Cobalah diskusikan bersama rekan anda keterkaitan agama dan manusia dalam konteks bermasyarakat. Kemudian bagaimana hubungan psikologis yang harus dibangun antar sesama pemeluk agama dalam menguatkan kebangsaan Indonesia. Sebagai calon pengembang ips, bagaimana pula pembelajaran dirancang agar terdapat harmonisasi kehidupan di masyarakat dan mewujudkan generasi unggul sebagaimana tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003.
Diskusi
Ahmad Ridwan Syuhada
2523031008
Agama dan manusia memiliki keterkaitan mendalam dalam kehidupan bermasyarakat karena agama berfungsi sebagai sumber nilai, pedoman moral, dan landasan etika yang membimbing perilaku sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, agama tidak hanya menjadi identitas spiritual, tetapi juga menjadi fondasi untuk membangun hubungan sosial yang harmonis. Oleh karena itu, hubungan psikologis antar pemeluk agama perlu dibangun atas dasar saling menghormati, empati, kepercayaan, dan rasa aman, sehingga setiap individu merasa diterima dan dihargai dalam menjalankan keyakinannya. Ketika hubungan ini terpelihara dengan baik, semangat kebangsaan Indonesia akan semakin kuat karena masyarakat mampu hidup berdampingan dalam keragaman tanpa saling mengancam. Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran perlu dirancang untuk memperkuat harmonisasi sosial tersebut dengan menanamkan nilai toleransi, memfasilitasi pengalaman belajar yang menumbuhkan empati, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap isu keberagaman. Pembelajaran IPS harus menghadirkan dialog, studi kasus, refleksi, dan aktivitas kolaboratif yang mendorong siswa menghargai perbedaan serta mampu menyelesaikan konflik secara damai. Dengan demikian, pendidikan IPS menjadi sarana strategis untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, yaitu membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, peduli, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang beragam.
2523031008
Agama dan manusia memiliki keterkaitan mendalam dalam kehidupan bermasyarakat karena agama berfungsi sebagai sumber nilai, pedoman moral, dan landasan etika yang membimbing perilaku sosial. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, agama tidak hanya menjadi identitas spiritual, tetapi juga menjadi fondasi untuk membangun hubungan sosial yang harmonis. Oleh karena itu, hubungan psikologis antar pemeluk agama perlu dibangun atas dasar saling menghormati, empati, kepercayaan, dan rasa aman, sehingga setiap individu merasa diterima dan dihargai dalam menjalankan keyakinannya. Ketika hubungan ini terpelihara dengan baik, semangat kebangsaan Indonesia akan semakin kuat karena masyarakat mampu hidup berdampingan dalam keragaman tanpa saling mengancam. Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran perlu dirancang untuk memperkuat harmonisasi sosial tersebut dengan menanamkan nilai toleransi, memfasilitasi pengalaman belajar yang menumbuhkan empati, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap isu keberagaman. Pembelajaran IPS harus menghadirkan dialog, studi kasus, refleksi, dan aktivitas kolaboratif yang mendorong siswa menghargai perbedaan serta mampu menyelesaikan konflik secara damai. Dengan demikian, pendidikan IPS menjadi sarana strategis untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, yaitu membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, peduli, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang beragam.
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006
Agama dan manusia memiliki hubungan yang saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat. Agama berfungsi sebagai sumber nilai, moral, dan pedoman hidup yang menuntun perilaku manusia, sementara manusia menjadi pelaku yang mewujudkan ajaran agama dalam tindakan sosial. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, agama menjadi fondasi etika sosial seperti tenggang rasa, toleransi, dan gotong royong. Dengan demikian, keterkaitan agama dan manusia tampak dalam bagaimana nilai-nilai keagamaan memengaruhi pola interaksi sosial, cara masyarakat menyelesaikan masalah bersama, serta komitmen untuk menjaga harmoni dalam keberagaman. Upayamemperkuat kebangsaan Indonesia, hubungan psikologis antarsesama pemeluk agama perlu dibangun di atas rasa saling percaya, empati, dan kesadaran bahwa setiap individu adalah bagian dari komunitas nasional yang sama. Hubungan psikologis ini mencakup kemampuan memahami perbedaan, mengelola prasangka, dan menumbuhkan sikap saling menghargai. Interaksi yang positif baik dalam dialog lintas agama, kerja sama sosial, maupun kegiatan kemasyarakatan akan memperkuat ikatan emosional dan rasa memiliki terhadap bangsa. Hal ini penting agar identitas kebangsaan tidak terpecah oleh perbedaan keyakinan, melainkan justru diperkuat melalui sikap toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman sebagaimana prinsip Bhineka Tunggal Ika.
