Posts made by frisca chintya sari asisko

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by frisca chintya sari asisko -
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
NPM : 2553032013
Kelas : 25C

1. Menurut Saya Pendekatan yang Paling Relevan untuk Indonesia

Menurut saya, pendekatan perkembangan moral kognitif merupakan pendekatan yang paling cocok diterapkan di Indonesia. Karena pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, memahami alasan moral, dan mampu mengambil keputusan secara mandiri. Hal ini penting mengingat Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang majemuk, penuh keberagaman budaya, agama, serta tantangan global seperti pengaruh budaya luar, individualisme, dan masalah etika digital.

Pendekatan ini juga dapat menguatkan penerapan nilai-nilai Pancasila, toleransi, solidaritas, serta sikap menghargai perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Alasan Saya Memilih Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Saya memilih pendekatan ini karena:
1. Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan norma secara langsung, tetapi membantu siswa memahami alasan di balik nilai moral.
2. Siswa belajar berpikir kritis dalam menilai tindakan, bukan hanya mengikuti aturan tanpa kesadaran.
3. Indonesia memiliki konteks sosial yang kompleks dan beragam, sehingga kemampuan mempertimbangkan moral sangat penting.
4. Pendekatan ini dapat digunakan untuk memperkuat karakter bangsa berdasarkan nilai Pancasila, sehingga generasi muda mampu membuat keputusan moral yang bertanggung jawab.


3. Contoh Kegiatan Pembelajaran Berbasis Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Judul kegiatan: Diskusi Dilema Moral tentang Kejujuran di Lingkungan Sekolah

Langkah kegiatan:
1. Guru menceritakan kasus dilema moral, misalnya seorang siswa menemukan dompet yang berisi uang di kantin sekolah.
2. Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan tindakan yang paling tepat, seperti mengembalikan dompet ke pemiliknya, menyerahkannya kepada guru, atau membiarkan saja.
3. Setiap kelompok menjelaskan alasan moral dari pilihan yang mereka ambil serta dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
4. Guru memandu refleksi, misalnya dengan pertanyaan:

Mengapa kejujuran penting dalam kehidupan?
Apa dampak dari keputusan moral yang kita ambil terhadap orang lain?

4. Guru dan siswa menyimpulkan bersama, bahwa dalam membuat keputusan moral siswa harus mempertimbangkan nilai yang dianut serta konsekuensi tindakannya. Kegiatan ini bertujuan melatih siswa memahami konsep moral secara logis, emosional, dan sesuai dengan nilai kebangsaan.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by frisca chintya sari asisko -
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
Npm : 2553032013
kelas : 25C

Judul : Keluarga Cemara
Pemeran Utama : Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Adhisty Zara (Euis), Widuri Puteri (Ara)
Film Keluarga Cemara (2019) menggambarkan kehidupan sederhana sebuah keluarga yang harus beradaptasi setelah mengalami kebangkrutan. Abah, Emak, Euis, dan Ara kehilangan harta benda dan rumah mereka, sehingga terpaksa pindah ke desa untuk memulai hidup baru. Meski hidup berubah drastis, keluarga ini tetap memegang nilai-nilai moral, kejujuran, dan kasih sayang sebagai landasan kehidupan mereka.

Dilema Moral dalam Film
Dua dilema moral yang menonjol dalam film ini adalah:
Pertama, dilema antara kejujuran dan kebutuhan ekonomi.
Ketika Abah kehilangan pekerjaannya dan uangnya ditipu, ia harus memilih antara mencari jalan pintas demi kebutuhan keluarga atau tetap berpegang pada kejujuran. Dalam situasi sulit, Abah tetap memilih jalan yang benar meskipun secara ekonomi keluarganya tertekan. Hal ini menunjukkan adanya proses penalaran moral, yaitu pertimbangan moral sebelum tindakan diambil. Abah menimbang nilai benar dan salah dengan suara hati nuraninya (sesuai dengan konsep Bertens tentang keterlibatan hati nurani dalam keputusan moral).

Kedua, dilema antara ego pribadi dan tanggung jawab keluarga yang dialami oleh Euis.
Sebagai anak remaja yang sebelumnya hidup berkecukupan, Euis merasa malu hidup miskin dan pindah ke desa. Ia sempat marah dan menjauh dari keluarganya. Namun, ketika melihat perjuangan Abah dan Emak, Euis belajar menekan egonya dan memahami makna tanggung jawab serta kasih dalam keluarga. Proses ini menunjukkan adanya perasaan moral, yaitu keterlibatan emosi dan empati terhadap orang lain dalam pengambilan keputusan moral.

Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral
Jika dikaitkan dengan teori developmental-cognitive dari Lawrence Kohlberg, Abah dapat dikategorikan berada pada tahap pasca-konvensional (tahap 5–6). Ia tidak lagi bertindak hanya karena aturan sosial, tetapi karena kesadaran akan prinsip moral universal kejujuran dan tanggung jawab. Ia bertindak benar bukan karena takut hukuman, tetapi karena yakin itu kewajiban moralnya.

