Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
Npm : 2553032013
kelas : 25C
Judul : Keluarga Cemara
Pemeran Utama : Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Adhisty Zara (Euis), Widuri Puteri (Ara)
Film Keluarga Cemara (2019) menggambarkan kehidupan sederhana sebuah keluarga yang harus beradaptasi setelah mengalami kebangkrutan. Abah, Emak, Euis, dan Ara kehilangan harta benda dan rumah mereka, sehingga terpaksa pindah ke desa untuk memulai hidup baru. Meski hidup berubah drastis, keluarga ini tetap memegang nilai-nilai moral, kejujuran, dan kasih sayang sebagai landasan kehidupan mereka.
Dilema Moral dalam Film
Dua dilema moral yang menonjol dalam film ini adalah:
Pertama, dilema antara kejujuran dan kebutuhan ekonomi.
Ketika Abah kehilangan pekerjaannya dan uangnya ditipu, ia harus memilih antara mencari jalan pintas demi kebutuhan keluarga atau tetap berpegang pada kejujuran. Dalam situasi sulit, Abah tetap memilih jalan yang benar meskipun secara ekonomi keluarganya tertekan. Hal ini menunjukkan adanya proses penalaran moral, yaitu pertimbangan moral sebelum tindakan diambil. Abah menimbang nilai benar dan salah dengan suara hati nuraninya (sesuai dengan konsep Bertens tentang keterlibatan hati nurani dalam keputusan moral).
Kedua, dilema antara ego pribadi dan tanggung jawab keluarga yang dialami oleh Euis.
Sebagai anak remaja yang sebelumnya hidup berkecukupan, Euis merasa malu hidup miskin dan pindah ke desa. Ia sempat marah dan menjauh dari keluarganya. Namun, ketika melihat perjuangan Abah dan Emak, Euis belajar menekan egonya dan memahami makna tanggung jawab serta kasih dalam keluarga. Proses ini menunjukkan adanya perasaan moral, yaitu keterlibatan emosi dan empati terhadap orang lain dalam pengambilan keputusan moral.
Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral
Jika dikaitkan dengan teori developmental-cognitive dari Lawrence Kohlberg, Abah dapat dikategorikan berada pada tahap pasca-konvensional (tahap 5–6). Ia tidak lagi bertindak hanya karena aturan sosial, tetapi karena kesadaran akan prinsip moral universal kejujuran dan tanggung jawab. Ia bertindak benar bukan karena takut hukuman, tetapi karena yakin itu kewajiban moralnya.
Sementara itu, Euis berada pada tahap konvensional (tahap 3–4), di mana tindakan moralnya dipengaruhi oleh keinginan untuk diterima dan dianggap baik oleh keluarga. Awalnya ia menilai situasi dari sudut pandang sosial (malu karena miskin), namun kemudian berkembang menjadi kesadaran akan pentingnya solidaritas dan kasih. Perkembangan moralnya menunjukkan pergeseran dari kepentingan pribadi menuju pemahaman moral yang lebih matang.
Pesan Moral Film
Pesan moral utama film ini adalah bahwa keluarga merupakan tempat belajar nilai-nilai kehidupan yang paling mendasar. Kejujuran, kerja keras, dan cinta tidak dapat digantikan oleh kekayaan. Film ini juga mengajarkan bahwa kehilangan materi bukan akhir dari segalanya, justru bisa menjadi awal untuk menemukan arti kebahagiaan sejati.
Dalam konteks teori moral, film ini menekankan keseimbangan antara penalaran moral (rasionalitas dalam menentukan benar dan salah), perasaan moral (empati dan cinta kasih), serta perilaku moral (tindakan nyata yang lahir dari proses batin yang tulus).
Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata
Nilai keluarga dalam film ini sangat relevan dengan kehidupan nyata masyarakat Indonesia, yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, dan kesetiaan pada keluarga. Namun, di dunia modern saat ini, nilai-nilai itu sering tergeser oleh gaya hidup materialistis dan individualis. Keluarga Cemara mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, tetapi pada kehangatan dan ketulusan hubungan antaranggota keluarga.