Nantinya sebagai pengembang IPS, pembelajaran harus dirancang untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan masyarakat sekaligus membentuk generasi unggul sesuai amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Pembelajaran IPS perlu mengintegrasikan nilai moral, sosial, dan kebangsaan melalui pendekatan humanis, kontekstual, dan kolaboratif. Pendekatan humanis menekankan penanaman empati, toleransi, dan resolusi konflik, sehingga peserta didik mampu memahami pentingnya saling menghargai dalam kehidupan sosial. Pendekatan kontekstual memungkinkan peserta didik mengaitkan materi IPS dengan pengalaman nyata di lingkungan sekitar, misalnya melalui proyek pemetaan keragaman agama lokal atau dialog harmoni antar siswa. Sementara itu, pendekatan kolaboratif seperti PjBL, Jigsaw, atau diskusi kelompok mendorong interaksi positif, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan kerja sama. Dengan rancangan pembelajaran yang integratif ini, pendidikan IPS tidak hanya mengembangkan pengetahuan sosial, tetapi juga membentuk karakter dan kecakapan sosial-spiritual yang diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis serta generasi bangsa yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas.
NPM: 2523031006
Agama dan manusia memiliki hubungan yang saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat. Agama berfungsi sebagai sumber nilai, moral, dan pedoman hidup yang menuntun perilaku manusia, sementara manusia menjadi pelaku yang mewujudkan ajaran agama dalam tindakan sosial. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, agama menjadi fondasi etika sosial seperti tenggang rasa, toleransi, dan gotong royong. Dengan demikian, keterkaitan agama dan manusia tampak dalam bagaimana nilai-nilai keagamaan memengaruhi pola interaksi sosial, cara masyarakat menyelesaikan masalah bersama, serta komitmen untuk menjaga harmoni dalam keberagaman. Upayamemperkuat kebangsaan Indonesia, hubungan psikologis antarsesama pemeluk agama perlu dibangun di atas rasa saling percaya, empati, dan kesadaran bahwa setiap individu adalah bagian dari komunitas nasional yang sama. Hubungan psikologis ini mencakup kemampuan memahami perbedaan, mengelola prasangka, dan menumbuhkan sikap saling menghargai. Interaksi yang positif baik dalam dialog lintas agama, kerja sama sosial, maupun kegiatan kemasyarakatan akan memperkuat ikatan emosional dan rasa memiliki terhadap bangsa. Hal ini penting agar identitas kebangsaan tidak terpecah oleh perbedaan keyakinan, melainkan justru diperkuat melalui sikap toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman sebagaimana prinsip Bhineka Tunggal Ika.
Nantinya sebagai pengembang IPS, pembelajaran harus dirancang untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan masyarakat sekaligus membentuk generasi unggul sesuai amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Pembelajaran IPS perlu mengintegrasikan nilai moral, sosial, dan kebangsaan melalui pendekatan humanis, kontekstual, dan kolaboratif. Pendekatan humanis menekankan penanaman empati, toleransi, dan resolusi konflik, sehingga peserta didik mampu memahami pentingnya saling menghargai dalam kehidupan sosial. Pendekatan kontekstual memungkinkan peserta didik mengaitkan materi IPS dengan pengalaman nyata di lingkungan sekitar, misalnya melalui proyek pemetaan keragaman agama lokal atau dialog harmoni antar siswa. Sementara itu, pendekatan kolaboratif seperti PjBL, Jigsaw, atau diskusi kelompok mendorong interaksi positif, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan kerja sama. Dengan rancangan pembelajaran yang integratif ini, pendidikan IPS tidak hanya mengembangkan pengetahuan sosial, tetapi juga membentuk karakter dan kecakapan sosial-spiritual yang diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis serta generasi bangsa yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas.
