Posts made by DHIMAS BAGUS KUNCORO

Nama: Dhimas Bagus Kuncoro
Npm: 2553032004

Aktuali diri: dimana kita sebagai guru memberi kebebasan kepada beserta didik untuk mengekplor bakat dan keterampilannya, tugas kita sebagai guru adalah sebagai fasilitator dan mendukung kreativitas unik yang di miliki peserta didik.

Penghargaan: memberikan apresiasi terhadap setiap pencapaian yang di dapat peserta didik tidak hanya dari hasil akhirnya saja. Memberikan tugas kecil misalnya, menjadikan ketua kelompok dengan tujuan menumbuhkan rasa tanggung jawab kepada peserta didik.

Sosial: ice briking sebagai upaya untuk mengeratkan hubungan antara peserta didik dan pendidik, lalu berikan upaya saling sapa agar tumpuh rasa sosial yang harmonis

Rasa aman: membuat dan menyepakati aturan yang adil dan aman agar terhindar dari bullying, serta memberikan suasana kelas yang seru dan kondusif supaya tumbuh rasa aman

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by DHIMAS BAGUS KUNCORO -
NAMA: Dhimas Bagus Kuncoro
KELAS: 25 C
NPM: 2553032004


1. Dilema Moral dalam Film

Dalam film Keluarga Cemara (2019), terdapat beberapa dilema moral yang sangat kuat dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Salah satu dilema utama muncul pada sosok Abah. Ketika keluarganya jatuh secara ekonomi, Abah harus memilih antara mempertahankan gengsi sebagai kepala keluarga atau menerima pekerjaan sederhana demi memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Ia berjuang melawan rasa malu dan tekanan sosial, namun akhirnya memilih bekerja apa adanya demi bertanggung jawab. Ini menjadi gambaran nyata bagaimana ego sering bertentangan dengan kewajiban moral dalam keluarga.

Dilema lainnya terlihat pada diri Euis, anak sulung. Ia dihadapkan pada situasi sulit ketika kondisi ekonomi keluarganya menurun drastis. Di sekolah baru, ia tergoda untuk menutupi kenyataan agar tidak diremehkan teman-temannya. Di sinilah konflik antara kejujuran dan rasa aman emosional muncul. Euis belajar bahwa menerima keadaan dengan jujur jauh lebih berharga daripada mencari penerimaan dengan kepura-puraan.


2. Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral

Jika dilihat melalui kacamata teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, karakter Abah berada pada tahap moral konvensional. Ia berpegang pada nilai tanggung jawab, kejujuran, dan menjaga keharmonisan keluarga. Keputusan-keputusannya bukan lagi didorong oleh kepentingan pribadi, tetapi oleh kewajiban moral sebagai ayah serta rasa ingin tetap berada di jalur yang benar. Meski sesekali masih bergulat dengan ego, Abah lebih banyak menempatkan kesejahteraan keluarga di atas kepentingan dirinya.

Sementara itu, Euis berada pada masa transisi menuju tahap moral konvensional. Pada awalnya ia masih terpengaruh penilaian sosial dan citra diri di depan teman-temannya, namun seiring cerita berjalan ia mulai memahami bahwa nilai keluarga, kejujuran, dan penerimaan diri lebih penting daripada opini orang lain.

Ulasan Pesan Moral Film
Keluarga Cemara adalah film yang sederhana namun penuh makna mendalam tentang arti keluarga sesungguhnya. Film ini menceritakan bagaimana sebuah keluarga yang tadinya hidup nyaman harus memulai kehidupan baru di desa setelah tertipu dan kehilangan harta. Melalui perjalanan penuh dinamika tersebut, film ini mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan terkadang kehilangan adalah pintu menuju kedewasaan dan kebijaksanaan.

Salah satu pesan moral paling kuat dalam film ini adalah bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada materi. Ketika segala sesuatu hilang, yang tersisa adalah orang-orang terdekat yang tetap bersama kita. Abah, meski pernah berada pada posisi mapan, belajar bahwa makna seorang kepala keluarga bukan dari jabatan atau harta, tetapi dari keberanian untuk tetap berusaha, bertanggung jawab, dan hadir secara emosional bagi keluarga.

