Nama: Rizky Melatama
NPM: 2523031005
Kiriman dibuat oleh Rizky Melatama
PKDIPS2025 -> Summary
oleh Rizky Melatama -
Nama Rizky Melatama
NPM 2523031005
Hubungan rendahnya partisipasi politik generasi muda berakar pada pembelajaran IPS dan PKn yang cenderung tekstual dan menjemukan. Kurikulum yang hanya mengejar hafalan struktur lembaga negara tanpa simulasi pengambilan keputusan membuat siswa merasa politik tidak relevan dengan kehidupan mereka, sehingga memicu apatisme politik.
Dampak jangka panjang politik uang adalah rusaknya meritokrasi dalam demokrasi. Ketika jabatan publik "dibeli", pemimpin terpilih cenderung melakukan korupsi untuk mengembalikan modal (rent-seeking), yang berujung pada pelemahan penegakan hukum karena hukum dijadikan alat tawar-menaruh kekuasaan.
Ditinjau dari tiga perspektif:
* Politik: Fokus pada mekanisme distribusi kekuasaan yang bersih.
* Hukum: Fokus pada kepastian sanksi bagi pelanggar aturan pemilu.
* Kewarganegaraan: Fokus pada pembentukan karakter warga negara yang berintegritas.
Sinergi ketiganya tercipta jika sekolah menjadi laboratorium demokrasi di mana siswa memahami aturan hukum, mempraktikkan kontestasi politik yang sehat, dan menyadari hak serta kewajibannya.
Program Usulan: "Laboratorium Demokrasi Digital (LDD)"
* Unsur Kurikulum: Integrasi literasi digital, etika politik, dan advokasi kebijakan publik.
* Metode: Project-Based Learning (PjBL) melalui simulasi pemilu sekolah menggunakan sistem e-voting yang mereka rancang sendiri, disertai debat terbuka berbasis data.
* Strategi Evaluasi: Penilaian otentik melalui portofolio kampanye kreatif dan jurnal refleksi mengenai dampak kebijakan terhadap komunitas sekolah.
Program ini bertujuan mengubah siswa dari pengamat pasif menjadi warga negara aktif yang kritis terhadap narasi politik uang, guna mewujudkan generasi unggul yang sadar hukum.
Dampak jangka panjang politik uang adalah rusaknya meritokrasi dalam demokrasi. Ketika jabatan publik "dibeli", pemimpin terpilih cenderung melakukan korupsi untuk mengembalikan modal (rent-seeking), yang berujung pada pelemahan penegakan hukum karena hukum dijadikan alat tawar-menaruh kekuasaan.
Ditinjau dari tiga perspektif:
* Politik: Fokus pada mekanisme distribusi kekuasaan yang bersih.
* Hukum: Fokus pada kepastian sanksi bagi pelanggar aturan pemilu.
* Kewarganegaraan: Fokus pada pembentukan karakter warga negara yang berintegritas.
Sinergi ketiganya tercipta jika sekolah menjadi laboratorium demokrasi di mana siswa memahami aturan hukum, mempraktikkan kontestasi politik yang sehat, dan menyadari hak serta kewajibannya.
Program Usulan: "Laboratorium Demokrasi Digital (LDD)"
* Unsur Kurikulum: Integrasi literasi digital, etika politik, dan advokasi kebijakan publik.
* Metode: Project-Based Learning (PjBL) melalui simulasi pemilu sekolah menggunakan sistem e-voting yang mereka rancang sendiri, disertai debat terbuka berbasis data.
* Strategi Evaluasi: Penilaian otentik melalui portofolio kampanye kreatif dan jurnal refleksi mengenai dampak kebijakan terhadap komunitas sekolah.
Program ini bertujuan mengubah siswa dari pengamat pasif menjadi warga negara aktif yang kritis terhadap narasi politik uang, guna mewujudkan generasi unggul yang sadar hukum.
PKDIPS2025 -> Diskusi
oleh Rizky Melatama -
Nama Rizky Melatama
NPM 2523031005
Keterkaitan Manusia, Ruang, dan Waktu
Manusia adalah aktor utama dalam setiap peristiwa, namun keberadaannya selalu terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Ruang merupakan tempat atau lingkungan geofisik tempat manusia beraktivitas, yang menyediakan sumber daya serta membentuk pola kebudayaan tertentu. Sementara itu, waktu adalah dimensi kronologis yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan, di mana perubahan atau kesinambungan terjadi.
Hubungan ketiganya bersifat mutlak: setiap tindakan manusia selalu terjadi di suatu tempat (ruang) dan pada periode tertentu (waktu). Tanpa pemahaman akan ruang, manusia kehilangan konteks lingkungannya; tanpa pemahaman akan waktu, manusia kehilangan arah perkembangannya.
