Posts made by Arina Salsabila 2513032013

Landasan Pendidikan PPKn 2025A -> Penugasan

by Arina Salsabila 2513032013 -
Nama : ARINA SALSABILA
NPM : 2513032013
Kelas : 25.A

Banyak guru di polisikan
Khawatir di penjara, guru takut tegur mahasiswa. Mengapa demikian?
Tahun-tahun ini banyak sekali kasus guru yang di adukan kepada polisi oleh orang tua siswa. Di karenakan peristiwa baru-baru ini pada tahun 2024 guru di laporkan ke kepolisian adanya beragam permasalahan persoalan di sekolah, sehingga guru membuat parodi yaitu menyampaikan sebuah pesan lewat vidio agar anak sadar untuk bisa lebih mendisiplinkan diri dan menegor anak supaya menjadi lebih tertib. Pertama, lemahnya ikatan emosial antara sekolah dan orang tua yang mana seharusnya guru adalah pengganti orang tua di sekolah dan adanya rasa sebuah ketulusan serta kepercayaan dari orang tua. Kedua, terjadi mispersepsi (ketidaksamaan persepsi) antara pihak sekolah dengan orang tua, terkandung nilai guru dalam hukuman adalah untuk menjadikan anak lebih baik tetapi pandangan orang tua seakan akan guru itu benci kepada anak tersebut. Ketiga, guru harus mendahuluan preventif supaya anak ini tidak melanggar aturan dalam membina karakter siswa nya. Keempat, jika memerlukan hukuman, harus tetap menggunakan pendekatan edukatif contoh hukuman nya seperti memberikan tugas.

Tindakan asusila di kalangan pelajar
Kasus ini membahas tentang mudahnya akses pornografi di internet sampai ke media warnet, beredarnya vidio seorang pelajar yang melakukan adegan tidak senonoh dan di rekam secara terang terangan oleh rekannya sendiri merupakan kasus yang dalam melanda dunia pendidikan. Kurangnya penanaman agama pada anak jika mengamalkan ajaran agama salah satu efek yang di dapatkan anak tersebut akan takut terhadap dosa perbuatan karna semua tindakan yang kita lakukan pasti resiko yang di dapat. Penguatan kerja sama sekolah, orang tua dan masyarakat dalam mengawasi perilaku anak, sekolah sebagai pembentukan perilaku, orang tua sebagai membantu menanam nilai2 agama, masyarakat berperan sebagai mengajar nilai etika. Penguatan peran keluarga dalam menghindarkan anak dalam melakukan tindakan asusila baik di sekolah ataupun masyarakat. Menciptakan lingkungan sekolah yang mensupport anak dalam bakat yang dimiliki dan minat terhadap siswanya.

Penyalah gunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa
Penyalah gunaan yang merusak mental dan kepribadian seseorang menyangkut belajar masa depan anak. Dalam data yang di tampilkan jumlah pengguna narkoba dari tahun ke tahun terus meningkat. Belum ada tanda-tanda bahwa kita berhasil mencegah atau menanggulangi nya. Pada periode 1 sampai 21 Januari 2023 jumlah total terlapor kasus narkoba mencapai 2.650 orang yang mana pelajar dan mahasiswa terdapat di 8,3%. Perlunya kita memperhatikan anak, teman dan saudara kita dan rasa kepedulian dan perhatian terhadap mereka. Ini bukan hanya merusak mental dan kepribadian seseorang tetapi merusak masa depan bangsa dan negara sangat persoalan yang membahayakan. Oleh karena itu orang tua, sekolah dan masyarakat harus benar-benar peduli dan teliti dalam persoalan ini. Sekolah harus punya tindakan untuk mengurangi narkoba dan mengadakan pelajar anti narkoba dengan cara mengenali jenis-jenis narkoba dan ciri-ciri orang yang telah terjangkit narkoba. Sehingga kita bisa mengetahui bahwa seseorang telah terkena narkoba atau tidaknya.
Nama : Arina Salsabila
NPM : 2513032013
Kelas : 25 A

Pandangan tujuan pendidikan Ki. Hadjar Dewantara menurut saya yaitu memerdekakan manusia dengan selamat dalam survive dan mencapai bahagia, yang mana mengacu kepada kompetensi yang harus dibekali dengan ilmu. Ketika saya menjadi seorang guru saya akan mengajarkan kepada murid untuk mengenal dan menangani soal mental, karena mental itu adalah pelajaran yang harus terus di pelajari. Mental tersebut adalah tanggung jawab pribadi. Contoh kecil soal candaan yang diberikan kepada teman yang mana pihak yang menerima candaan harus juga menerima dan tertawa lucu, jika ia tidak menerima maka akan kena batinnya yang membuat luka baginya. Oleh karena itu mental sangat penting sekali untuk diajarkan ke anak murid tersebut. Tidak hanya murid tetapi seorang guru juga harus membutuhkan mental ini. Berkaitan dengan pendidikan Ki. Hadjar Dewantara ini membentuk siswa untuk memajukan, menjaga dirinya, memelihara, menjaga bangsa dan dunia. Pendidikan harus bersifat continue yaitu berkelanjutan dan konvergen dimana ilmu dari banyak sumber (yang baik dan valid atau tidak menyesatkan). Semua ini mengacu pada moral dan tindakan perbuatan manusia.