Emak menjadi simbol ketegaran dan kebijaksanaan seorang ibu. Ia menunjukkan bahwa cinta dan dukungan tidak selalu datang dalam bentuk uang, tetapi juga berupa perhatian, kesabaran, dan keberanian berdiri di samping suami pada saat terburuk. Anak-anak mereka juga belajar arti syukur, empati, dan sederhana tanpa kehilangan cita-cita.

Selain itu, Keluarga Cemara menampilkan konflik sosial seperti rasa malu akibat perubahan ekonomi, tekanan dari lingkungan, hingga sikap manusia ketika berada di titik terendah. Namun yang membuat film ini menyentuh adalah caranya menunjukkan bahwa ketulusan, kerja keras, dan kebersamaan selalu menemukan jalan keluar.

Pada akhirnya, film ini tidak hanya bercerita tentang sebuah keluarga yang jatuh bangun dalam ekonomi, melainkan perjalanan batin tentang memaknai kehidupan. Di tengah budaya modern yang sering mengukur keberhasilan dari kekayaan, Keluarga Cemara mengajak kita kembali pada nilai-nilai sederhana: cinta, kesetiaan, dan syukur atas hal-hal kecil yang sering kita abaikan.


3. Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata

Nilai keluarga dalam film ini sangat ideal: saling mendukung, menerima kekurangan, dan tetap bersatu saat krisis. Banyak keluarga nyata juga memiliki nilai serupa, terutama budaya keluarga Indonesia yang erat, penuh perhatian, dan menghormati orangtua.

Namun dalam kenyataan, krisis ekonomi sering memunculkan masalah lain: stres, konflik, bahkan perpecahan keluarga. Tidak semua orang mampu setegar keluarga Cemara, dan tidak semua lingkungan memberi dukungan seperti yang digambarkan dalam film. Meski demikian, cerita ini memberi inspirasi bahwa nilai seperti pengorbanan, kebersamaan, kerja keras, dan kejujuran masih sangat relevan dan perlu terus dijaga di kehidupan nyata.
Setelah melihat video di atas kita mempelajari beberapa poin penting yang bisa kita pahami salah satunya adalah tujuan dari pendidikan sendiri adalah untuk memerdekakan manusia dimana manusia selamat raganya dan bahagia jiwanya.
Ki Hajar Dewantara juga mempunyai filosofi tri rahayau yang mana memajukan dan menjaga diri, memelihara dan menjaga bangsa, memelihara dan menjaga dunia.
Pandangan ini memberi kita pengertian dimana kita harus mampu membimbing peserta didik agar mempunyai bekal di masa depan tujuannya agar dia bahagia dan merdeka. ketika saya menjadi guru nanti saya akan membimbing murid saya untuk bisa memahami arti dari tujuan pendidikan, supaya mereka mempunyai tujuan yang jelas dan bisa menggapai apa yang mereka inginkan, memberi mereka kesempatan bicara agar mental yang mereka punyai terbangun dan mempunyai jiwa yang sehat dan karakter yang baik, dan saya sebagai guru harus bisa mendidik murid saya supaya mereka bisa berkembang.

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Analisis Video

by DHIMAS BAGUS KUNCORO -

Nama: Dhimas Bagus Kuncoro

Npm: 2553032004

Kelas: 25C

ALIRAN PENDIDIKAN

ada dua hal yang bisa kita pelajari, yang pertama yaitu:

A. Aliran Konvensional 

Aliran konvensional merupakan pendapat atau pandangan yang mambahas faktor faktor yang menentukan perkembangan manusia dan kepribadian yang dia miliki. Ada beberapa macam aliran pendidikan:

1. Aliran Empirisme 

Dimana aliran ini menjelaskan dimana manusia di lahirkan dalan keadaan suci tanpa ada pembawaan sama sekali, namun perkembangannya di tentukan oleh lingkungan yang akan menentukan arah hidupnya. Disebut juga dengan istilah “Tabula rasa” yang berarti anak lahir seperti kertas putih yang masih kosong, aliran ini bersifat optimis terhadap pendidikan, yang di pelopori oleh John Locke.