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001
Keterkaitan agama dan manusia dalam konteks bermasyarakat tidak dapat dipisahkan karena agama berfungsi sebagai pedoman moral, sumber nilai, dan landasan etika yang mengatur tindakan sosial manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, agama memberi arah mengenai bagaimana manusia berperilaku, memperlakukan sesama, dan menjaga keharmonisan sosial. Agama juga memperkuat identitas kolektif, menumbuhkan solidaritas, dan memberikan makna atas berbagai fenomena kehidupan. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, agama berperan sebagai pengikat moral bersama sekaligus sebagai kekuatan pemersatu yang mendorong terciptanya tatanan sosial yang damai dan harmonis. Namun, keberagaman agama juga dapat menjadi sumber konflik apabila tidak dibarengi dengan sikap saling menghormati, pemahaman yang benar, dan komunikasi antar kelompok.
Hubungan psikologis yang perlu dibangun antar sesama pemeluk agama untuk memperkuat kebangsaan Indonesia adalah hubungan yang berlandaskan pada empati, toleransi, dan kesadaran bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan universal. Sikap empati memungkinkan seseorang memahami perspektif dan pengalaman keberagamaan orang lain, sementara toleransi membantu masyarakat menerima perbedaan tanpa merasa terancam. Selain itu, rasa percaya, sikap terbuka, serta kemampuan berdialog secara damai menjadi fondasi psikologis yang penting agar antar pemeluk agama dapat hidup berdampingan secara produktif. Dengan membangun relasi sosial yang positif antar umat beragama, masyarakat akan memiliki ketahanan sosial yang kuat, sehingga ideologi radikal, intoleransi, dan konflik dapat diminimalisasi.
Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran harus dirancang agar mampu menciptakan harmonisasi kehidupan masyarakat melalui penanaman nilai multikultural, pendidikan karakter, dan wawasan kebangsaan. Pembelajaran IPS perlu memfasilitasi peserta didik memahami keberagaman agama, budaya, dan identitas nasional dengan pendekatan dialogis, studi kasus, dan pembelajaran berbasis proyek sosial. Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, prinsip toleransi, serta praktik kerja sama dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menginternalisasi sikap hidup rukun dalam keberbedaan. Hal ini sejalan dengan amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yang menekankan pengembangan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian, pembelajaran IPS berperan strategis dalam mencetak generasi unggul yang mampu menjaga persatuan, memelihara kerukunan, dan mengelola perbedaan sebagai kekuatan bangsa.
NPM : 2523031001
Keterkaitan agama dan manusia dalam konteks bermasyarakat tidak dapat dipisahkan karena agama berfungsi sebagai pedoman moral, sumber nilai, dan landasan etika yang mengatur tindakan sosial manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, agama memberi arah mengenai bagaimana manusia berperilaku, memperlakukan sesama, dan menjaga keharmonisan sosial. Agama juga memperkuat identitas kolektif, menumbuhkan solidaritas, dan memberikan makna atas berbagai fenomena kehidupan. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, agama berperan sebagai pengikat moral bersama sekaligus sebagai kekuatan pemersatu yang mendorong terciptanya tatanan sosial yang damai dan harmonis. Namun, keberagaman agama juga dapat menjadi sumber konflik apabila tidak dibarengi dengan sikap saling menghormati, pemahaman yang benar, dan komunikasi antar kelompok.
Hubungan psikologis yang perlu dibangun antar sesama pemeluk agama untuk memperkuat kebangsaan Indonesia adalah hubungan yang berlandaskan pada empati, toleransi, dan kesadaran bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan universal. Sikap empati memungkinkan seseorang memahami perspektif dan pengalaman keberagamaan orang lain, sementara toleransi membantu masyarakat menerima perbedaan tanpa merasa terancam. Selain itu, rasa percaya, sikap terbuka, serta kemampuan berdialog secara damai menjadi fondasi psikologis yang penting agar antar pemeluk agama dapat hidup berdampingan secara produktif. Dengan membangun relasi sosial yang positif antar umat beragama, masyarakat akan memiliki ketahanan sosial yang kuat, sehingga ideologi radikal, intoleransi, dan konflik dapat diminimalisasi.
Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran harus dirancang agar mampu menciptakan harmonisasi kehidupan masyarakat melalui penanaman nilai multikultural, pendidikan karakter, dan wawasan kebangsaan. Pembelajaran IPS perlu memfasilitasi peserta didik memahami keberagaman agama, budaya, dan identitas nasional dengan pendekatan dialogis, studi kasus, dan pembelajaran berbasis proyek sosial. Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, prinsip toleransi, serta praktik kerja sama dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menginternalisasi sikap hidup rukun dalam keberbedaan. Hal ini sejalan dengan amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yang menekankan pengembangan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian, pembelajaran IPS berperan strategis dalam mencetak generasi unggul yang mampu menjaga persatuan, memelihara kerukunan, dan mengelola perbedaan sebagai kekuatan bangsa.
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004
Hubungan psikologis antarpemeluk agama memegang peran penting dalam memperkuat kebangsaan. Hubungan tersebut perlu dibangun atas dasar rasa saling percaya, empati, dan penghargaan terhadap identitas masing-masing. Ketika setiap individu merasa aman dan dihargai, tumbuhlah kesiapan untuk bekerja sama, berinteraksi secara positif, dan melihat keberagaman sebagai kekuatan bersama. Proses ini menciptakan harmoni sosial yang menjadi fondasi kokoh bagi persatuan bangsa. Sebagai calon pengembang pembelajaran IPS, upaya menumbuhkan harmonisasi kehidupan masyarakat dapat diwujudkan melalui desain pembelajaran yang inklusif, kolaboratif, serta menghargai perbedaan peserta didik. Pembelajaran perlu dirancang dengan pendekatan saintifik dan berdiferensiasi agar setiap siswa dapat berpartisipasi secara bermakna sesuai kebutuhan dan karakteristiknya. Melalui proyek autentik, studi kasus nyata, diskusi reflektif, dan kerja sama kelompok lintas latar belakang, siswa tidak hanya memahami konsep toleransi, tetapi juga mempraktikkannya dalam interaksi nyata.
Upaya ini sejalan dengan amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, yang menekankan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan mampu hidup demokratis. Dengan desain pembelajaran IPS yang sensitif terhadap keragaman dan mampu membangun sikap sosial yang positif, sekolah berkontribusi pada lahirnya generasi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kecerdasan sosial dan karakter kebangsaan kuat. Generasi inilah yang akan menjadi penggerak harmonisasi dan persatuan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
NPM : 2523031004
Hubungan psikologis antarpemeluk agama memegang peran penting dalam memperkuat kebangsaan. Hubungan tersebut perlu dibangun atas dasar rasa saling percaya, empati, dan penghargaan terhadap identitas masing-masing. Ketika setiap individu merasa aman dan dihargai, tumbuhlah kesiapan untuk bekerja sama, berinteraksi secara positif, dan melihat keberagaman sebagai kekuatan bersama. Proses ini menciptakan harmoni sosial yang menjadi fondasi kokoh bagi persatuan bangsa. Sebagai calon pengembang pembelajaran IPS, upaya menumbuhkan harmonisasi kehidupan masyarakat dapat diwujudkan melalui desain pembelajaran yang inklusif, kolaboratif, serta menghargai perbedaan peserta didik. Pembelajaran perlu dirancang dengan pendekatan saintifik dan berdiferensiasi agar setiap siswa dapat berpartisipasi secara bermakna sesuai kebutuhan dan karakteristiknya. Melalui proyek autentik, studi kasus nyata, diskusi reflektif, dan kerja sama kelompok lintas latar belakang, siswa tidak hanya memahami konsep toleransi, tetapi juga mempraktikkannya dalam interaksi nyata.
