Posts made by frisca chintya sari asisko

Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
NPM : 2553032013

Menurut Abraham Maslow, guru dapat melakukan beberapa upaya untuk memenuhi kebutuhan peserta didik agar proses belajar berjalan dengan baik, yaitu:

1. Kebutuhan rasa aman
Guru menciptakan suasana belajar yang tertib dan tidak menakutkan serta tidak mempermalukan siswa saat melakukan kesalahan.

2. Kebutuhan sosial
Guru mengadakan diskusi atau kerja kelompok agar siswa dapat berinteraksi dan merasa menjadi bagian dari kelas.

3. Kebutuhan penghargaan
Guru memberikan pujian atau apresiasi kepada siswa atas usaha dan prestasi mereka.

4. Kebutuhan aktualisasi diri
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan bakat, berpendapat, dan menunjukkan kemampuannya.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by frisca chintya sari asisko -
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
NPM : 2553032013
Kelas : 25C

1. Menurut Saya Pendekatan yang Paling Relevan untuk Indonesia

Menurut saya, pendekatan perkembangan moral kognitif merupakan pendekatan yang paling cocok diterapkan di Indonesia. Karena pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, memahami alasan moral, dan mampu mengambil keputusan secara mandiri. Hal ini penting mengingat Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang majemuk, penuh keberagaman budaya, agama, serta tantangan global seperti pengaruh budaya luar, individualisme, dan masalah etika digital.

Pendekatan ini juga dapat menguatkan penerapan nilai-nilai Pancasila, toleransi, solidaritas, serta sikap menghargai perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Alasan Saya Memilih Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Saya memilih pendekatan ini karena:
1. Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan norma secara langsung, tetapi membantu siswa memahami alasan di balik nilai moral.
2. Siswa belajar berpikir kritis dalam menilai tindakan, bukan hanya mengikuti aturan tanpa kesadaran.
3. Indonesia memiliki konteks sosial yang kompleks dan beragam, sehingga kemampuan mempertimbangkan moral sangat penting.
4. Pendekatan ini dapat digunakan untuk memperkuat karakter bangsa berdasarkan nilai Pancasila, sehingga generasi muda mampu membuat keputusan moral yang bertanggung jawab.


3. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Judul kegiatan: Diskusi Dilema Moral tentang Kejujuran di Lingkungan Sekolah

Langkah kegiatan:
1. Guru menceritakan kasus dilema moral, misalnya seorang siswa menemukan dompet yang berisi uang di kantin sekolah.
2. Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan tindakan yang paling tepat, seperti mengembalikan dompet ke pemiliknya, menyerahkannya kepada guru, atau membiarkan saja.
3. Setiap kelompok menjelaskan alasan moral dari pilihan yang mereka ambil serta dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
4. Guru memandu refleksi, misalnya dengan pertanyaan:

Mengapa kejujuran penting dalam kehidupan?
Apa dampak dari keputusan moral yang kita ambil terhadap orang lain?

4. Guru dan siswa menyimpulkan bersama, bahwa dalam membuat keputusan moral siswa harus mempertimbangkan nilai yang dianut serta konsekuensi tindakannya. Kegiatan ini bertujuan melatih siswa memahami konsep moral secara logis, emosional, dan sesuai dengan nilai kebangsaan.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by frisca chintya sari asisko -
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
Npm : 2553032013
kelas : 25C

Judul : Keluarga Cemara
Pemeran Utama : Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Adhisty Zara (Euis), Widuri Puteri (Ara)
Film Keluarga Cemara (2019) menggambarkan kehidupan sederhana sebuah keluarga yang harus beradaptasi setelah mengalami kebangkrutan. Abah, Emak, Euis, dan Ara kehilangan harta benda dan rumah mereka, sehingga terpaksa pindah ke desa untuk memulai hidup baru. Meski hidup berubah drastis, keluarga ini tetap memegang nilai-nilai moral, kejujuran, dan kasih sayang sebagai landasan kehidupan mereka.