2. Aliran Nativisme

menurut pandangan dari aliran ini manusia yang sudah di lahirkan sudah mempunyai pembawaannya masing masing, baik maupun buruk, dan tidak bisa di rubah oleh lingkungan maupun pendidikan, pandangan ini di pelopori oleh Schopenhauer.

3. Aliran Naturalisme

Aliran ini mempunyai pandangan dimana anak yang lahir dalam pembawaan baik bisa rusak oleh pengaruh lingkungan bahkan oleh pendidikan. Di pelopori oleh John Jacke Rousseau, aliran ini disebut juga dengan Negativisme, yang berarti pendidikan itu tidak perlu tetapi serahkan saja kepada alam agar pembawaan baik tidak menjadi rusak.

4. Aliran Konvergensi

Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan anak di pengaruhi dari pembawaan dan lingkungan

bakat yang di bawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan yang sesuai untuk bakat tersebut. Aliran ini di pelopori oleh William stern, dia mempunyai pandangan yang positif tentang oendidikan.


B. Gerakan (aliran)Baru

Merupakan suatu gerakan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran 

Ada beberapa model perbaikan di ajukan oleh aliran atau gerakan baru ini, yaitu:

1. Pengajaran alam sekitar

Berfokus kepada keterkaitan dalam pembelajaran di sekolah di kehidupan nyata yang di alami oleh anak, sehingga lebih kongkrit dari segi emosional dengan kebutuhan dan kehidupan anak. Aliran ini di pelopori oleh F.A. Finger dan J. Ligthart. 

Prinsip pengajaran alam sekitar:

  • Peragaan
  • Aktivitas anak
  • Pengajaran totalitas
  • Menyatu dengan perkembangan anak
  • Memberikan apresiasi emosional anak


2. Pengajaran Pusat Perhatian

Dirintis oleh Ovideminat Decroly dari Belgia dengan semboyan “Sekolah untuk hidup dan oleh hidup” . Cenderung kepada pusat perhatian anak, bukan sekedar di skeliling anak, pengalaman anak, tetapi apa yang sedang menjadi pusat perhatian anak pada saat proses pembelajaran. Yang dimana kehidupan yang sedang di alami oleh anak, itu yang harus di pelajari, dimana anak harus mempunyai pengetahuan terhadap dirinya dan dunianya yaitu lingkungan tempat hidup di hari kedepanya.

Oleh karena itu Decroly mempunyai metode yang di kembangkan olehnya yang terdiri dari:

  • Metode global, (gestalt) yaitu pendidikan hendaknya di mulai dari suatu keseluruhan yang punya pengertian
  • Pusat minat, yaitu dalam proses pembelajaran harus disesuaikan dengan minat spontan yang di miliki anak.

3. Sekolah Kerja

Dipelopori oleh G. Kerschenteiner dengan nama “Arbeitsschule” di jerman. Yang dimana sekolah kerja ini bertolak belakang pada pandangan pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu tetapi juga demi kepentingan masyarakat.

Bentuk Sekolah Kerja:

a. Sekolah kerja sosiologis (kebutuhan masyarakat)

yaitu sekolah kerja hang menekankan kepada kebutuhan masyarakat, apa yang di butuhkan dimasyarakat.

b. Sekolah Kerja Psikologis (pengembangan bakat anak)

yaitu anak menyumbangkan bakat yang dia punya

c. Sekolah Kerja Sosiologis - Psikologis (gabungan)

kebutuhan masyarakat di sesuaikan oleh bakat yang di punyai, yang kemudian nanti di arahkan kepada apa yang di butuhkan oleh masyarakat dengan bakat yang dia punyai

d. Sekolah Kerja Kepribadian (pembentukan pribadi)


4. Pengajaran Proyek

konsep ini di letakan oleh John Dewey dan di laksanakan oleh W.H. Kiloatrick

Pengajaran proyek ini anak bebas memilih jenis proyek/jenis pekerjaan yang ingin dia ambil, dan kemudian dipimpin olehnya. Dengan demikian anak akan terdorong untuk mencari pemecahan masalah yang sedang di jalankan dalam pembelajaran kelompok.

Mata pelajaran tidak terpisah antara satu dengan yang lainya, tetapi di dasarkan pada keperluan pemecahan masalah.