Upaya ini sejalan dengan amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, yang menekankan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, dan mampu hidup demokratis. Dengan desain pembelajaran IPS yang sensitif terhadap keragaman dan mampu membangun sikap sosial yang positif, sekolah berkontribusi pada lahirnya generasi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kecerdasan sosial dan karakter kebangsaan kuat. Generasi inilah yang akan menjadi penggerak harmonisasi dan persatuan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Nama : Siti Aminah
NPM : 2523031002
Agama dan manusia tentu memiliki keterkaitan yang erat. Agama bukan hanya menjadi pedoman dalam beribada kepada Tuhan, melainkan juga menjadi pedoman atau tata cara dalam bertingkah laku sesama manusia. Agama menjadi tuntunan bagi manusia tentang bagaimana bisa menjalankan kehidupan supaya mencapai keselamatan. Termasuk dalam kehidupan itu sendiri kita berinteraksi dengan orang lain, berinteraksi dalam lingkup masyarakat. Cara interaksi inilah yang diatur oleh agama yang pasti tujuannya adalah agar tercipta kerukunan.
NPM : 2523031002
Agama dan manusia tentu memiliki keterkaitan yang erat. Agama bukan hanya menjadi pedoman dalam beribada kepada Tuhan, melainkan juga menjadi pedoman atau tata cara dalam bertingkah laku sesama manusia. Agama menjadi tuntunan bagi manusia tentang bagaimana bisa menjalankan kehidupan supaya mencapai keselamatan. Termasuk dalam kehidupan itu sendiri kita berinteraksi dengan orang lain, berinteraksi dalam lingkup masyarakat. Cara interaksi inilah yang diatur oleh agama yang pasti tujuannya adalah agar tercipta kerukunan.
Hubungan psikologis yang perlu dibangun antar sesama pemeluk agama dalam menguatkan kebangsaan Indonesia adalah dengan belajar menghargai perbedaan dan toleransi. Mengapa demikian? Karena karakteristik masyarakat Indonesia yang majemuk atau banyak sekali keberagaman, dan tentu saja jika tidak diiringi dengan rasa menghargai tentu menimbulkan konflik baik itu antar agama atau antar suku. Hal tersebut tentunya berakibat buruk terhadap bangsa Indonesia
Generasi unggul dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk membangun itu semua tentu diperlukan kesadaran masyarakat salah satunya lewat pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran sebaiknya menerapkan nilai-nilai yang ada di masyarakat seperti empati, peduli, kasih sayang antar sesama, saling menghormati perbedaan agar siswa bisa menerapkannya dan mampu menempatkan diri ketika ia berkumpul dan bermasyarakat, baik dengan teman sebayanya, orang yang lebih tua bahkan kepada orang yang lebih muda darinya.
Generasi unggul dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk membangun itu semua tentu diperlukan kesadaran masyarakat salah satunya lewat pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Pembelajaran sebaiknya menerapkan nilai-nilai yang ada di masyarakat seperti empati, peduli, kasih sayang antar sesama, saling menghormati perbedaan agar siswa bisa menerapkannya dan mampu menempatkan diri ketika ia berkumpul dan bermasyarakat, baik dengan teman sebayanya, orang yang lebih tua bahkan kepada orang yang lebih muda darinya.
Nama : Resti Apriliyani
NPM " 2523031007
Agama dan manusia memiliki hubungan yang sangat erat dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Agama menjadi pedoman moral yang mengarahkan perilaku manusia dalam menjalani kehidupan sosial. Nilai‐nilai agama mendorong setiap individu untuk menjunjung tinggi etika, menghormati sesama, serta menjaga ketertiban sosial. Dengan demikian, keberadaan agama tidak hanya berfungsi sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai landasan pembentukan karakter dan identitas sosial yang berperan penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Hubungan psikologis antar pemeluk agama perlu dibangun atas dasar kepercayaan, rasa saling menghargai, dan empati. Setiap pemeluk agama perlu menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman keyakinan merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia. Sikap toleran, tidak memaksakan kehendak, serta kesiapan untuk berdialog menjadi kunci untuk memperkuat persatuan nasional. Ketika hubungan psikologis antar umat beragama berjalan baik, rasa kebangsaan akan semakin kokoh karena masyarakat terbiasa menghargai perbedaan dan fokus pada persamaan sebagai satu bangsa.
