Analisis Video

Analisis Video

Number of replies: 38

https://drive.google.com/file/d/1j8Lm3vyDdAKIMZf_u1miL7pqgUR1TyQY/view?usp=drive_link

  1. Menonton video perkembangan moral Kohlberg yang diberikan dosen.
  2. Mengidentifikasi perilaku yang menunjukkan setiap tahap moral.
  3. Menuliskan analisis singkat (400–500 kata) tentang tahapan moral dalam video.
  4. Membandingkan teori Kohlberg dengan Piaget (dalam tabel atau paragraf).
  5. Diskusikan hasil analisis dalam kelompok kecil di kelas.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by UN NAYSYA AZ ZAHRA -
NAMA: UN NAYSYA AZ ZAHRA
NPM: 2513032008

(Kohlberg)

Tingkat I: Moralitas Prakonvensional (Pre-conventional)

Pada tingkat ini, penalaran moral didorong oleh konsekuensi eksternal: hukuman, hadiah, dan kebutuhan pribadi. Standar moral berasal dari luar diri individu. Ini umumnya ditemukan pada anak-anak prasekolah, sekolah dasar, dan beberapa remaja.

Tahap 1: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman

Pada tahap ini, individu berfokus pada menghindari hukuman dari figur otoritas. Moralitas dipandang sebagai kepatuhan buta terhadap aturan. Mereka tidak mempertimbangkan niat, hanya konsekuensi fisik dari tindakan.

Contoh Penalaran: "Mencuri itu salah karena kamu akan dipenjara."

Tahap 2: Orientasi Individualisme dan Pertukaran

Moralitas didefinisikan oleh apa yang menguntungkan diri sendiri. Ada kesadaran bahwa mungkin ada pandangan yang berbeda, tetapi kebenaran didasarkan pada saling memberi (imbalan). Ini adalah moralitas "apa untungnya bagi saya" atau "utang budi" yang sederhana.

Contoh Penalaran: "Kamu bantu aku, aku bantu kamu. Jika aku mencuri untuk mendapatkan obat, itu karena aku akan mendapatkan sesuatu yang kubutuhkan."

Tingkat II: Moralitas Konvensional (Conventional)

Sebagian besar remaja dan orang dewasa berada pada tingkat ini. Penalaran moral didorong oleh kepatuhan terhadap norma-norma sosial dan harapan kelompok. Individu menyerap dan mematuhi aturan masyarakat atau keluarga.

Tahap 3: Orientasi Hubungan Interpersonal yang Baik (Anak Baik)

Moralitas didasarkan pada keinginan untuk disetujui dan dianggap baik oleh orang lain, terutama oleh orang yang memiliki hubungan dekat. Individu berupaya untuk hidup sesuai dengan harapan keluarga dan teman. Niat baik mulai dipertimbangkan.

Contoh Penalaran: "Saya tidak akan mencuri karena orang-orang akan berpikir saya adalah orang jahat dan tidak menyukai saya."

Tahap 4: Orientasi Menjaga Tatanan Sosial (Hukum dan Ketertiban)

Pada tahap ini, individu percaya bahwa aturan dan hukum harus dipatuhi secara mutlak untuk menjaga tatanan sosial. Tindakan dianggap benar karena hukum yang mengaturnya, dan setiap orang memiliki kewajiban untuk mematuhi hukum, terlepas dari konsekuensi pribadi.

Contoh Penalaran: "Hukum harus dipatuhi. Jika setiap orang mencuri, masyarakat akan berantakan. Tugas saya adalah menghormati hukum."

Tingkat III: Moralitas Pascakonvensional (Post-conventional)

Tingkat ini dicirikan oleh penalaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan abstrak, melampaui aturan otoritas atau masyarakat tertentu. Tingkat ini dicapai oleh sebagian kecil populasi.

Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Hak-hak Individu

Individu memahami bahwa hukum adalah instrumen sosial yang dibuat untuk melindungi hak-hak dasar dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Hukum dipandang sebagai fleksibel dan dapat diubah jika tidak lagi melayani mayoritas. Ada pengakuan bahwa individu memiliki hak-hak yang lebih tinggi daripada hukum positif.

Contoh Penalaran: "Mencuri obat untuk menyelamatkan hidup adalah benar, karena hak untuk hidup lebih penting daripada hukum tentang properti. Kita harus mengubah hukum jika gagal melindungi kehidupan."

Tahap 6: Orientasi Prinsip Etika Universal

Pada tahap tertinggi ini, individu mengikuti prinsip-prinsip etika yang dipilih sendiri dan universal (seperti keadilan, martabat, dan kesetaraan hak), yang mungkin bertentangan dengan hukum. Hati nurani menjadi panduan utama. Prinsip-prinsip ini harus diterapkan secara universal, tanpa memandang ras, agama, atau kewarganegaraan.

Contoh Penalaran: "Saya harus mencuri obat itu, bukan hanya karena hukum properti bisa keliru, tetapi karena semua kehidupan manusia memiliki nilai yang sama, dan saya memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi keadilan universal ini."

Penting untuk diingat bahwa teori Kohlberg berfokus pada bagaimana orang berpikir tentang dilema moral. Seseorang dapat memahami Tahap 6, tetapi dalam praktiknya, bertindak berdasarkan Tahap 4 karena tekanan sosial. Inti dari teori ini adalah bahwa perkembangan moral adalah proses kognitif yang bertahap dan berurutan.

(PIAGET)
1.Piaget dan Kohlberg sama-sama fokus pada perkembangan anak, namun dari sudut pandang berbeda:
Piaget lebih ke bagaimana anak berpikir dan memahami dunia (kognitif).
Kohlberg lebih ke bagaimana anak memahami moral dan etika (moral).

2.Kohlberg mengembangkan teori Piaget lebih jauh dengan memasukkan tahapan-tahapan moral yang lebih detail dan sampai usia dewasa.
Dalam dunia pendidikan dan psikologi, keduanya saling melengkapi:
Piaget membantu guru merancang pembelajaran yang sesuai dengan tingkat berpikir anak.
Kohlberg membantu memahami perkembangan nilai dan etika dalam diri peserta didik.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Keisha azalea devina -
Nama: Keisha Azalea Devina
Npm: 2513032012

Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
Teori Perkembangan Moral yang dicetuskan oleh psikolog Lawrence Kohlberg adalah salah satu kerangka kerja paling berpengaruh dalam psikologi perkembangan. Teori ini berakar pada pandangan bahwa perkembangan moral manusia berjalan seiring dengan kematangan kognitif dan terjadi melalui serangkaian tahapan yang terstruktur dan berurutan. Kohlberg menyimpulkan tahapan ini setelah menanyai subjek penelitiannya tentang penalaran mereka terhadap serangkaian "dilema moral," yang paling terkenal adalah Dilema Heinz.
Inti dari teori Kohlberg adalah bahwa cara seseorang menalar atau memikirkan suatu tindakan etis—bukan tindakan itu sendiri—menunjukkan tingkat perkembangan moralnya. Ia membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkat utama, dan setiap tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga total ada enam tahapan.
Tingkat I: Moralitas Pra-Konvensional (Preconventional Morality)
Tingkat ini umumnya terjadi pada anak-anak (hingga usia 9 tahun), di mana penalaran moral didasarkan pada konsekuensi langsung dari tindakan dan berpusat pada diri sendiri (egosentris). Moralitas diatur secara eksternal.
Tahap 1: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman
Pada tahap ini, individu menganggap suatu tindakan benar atau salah hanya berdasarkan konsekuensi fisik dari tindakan tersebut, terutama untuk menghindari hukuman. Aturan bersifat mutlak dan tidak bisa dipertanyakan.
• Fokus: Menghindari hukuman dari figur otoritas.
• Contoh Penalaran: "Mencuri itu salah karena Ayah akan menghukumku."
Tahap 2: Orientasi Individualisme dan Pertukaran (Self-Interest)
Di tahap ini, pemikiran moral mulai sedikit bergeser dari sekadar menghindari hukuman menjadi mengejar kepentingan atau keuntungan pribadi. Tindakan yang benar adalah yang dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri, meskipun ada unsur timbal balik yang instrumental.
• Fokus: Apa untungnya buat saya? Hubungan "jika kamu garuk punggungku, aku akan garuk punggungmu."
• Contoh Penalaran: "Saya akan membantu kamu mengerjakan tugas, asalkan nanti kamu mau berbagi makanan dengan saya."
Tingkat II: Moralitas Konvensional (Conventional Morality)
Tingkat ini biasa muncul selama masa remaja dan pada kebanyakan orang dewasa. Di sini, individu mulai menginternalisasi norma-norma dan aturan sosial yang berasal dari keluarga, kelompok, atau masyarakat. Moralitas didasarkan pada persetujuan dan peran sosial.
Tahap 3: Orientasi Kesepakatan Interpersonal (Good Boy/Good Girl)
Tindakan dianggap benar jika sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang-orang terdekat, seperti keluarga atau teman. Tujuannya adalah untuk mendapat persetujuan dan dianggap "anak baik," "suami baik," atau "teman baik."
• Fokus: Memenuhi ekspektasi sosial dan menjaga hubungan baik; niat menjadi penting.
• Contoh Penalaran: "Saya harus berbuat baik dan membantu agar semua orang menyukai saya."
Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban (Law and Order)
Penalaran moral meluas ke masyarakat secara keseluruhan. Individu percaya pada perlunya menjaga ketertiban sosial dengan mematuhi hukum, aturan, dan otoritas. Hukum dipandang sebagai sesuatu yang mutlak dan harus ditaati demi fungsi masyarakat.
• Fokus: Mempertahankan tatanan sosial, tugas, dan kewajiban. Hukum harus ditaati tanpa kecuali.
• Contoh Penalaran: "Mencuri itu salah karena itu melanggar hukum, dan jika setiap orang melanggar hukum, masyarakat akan hancur."
Tingkat III: Moralitas Pasca-Konvensional (Postconventional Morality)
Tingkat ini adalah tingkat penalaran moral paling dewasa dan abstrak, namun jarang dicapai oleh mayoritas orang dewasa. Moralitas di sini didefinisikan berdasarkan prinsip-prinsip etika universal yang dipilih sendiri dan mungkin melampaui atau bertentangan dengan hukum masyarakat.
Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Hak-Hak Individu
Individu memahami bahwa hukum adalah kontrak sosial yang dapat diubah demi kebaikan mayoritas. Mereka menyadari bahwa terkadang hukum tidak adil, dan nilai-nilai seperti hak asasi manusia dan kebebasan individu lebih penting daripada hukum yang kaku.
• Fokus: Kontrak sosial, keseimbangan antara hak-hak individu, dan hukum yang dapat diubah secara demokratis.
• Contoh Penalaran: "Meskipun ada hukum yang melarang, dalam keadaan tertentu seperti menyelamatkan nyawa, hukum mungkin perlu dikesampingkan demi nilai yang lebih tinggi, yaitu kehidupan."
Tahap 6: Orientasi Prinsip Etika Universal
Tahap tertinggi ini melibatkan penalaran berdasarkan prinsip-prinsip etika universal yang dipilih sendiri dan bersifat komprehensif, logis, dan universal (seperti keadilan, martabat, dan kesetaraan). Individu akan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip ini, bahkan jika itu berarti melanggar hukum atau norma sosial.
• Fokus: Prinsip moralitas universal yang abstrak, seperti Imperatif Kategoris dari Kant atau keadilan.
• Contoh Penalaran: "Keadilan adalah prinsip fundamental. Tidak peduli konsekuensinya, tindakan yang benar adalah yang didasarkan pada penghormatan terhadap martabat setiap manusia."
Secara keseluruhan, teori Kohlberg menunjukkan bahwa perkembangan moral adalah suatu proses konstruktif di mana setiap tahap mencerminkan cara yang semakin kompleks dan terinternalisasi dalam menanggapi dilema etis. Perpindahan dari satu tingkat ke tingkat berikutnya bukan sekadar belajar aturan baru, melainkan perubahan fundamental dalam struktur penalaran seseorang.

Piaget melihat perkembangan moral sebagai bagian dari perkembangan kognitif dan membaginya menjadi 2 tahap besar.
Kohlberg memperluas teori Piaget, berfokus khusus pada penalaran moral dan membaginya menjadi 3 tingkat dan 6 tahap yang lebih rinci.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by zaskia nea amanda -

Nama : Zaskia Nea Amanda

Npm : 2513032022


Teori Perkembangan Moral Kohlberg menjelaskan bagaimana individu memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Berikut penjelasan lebih lanjut nya

Tingkat Perkembangan Moral

Kohlberg membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkat: prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Tingkat I: Moralitas Prakonvensional

Pada tingkat ini, individu dipengaruhi oleh konsekuensi eksternal seperti hukuman dan hadiah. Mereka cenderung patuh pada aturan karena takut hukuman.

 -Tahap 1: Fokus pada menghindari hukuman. Individu pada tahap ini cenderung melakukan sesuatu karena takut dihukum, bukan karena memahami nilai moralnya.

- Tahap 2: Fokus pada kepentingan pribadi dan pertukaran. Individu pada tahap ini cenderung melakukan sesuatu jika ada imbalan atau keuntungan pribadi.

Tingkat II: Moralitas Konvensional

Individu pada tingkat ini dipengaruhi oleh norma sosial dan harapan kelompok. Mereka cenderung patuh pada aturan karena ingin disukai dan menjaga tatanan sosial.

