap menjunjung integritas dan kerja keras.
Sementara itu, perkembangan moral Euis berada di antara tahap konvensional dan pascakonvensional. Pada awal cerita, Euis masih menunjukkan perilaku konvensional, di mana ia peduli terhadap pandangan teman-temannya dan ingin diterima di lingkungan sosialnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Euis mulai memahami makna moral yang lebih dalam — bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh kekayaan, melainkan oleh kejujuran dan kasih sayang dalam keluarga. Proses perubahan ini menunjukkan bahwa Euis mulai bergerak ke arah tahap pascakonvensional, di mana ia menilai tindakan berdasarkan prinsip dan nilai kemanusiaan, bukan sekadar penerimaan sosial.
Menurut saya,film Keluarga Cemara menggambarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan keluarga seperti kesederhanaan, kejujuran, kerja keras, dan kasih sayang antaranggota keluarga. Meskipun kehilangan harta benda, keluarga Abah tetap hidup bahagia karena saling mendukung, menghargai, dan menerima keadaan dengan ikhlas. Nilai-nilai tersebut menjadi teladan kuat tentang arti kebersamaan dan cinta tanpa pamrih. Namun, dalam dunia nyata saat ini, nilai-nilai keluarga seperti itu mulai tergerus oleh pengaruh gaya hidup modern dan kemajuan teknologi. Banyak keluarga lebih sibuk mengejar materi atau pekerjaan hingga melupakan kebersamaan, meskipun masih ada yang berusaha mempertahankan keharmonisan dan nilai moral dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, film Keluarga Cemara menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari harta atau kemewahan, melainkan dari cinta, kejujuran, dan kebersamaan dalam keluarga.