---
Strategi Pembelajaran IPS untuk Memahami Jati Diri
Agar peserta didik mampu memahami jati dirinya dan memiliki kemampuan berpikir kesejarahan dalam konteks manusia seutuhnya, strategi pembelajaran dapat dirancang melalui langkah-langkah berikut:
1. Strategi Inkuiri Personal (Personal Inquiry)
Pembelajaran dimulai dengan mengajak siswa mengeksplorasi silsilah keluarga dan sejarah tempat tinggal mereka. Dengan menelusuri asal-usulnya, siswa akan memahami bahwa jati diri mereka terbentuk dari akumulasi peristiwa di masa lalu (waktu) dan dipengaruhi oleh kondisi geografis atau sosial tempat mereka tumbuh (ruang).
2. Pendekatan Komparatif Temporal (Perbandingan Waktu)
Guru mengajak siswa membandingkan suatu fenomena sosial di ruang yang sama namun pada waktu yang berbeda. Misalnya, membandingkan foto udara lingkungan sekolah tahun 1990 dengan tahun sekarang. Hal ini melatih siswa untuk berpikir kritis mengenai mengapa perubahan terjadi, apa yang bertahan, dan bagaimana peran manusia dalam perubahan tersebut.
3. Metode Simulasi Kontekstual
Siswa diminta untuk memerankan tokoh sejarah atau tokoh masyarakat dalam menghadapi suatu masalah di masa lalu. Dalam simulasi ini, siswa tidak hanya menghafal tahun, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan teknologi, kondisi alam, dan nilai budaya pada saat itu. Ini membantu siswa membangun empati sejarah dan memahami bahwa manusia masa lalu bertindak berdasarkan konteks ruang dan waktu mereka.
4. Strategi Refleksi Nilai (Value Reflection)
Sesuai amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pembelajaran harus membentuk manusia seutuhnya yang berakhlak mulia. Guru menyisipkan sesi refleksi di akhir pelajaran untuk membahas bagaimana nilai-nilai luhur dari sejarah dapat diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Teknik Evaluasi
Evaluasi diarahkan pada penilaian otentik seperti pembuatan narasi sejarah diri atau esai reflektif. Penilaian tidak ditekankan pada hafalan angka tahun, melainkan pada kemampuan siswa dalam menghubungkan peristiwa masa lalu dengan kondisi jati diri mereka saat ini serta proyeksi peran mereka di masa depan.
Dengan strategi ini, peserta didik tidak hanya sekadar mengetahui sejarah, tetapi merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sejarah itu sendiri yang sedang bergerak dalam ruang dan waktu.
NPM 2523031005
Keterkaitan Manusia, Ruang, dan Waktu
Manusia adalah aktor utama dalam setiap peristiwa, namun keberadaannya selalu terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Ruang merupakan tempat atau lingkungan geofisik tempat manusia beraktivitas, yang menyediakan sumber daya serta membentuk pola kebudayaan tertentu. Sementara itu, waktu adalah dimensi kronologis yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan, di mana perubahan atau kesinambungan terjadi.
Hubungan ketiganya bersifat mutlak: setiap tindakan manusia selalu terjadi di suatu tempat (ruang) dan pada periode tertentu (waktu). Tanpa pemahaman akan ruang, manusia kehilangan konteks lingkungannya; tanpa pemahaman akan waktu, manusia kehilangan arah perkembangannya.
---
Strategi Pembelajaran IPS untuk Memahami Jati Diri
Agar peserta didik mampu memahami jati dirinya dan memiliki kemampuan berpikir kesejarahan dalam konteks manusia seutuhnya, strategi pembelajaran dapat dirancang melalui langkah-langkah berikut:
1. Strategi Inkuiri Personal (Personal Inquiry)
Pembelajaran dimulai dengan mengajak siswa mengeksplorasi silsilah keluarga dan sejarah tempat tinggal mereka. Dengan menelusuri asal-usulnya, siswa akan memahami bahwa jati diri mereka terbentuk dari akumulasi peristiwa di masa lalu (waktu) dan dipengaruhi oleh kondisi geografis atau sosial tempat mereka tumbuh (ruang).
2. Pendekatan Komparatif Temporal (Perbandingan Waktu)
Guru mengajak siswa membandingkan suatu fenomena sosial di ruang yang sama namun pada waktu yang berbeda. Misalnya, membandingkan foto udara lingkungan sekolah tahun 1990 dengan tahun sekarang. Hal ini melatih siswa untuk berpikir kritis mengenai mengapa perubahan terjadi, apa yang bertahan, dan bagaimana peran manusia dalam perubahan tersebut.