- Tahap 3: Fokus pada hubungan interpersonal dan keinginan untuk disukai. Individu pada tahap ini cenderung melakukan sesuatu untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari orang lain.

- Tahap 4: Fokus pada menjaga tatanan sosial dan kepatuhan pada hukum. Individu pada tahap ini cenderung melakukan sesuatu karena memahami pentingnya tatanan sosial dan kepatuhan pada hukum.

Tingkat III: Moralitas Pascakonvensional

Individu pada tingkat ini dipengaruhi oleh prinsip-prinsip etika universal dan abstrak. Mereka cenderung membuat keputusan berdasarkan hati nurani dan prinsip-prinsip moral.

- Tahap 5: Fokus pada kontrak sosial dan hak-hak individu. Individu pada tahap ini cenderung memahami bahwa hak-hak individu perlu dilindungi dan dihormati.

- Tahap 6: Fokus pada prinsip-prinsip etika universal. Individu pada tahap ini cenderung membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip etika yang universal dan abstrak. 

Perbandingan

perbandingan dengan teori Piaget dan Kohlberg memiliki kesamaan dalam fokus pada perkembangan anak, tetapi Kohlberg lebih spesifik pada perkembangan moral. teori Kohlberg dapat membantu memahami Bagaimana individu memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh Penerapan

Teori Kohlberg dapat membantu memahami bagaimana individu memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa contoh:


- Tahap 1: "Saya tidak akan membully teman karena saya takut dihukum guru."

- Tahap 2: "Saya akan membantu teman karena mereka akan membantu saya juga."

- Tahap 3: "Saya ingin menjadi teman yang baik dan disukai oleh teman-teman."

- Tahap 4: "Saya harus mematuhi aturan sekolah karena itu penting untuk menjaga tatanan sosial."

- Tahap 5: "Saya percaya bahwa setiap individu memiliki hak untuk dihormati dan dilindungi."

- Tahap 6: "Saya akan memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia karena itu adalah prinsip moral yang universal."


Dengan memahami teori Kohlberg, kita dapat lebih baik memahami bagaimana individu memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Anggi Salsa bela -

Nama: Anggi Salsa Bela

Npm: 2513032009

Seseorang yang melihat isu moral mencerminkan kondisi mental dan tahap kematangan moral mereka. Proses pengembangan moral ini berlangsung secara bertahap dan bersifat konstruktif.Secara umum, Kohlberg membedakan perkembangan pemikiran moral menjadi tiga tahap, dengan setiap tahap terdiri dari dua fase, sehingga total ada enam fase perkembangan moral.

Tiga Tingkat Perkembangan Moral menurut Lawrence Kohlberg

tiga level utama dalam teori Kohlberg:

1. Tingkat Pra-Konvensional

Tingkat ini biasanya terjadi pada anak-anak, di mana penilaian moral didasarkan pada konsekuensi langsung dari suatu tindakan, terutama terkait dengan hukuman dan keuntungan pribadi. Di tingkat ini, seseorang belum memupuk nilai-nilai moral dalam diri mereka.

Tahap 1: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman

Penilaian: Tindakan dianggap baik atau buruk berdasarkan hukuman yang mungkin diterima. Moralitas dipandu oleh otoritas luar. Semakin berat hukuman, semakin tidak baik tindakan tersebut di anggap. Individu tidak menyadari bahwa ada perspektif berbeda yang mungkin dimiliki oleh orang lain.


Tahap 2: Orientasi Individualisme dan Pertukaran/Instrumental-Relativis

Penilaian: Perilaku yang benar diartikan oleh apa yang paling diinginkan atau yang memberikan manfaat bagi diri sendiri. Ada pengertian mengenai sudut pandang orang lain, tetapi hubungan dilihat sebagai interaksi timbal balik (prinsip "jika kau membantuku, aku akan membantumu").

2. Tingkat Konvensional

Tingkat ini biasanya terjadi pada masa remaja hingga dewasa. Orang mulai mempertimbangkan norma-norma sosial, peran mereka di dalam masyarakat, serta peraturan yang berlaku. Moralitas berfokus pada apa yang dianggap benar oleh masyarakat, orang tua, atau pemerintah.

Tahap 3: Orientasi Kesepakatan Interpersonal

Penilaian: Baik atau buruk ditentukan oleh apa yang diterima dan dihargai oleh lingkungan sosial (keluarga, teman). Tujuannya adalah untuk menjadi “anak baik” atau individu yang baik, menjaga relasi yang positif, dan memenuhi ekspektasi orang lain.

Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban

Penilaian: Moralitas dipertimbangkan berdasarkan norma dan hukum yang ada di masyarakat. Individu percaya bahwa hukum dan peraturan seharusnya dijunjung untuk memastikan ketertiban sosial dan keberlangsungan masyarakat. Ada suatu kewajiban untuk taat pada hukum.

3. Tingkat Pasca-Konvensional

Ini adalah tahap pemikiran moral tertinggi yang biasanya hanya dicapai oleh sedikit orang dewasa. Pada tingkat ini, individu menciptakan prinsip moral yang lebih umum dan abstrak yang mungkin tidak selalu sejalan dengan hukum atau norma sosial. Moralitas berdasarkan pada kode etik pribadi yang telah diserap.

Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Hak Individu

Penilaian: Individu menyadari bahwa hukum adalah kontrak sosial yang bisa diubah dan bahwa orang memiliki nilai serta pandangan yang beragam. Hukum perlu dihormati selama melindungi hak dasar dan kesejahteraan mayoritas. Jika hukum bertentangan dengan prinsip keadilan, individu mungkin mempertanyakan atau ingin merubahnya.

Tahap 6: Orientasi Prinsip Etika Universal

Penilaian: Moralitas berlandaskan pada prinsip etika universal yang abstrak, seperti keadilan, kesetaraan, martabat, dan hak asasi manusia. Individu mengikuti prinsip-prinsip yang telah tertanam ini, meskipun kadang bertentangan dengan hukum dan peraturan yang ada. Keputusan moral didasarkan pada nurani pribadi yang bersumber dari prinsip-prinsip etika universal.

PERBEDAANNYA

Jean Piaget berfokus pada bagaimana anak memahami aturan dan konsep benar–salah berdasarkan perkembangan berpikir kognitif. Ia melihat moralitas sebagai bagian dari perkembangan cara berpikir anak.

