Nama: Dhimas Bagus Kuncoro
Npm: 2553032004
Kelas: 25C
ALIRAN PENDIDIKAN
ada dua hal yang bisa kita pelajari, yang pertama yaitu:
A. Aliran Konvensional
Aliran konvensional merupakan pendapat atau pandangan yang mambahas faktor faktor yang menentukan perkembangan manusia dan kepribadian yang dia miliki. Ada beberapa macam aliran pendidikan:
1. Aliran Empirisme
Dimana aliran ini menjelaskan dimana manusia di lahirkan dalan keadaan suci tanpa ada pembawaan sama sekali, namun perkembangannya di tentukan oleh lingkungan yang akan menentukan arah hidupnya. Disebut juga dengan istilah “Tabula rasa” yang berarti anak lahir seperti kertas putih yang masih kosong, aliran ini bersifat optimis terhadap pendidikan, yang di pelopori oleh John Locke.
2. Aliran Nativisme
menurut pandangan dari aliran ini manusia yang sudah di lahirkan sudah mempunyai pembawaannya masing masing, baik maupun buruk, dan tidak bisa di rubah oleh lingkungan maupun pendidikan, pandangan ini di pelopori oleh Schopenhauer.
3. Aliran Naturalisme
Aliran ini mempunyai pandangan dimana anak yang lahir dalam pembawaan baik bisa rusak oleh pengaruh lingkungan bahkan oleh pendidikan. Di pelopori oleh John Jacke Rousseau, aliran ini disebut juga dengan Negativisme, yang berarti pendidikan itu tidak perlu tetapi serahkan saja kepada alam agar pembawaan baik tidak menjadi rusak.
4. Aliran Konvergensi
Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan anak di pengaruhi dari pembawaan dan lingkungan
bakat yang di bawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan yang sesuai untuk bakat tersebut. Aliran ini di pelopori oleh William stern, dia mempunyai pandangan yang positif tentang oendidikan.
B. Gerakan (aliran)Baru
Merupakan suatu gerakan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran
Ada beberapa model perbaikan di ajukan oleh aliran atau gerakan baru ini, yaitu:
1. Pengajaran alam sekitar
Berfokus kepada keterkaitan dalam pembelajaran di sekolah di kehidupan nyata yang di alami oleh anak, sehingga lebih kongkrit dari segi emosional dengan kebutuhan dan kehidupan anak. Aliran ini di pelopori oleh F.A. Finger dan J. Ligthart.
Prinsip pengajaran alam sekitar:
- Peragaan
- Aktivitas anak
- Pengajaran totalitas
- Menyatu dengan perkembangan anak
- Memberikan apresiasi emosional anak
2. Pengajaran Pusat Perhatian
Dirintis oleh Ovideminat Decroly dari Belgia dengan semboyan “Sekolah untuk hidup dan oleh hidup” . Cenderung kepada pusat perhatian anak, bukan sekedar di skeliling anak, pengalaman anak, tetapi apa yang sedang menjadi pusat perhatian anak pada saat proses pembelajaran. Yang dimana kehidupan yang sedang di alami oleh anak, itu yang harus di pelajari, dimana anak harus mempunyai pengetahuan terhadap dirinya dan dunianya yaitu lingkungan tempat hidup di hari kedepanya.
Oleh karena itu Decroly mempunyai metode yang di kembangkan olehnya yang terdiri dari:
- Metode global, (gestalt) yaitu pendidikan hendaknya di mulai dari suatu keseluruhan yang punya pengertian
- Pusat minat, yaitu dalam proses pembelajaran harus disesuaikan dengan minat spontan yang di miliki anak.
3. Sekolah Kerja
Dipelopori oleh G. Kerschenteiner dengan nama “Arbeitsschule” di jerman. Yang dimana sekolah kerja ini bertolak belakang pada pandangan pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu tetapi juga demi kepentingan masyarakat.
Bentuk Sekolah Kerja:
a. Sekolah kerja sosiologis (kebutuhan masyarakat)
yaitu sekolah kerja hang menekankan kepada kebutuhan masyarakat, apa yang di butuhkan dimasyarakat.
b. Sekolah Kerja Psikologis (pengembangan bakat anak)
yaitu anak menyumbangkan bakat yang dia punya
c. Sekolah Kerja Sosiologis - Psikologis (gabungan)
kebutuhan masyarakat di sesuaikan oleh bakat yang di punyai, yang kemudian nanti di arahkan kepada apa yang di butuhkan oleh masyarakat dengan bakat yang dia punyai
d. Sekolah Kerja Kepribadian (pembentukan pribadi)
4. Pengajaran Proyek
konsep ini di letakan oleh John Dewey dan di laksanakan oleh W.H. Kiloatrick
Pengajaran proyek ini anak bebas memilih jenis proyek/jenis pekerjaan yang ingin dia ambil, dan kemudian dipimpin olehnya. Dengan demikian anak akan terdorong untuk mencari pemecahan masalah yang sedang di jalankan dalam pembelajaran kelompok.
Mata pelajaran tidak terpisah antara satu dengan yang lainya, tetapi di dasarkan pada keperluan pemecahan masalah.