Diskusi

Diskusi

Number of replies: 8

Deskripsikan disini keterkaitan manusia dengan ruang dan waktu dan bagaimanakah strategi pembelajaran ips dirancang agar peserta didik mampu memahami jati dirinya dan mampu berpikir kesejarahan dalam konteks manusia seutuhnya.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Ahmad Ridwan Syuhada -
Ahmad Ridwan Syuhada
2523031008

Manusia selalu hidup dalam hubungan yang tidak terpisahkan dengan ruang dan waktu. Ruang memberi manusia tempat untuk beraktivitas, berinteraksi, dan membangun peradaban. Setiap lingkungan baik desa, kota, pesisir, maupun pegunungan, membentuk cara hidup, nilai, dan identitas sosial seseorang. Sementara itu, waktu menghubungkan manusia dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pengalaman sejarah, tradisi, dan peristiwa yang pernah terjadi memengaruhi cara seseorang memaknai dirinya serta memahami perubahan yang terus berlangsung di lingkungannya. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang dibentuk oleh tempat ia hidup dan oleh perjalanan sejarah yang mendahuluinya. Agar peserta didik mampu memahami jati dirinya dalam arus perubahan zaman, pembelajaran IPS perlu dirancang dengan mengintegrasikan perspektif ruang dan waktu secara mendalam. Pembelajaran tidak hanya menyajikan fakta-fakta sejarah atau kondisi geografis, tetapi mengajak siswa menelusuri bagaimana lingkungan tempat tinggal mereka terbentuk, bagaimana nenek moyang mereka hidup, serta bagaimana perubahan sosial dan budaya terjadi dari masa ke masa.

Strategi pembelajaran yang dapat digunakan antara lain:
1. Pendekatan inkuiri dan berpikir sejarah (historical thinking skills)
Siswa diajak menyelidiki sumber sejarah, membandingkan peristiwa, menilai sebab-akibat, serta memahami perubahan dan kesinambungan. Dengan cara ini, siswa belajar melihat dirinya sebagai bagian dari perjalanan panjang manusia.

2. Pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan
Guru menghubungkan materi dengan kondisi nyata di sekitar peserta didik—misalnya sejarah lokal, dinamika sosial di daerah mereka, atau perubahan ruang akibat pembangunan. Hal ini membantu siswa menyadari bahwa identitas mereka dipengaruhi ruang tempat mereka hidup.

3. Penggunaan media naratif dan simulasi
Cerita sejarah, rekonstruksi peristiwa, drama, atau simulasi kehidupan masa lalu membantu siswa merasakan bagaimana manusia mengambil keputusan dalam konteks ruang dan waktu tertentu.

Melalui strategi-strategi tersebut, pembelajaran IPS tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik memahami dirinya sebagai makhluk sosial yang hidup dalam ruang tertentu, memiliki sejarah yang mengakar, dan bertanggung jawab terhadap masa depan. Dengan memahami ruang dan waktu secara utuh, peserta didik dapat membangun jati diri yang kuat serta mampu berpikir kesejarahan dalam melihat berbagai fenomena kehidupan.
In reply to First post

Re: Diskusi

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk historis yang hidup dalam dimensi ruang dan waktu. Dalam dimensi ruang, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan fisik, sosial, dan budaya yang membentuk cara hidup, pola perilaku, serta nilai-nilai yang dianutnya. Ruang tidak hanya dipahami sebagai lokasi geografis, tetapi juga sebagai arena sosial tempat manusia beraktivitas, beradaptasi, dan membangun identitas. Sementara itu, dimensi waktu menggambarkan kesinambungan pengalaman manusia dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Melalui waktu, manusia dapat memahami proses perubahan, kontinuitas, dan perkembangan peradaban. Kesadaran akan waktu menuntun manusia untuk melihat dirinya sebagai bagian dari perjalanan sejarah yang panjang, bukan entitas yang berdiri sendiri.

Sinergi antara ruang dan waktu menjadikan manusia sebagai makhluk yang berkonteks, berproses, dan beridentitas. Pemahaman atas ruang membentuk kesadaran akan posisi dirinya dalam masyarakat, sedangkan pemahaman atas waktu membentuk kesadaran historis bahwa jati diri terbentuk oleh pengalaman, tradisi, dan dinamika sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sinilah pentingnya pembelajaran IPS untuk menuntun peserta didik agar memahami manusia sebagai makhluk ruang-waktu yang utuh.