3. Metode Simulasi Kontekstual
Siswa diminta untuk memerankan tokoh sejarah atau tokoh masyarakat dalam menghadapi suatu masalah di masa lalu. Dalam simulasi ini, siswa tidak hanya menghafal tahun, tetapi harus mempertimbangkan keterbatasan teknologi, kondisi alam, dan nilai budaya pada saat itu. Ini membantu siswa membangun empati sejarah dan memahami bahwa manusia masa lalu bertindak berdasarkan konteks ruang dan waktu mereka.
4. Strategi Refleksi Nilai (Value Reflection)
Sesuai amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pembelajaran harus membentuk manusia seutuhnya yang berakhlak mulia. Guru menyisipkan sesi refleksi di akhir pelajaran untuk membahas bagaimana nilai-nilai luhur dari sejarah dapat diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Teknik Evaluasi
Evaluasi diarahkan pada penilaian otentik seperti pembuatan narasi sejarah diri atau esai reflektif. Penilaian tidak ditekankan pada hafalan angka tahun, melainkan pada kemampuan siswa dalam menghubungkan peristiwa masa lalu dengan kondisi jati diri mereka saat ini serta proyeksi peran mereka di masa depan.
Dengan strategi ini, peserta didik tidak hanya sekadar mengetahui sejarah, tetapi merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sejarah itu sendiri yang sedang bergerak dalam ruang dan waktu.
PKDIPS2025 -> Diskusi
oleh Rizky Melatama -
Nama Rizky Melatama
NPM 2523031005
1. Keterkaitan Agama dan Manusia dalam Bermasyarakat
Secara sosiologis, agama tidak hanya berfungsi sebagai hubungan vertikal (manusia dengan Tuhan), tetapi juga horizontal (manusia dengan sesama). Dalam konteks bermasyarakat:
Agama sebagai Kompas Moral: Agama memberikan kerangka etika yang mengatur bagaimana manusia harus bersikap jujur, adil, dan peduli terhadap orang lain.
Agama sebagai Perekat Sosial: Ajaran agama seringkali menekankan konsep persaudaraan. Di masyarakat, nilai-nilai seperti gotong royong atau sedekah menjadi jembatan yang memperkuat kohesi sosial.
*Manusia sebagai Subjek Penggerak: Tanpa manusia yang menjalankan esensi ajaran agama (seperti kasih sayang dan toleransi), agama hanya akan menjadi dogma beku. Masyarakat yang sehat tercipta ketika nilai agama diinternalisasi menjadi perilaku sosial yang positif.
---
2. Hubungan Psikologis Antar Pemeluk Agama untuk Kebangsaan
Untuk menguatkan kebangsaan Indonesia, hubungan psikologis yang harus dibangun bukan sekadar "berdampingan", melainkan "saling memiliki. Unsur-unsur psikologis tersebut meliputi:
Empati Lintas Iman: Kemampuan untuk merasakan perspektif penganut agama lain. Ini menghancurkan sekat "kita vs mereka" (in-group/out-group bias).
Rasa Aman Bersama (Collective Security): Setiap individu harus merasa aman menjalankan keyakinannya tanpa rasa takut. Psikologi keamanan ini membangun loyalitas tinggi terhadap negara.
Identitas Nasional yang Melampaui Identitas Kelompok: Secara psikologis, kita harus memandang bahwa menjadi "Orang Indonesia" tidak mengurangi identitas "Orang Beragama", melainkan saling memperkuat. Hubungan ini disebut sebagai superordinate identity.
---
3. Rancangan Pembelajaran IPS untuk Harmonisasi & Generasi Unggul
Sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sebagai pengembang IPS, berikut adalah rancangan pembelajaran yang inovatif:
A. Strategi: Service Learning (Pembelajaran Berbasis Layanan)
Siswa diajak keluar kelas untuk melakukan aksi sosial bersama tanpa melihat latar belakang agama.
Contoh:.Proyek membersihkan lingkungan pasar atau membantu panti asuhan secara lintas agama.
Tujuan: Membangun harmoni melalui kerja nyata (collaboration).
B. Model: Inter-faith Dialogue Simulation
Bukan sekadar debat, melainkan simulasi pemecahan masalah.
Contoh: Siswa diberikan kasus "Pembangunan Fasilitas Umum di Lingkungan Majemuk". Mereka harus berdiskusi bagaimana agar semua pihak merasa dihargai.
Tujuan: Melatih critical thinking dan komunikasi yang santun.
