Kiriman dibuat oleh 2515061064 Muhammad Luthfi

Jurnal ini mengupas peran sentral Pancasila sebagai filsafat ilmu dan implikasinya yang mendalam terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Pancasila, yang berasal dari pemikiran mendalam anak bangsa dan digali dari unsur-unsur budaya nusantara, adalah falsafah, ideologi, dan pedoman hidup bangsa Indonesia yang telah bersifat final sebagai dasar negara. Perkembangan IPTEK yang sangat pesat saat ini berisiko menjadi penghancur bangsa dari segi moralitas dan mentalitas jika tidak diimbangi dengan dasar-dasar Pancasila yang kuat. Oleh karena itu, Pancasila sangat penting sebagai pedoman atau filter untuk menyaring berbagai perkembangan IPTEK yang masuk.

Sebagai filsafat ilmu, Pancasila berfungsi sebagai landasan dalam proses berpikir dan berpengetahuan. Pancasila mengajarkan bahwa pengembangan ilmu tidak hanya mencari kebenaran, tetapi juga harus dipergunakan sebagai pedoman hidup (way of life) dan pedoman pengembangan ilmu pengetahuan agar mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Nilai-nilai Pancasila mengandung nilai ganda, yaitu memberikan landasan teoretik dan normatif bagi penguasaan dan pengembangan IPTEK, serta menetapkan tujuan di mana IPTEK dilandasi oleh nilai mental, kepribadian, dan moral manusia.

Implikasi Pancasila dalam Pengembangan IPTEK dijelaskan melalui lima silanya:
Ketuhanan Yang Maha Esa: Mengimplikasikan perlunya penanaman nilai religi dalam pengembangan ilmu, menyadarkan manusia akan batas kemampuannya dalam berpikir, dan menempatkan Tuhan sebagai pusat, bukan manusia.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Memberi arah dan mengendalikan ilmu pengetahuan agar dikembalikan pada fungsinya semula, yaitu untuk kemanusiaan, serta memberikan dasar moralitas agar pengembangan IPTEK dilakukan secara beradab, bermoral, dan untuk peningkatan harkat dan martabat manusia.
Persatuan Indonesia: Memberikan kesadaran bahwa IPTEK harus dikembangkan untuk memperkuat rasa nasionalisme, persatuan, dan kesatuan bangsa, serta memelihara persaudaraan antar daerah.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan: Mendasari pengembangan IPTEK secara demokratis, memberikan kebebasan bagi ilmuwan untuk mengembangkan IPTEK, namun dengan sikap terbuka untuk dikritik/dikaji ulang.
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Mengimplementasikan bahwa pengembangan IPTEK harus menjaga keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan, mencakup hubungan manusia dengan dirinya, Tuhan, sesama manusia, masyarakat, negara, dan alam lingkungannya.

Pengembangan IPTEK yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila diharapkan dapat membawa perbaikan kualitas hidup manusia Indonesia dan menciptakan masyarakat yang sejahtera, aman, dan damai.
Jurnal ini membahas urgensi penegasan Pancasila sebagai dasar nilai dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di Indonesia. Pancasila, yang merupakan kristalisasi nilai-nilai budaya dan agama bangsa Indonesia, diyakini harus mengakomodasi seluruh aktivitas kehidupan, termasuk aktivitas ilmiah dan pengembangan Iptek. Pancasila menjadi dasar nilai karena berfungsi sebagai sistem nilai acuan, kerangka berpikir, kerangka landasan, cara, dan arah/tujuan bagi pengembangan hukum nasional dan Iptek. Penegasan ini bersifat niscaya, karena pengembangan ilmu yang terlepas dari ideologi Pancasila dapat mengakibatkan sekularisme dan membuat ilmu berkembang tanpa arah yang jelas. Terdapat empat pemahaman utama Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu: Iptek tidak boleh bertentangan dengan nilai Pancasila, nilai Pancasila harus menjadi faktor internal pengembangan Iptek, Pancasila berperan sebagai rambu normatif, dan pengembangan Iptek harus berakar dari budaya dan ideologi bangsa Indonesia (indegenisasi ilmu). Secara moral, sila-sila Pancasila menjadi sumber nilai dan kerangka berpikir , misalnya Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menempatkan manusia sebagai bagian sistematik dari alam, sementara Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab memberikan dasar moralitas demi kesejahteraan bersama. Sumber historisnya ditemukan dalam Pembukaan UUD 1945, khususnya amanat "mencerdaskan kehidupan bangsa" yang harus didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Secara sosiologis, masyarakat peka terhadap isu Ketuhanan dan Kemanusiaan, seperti dampak Iptek yang merusak lingkungan atau tidak menghormati harkat dan martabat manusia. Secara politis, penegasan ini telah ada sejak pidato Presiden Soekarno hingga era Reformasi, meskipun seringkali bersifat apologis. Kesimpulannya, pengembangan Iptek di Indonesia harus berdasarkan dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, menyertakan nilai Pancasila sebagai faktor internal, dan Pancasila harus dijadikan rambu normatif agar pengembangan Iptek tidak keluar dari kepribadian bangsa.
Penelitian yang berjudul "Pengaruh Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila dalam Menyikapi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi" ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila terhadap cara mahasiswa menyikapi perkembangan IPTEK. Penelitian kuantitatif dengan analisis deskriptif verifikatif ini menggunakan populasi 103 mahasiswa Program Studi Matematika Semester II Universitas Pancasakti Tegal dan mengambil sampel 40 orang menggunakan teknik proporsional cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan regresi sederhana setelah melalui uji validitas dan reliabilitas. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa secara umum responden memiliki Pengembangan Kepribadian Pancasila yang baik dan dapat menyikapi perkembangan IPTEK dengan baik, yang terlihat dari total skor kuesioner di atas. Lebih lanjut, hasil analisis regresi sederhana menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (lebih kecil dari 0,05), yang membuktikan adanya pengaruh yang signifikan dari mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila terhadap variabel menyikapi perkembangan IPTEK. Koefisien determinasi ($R^2$) sebesar 0,282 atau 28,2% menunjukkan bahwa 28,2% variabel menyikapi perkembangan IPTEK dapat diterangkan oleh variabel mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila, sementara sisanya (71,8%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa mahasiswa sebagai generasi muda perlu menjaga kepribadian bangsa dan berpegang teguh pada Pancasila dalam menghadapi perkembangan IPTEK
Jurnal ini menjelaskan bahwa media massa memiliki peran strategis sebagai alat kontrol sosial yang dapat membantu mencegah kejahatan melalui penyebaran informasi yang membentuk opini publik, namun efektivitasnya sangat bergantung pada sejauh mana media mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Penelitian normatif ini menunjukkan bahwa meskipun media massa di Indonesia memiliki fungsi informasi, edukasi, hiburan, dan kontrol sosial, praktik di lapangan masih jauh dari ideal karena banyaknya berita tidak terverifikasi, sensasional, dan tidak beretika yang justru merusak tatanan sosial dan mengabaikan nilai dasar Pancasila seperti kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Media massa sering hanya berorientasi pada pemuas informasi tanpa membangun kepribadian sosial masyarakat yang berjiwa Pancasila, sehingga berkontribusi pada melemahnya moral publik, meningkatnya individualisme, dan pudarnya semangat kebangsaan. Jurnal ini menegaskan bahwa penguatan peran media membutuhkan integritas profesional, pemahaman etika jurnalistik, serta sinergi dengan lembaga penegak hukum agar fungsi kontrol sosial dapat berjalan seimbang, preventif, dan tetap sesuai dengan nilai-nilai fundamental Pancasila.