Strategi pembelajaran yang digunakan harus mampu mengintegrasikan pendekatan historis dan geografis sehingga peserta didik dapat melihat bagaimana kondisi ruang membentuk kehidupan manusia dan bagaimana waktu menciptakan perubahan sosial. Guru dapat menerapkan pembelajaran berbasis inkuiri kesejarahan, refleksi identitas, serta proyek kontekstual yang mengajak siswa menyelidiki peristiwa masa lalu, mengaitkannya dengan kondisi kekinian, dan memahami pengaruhnya terhadap masa depan. Melalui kegiatan seperti penulisan sejarah diri, analisis perubahan lingkungan, pembuatan peta waktu, atau penyusunan dokumenter sejarah lokal, peserta didik dilatih untuk mengembangkan pemikiran historis (historical thinking) sekaligus kesadaran ruang (spatial awareness). Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak hanya menanamkan pengetahuan faktual, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, kesadaran diri, dan pemahaman tentang manusia seutuhnya sebagai makhluk yang hidup dalam ruang dan waktu.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Indri Mutiara -
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Perkembangan globalisasi yang begitu cepat telah membawa dampak positif, tetapi sekaligus menggerus moralitas dan karakter generasi muda, terutama melalui arus informasi yang tidak terfilter, budaya instan, serta menurunnya penghargaan terhadap nilai-nilai bangsa. Dalam konteks transmisi kewarganegaraan yang baik, upaya menumbuhkan karakter generasi muda harus dilakukan secara sistematis melalui pendidikan formal, keluarga, masyarakat, dan media digital. Pendidikan kewarganegaraan tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi harus membentuk kesadaran moral, integritas, tanggung jawab sosial, serta kemampuan berpikir kritis terhadap isu publik. Sekolah dapat menanamkan karakter melalui pembelajaran berbasis proyek kewargaan (project citizen), diskusi isu aktual, simulasi demokrasi, dan praktik gotong royong di lingkungan sekolah. Keluarga berperan sebagai fondasi utama pembentukan karakter melalui teladan dan pembiasaan nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, dan empati. Masyarakat dan media juga perlu menciptakan ekosistem yang positif dengan memperkuat budaya literasi, membatasi paparan konten negatif, dan menyediakan ruang untuk kreativitas generasi muda. Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, transmisi kewarganegaraan dapat berlangsung secara efektif sehingga generasi muda tidak hanya mewarisi identitas bangsa, tetapi juga memiliki kecakapan moral untuk menghadapi tantangan global.

Manusia memiliki hubungan erat dengan ruang dan waktu karena aktivitas, identitas, dan perkembangan peradaban selalu terjadi dalam konteks geografis dan historis tertentu. Ruang menentukan bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan, memanfaatkan sumber daya, membangun permukiman, serta berinteraksi sosial. Sementara itu, waktu memberikan dimensi historis yang membuat manusia memahami asal-usulnya, perubahan sosial-budaya, serta keberlanjutan hidup dari generasi ke generasi. Keterkaitan ini membentuk jati diri manusia sebagai makhluk sejarah yang hidup dalam alur perkembangan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Untuk itu, strategi pembelajaran IPS harus dirancang agar peserta didik mampu mengenali diri, memahami perubahan sosial, serta berpikir kesejarahan secara komprehensif. Guru dapat menerapkan pendekatan inquiry dan problem based learning yang mendorong siswa menelusuri peristiwa masa lalu dan menghubungkannya dengan fenomena masa kini. Media seperti peta, timeline, arsip digital, dan studi tokoh lokal dapat membantu siswa memahami bahwa identitas mereka dibentuk oleh ruang tempat mereka hidup dan perjalanan sejarah masyarakatnya. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek yang mengkaji sejarah lokal, situs budaya, atau perubahan ruang kota/desa dapat menumbuhkan pemahaman akan jati diri dan posisi mereka dalam perkembangan bangsa. Dengan desain pembelajaran yang demikian, IPS tidak hanya mengajarkan pengetahuan faktual, tetapi juga membentuk kesadaran historis dan identitas yang kuat sebagai manusia Indonesia seutuhnya yang memahami ruang hidupnya serta perjalanan bangsanya.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007