C. Metode: Storytelling & Digital Literacy
Siswa diminta membuat konten digital (video/infografis) yang menceritakan tokoh-tokoh lokal yang berperan dalam perdamaian atau toleransi di daerah mereka.
Tujuan: Mewujudkan generasi unggul yang cakap teknologi dan berkarakter kuat.
D. Teknik Evaluasi: Authentic Assessment
Penilaian tidak hanya melalui tes tulis, tetapi melalui:
1. Observasi Sikap: Bagaimana siswa berinteraksi dengan teman yang berbeda agama di kelas.
2. Jurnal Refleksi:.Tulisan siswa tentang pemaknaan mereka terhadap nilai toleransi.
3. Peer-Evaluation:Siswa menilai sejauh mana rekan kelompoknya mampu menghargai perbedaan pendapat saat kerja tim.
NPM 2523031005
1. Keterkaitan Agama dan Manusia dalam Bermasyarakat
Secara sosiologis, agama tidak hanya berfungsi sebagai hubungan vertikal (manusia dengan Tuhan), tetapi juga horizontal (manusia dengan sesama). Dalam konteks bermasyarakat:
Agama sebagai Kompas Moral: Agama memberikan kerangka etika yang mengatur bagaimana manusia harus bersikap jujur, adil, dan peduli terhadap orang lain.
Agama sebagai Perekat Sosial: Ajaran agama seringkali menekankan konsep persaudaraan. Di masyarakat, nilai-nilai seperti gotong royong atau sedekah menjadi jembatan yang memperkuat kohesi sosial.
*Manusia sebagai Subjek Penggerak: Tanpa manusia yang menjalankan esensi ajaran agama (seperti kasih sayang dan toleransi), agama hanya akan menjadi dogma beku. Masyarakat yang sehat tercipta ketika nilai agama diinternalisasi menjadi perilaku sosial yang positif.
---
2. Hubungan Psikologis Antar Pemeluk Agama untuk Kebangsaan
Untuk menguatkan kebangsaan Indonesia, hubungan psikologis yang harus dibangun bukan sekadar "berdampingan", melainkan "saling memiliki. Unsur-unsur psikologis tersebut meliputi:
Empati Lintas Iman: Kemampuan untuk merasakan perspektif penganut agama lain. Ini menghancurkan sekat "kita vs mereka" (in-group/out-group bias).
Rasa Aman Bersama (Collective Security): Setiap individu harus merasa aman menjalankan keyakinannya tanpa rasa takut. Psikologi keamanan ini membangun loyalitas tinggi terhadap negara.
Identitas Nasional yang Melampaui Identitas Kelompok: Secara psikologis, kita harus memandang bahwa menjadi "Orang Indonesia" tidak mengurangi identitas "Orang Beragama", melainkan saling memperkuat. Hubungan ini disebut sebagai superordinate identity.
---
3. Rancangan Pembelajaran IPS untuk Harmonisasi & Generasi Unggul
Sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sebagai pengembang IPS, berikut adalah rancangan pembelajaran yang inovatif:
A. Strategi: Service Learning (Pembelajaran Berbasis Layanan)
Siswa diajak keluar kelas untuk melakukan aksi sosial bersama tanpa melihat latar belakang agama.
Contoh:.Proyek membersihkan lingkungan pasar atau membantu panti asuhan secara lintas agama.
Tujuan: Membangun harmoni melalui kerja nyata (collaboration).
B. Model: Inter-faith Dialogue Simulation
Bukan sekadar debat, melainkan simulasi pemecahan masalah.
Contoh: Siswa diberikan kasus "Pembangunan Fasilitas Umum di Lingkungan Majemuk". Mereka harus berdiskusi bagaimana agar semua pihak merasa dihargai.
Tujuan: Melatih critical thinking dan komunikasi yang santun.
C. Metode: Storytelling & Digital Literacy
Siswa diminta membuat konten digital (video/infografis) yang menceritakan tokoh-tokoh lokal yang berperan dalam perdamaian atau toleransi di daerah mereka.
Tujuan: Mewujudkan generasi unggul yang cakap teknologi dan berkarakter kuat.
D. Teknik Evaluasi: Authentic Assessment
Penilaian tidak hanya melalui tes tulis, tetapi melalui:
1. Observasi Sikap: Bagaimana siswa berinteraksi dengan teman yang berbeda agama di kelas.
2. Jurnal Refleksi:.Tulisan siswa tentang pemaknaan mereka terhadap nilai toleransi.
3. Peer-Evaluation:Siswa menilai sejauh mana rekan kelompoknya mampu menghargai perbedaan pendapat saat kerja tim.