Sedangkan teori, Lawrence Kohlberg berfokus pada cara seseorang menalar atau mempertimbangkan alasan moral di balik suatu tindakan, bukan hanya pada perilaku yang tampak. Jadi, Kohlberg menekankan penalaran moral, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Galuh Fatmawati -

Nama : Galuh Fatmawati 

NPM  : 2513032019

Teori kohlberg membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkatan utama, yang masing-masing memiliki dua tahap. Prilaku pada setiap tahap ini memiliki alasan seseorang dalam mengambil keputusan moral

Tingkat pertama: Moralitas Prakonvensional yaitu fokus pada diri sendiri sebab akibat dan konsekuensi langsung, senang atau tidak menyenangkan umumnya terjadi pada anak-anak.

Tahap pertama : Orientasi Hukuman dan Kepatuhan: yaitu seseorang menilai baik buruknya sesuatu berdasarkan rasa takut terhadap hukuman contohnya seorang anak merasa benar jika dia mematuhi perkataan orang tuanya dan akan merasa bersalah jika tidak mematuhi perintahnya pengalaman moral ini didasari oleh kesadaran.

Tahap kedua: Orientasi Relativis instrumental :Perilakunya adalah tindakan dinilai benar jika menguntungkan diri sendiri atau mengharapkan imbalan. Muncul prinsip "apa untungnya buatku?" atau "jika kamu membantuku, aku akan membantumu." contoh: Seorang anak setuju membantu jika diiming-imingi hadiah yang menarik. Keputusan didasarkan pada imbalan atau keuntungan pribadi.

Tingkat Kedua: Moralitas Konvensional: fokus pada norma dan harapan sosial keluar dari egoisme pribadi dan menyesuaikan sikap demi kenyamanan dan kesenangan orang lain. Umumnya terjadi pada remaja.

Tahap ketiga: Orientasi Anak Manis 

Perilaku: Perilaku yang baik adalah yang menyenangkan atau membantu orang lain dan sesuai yang diharapkan orang lain. Fokusnya adalah untuk mendapatkan citra sebagai "orang baik".

Tahap Keempat: Orientasi Hukum dan Ketertiban

Perilakunya moralitas dipandang sebagai kewajiban untuk menjaga hukum dan ketertiban sosial dan sadar bahwa dirinya sebagai dari masyarakat. Aturan dan hukum harus ditegakkan untuk menjaga fungsi masyarakat penekanannya adalah untuk mematuhi hukum secara mutlak kebanyakan orang dewasa sudah ada ditahap ini.

Tingkat Ketiga: Moralitas Pascakonvensional fokus pada prinsip dan nilai moral abstrak hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi. Hanya sebagian kecil orang dewasa yang mencapai tingkat ini.

Tahap Kelima: Orientasi Kontrak Sosial Legalistis

Perilakunya adalah seseorang memahami bahwa hukum dan aturan adalah kesepakatan sosial yang bisa diubah jika tidak lagi melayani kepentingan masyarakat luas. Hak individu bisa lebih penting daripada hukum tertentu.

Tahap Keenam: Orientasi Prinsip Hati Nurani Universal

Perilakunya adalah keputusan moral didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal yang dipilih sendiri, seperti keadilan, kesetaraan, ketulusan dalam membantu orang lain dan menjunjung tinggi martabat manusia. Seseorang akan mengikuti prinsip ini bahkan jika bertentangan dengan hukum.

Dapat disimpulkan bahwa bagi kohlberg hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku universal oleh karena itu dibutuhkan suatu kepekaan hati nurani yang sangat besar ketika menghadapi suatu realitas.

Perbandingan Teori (Kohlberg dengan Piaget) Kohlberg membangun teorinya di atas fondasi teori perkembangan moral Jean Piaget. Keduanya memiliki kesamaan tetapi juga perbedaan.

Aspek teori Piaget Teori Kohlberg fokus Utama Bagaimana anak-anak memahami dan menerapkan aturan. Bagaimana individu memberi alasan di balik keputusan moral mereka.

Jumlah tahapan dua tahap utama: 

1.Moralitas Heteronom   (aturan kaku dari otoritas).

2. Moralitas Otonom (aturan adalah kesepakatan yang fleksibel). 

Enam tahap dalam tiga tingkatan: 1. Prakonvensional 2.Konvensional 3. Pascakonvensional 1.Pascakonvensional.

Rentang Usia Berfokus pada masa kanak-kanak (hingga sekitar usia 12 tahun). Mencakup sepanjang rentang kehidupan, dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

Dasar Teori Perkembangan moral terjadi seiring dengan penurunan egosentrisme dan peningkatan kemampuan mengambil perspektif orang lain. Merupakan perluasan dari teori Piaget, dengan tahapan yang lebih rinci dan penekanan pada penalaran tentang keadila

Aturan eksternal ke aturan internal yang disepakati bersama, lebih kompleks dan abstrak, terutama pada tingkat pascakonvensional yang membahas prinsip etika universal.

Pendekatan Konstruktivis: Keduanya percaya bahwa anak-anak secara aktif membangun pemahaman moral mereka sendiri, bukan hanya pasif menerimanya.

Tahapan Berurutan: Keduanya setuju bahwa perkembangan moral terjadi dalam tahapan yang berurutan dan tidak bisa dilompati.

Kaitan dengan Kognisi: Keduanya mengaitkan perkembangan moral dengan perkembangan kognitif secara umum.

Teori Kohlberg adalah elaborasi dan perluasan dari teori Piaget. Piaget meletakkan dasar dengan menunjukkan bahwa pemahaman anak-anak tentang moralitas berubah seiring waktu, sementara Kohlberg memberikan peta yang lebih rinci tentang bagaimana penalaran moral ini terus berkembang hingga dewasa, mencapai tingkat abstraksi yang tidak dibahas dalam teori Piaget.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Tiara Al Fatari -

Nama: Tiara Al Fatari
NPM: 2513032006

Menurut Lawrence Kohlberg terdapat 3 tahapan moral
1. Pre-conventional
2. Conventional
3. Post-conventional

> Prakonvensional menilai dari baik dan buruk nya berdasarkan faktor faktor diluar diri seseorang, seperti
- Sebab akibat
- Ganjaran dan hukuman
- Menyenangkan dan tidak menyenangkan
terdapat dua tahap yaitu:

1. Orientasi hukuman dan kepatuhan
bagaimana seseorang menilai baik buruk nya prilaku dengan di dasarkan rasa takut dengan hukumann, semisalnya anak merasa benar karna menuruti apa kata orang tua nya, dan merasa bersalah apa bila melanggar peraturan orang tua nya. Penalaran moral tersebut diawali dengan kesadaran seseorang, bahwasannya jika tidak mematuhi suatu perintah maka ia akan mendapatkan hukuman yang dapat menyakiti diri nya. Hal ini membuktikan bahwa melakukan kebaikan adalah untuk melindungi diri nya sendiri dari rasa sakit, pemahaman nya belum sampai pada prinsip bahwa melakukan kebaikan bukan hanya untuk melindungi diri nya tetapi juga dapat memberikan manfaat untuk orang lain.