Sementara itu, Euis berada pada tahap konvensional (tahap 3–4), di mana tindakan moralnya dipengaruhi oleh keinginan untuk diterima dan dianggap baik oleh keluarga. Awalnya ia menilai situasi dari sudut pandang sosial (malu karena miskin), namun kemudian berkembang menjadi kesadaran akan pentingnya solidaritas dan kasih. Perkembangan moralnya menunjukkan pergeseran dari kepentingan pribadi menuju pemahaman moral yang lebih matang.

Pesan Moral Film
Pesan moral utama film ini adalah bahwa keluarga merupakan tempat belajar nilai-nilai kehidupan yang paling mendasar. Kejujuran, kerja keras, dan cinta tidak dapat digantikan oleh kekayaan. Film ini juga mengajarkan bahwa kehilangan materi bukan akhir dari segalanya, justru bisa menjadi awal untuk menemukan arti kebahagiaan sejati.

Dalam konteks teori moral, film ini menekankan keseimbangan antara penalaran moral (rasionalitas dalam menentukan benar dan salah), perasaan moral (empati dan cinta kasih), serta perilaku moral (tindakan nyata yang lahir dari proses batin yang tulus).

Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata
Nilai keluarga dalam film ini sangat relevan dengan kehidupan nyata masyarakat Indonesia, yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, dan kesetiaan pada keluarga. Namun, di dunia modern saat ini, nilai-nilai itu sering tergeser oleh gaya hidup materialistis dan individualis. Keluarga Cemara mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, tetapi pada kehangatan dan ketulusan hubungan antaranggota keluarga.
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
NPM : 2553032013
Kelas : 25C

Pandangan saya tentang tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara:
menurut saya, pendidikan itu nggak cuma buat bikin orang jadi pintar, tapi juga supaya kita bisa jadi manusia yang merdeka bisa mikir sendiri, bahagia, dan bertanggung jawab atas hidup kita. jadi, pendidikan itu harus bikin kita berkembang, tapi tetap jadi diri sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan orang lain.

jika saya menjadi seorang guru
saya  mengajarkan murid bukan cuma dari buku saja, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari. saya bakal bantu mereka biar bisa percaya diri, berani berpendapat, dan punya hati yang baik. saya juga mau mengajarkan mereka buat terus belajar, bukan cuma di sekolah tapi juga dari pengalaman hidup, biar mereka tumbuh jadi orang yang berguna untuk dirinya, bangsa, dan lingkungan sekitar.

DKPM PPKn 2025C -> Analisis Video

by frisca chintya sari asisko -
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
NPM : 2553032013
Kelas : 25 C


tahap-tahap perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg

menurut Kohlberg, perkembangan moral seseorang terjadi secara bertahap sesuai dengan cara berpikirnya dalam menilai mana yang benar dan salah. Kohlberg membagi perkembangan moral ke dalam tiga level utama, yaitu prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional, dan tiap level terdiri dari dua tahap.

1. Level Prakonvensional
pada tahap ini, seseorang menilai benar dan salah masih berdasarkan hal-hal dari luar dirinya, seperti hukuman dan hadiah biasanya terjadi pada anak-anak yang belum memahami nilai moral secara mendalam.

Tahap yang pertama adalah orientasi hukuman dan kepatuhan
perilaku seseorang didorong oleh rasa takut akan hukuman. artinya, seseorang berbuat baik hanya untuk menghindari hukuman, bukan karena memahami alasan moral di baliknya.

Tahap yang kedua relativis instrumental
tahap ini ditandai dengan pemikiran bahwa tindakan baik dilakukan jika membawa keuntungan bagi dirinya sendiri. jadi, prinsip moral masih didasari oleh timbal balik.

2. Level Konvensional
pada tahap ini, seseorang mulai memikirkan pandangan orang lain dan berusaha menyesuaikan diri dengan aturan sosial. kesadaran moral tidak lagi hanya soal hukuman atau hadiah, tapi juga tentang menjaga hubungan baik dan mematuhi aturan.

tahap yang pertama orientasi anak baik
seseorang ingin diterima dan dianggap baik oleh lingkungan. Ia berperilaku sesuai dengan harapan orang lain agar disukai atau dihargai.

Tahap yang kedua orientasi hukum dan ketertiban
di tahap ini, seseorang sudah memahami pentingnya peraturan untuk menjaga ketertiban bersama. Ia patuh pada hukum bukan karena takut dihukum, tetapi karena sadar bahwa aturan dibuat demi kebaikan bersama.

3. Level Pascakonvensional
ini merupakan tahap tertinggi dalam perkembangan moral, di mana seseorang sudah mampu berpikir secara mandiri dan menilai aturan berdasarkan hati nurani serta prinsip keadilan. ia tidak hanya mengikuti hukum secara buta, tetapi juga mampu menilai apakah hukum tersebut sesuai dengan nilai kemanusiaan.

tahap yang pertama kontrak sosial legalistis
seseorang memahami bahwa hukum dibuat berdasarkan kesepakatan bersama dan bisa diubah jika sudah tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan.

tahap yang kedua prinsip hati nurani universal
seseorang bertindak berdasarkan nilai moral universal seperti kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. prinsip ini berlaku di mana pun dan kapan pun.

Kesimpulan
Dari keseluruhan teori Kohlberg, dapat dipahami bahwa perkembangan moral seseorang berjalan bertahap seiring dengan kemampuan berpikirnya. semakin tinggi tingkat berpikirnya, semakin tinggi pula kesadaran moralnya.