DKPM PPKn 2025A -> Analisis Video

by Arina Salsabila 2513032013 -
Nama: Arina Salsabila 
NPM : 2513032013

Perbandingan Tahapan Perkembangan Moral Piaget dan Kohlberg

Menurut saya teori Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg sama-sama membahas perkembangan moral, tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Piaget lebih menekankan perkembangan kemampuan berpikir anak, sedangkan Kohlberg fokus pada tahapan secara detail dan bertahap hingga dewasa.
1. Tahap Sensori motorik
Pada tahap ini anak belajar mengenal dunia melalui indera dan gerakan. Jadi belum ada konsep moral yang dimengerti oleh anak. Kohlberg tidak memasukkan tahap moral untuk usia ini karena anak belum mampu berpikir moral.
Contoh : Bayi menangis saat lapar tanpa tahu benar atau salah.
2. Tahap Pra-operasional (Heteronom)
Anak mulai sadar aturan tapi masih egosentris, menganggap aturan itu mutlak dan tidak boleh diubah. Mereka masih fokus mementingkan diri sendiri.
Disini kohlberg menempatkan anak dalam tahap 1: Orientasi Hukuman dan Kepatuhan,
Artinya anak menilai baik buruknya perilaku dari konsekuensi hukuman.
Contoh : Anak tidak berani mengambil mainan teman karena takut dimarahi.
3. Tahap Otonom
Peraturan sudah mulai jadi kebiasaan sosial dan juga sifat ego mulai berkurang mereka sudah punya keinginan kuat untuk mengerti dan patuh pada aturan sikap yang sebelumnya bergantung pada orang lain (heteronom) sekarang mulai berubah jadi mandiri (otonom)
Kohlberg menganggap ini sebagai Tahap 2 : Orientasi Relativitas Instrumental
Anak mulai menyadari bahwa kebaikan bisa timbal balik dan tindakan baik bisa memberikan keuntungan.
Contoh : Anak mau berbagi mainan agar temannya juga mau berbagi.
4. Tahap Kodifikasi
kemampuan berpikir anak sudah mulai berkembang termasuk kemampuan berpikir lebih kritis dan konseptual pada tahap ini anak sudah sadar bahwa melihat aturan sebagai hasil kesepakatan dan dapat dinegosiasikan.
Sama halnya dengan Kohlberg
Tahap 3: Orientasi Anak Manis atau Baik
Berperilaku baik agar disukai orang lain.
Tahap 4 : Orientasi Hukum dan Ketertiban
Mematuhi hukum demi menjaga ketertiban sosial.
Tahap 5 : Orientasi Kontrak Sosial Menilai hukum didasari manfaat sosial dan siap mengubahnya jadi lebih baik.
Tahap 6: Prinsip Hati Nurani Universal
Bertindak berdasarkan prinsip keadilan dan kemanusiaan universal, meskipun bertentangan dengan hukum.
Contoh Tahap 6 : Seseorang menolak mengikuti aturan diskriminatif karena merasa itu tidak adil.
Kesimpulannya :
Piaget menyediakan kerangka yang menjelaskan kemampuan berpikir anak berkembang sehingga mendapatkan pemahaman moral. Sedangkan Kohlberg memperluasnya dengan menguraikan tahapan berpikir moral dari sejak lahir hingga dewasa atau dari yang sederhana sampai yang berdasarkan prinsip universal. Keduanya saling melengkapi antara Piaget fokus pada dasar kognitif perkembangan moral, sedangkan Kohlberg menjelaskan secara detail tahapan moralitasnya sendiri.