2. Relativis Instrumental
Seseorang melakukan hal baik karna ia ingin mendapatkan imbalan, ia sudah paham bahwa orang lain pun memiliki kepentingan lain yang sama seperti diri nya, dengan ini dia bisa memanfaatkan kebaikan sebagai instrumen untuk mendapatkan keuntungan yang ia ingin kan dari orang lain. Contohnya anak kecil yang di mintai tolong, baru mau menerima jika diberi iming iming hadiah yang menarik. Maka dari itu jika seseorang pada tahap ini terlihat sangat baik, padahal niat baik nya itu sudah ada maksud ingin mendapatkan keuntungan

> Konvensional, seseorang sudah menyesuaikan sikap nya dengan aturan aturan dan norma norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. ia mulai keluar dari egoisme pribadi yang mementingkan diri sendiri, mulai melihat kebahagiaan & kenyamanan orang lain sebagai sesuatu yang harus dipertimbangkan, seseorang juga mulai menaruhkan sikap loyalitas kepada norma norma yang berlaku di masyarakat. Level ini dibagi kedalam 2 tahap yakni:

1. Anak manis, dia menyadari bahwa dia anak manis, perlakuan baik adalah menyenangkan orang lain, membantu orang lain dan sesuai dengan harapan dari orang lain, oleh karna itu ia harus mematuhi segala sesuatu norma norma yang berlaku agar ia tidak merasa malu dan bersalah. Disini loyalitas terhadap kelompok sangat di dewa dewa kan.

2. Hukum dan ketertiban, pada tahap ini harus percaya bahwa setiap aturan harus dipatuhi untuk menjaga ketertiban sosial. Setiap orang patut tunduk kepada aturan nya karna hukum yang mengatur nya.

> Pascakonvensional, sudah dipandang bahwa hidup baik sudah menjadi tanggung jawab pribadi masing masing atas prinsip prinsip yang di anut pada dalam batin, disini seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak bisa di terima secara mentah mentah, hukum bukanlah sesuatu yang dipatuhi secara mutlak, melainkan harus dilewati dulu lewat penilaian dari prinsip prinsip didalam hati nurani. Tahap ini dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Kontrak sosial legalisastis, prinsip hukum mulai ditekankan, tapi seseorang mulai menyadari bahwa seluruh hukum belum tentu bisa diterapkan dalam segi kehidupan manusia. Hukum dapat diubah sesuai konteks dan situasi yang ada.

2. Prinsip hati nurani universal, prinsip ini menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat kemanusiaan, seperti prinsip keadilan, ketulusan dalam membantu orang lain dan persamaan hak manusia dan hormat kepada nilai suatu kehidupan. Prinsip ini disebut universal karna dapat di lakukan di berbagai tempat, situasi, dan segala aspek kehidupan manusia.
Dapat disimpulkan bahwa prinsip tertinggi adalah Prinsip hati nurani universal sayangnya prinsip itu tidak selalu memiliki rumusan yang konkret, oleh karna itu dibutuhkan kepekaan hati nurani yang besar ketika menghadapi sesuatu realitas atau persoalan

1. Perkembangan moral menurut Kohlberg

Kohlberg membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkat utama:
- Prakonvensional: seseorang bertindak baik atau buruk berdasarkan takut hukuman atau ingin imbalan.
- Konvensional: seseorang mulai patuh pada aturan sosial dan norma yang berlaku di lingkungannya.
- Pascakonvensional: seseorang mulai berpikir lebih kritis dan menilai aturan berdasarkan hati nurani serta prinsip kemanusiaan.
Pada teori Kohlberg adalah bagaimana cara menilai benar dan salah berkembang dari luar diri (hukuman dan imbalan) menjadi dari dalam diri (prinsip moral pribadi).

2. Perkembangan kognitif menurut Piaget

Piaget membagi perkembangan berpikir anak dalam beberapa tahap:
- Tahap praoperasional dan operasional konkret: anak berpikir secara sederhana dan logis, tetapi masih terikat pada aturan dan kenyataan konkret.
- Tahap operasional formal: seseorang mulai mampu berpikir abstrak, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan membuat penilaian berdasarkan prinsip sendiri.

Dalam konteks moral, Piaget menjelaskan bahwa anak awalnya melihat aturan sebagai sesuatu yang mutlak, seperti “aturan tidak boleh dilanggar sama sekali.” Namun, seiring berkembangnya kemampuan berpikir, anak menyadari bahwa aturan dibuat oleh manusia, dan karena itu bisa dipahami, dinegosiasikan, bahkan diubah sesuai kesepakatan bersama.


In reply to First post

Re: Analisis Video

by ERIK KURNIAWAN 2513032003 -

nama : Erik Kurniawan

NPM : 2513032003

[Kohlberg]

Tingkat I: Moralitas Prakonvensional (Pre-conventional)

Pada tingkat ini, penalaran moral didorong oleh konsekuensi eksternal: hukuman, hadiah, dan kebutuhan pribadi. Standar moral berasal dari luar diri individu. Ini umumnya ditemukan pada anak-anak prasekolah, sekolah dasar, dan beberapa remaja.


Tahap 1: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman


Pada tahap ini, individu berfokus pada menghindari hukuman dari figur otoritas. Moralitas dipandang sebagai kepatuhan buta terhadap aturan. Mereka tidak mempertimbangkan niat, hanya konsekuensi fisik dari tindakan.


Contoh Penalaran: "Mencuri itu salah karena kamu akan dipenjara."

Tahap 2: Orientasi Individualisme dan Pertukaran


Moralitas didefinisikan oleh apa yang menguntungkan diri sendiri. Ada kesadaran bahwa mungkin ada pandangan yang berbeda, tetapi kebenaran didasarkan pada saling memberi (imbalan). Ini adalah moralitas "apa untungnya bagi saya" atau "utang budi" yang sederhana.


Contoh Penalaran: "Kamu bantu aku, aku bantu kamu. Jika aku mencuri untuk mendapatkan obat, itu karena aku akan mendapatkan sesuatu yang kubutuhkan."


Tingkat II: Moralitas Konvensional (Conventional)


Sebagian besar remaja dan orang dewasa berada pada tingkat ini.


Penalaran moral didorong oleh kepatuhan terhadap norma-norma sosial dan harapan kelompok. Individu menyerap dan mematuhi aturan masyarakat atau keluarga.

Tahap 3: Orientasi Hubungan Interpersonal yang Baik (Anak Baik)


37 :


Moralitas didasarkan pada keinginan untuk disetujui dan dianggap baik oleh orang lain, terutama oleh orang yang memiliki hubungan dekat. Individu berupaya untuk hidup sesuai dengan harapan keluarga dan teman. Niat baik mulai dipertimbangkan.