Dilema Moral dalam Film
Dua dilema moral yang menonjol dalam film ini adalah:
Pertama, dilema antara kejujuran dan kebutuhan ekonomi.
Ketika Abah kehilangan pekerjaannya dan uangnya ditipu, ia harus memilih antara mencari jalan pintas demi kebutuhan keluarga atau tetap berpegang pada kejujuran. Dalam situasi sulit, Abah tetap memilih jalan yang benar meskipun secara ekonomi keluarganya tertekan. Hal ini menunjukkan adanya proses penalaran moral, yaitu pertimbangan moral sebelum tindakan diambil. Abah menimbang nilai benar dan salah dengan suara hati nuraninya (sesuai dengan konsep Bertens tentang keterlibatan hati nurani dalam keputusan moral).

Kedua, dilema antara ego pribadi dan tanggung jawab keluarga yang dialami oleh Euis.
Sebagai anak remaja yang sebelumnya hidup berkecukupan, Euis merasa malu hidup miskin dan pindah ke desa. Ia sempat marah dan menjauh dari keluarganya. Namun, ketika melihat perjuangan Abah dan Emak, Euis belajar menekan egonya dan memahami makna tanggung jawab serta kasih dalam keluarga. Proses ini menunjukkan adanya perasaan moral, yaitu keterlibatan emosi dan empati terhadap orang lain dalam pengambilan keputusan moral.

Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral
Jika dikaitkan dengan teori developmental-cognitive dari Lawrence Kohlberg, Abah dapat dikategorikan berada pada tahap pasca-konvensional (tahap 5–6). Ia tidak lagi bertindak hanya karena aturan sosial, tetapi karena kesadaran akan prinsip moral universal kejujuran dan tanggung jawab. Ia bertindak benar bukan karena takut hukuman, tetapi karena yakin itu kewajiban moralnya.

Sementara itu, Euis berada pada tahap konvensional (tahap 3–4), di mana tindakan moralnya dipengaruhi oleh keinginan untuk diterima dan dianggap baik oleh keluarga. Awalnya ia menilai situasi dari sudut pandang sosial (malu karena miskin), namun kemudian berkembang menjadi kesadaran akan pentingnya solidaritas dan kasih. Perkembangan moralnya menunjukkan pergeseran dari kepentingan pribadi menuju pemahaman moral yang lebih matang.

Pesan Moral Film
Pesan moral utama film ini adalah bahwa keluarga merupakan tempat belajar nilai-nilai kehidupan yang paling mendasar. Kejujuran, kerja keras, dan cinta tidak dapat digantikan oleh kekayaan. Film ini juga mengajarkan bahwa kehilangan materi bukan akhir dari segalanya, justru bisa menjadi awal untuk menemukan arti kebahagiaan sejati.

Dalam konteks teori moral, film ini menekankan keseimbangan antara penalaran moral (rasionalitas dalam menentukan benar dan salah), perasaan moral (empati dan cinta kasih), serta perilaku moral (tindakan nyata yang lahir dari proses batin yang tulus).

Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata
Nilai keluarga dalam film ini sangat relevan dengan kehidupan nyata masyarakat Indonesia, yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, dan kesetiaan pada keluarga. Namun, di dunia modern saat ini, nilai-nilai itu sering tergeser oleh gaya hidup materialistis dan individualis. Keluarga Cemara mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, tetapi pada kehangatan dan ketulusan hubungan antaranggota keluarga.
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
NPM : 2553032013
Kelas : 25C

Pandangan saya tentang tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara:
menurut saya, pendidikan itu nggak cuma buat bikin orang jadi pintar, tapi juga supaya kita bisa jadi manusia yang merdeka bisa mikir sendiri, bahagia, dan bertanggung jawab atas hidup kita. jadi, pendidikan itu harus bikin kita berkembang, tapi tetap jadi diri sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan orang lain.

jika saya menjadi seorang guru
saya  mengajarkan murid bukan cuma dari buku saja, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari. saya bakal bantu mereka biar bisa percaya diri, berani berpendapat, dan punya hati yang baik. saya juga mau mengajarkan mereka buat terus belajar, bukan cuma di sekolah tapi juga dari pengalaman hidup, biar mereka tumbuh jadi orang yang berguna untuk dirinya, bangsa, dan lingkungan sekitar.