Sebagai calon pengembang ilmu pengetahuan sosial (IPS), pembelajaran perlu dirancang untuk menanamkan nilai harmonisasi kehidupan masyarakat. Strategi pembelajaran dapat menekankan pada pengembangan sikap toleransi, gotong royong, dan keadaban publik melalui pendekatan kontekstual, studi kasus, proyek sosial, dan refleksi nilai. Pembelajaran IPS juga perlu memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik untuk memahami realitas sosial, termasuk keberagaman agama dan budaya, sehingga mereka mampu berpikir kritis, bertindak bijak, serta berperilaku inklusif.
Penyelenggaraan pembelajaran seperti ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan khususnya pembelajaran IPS yang memegang peran penting dalam menciptakan generasi unggul yang mampu menjaga kerukunan, menghormati keberagaman, dan berkontribusi dalam persatuan bangsa Indonesia.
NPM " 2523031007
Agama dan manusia memiliki hubungan yang sangat erat dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Agama menjadi pedoman moral yang mengarahkan perilaku manusia dalam menjalani kehidupan sosial. Nilai‐nilai agama mendorong setiap individu untuk menjunjung tinggi etika, menghormati sesama, serta menjaga ketertiban sosial. Dengan demikian, keberadaan agama tidak hanya berfungsi sebagai ajaran spiritual, tetapi juga sebagai landasan pembentukan karakter dan identitas sosial yang berperan penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Hubungan psikologis antar pemeluk agama perlu dibangun atas dasar kepercayaan, rasa saling menghargai, dan empati. Setiap pemeluk agama perlu menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman keyakinan merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia. Sikap toleran, tidak memaksakan kehendak, serta kesiapan untuk berdialog menjadi kunci untuk memperkuat persatuan nasional. Ketika hubungan psikologis antar umat beragama berjalan baik, rasa kebangsaan akan semakin kokoh karena masyarakat terbiasa menghargai perbedaan dan fokus pada persamaan sebagai satu bangsa.
Sebagai calon pengembang ilmu pengetahuan sosial (IPS), pembelajaran perlu dirancang untuk menanamkan nilai harmonisasi kehidupan masyarakat. Strategi pembelajaran dapat menekankan pada pengembangan sikap toleransi, gotong royong, dan keadaban publik melalui pendekatan kontekstual, studi kasus, proyek sosial, dan refleksi nilai. Pembelajaran IPS juga perlu memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik untuk memahami realitas sosial, termasuk keberagaman agama dan budaya, sehingga mereka mampu berpikir kritis, bertindak bijak, serta berperilaku inklusif.
Penyelenggaraan pembelajaran seperti ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan khususnya pembelajaran IPS yang memegang peran penting dalam menciptakan generasi unggul yang mampu menjaga kerukunan, menghormati keberagaman, dan berkontribusi dalam persatuan bangsa Indonesia.
Nama : Maria ulfa rara ardhika
npm : 2523031009
Agama dan manusia memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat. Agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem kepercayaan spiritual, tetapi juga sebagai landasan moral yang mengatur tindakan, perilaku, dan hubungan antarindividu. Di dalam masyarakat, agama menjadi sumber nilai yang membimbing manusia dalam membangun tata kehidupan yang beradab, damai, dan penuh toleransi. Melalui ajaran agama, manusia diajak untuk mengenal dirinya, sesama, dan Sang Pencipta, sehingga terbentuk makna hidup yang tidak hanya berorientasi pada diri sendiri, tetapi juga pada kesejahteraan sosial. Agama menjadi kompas etika yang menuntun manusia dalam bersikap adil, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dengan demikian, agama berperan sebagai fondasi pembentukan tatanan masyarakat yang harmonis, solid, dan bermartabat.
Dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia yang plural, hubungan psikologis antar pemeluk agama perlu dibangun dengan dasar saling pengertian dan penghargaan. Sikap empati menjadi aspek penting dalam relasi antarpemeluk agama, karena melalui empati seseorang mampu memahami pengalaman keberagamaan orang lain tanpa prasangka atau rasa superioritas. Toleransi bukan hanya berarti menerima perbedaan, tetapi juga mengakui bahwa keragaman adalah bagian dari identitas nasional yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan budaya bangsa. Selain itu, kepercayaan atau trust antarumat beragama harus dijaga melalui komunikasi yang terbuka, kerja sama dalam kegiatan sosial, dan dialog lintas iman. Ketika masyarakat memahami bahwa identitas keagamaan dan identitas kebangsaan dapat berjalan berdampingan, maka terciptalah keharmonisan psikologis yang menguatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.
Sebagai calon pengembang pembelajaran IPS, peran pendidikan menjadi sangat penting dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu hidup harmonis di tengah keberagaman. Pembelajaran harus dirancang tidak hanya untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran kritis, nilai moral, serta kemampuan sosial peserta didik. Pendidikan IPS idealnya menggunakan pendekatan multikultural yang menanamkan penghormatan terhadap keberagaman agama, budaya, suku, dan identitas lain yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Selain itu, penerapan model pembelajaran berbasis masalah dan proyek sosial dapat membantu peserta didik memahami isu nyata seperti konflik sosial, intoleransi, dan dinamika kehidupan multikultural. Melalui pengalaman langsung, siswa belajar untuk mengambil peran sebagai agen perdamaian, bukan penonton pasif.
Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Peserta didik diharapkan tumbuh menjadi insan yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu hidup demokratis dalam keberagaman. Dengan demikian, pembelajaran IPS bukan hanya membangun kompetensi akademik, tetapi juga mewujudkan generasi unggul yang mampu menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat dan menjadi pelanjut cita-cita bangsa menuju Indonesia yang damai, maju, dan berkeadaban.
npm : 2523031009
Agama dan manusia memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat. Agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem kepercayaan spiritual, tetapi juga sebagai landasan moral yang mengatur tindakan, perilaku, dan hubungan antarindividu. Di dalam masyarakat, agama menjadi sumber nilai yang membimbing manusia dalam membangun tata kehidupan yang beradab, damai, dan penuh toleransi. Melalui ajaran agama, manusia diajak untuk mengenal dirinya, sesama, dan Sang Pencipta, sehingga terbentuk makna hidup yang tidak hanya berorientasi pada diri sendiri, tetapi juga pada kesejahteraan sosial. Agama menjadi kompas etika yang menuntun manusia dalam bersikap adil, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dengan demikian, agama berperan sebagai fondasi pembentukan tatanan masyarakat yang harmonis, solid, dan bermartabat.
Dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia yang plural, hubungan psikologis antar pemeluk agama perlu dibangun dengan dasar saling pengertian dan penghargaan. Sikap empati menjadi aspek penting dalam relasi antarpemeluk agama, karena melalui empati seseorang mampu memahami pengalaman keberagamaan orang lain tanpa prasangka atau rasa superioritas. Toleransi bukan hanya berarti menerima perbedaan, tetapi juga mengakui bahwa keragaman adalah bagian dari identitas nasional yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan budaya bangsa. Selain itu, kepercayaan atau trust antarumat beragama harus dijaga melalui komunikasi yang terbuka, kerja sama dalam kegiatan sosial, dan dialog lintas iman. Ketika masyarakat memahami bahwa identitas keagamaan dan identitas kebangsaan dapat berjalan berdampingan, maka terciptalah keharmonisan psikologis yang menguatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.
Sebagai calon pengembang pembelajaran IPS, peran pendidikan menjadi sangat penting dalam membentuk karakter peserta didik agar mampu hidup harmonis di tengah keberagaman. Pembelajaran harus dirancang tidak hanya untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran kritis, nilai moral, serta kemampuan sosial peserta didik. Pendidikan IPS idealnya menggunakan pendekatan multikultural yang menanamkan penghormatan terhadap keberagaman agama, budaya, suku, dan identitas lain yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Selain itu, penerapan model pembelajaran berbasis masalah dan proyek sosial dapat membantu peserta didik memahami isu nyata seperti konflik sosial, intoleransi, dan dinamika kehidupan multikultural. Melalui pengalaman langsung, siswa belajar untuk mengambil peran sebagai agen perdamaian, bukan penonton pasif.
Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Peserta didik diharapkan tumbuh menjadi insan yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu hidup demokratis dalam keberagaman. Dengan demikian, pembelajaran IPS bukan hanya membangun kompetensi akademik, tetapi juga mewujudkan generasi unggul yang mampu menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat dan menjadi pelanjut cita-cita bangsa menuju Indonesia yang damai, maju, dan berkeadaban.
Nama : Diah Rachmawati Syukri
NPM : 2523031003
Agama dan manusia dalam konteks bermasyarakat terkait saling erat, di mana agama berfungsi sebagai sumber norma moral, etika, dan solidaritas sosial yang membentuk perilaku individu serta mengendalikan dinamika masyarakat multikultural Indonesia melalui nilai-nilai toleransi, kasih sayang, dan Bhinneka Tunggal Ika. Agama memperkuat harmoni dengan menyediakan ruang interaksi antarumat beragama, mendorong perubahan sosial positif, serta menjadi agen kontrol terhadap kemaksiatan, kemiskinan, dan konflik untuk menciptakan konsistensi berbasis Pancasila.
Hubungan psikologis yang harus dibangun mencakup rasa saling percaya, empati, dan ukhuwah (persaudaraan) melalui dialog tokoh agama, pendidikan inklusif sejak dini, serta praktik gotong royong yang menumbuhkan rasa aman emosional dan solidaritas lintas keyakinan. Pendekatan ini memperkuat kebangsaan Indonesia dengan mengurangi prasangka, memupuk rasa persatuan nasional, serta menjadikan agama sebagai sumber inspirasi damai yang mendukung stabilitas NKRI di tengah keberagaman enam agama resmi.
Sebagai calon pengembang IPS, rancang pembelajaran berbasis proyek kolaboratif yang mengintegrasikan studi kasus toleransi beragama lokal, diskusi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, serta simulasi konflik-resolusi untuk membangun keharmonisan masyarakat. Sesuaikan dengan UU Sisdiknas No. 20/2003 yang menargetkan generasi unggul beriman, bertakwa, berakhlak mulia melalui kurikulum yang berorientasi pada karakter, pendukung teknologi seperti e-learning inklusif, dan asesmen berbasis portofolio yang pendidikan generasi global serta unggul secara intelektual-emosional.
NPM : 2523031003
Agama dan manusia dalam konteks bermasyarakat terkait saling erat, di mana agama berfungsi sebagai sumber norma moral, etika, dan solidaritas sosial yang membentuk perilaku individu serta mengendalikan dinamika masyarakat multikultural Indonesia melalui nilai-nilai toleransi, kasih sayang, dan Bhinneka Tunggal Ika. Agama memperkuat harmoni dengan menyediakan ruang interaksi antarumat beragama, mendorong perubahan sosial positif, serta menjadi agen kontrol terhadap kemaksiatan, kemiskinan, dan konflik untuk menciptakan konsistensi berbasis Pancasila.
Hubungan psikologis yang harus dibangun mencakup rasa saling percaya, empati, dan ukhuwah (persaudaraan) melalui dialog tokoh agama, pendidikan inklusif sejak dini, serta praktik gotong royong yang menumbuhkan rasa aman emosional dan solidaritas lintas keyakinan. Pendekatan ini memperkuat kebangsaan Indonesia dengan mengurangi prasangka, memupuk rasa persatuan nasional, serta menjadikan agama sebagai sumber inspirasi damai yang mendukung stabilitas NKRI di tengah keberagaman enam agama resmi.
Sebagai calon pengembang IPS, rancang pembelajaran berbasis proyek kolaboratif yang mengintegrasikan studi kasus toleransi beragama lokal, diskusi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, serta simulasi konflik-resolusi untuk membangun keharmonisan masyarakat. Sesuaikan dengan UU Sisdiknas No. 20/2003 yang menargetkan generasi unggul beriman, bertakwa, berakhlak mulia melalui kurikulum yang berorientasi pada karakter, pendukung teknologi seperti e-learning inklusif, dan asesmen berbasis portofolio yang pendidikan generasi global serta unggul secara intelektual-emosional.