Contoh Penalaran: "Saya tidak akan mencuri karena orang-orang akan berpikir saya adalah orang jahat dan tidak menyukai saya."


Tahap 4: Orientasi Menjaga Tatanan Sosial (Hukum dan Ketertiban)


Pada tahap ini, individu percaya bahwa aturan dan hukum harus dipatuhi secara mutlak untuk menjaga tatanan sosial. Tindakan dianggap benar karena hukum yang mengaturnya, dan setiap orang memiliki kewajiban untuk mematuhi hukum, terlepas dari konsekuensi pribadi.

Contoh Penalaran: "Hukum harus dipatuhi. Jika setiap orang mencuri, masyarakat akan berantakan. Tugas saya adalah menghormati hukum."


Tingkat III: Moralitas


Pascakonvensional (Post-conventional)


Tingkat ini dicirikan oleh penalaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan abstrak, melampaui aturan otoritas atau masyarakat tertentu. Tingkat ini dicapai oleh sebagian kecil populasi.


Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Hak-hak Individu


Individu memahami bahwa hukum adalah instrumen sosial yang dibuat untuk melindungi hak-hak dasar dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Hukum dipandang sebagai fleksibel dan dapat diubah jika tidak lagi melayani mayoritas. Ada pengakuan bahwa individu memiliki hak-hak yang lebih tinggi daripada hukum positif.

Contoh Penalaran: "Mencuri obat untuk menyelamatkan hidup adalah benar, karena hak untuk hidup lebih penting daripada hukum tentang properti. Kita harus mengubah hukum jika gagal melindungi kehidupan."


Tahap 6: Orientasi Prinsip Etika Universal


Pada tahap tertinggi ini, individu mengikuti prinsip-prinsip etika yang dipilih sendiri dan universal (seperti keadilan, martabat, dan kesetaraan hak), yang mungkin bertentangan dengan hukum. Hati nurani menjadi panduan utama. Prinsip-prinsip ini harus diterapkan secara universal, tanpa memandang ras, agama, atau kewarganegaraan.


Contoh Penalaran: "Saya harus mencuri obat itu, bukan hanya karena hukum properti bisa keliru, tetapi karena semua kehidupan manusia memiliki nilai yang sama, dan saya memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi keadilan universal ini."

Penting untuk diingat bahwa teori Kohlberg berfokus pada bagaimana orang berpikir tentang dilema moral. Seseorang dapat memahami Tahap 6, tetapi dalam praktiknya, bertindak berdasarkan Tahap 4 karena tekanan sosial. Inti dari teori ini adalah bahwa perkembangan moral adalah proses kognitif yang bertahap dan berurutan.


(PIAGET)


1.Piaget dan Kohlberg sama-sama fokus pada perkembangan anak, namun dari sudut pandang berbeda: Piaget lebih ke bagaimana anak berpikir dan memahami dunia (kognitif).


Kohlberg lebih ke bagaimana anak memahami moral dan etika (moral).


2.Kohlberg mengembangkan teori Piaget lebih jauh dengan memasukkan tahapan-tahapan moral yang lebih detail dan sampai usia dewasa.

Dalam dunia pendidikan dan psikologi, keduanya saling melengkapi:

Piaget membantu guru merancang pembelajaran yang sesuai dengan tingkat berpikir anak.

Kohlberg membantu memahami perkembangan nilai dan etika dalam


In reply to First post

Re: Analisis Video

by Nadila Kholissah -

Nama : Nadila Kholissah

Npm : 2513032028

Analisis dari video di atas

A. Prakonvesional dibagi menjadi 2 tahap yaitu

1.Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Pada tahap pertama seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar, pemahaman moral itu didasarkan pada kesadaran. 

2. Orientasi Realitivis Instrumental 

Pada tahap kedua seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan contoh: anak kecil mau disuruh jika diiming imingin hadiah. 


B. Pada tahap Konvesional seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, dibagi menjadi 2 yaitu 

1. Tahap anak manis

Anak Manis seseorang menganut perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain membantu orang lain dan oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya 

2. Hukum dan Ketertiban (sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat)


C. Pada Tahap Pascakonvensional

Hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi, penekanan pada prinsip yang muncul dalam batin. Tahapan pada pascakonvensional dibagi menjadi 2 yaitu 

1. Kontrak sosial legalistis

Seseorang mulai mengenali bahwa suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, selalu terbuka kemungkinan untuk memperbarui dan mengaktualkan suatu hukum melalui persetujuan demokratis

2. Prinsip etika universal 

Prinsip ini bersifat universal karena bisa berlaku dimanapun dan kapanpun. Prinsip hati universal (prinsip yang menjunjung tinggi nilai dan martabat kemanusiaan seperti keadilan).


Perbandingan jean Piaget dan Lawrence Kohlberg

1. Teori jean Piaget: menjelaskan moral anak dalam kaitannya dengan perkembangan kognitif

2. Teori Kohlberg: menjelaskan perkembangan moral berdasarkan tingkat kesadaran moral dan keadaan sosial

Jumlah tahapan 

1. Piaget: 6 tahapan (pramoral, moralitas heteronom, moralitas realisme, moralitas otonom, operasional konkret, operasional formal)

2. Kohlberg : tingkat prakonvensional (orientasi hukum, orientasi instrumental), tingkat konvensional (anak manis, hukum dan ketertiban), tingkat pascakonvensional(kontrak sosial legalistic, prinsip etika universal)

Rentan usia 

1. Piaget: dari usia 0-12 tahun

2. Kohlberg : dapat berlangsung dari kanak kanak hingga dewasa (tidak memandang usia)

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Aura Bella -

Nama: Aura Bella

Npm :2513032002


Analisis Tahap-Tahap Perkembangan Moral Menurut Lawrence Kohlberg


Lawrence Kohlberg, seorang profesor psikologi asal New York yang lahir pada 25 Oktober 1927, dikenal luas karena teorinya mengenai perkembangan moral manusia. Ia berprofesi di beberapa universitas ternama seperti Yale University, University of Chicago, dan Harvard University. Pemikirannya menekankan bahwa perkembangan moral bukan hanya hasil dari pembelajaran sosial, melainkan proses bertahap yang berkembang seiring dengan kematangan kognitif seseorang. Kohlberg membagi perkembangan moral ke dalam tiga tingkat utama, yaitu Prakonvensional, Konvensional, dan Pascakonvensional, masing-masing mencerminkan cara individu menilai benar-salah berdasarkan pertimbangan yang semakin kompleks.