Dalam kehidupan manusia, ruang dan waktu merupakan dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan. Ruang adalah tempat manusia hidup, bergerak, dan membangun peradabannya, sementara waktu adalah alur perjalanan yang menggambarkan perubahan, perkembangan, dan kesinambungan hidup manusia dari masa lalu, kini, hingga masa depan. Manusia selalu berada dalam hubungan timbal balik dengan ruang yang ditempatinya; lingkungan geografis memengaruhi pola pikir, mata pencaharian, budaya, hingga karakter masyarakat. Pada saat yang sama, manusia juga membentuk ruang itu melalui aktivitas sosial, teknologi, ekonomi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam dimensi waktu, manusia menjadi aktor sejarah yang merekam pengalaman kolektif, belajar dari peristiwa lampau, dan merumuskan langkah untuk masa depan. Dengan demikian, memahami keterkaitan manusia dengan ruang dan waktu berarti memahami jati diri manusia sebagai makhluk sejarah yang hidup dalam lingkungan sosial yang terus berubah.

Agar peserta didik mampu memahami diri mereka sebagai bagian dari perjalanan ruang dan waktu, pembelajaran IPS perlu dirancang dengan pendekatan yang mendorong kemampuan berpikir kesejarahan. Strategi pembelajaran tidak hanya berfokus pada fakta kronologis, tetapi menuntun siswa untuk mengkaji sebab-akibat, perubahan dan keberlanjutan, nilai-nilai dari peristiwa masa lalu, serta relevansinya dengan kehidupan mereka saat ini. Guru dapat menerapkan pendekatan kontekstual dengan memulai dari pengalaman siswa dalam lingkungan sekitar (ruang), kemudian mengaitkannya dengan dinamika perubahan sosial dari masa ke masa (waktu). Model pembelajaran berbasis inkuiri, studi kasus, proyek sejarah lokal, hingga pemanfaatan sumber sejarah seperti dokumen, peta, dan cerita lisan dapat membantu siswa menyadari bahwa mereka adalah bagian dari mata rantai sejarah yang lebih besar.

Melalui strategi tersebut, peserta didik diajak mengenali jati dirinya mengenai siapa mereka, dari mana mereka berasal, bagaimana lingkungan membentuk mereka serta mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis dan reflektif mengenai perjalanan manusia. Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi membentuk kesadaran historis dan identitas kemanusiaan yang utuh, sehingga siswa mampu menjadi pribadi yang memahami nilai-nilai masa lalu, peka terhadap kondisi masa kini, dan bijaksana dalam merancang masa depan.
In reply to First post

Re: Diskusi

by amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Manusia merupakan makhluk historis yang hidup dalam keterkaitan antara ruang dan waktu. Ruang membentuk pola kehidupan manusia melalui lingkungan geografis, kondisi sosial, dan budaya yang mempengaruhi cara mereka berinteraksi, bekerja, serta membangun relasi sosial. Sementara itu, waktu menggambarkan perjalanan sejarah yang membentuk identitas manusia dari masa ke masa, sehingga apa yang terjadi pada masa kini tidak dapat dilepaskan dari jejak masa lalu dan proyeksi menuju masa depan. Ketika ruang dan waktu dipahami secara integratif, manusia dapat melihat bahwa setiap peristiwa historis terjadi pada tempat tertentu dengan kondisi tertentu yang memengaruhi keputusan dan tindakan. Oleh karena itu, pembelajaran IPS harus dirancang sedemikian rupa untuk membantu peserta didik memahami kedudukan dirinya sebagai individu yang hidup dalam alur sejarah dan dalam konteks ruang yang terus berubah. Strategi yang dapat dilakukan meliputi penggunaan pendekatan inkuiri historis yang mendorong peserta didik meneliti peristiwa dan sumber sejarah sehingga mereka mampu memahami kronologi, sebab-akibat, perubahan, dan kesinambungan. Pendekatan kontekstual juga perlu digunakan agar siswa dapat menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari serta sejarah lokal yang dekat dengan identitas mereka. Pembelajaran berbasis proyek, seperti pembuatan peta sejarah, dokumentasi budaya, dan wawancara tokoh setempat, memberikan pengalaman belajar yang memperkuat pemahaman jati diri melalui aktivitas nyata. Selain itu, kegiatan refleksi diri dan diskusi kritis membantu siswa melihat dirinya sebagai bagian dari proses sejarah yang lebih luas, sementara penggunaan cerita sejarah membangun empati terhadap tokoh dan masyarakat masa lalu. Dengan strategi-strategi tersebut, pembelajaran IPS tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kesejarahan dan pemahaman identitas diri peserta didik dalam konteks manusia seutuhnya.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Siti Aminah -
Nama : Siti Aminah
NPM : 2523031002