DKPM PPKn 2025A -> Analisis Video

by Arina Salsabila 2513032013 -
Nama : Arina Salsabila
NPM : 2513032013
Tahap-tahap perkembangan moral oleh Lawrence kohlberg
Kesadaran seseorang berkembang ada dalam tiga level :
Level 1 Pra-Konvensional
Seseorang menilai baik atau buruk berdasarkan faktor-faktor di luar dirinya seperti, hubungan sebab akibat, ganjaran dan hukuman, serta menyenangkan dan tidak menyenangkan
Tahapnya :
1. Orientasi hukuman dan kepatuhan
Seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman. Misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar orang tuanya.
2. Orientasi relativitas instrumental
Seorang melakukan hal baik Karena mengharapkan imbalan ia mulai menyadari bahwa orang juga punya kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya oleh karenanya perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain misalnya seorang anak kecil disuruh sesuatu karena diiming-imingi hadiah yang menarik
Level 2 Konvensional
Seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertentu ia mulai keluar dari egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, sadar akan pentingnya kesetiaan pada tertib sosial atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Tahapnya :
1. Orientasi anak manis
Seseorang menaruh prinsip bahwa saya adalah anak manis perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain, membantu orang lain, dan sesuai dengan harapan orang lain. Unsur kesetiaan dalam circle sangat di dewa-dewakan. Sering terjadi dalam kelompok remaja ABG biasanya anak remaja akan lebih memilih berbohong demi melindungi temannya daripada dianggap penghianat oleh circle sendiri.
2. Orientasi hukuman dan ketertiban
Makna kelompok diperluas, seseorang mulai menyadari bahwa di luar kelompok lokal seperti keluarga, teman sebaya, teman sekolah, organisasi, dan sebagainya. Masih ada yang lebih luas seperti suku, bangsa, agama dan negara. Ia menyadari bahwa dirinya adalah kelompok yang lebih besar itu dan dengan demikian memiliki kewajiban untuk mentaati hukum yang berlaku. Penekanannya : mematuhi hukum secara mutlak agar ketertiban sosial dapat terjamin.
Level 3 Pasca-Konvensional
Hidup baik mulai dipandang sebagai tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mentah. Hukum bukan sesuatu yang harus ditaati secara mutlak tetapi sesuatu yang lebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani.
Tahapannya :
1. Kontrak sosial legalistis
Segi hukum masih ditekankan namun seseorang mulai menyadari bahwa sesuatu hukum tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh seni kehidupan manusia. Orang mulai berpikir bahwa hukum dapat diubah dan disesuaikan dengan konteks atau situasi yang ada sejauh dapat memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum. Oleh karena itu dapat diselenggarakan suatu persetujuan demokratis kontrak sosial dan konsensus bebas agar mencapai kesepakatan yang baru.
2. Prinsip hati nurani universal
Disini orang mulai menyadari bahwa di dalam lubuk hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku universal. Prinsip-prinsip yang berlaku universal adalah prinsip yang menjunjung tinggi nilai martabat kemanusiaan. Seperti prinsip keadilan, ketulusan, persamaan hak manusia dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan. Seseorang yang berada di tahap ini mengatur tingkah laku dan penilaian moralnya berdasarkan hati nurani pribadi yang berlaku secara universal. Ia akan mengalami penyesalan yang mendalam ketika melanggar prinsip-prinsip hati nurani tersebut.
Kesimpulan :
Hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku universal tetapi prinsip-prinsip itu tidak selalu memiliki konsep-konsep yang nyata, oleh karena itu dibutuhkan kepekaan hati nurani yang sangat besar ketika menghadapi suatu persoalan.

Nama : Arina Salsabila 

NPM : 2513032013

Hasil analisis yang saya dapatkan dalam materi di vidio tersebut, tampak bahwa pendidikan punya banyak pandangan. Aliran lama fokus pada bawaan lahir dan lingkungan sebagai penentu perkembangan anak. Sedangkan gerakan baru menekankan pembelajaran yang aktif, nyata, dan sesuai minat anak.

Poin-poin penting itu terdapat 2 yaitu : 

1. Aliran Konvensional 

a. Empirisme, Anak yang lahir seperti kertas kosong dan dipengaruhi penuh oleh lingkungan. Jadi lingkungan sangat menentukan pertumbuhan anak.

b. Nativisme, Anak lahir sudah punya bakat bawaan pendidikan tidak bisa mengubahnya. Pendidikan dan lingkungan tidak terlalu berpengaruh karena anak sudah mempunyai kemampuan yang terbentuk sejak awal.

c. Naturalisme, Anak lahir dengan sifat murni atau baik tapi bisa rusak karena lingkungan yg buruk dan pendidikan yang mungkin salah.

d. Konvergensi, Perkembangan digabungkan dua sisi yaitu bawaan sejak lahir dan lingkungan. Jadi di perkembangan ini anak dipengaruhi oleh bakat alami dan lingkungan yang mendukung atau tidaknya.

2. Gerakan Baru Pendidikan

a. Pengajaran Alam Sekitar, pengajaran ini anak akan lebih mengerti jika berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-harinya.

b. Pengajaran Pusat Perhatian, dalam pengajaran ini mengikuti bakat dan minat anak agar si anak lebih semangat dalam belajar.

c. Sekolah Kerja Pendidikan, sekolah bukan hanya mengajarkan soal teori tetapi juga melatih anak agar berguna untuk diri sendiri dan masyarakat.

d. Pengajaran Proyek Anak, jika anak diberikan kebebasan dalam memilih proyek maka anak akan lebih aktif dalam proses belajar.

Jadi menurut saya, pendidikan yang baik adalah yang menggabungkan keduanya, memperhatikan potensi bawaan anak dan memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan bakat yang di milikinya.