Pada tahap prakonvensional, individu menilai moralitas berdasarkan konsekuensi langsung dari tindakan. Dalam tahap ini, perilaku dianggap “benar” jika menghindarkan diri dari hukuman dan menghasilkan keuntungan pribadi. Ada dua bentuk utama yaitu orientasi hukuman dan kepatuhan, serta orientasi relativis instrumental. Pada tahap hukuman dan kepatuhan, anak-anak patuh terhadap aturan karena takut hukuman, bukan karena memahami nilai moral dari aturan tersebut. Misalnya, seorang anak tidak mencuri bukan karena sadar bahwa mencuri itu salah, tetapi karena takut dimarahi atau dihukum. Sedangkan dalam orientasi relativis instrumental, anak mulai menyadari hubungan sebab-akibat dalam tindakan, bahwa sesuatu dilakukan untuk memperoleh imbalan. Prinsip “saya bantu kamu kalau kamu bantu saya” menggambarkan moralitas yang berlandaskan kepentingan pribadi.


Memasuki tahap konvensional, individu mulai keluar dari egoisme pribadi dan mempertimbangkan harapan sosial. Pada tahap ini, moralitas ditentukan oleh upaya untuk menyesuaikan diri, menjaga hubungan baik, dan memenuhi norma masyarakat. Tahap orientasi anak manis mencerminkan keinginan seseorang agar dianggap baik oleh lingkungan. Misalnya, seorang remaja bersikap sopan agar diterima oleh teman sebayanya. Selanjutnya, orientasi hukum dan ketertiban menggambarkan kesadaran bahwa aturan sosial dan hukum penting untuk menjaga keteraturan masyarakat. Individu patuh pada hukum bukan lagi karena takut dihukum, tetapi karena menyadari pentingnya sistem dan ketertiban umum. Dalam konteks ini, seseorang melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok atau masyarakat yang lebih luas.


Tahap tertinggi adalah pascakonvensional, di mana individu menilai moralitas berdasarkan prinsip universal dan nilai kemanusiaan. Pada tahap kontrak sosial legalistis, seseorang memahami bahwa aturan dapat diubah jika tidak lagi mencerminkan keadilan atau kesejahteraan umum. Mereka menilai bahwa hukum harus melindungi hak-hak dasar manusia. Sementara itu, dalam tahap prinsip etika universal, individu bertindak berdasarkan hati nurani dan prinsip moral yang bersifat universal, seperti keadilan, kebenaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Nilai-nilai ini berlaku di mana pun dan kapan pun, melampaui batas hukum atau norma sosial.


Secara keseluruhan, teori Kohlberg mengajarkan bahwa perkembangan moral bukan sekadar soal kepatuhan, tetapi tentang kedewasaan berpikir dalam memahami makna moralitas. Semakin tinggi tahapnya, semakin individu mampu menimbang tindakan berdasarkan keadilan, empati, dan hati nurani yang tulus. Pembentukan moral yang matang menuntut latihan refleksi, kepekaan sosial, dan kesadaran etis agar seseorang mampu bertindak benar bukan karena takut dihukum, melainkan karena memahami kebenaran sejati.


Perbandingan teori Kohlberg dengan Piaget:


Teori perkembangan moral Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg sama-sama menekankan bahwa perkembangan moral sejalan dengan kematangan berpikir. Namun, keduanya berbeda dalam cakupan dan kedalaman.

Piaget membagi perkembangan moral menjadi dua tahap, yaitu moralitas heteronom (taat karena takut hukuman) dan moralitas otonom (memahami aturan dapat diubah demi keadilan). Fokus Piaget terletak pada pemahaman anak terhadap aturan dan keadilan.

Sementara Kohlberg mengembangkan konsep ini menjadi tiga tingkat dan enam tahap, yaitu prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Ia menekankan penalaran moral dalam menghadapi dilema etis, dengan tahap tertinggi berupa prinsip etika universal. Jika Piaget berhenti pada masa anak-anak, Kohlberg melanjutkan hingga dewasa. 


Secara keseluruhan, teori Piaget menjadi dasar pemahaman moral, sedangkan teori Kohlberg menyempurnakannya dengan penalaran etis yang lebih mendalam menuju kesadaran moral universal.






In reply to First post

Re: Analisis Video

by Rianti Maharani -
Nama : Rianti Maharani
NPM : 2513032011

•Analisis Video

Tahap Tahap Perkembangan Moral Menurut Teori Lawrence Kohlberg

1. Prakonvesional
Pada tahap ini seseorang bertindak demi kepentingan sendiri. Dibagi menjadi 2 tahap yaitu: 1. Orientasi Hukuman dan Kepatuhan (Menilai baik buruk suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman, pemahaman moral didasarkan pada kesadaran) 2. Orientasi Realitivis Instrumental (Melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan)

2. Konvesional
Pada tahap ini seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, dibagi menjadi 2 tahap yaitu: 1. Tahap anak manis (Menganut prinsip anak manis, melakukan perilaku yang baik seperti membantu orang lain) 2. Hukum dan Ketertiban (Sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat, menaati hukum)

3. Pascakonvensional
Pada tahap ini hidup baik adalah tanggung jawab pribadi, dibagi menjadi 2 tahap yaitu: 1. Kontrak sosial legalistis (Menyadari suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, sehingga dibutuhkan kontrak sosial) 2. Prinsip etika universal (Prinsip hati nurani universal, menjunjung nilai kemanusiaan seperti keadilan)

•Membandingkan Teori Piaget dan Teori Kohlberg

Persamaan Teori Piaget dan  Teori Kohlberg
Kedua teori ini sama-sama menjelaskan perkembangan anak secara bertahap, dimana proses perkembangan anak berlangsung melalui beberapa tahap, tidak terjadi sekaligus. Tetapi, bertahap sesuai usia dan pengalaman anak. Dimana proses perkembangan anak akan semakin kompleks seiring dengan bertambahnya usia dan tahapan perkembangan yang dilaluinya. Selain itu, keduanya sama-sama menekankan pentingnya interaksi sosial dengan lingkungan sekitar sebagai faktor utama dalam proses perkembangan anak.