Manusia, ruang dan waktu merupakan unsur dari sejarah, ketiganya saling keterkaitan satu sama lain. Manusia adalah pelaku sejarah, sedangkan ruang adalah tempat terjadinya sejarah atau peristiwa dan waktu adalah kesinambungan peristiwa dari masa lalu, masa sekarang dan masa yg akan datang. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa dalam sejarah itu sendiri pasti memiliki tiga unsur yaitu manusia, ruang dan waktu. Takpa adanya ruang, manusia tidak bisa beraktivitas begitupun jika tidak ada waktu maka sejarah pun tidak bisa dijelaskan kapan terjadinya peristiwa tersebut.

Strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPS adalah dengan strategi pembelajaran yang kontekstual. Guru menghubungkan peristiwa sejarah atau sosial dengan kehidupan sehari-hari siswa, Peristiwa lokal di lingkungan sekitar dan tokoh atau peristiwa inspiratif di daerah mereka

 Dampaknya Siswa memahami bahwa sejarah bukan hanya cerita masa lalu, tetapi terkait langsung dengan kehidupan mereka.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Diah Rachmawati Syukri -
Nama : Diah Rachmawati Syukri
NPM : 2523031003

Manusia memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan ruang dan waktu karena seluruh aktivitas hidupnya berlangsung dalam konteks geografis dan historis tertentu.

Ruang menentukan bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan fisik dan sosial, sementara waktu membentuk pengalaman, perubahan, serta perkembangan peradaban. Dalam perspektif ilmu sosial, pemahaman manusia tentang ruang dan waktu membantu melihat dirinya sebagai bagian dari proses sejarah panjang yang membentuk identitas dan kehidupannya saat ini.

Oleh karena itu, strategi pembelajaran IPS perlu dirancang agar peserta didik mampu memahami jati dirinya melalui pemahaman konteks ruang tempat ia hidup dan waktu sejarah yang telah dilalui masyarakatnya. Strategi tersebut dapat diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, analisis peristiwa sejarah, studi lingkungan sekitar, penggunaan sumber belajar autentik seperti peta, foto sejarah, dan dokumen lokal, serta penerapan model pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan penelusuran sejarah keluarga atau sejarah daerah.

Melalui pembelajaran seperti ini, peserta didik tidak hanya mempelajari fakta, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kesejarahan mulai dari memahami kronologi, menghubungkan sebab-akibat, hingga membuat interpretasi kritis. Dengan demikian, pembelajaran IPS akan membantu peserta didik melihat manusia sebagai makhluk historis yang terus berubah, sekaligus memahami identitas dirinya dalam keseluruhan perjalanan manusia secara utuh.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama : Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM : 2526031009

Manusia tidak dapat dipisahkan dari ruang dan waktu. Ruang adalah tempat manusia hidup, berinteraksi, dan melakukan kegiatan sosial, sedangkan waktu menunjukkan proses perjalanan hidup manusia dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Kondisi ruang seperti lingkungan alam dan sosial memengaruhi cara hidup manusia, sementara pengalaman masa lalu membentuk identitas dan cara berpikir manusia saat ini.
Melalui waktu, manusia mengalami perubahan dan keberlanjutan. Peristiwa masa lalu tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi memberikan makna dan pelajaran bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, jati diri manusia terbentuk dari interaksi antara ruang tempat ia hidup dan pengalaman sejarah yang dialaminya.

Agar peserta didik mampu memahami jati dirinya dan berpikir kesejarahan, pembelajaran IPS perlu dirancang secara kontekstual dan bermakna. Guru dapat mengaitkan materi IPS dengan lingkungan sekitar dan pengalaman kehidupan peserta didik, seperti sejarah lokal dan kondisi sosial masyarakat.
Pembelajaran IPS juga perlu menekankan berpikir kesejarahan, yaitu memahami urutan waktu, sebab-akibat, serta perubahan dan keberlanjutan peristiwa sosial. Selain itu, peserta didik diajak untuk berdiskusi dan refleksi agar mampu mengaitkan peristiwa masa lalu dengan kehidupan masa kini.
Dengan strategi pembelajaran yang aktif dan kontekstual, IPS membantu peserta didik memahami dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan sejarah, sehingga mampu melihat manusia sebagai makhluk sosial yang utuh.