Perbedaan Teori Piaget dan Teori  Kohlberg 
Piaget lebih berfokus pada perkembangan kognitif yaitu kemampuan berpikir dan memahami dunia berkembang, sejak masa anak-anak hingga remaja. Sementara itu, Teori Kohlberg lebih berfokus pada perkembangan moral, bagaimana seseorang memahami konsep benar dan salah serta membentuk penalaran moralnya. Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan kognitif, sedangkan Kohlberg mengidentifikasi enam tahap perkembangan moral yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkat. Selain itu, Kohlberg mengembangkan tahap moral yang lebih kompleks, bahkan sampai tahap dewasa, sedangkan Piaget lebih berfokus pada usia anak hingga remaja.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Arina Salsabila 2513032013 -
Nama : Arina Salsabila
NPM : 2513032013
Tahap-tahap perkembangan moral oleh Lawrence kohlberg
Kesadaran seseorang berkembang ada dalam tiga level :
Level 1 Pra-Konvensional
Seseorang menilai baik atau buruk berdasarkan faktor-faktor di luar dirinya seperti, hubungan sebab akibat, ganjaran dan hukuman, serta menyenangkan dan tidak menyenangkan
Tahapnya :
1. Orientasi hukuman dan kepatuhan
Seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman. Misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar orang tuanya.
2. Orientasi relativitas instrumental
Seorang melakukan hal baik Karena mengharapkan imbalan ia mulai menyadari bahwa orang juga punya kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya oleh karenanya perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain misalnya seorang anak kecil disuruh sesuatu karena diiming-imingi hadiah yang menarik
Level 2 Konvensional
Seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertentu ia mulai keluar dari egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, sadar akan pentingnya kesetiaan pada tertib sosial atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Tahapnya :
1. Orientasi anak manis
Seseorang menaruh prinsip bahwa saya adalah anak manis perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain, membantu orang lain, dan sesuai dengan harapan orang lain. Unsur kesetiaan dalam circle sangat di dewa-dewakan. Sering terjadi dalam kelompok remaja ABG biasanya anak remaja akan lebih memilih berbohong demi melindungi temannya daripada dianggap penghianat oleh circle sendiri.
2. Orientasi hukuman dan ketertiban
Makna kelompok diperluas, seseorang mulai menyadari bahwa di luar kelompok lokal seperti keluarga, teman sebaya, teman sekolah, organisasi, dan sebagainya. Masih ada yang lebih luas seperti suku, bangsa, agama dan negara. Ia menyadari bahwa dirinya adalah kelompok yang lebih besar itu dan dengan demikian memiliki kewajiban untuk mentaati hukum yang berlaku. Penekanannya : mematuhi hukum secara mutlak agar ketertiban sosial dapat terjamin.
Level 3 Pasca-Konvensional
Hidup baik mulai dipandang sebagai tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mentah. Hukum bukan sesuatu yang harus ditaati secara mutlak tetapi sesuatu yang lebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani.
Tahapannya :
1. Kontrak sosial legalistis
Segi hukum masih ditekankan namun seseorang mulai menyadari bahwa sesuatu hukum tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh seni kehidupan manusia. Orang mulai berpikir bahwa hukum dapat diubah dan disesuaikan dengan konteks atau situasi yang ada sejauh dapat memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum. Oleh karena itu dapat diselenggarakan suatu persetujuan demokratis kontrak sosial dan konsensus bebas agar mencapai kesepakatan yang baru.
2. Prinsip hati nurani universal
Disini orang mulai menyadari bahwa di dalam lubuk hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku universal. Prinsip-prinsip yang berlaku universal adalah prinsip yang menjunjung tinggi nilai martabat kemanusiaan. Seperti prinsip keadilan, ketulusan, persamaan hak manusia dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan. Seseorang yang berada di tahap ini mengatur tingkah laku dan penilaian moralnya berdasarkan hati nurani pribadi yang berlaku secara universal. Ia akan mengalami penyesalan yang mendalam ketika melanggar prinsip-prinsip hati nurani tersebut.
Kesimpulan :
Hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku universal tetapi prinsip-prinsip itu tidak selalu memiliki konsep-konsep yang nyata, oleh karena itu dibutuhkan kepekaan hati nurani yang sangat besar ketika menghadapi suatu persoalan.
In reply to Arina Salsabila 2513032013

Re: Analisis Video

by Arina Salsabila 2513032013 -
Nama: Arina Salsabila 
NPM : 2513032013

Perbandingan Tahapan Perkembangan Moral Piaget dan Kohlberg

Menurut saya teori Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg sama-sama membahas perkembangan moral, tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Piaget lebih menekankan perkembangan kemampuan berpikir anak, sedangkan Kohlberg fokus pada tahapan secara detail dan bertahap hingga dewasa.
1. Tahap Sensori motorik
Pada tahap ini anak belajar mengenal dunia melalui indera dan gerakan. Jadi belum ada konsep moral yang dimengerti oleh anak. Kohlberg tidak memasukkan tahap moral untuk usia ini karena anak belum mampu berpikir moral.
Contoh : Bayi menangis saat lapar tanpa tahu benar atau salah.
2. Tahap Pra-operasional (Heteronom)
Anak mulai sadar aturan tapi masih egosentris, menganggap aturan itu mutlak dan tidak boleh diubah. Mereka masih fokus mementingkan diri sendiri.
Disini kohlberg menempatkan anak dalam tahap 1: Orientasi Hukuman dan Kepatuhan,
Artinya anak menilai baik buruknya perilaku dari konsekuensi hukuman.
Contoh : Anak tidak berani mengambil mainan teman karena takut dimarahi.
3. Tahap Otonom
Peraturan sudah mulai jadi kebiasaan sosial dan juga sifat ego mulai berkurang mereka sudah punya keinginan kuat untuk mengerti dan patuh pada aturan sikap yang sebelumnya bergantung pada orang lain (heteronom) sekarang mulai berubah jadi mandiri (otonom)
Kohlberg menganggap ini sebagai Tahap 2 : Orientasi Relativitas Instrumental
Anak mulai menyadari bahwa kebaikan bisa timbal balik dan tindakan baik bisa memberikan keuntungan.
Contoh : Anak mau berbagi mainan agar temannya juga mau berbagi.
4. Tahap Kodifikasi
kemampuan berpikir anak sudah mulai berkembang termasuk kemampuan berpikir lebih kritis dan konseptual pada tahap ini anak sudah sadar bahwa melihat aturan sebagai hasil kesepakatan dan dapat dinegosiasikan.
Sama halnya dengan Kohlberg
Tahap 3: Orientasi Anak Manis atau Baik
Berperilaku baik agar disukai orang lain.
Tahap 4 : Orientasi Hukum dan Ketertiban
Mematuhi hukum demi menjaga ketertiban sosial.
Tahap 5 : Orientasi Kontrak Sosial Menilai hukum didasari manfaat sosial dan siap mengubahnya jadi lebih baik.
Tahap 6: Prinsip Hati Nurani Universal
Bertindak berdasarkan prinsip keadilan dan kemanusiaan universal, meskipun bertentangan dengan hukum.
Contoh Tahap 6 : Seseorang menolak mengikuti aturan diskriminatif karena merasa itu tidak adil.
Kesimpulannya :
Piaget menyediakan kerangka yang menjelaskan kemampuan berpikir anak berkembang sehingga mendapatkan pemahaman moral. Sedangkan Kohlberg memperluasnya dengan menguraikan tahapan berpikir moral dari sejak lahir hingga dewasa atau dari yang sederhana sampai yang berdasarkan prinsip universal. Keduanya saling melengkapi antara Piaget fokus pada dasar kognitif perkembangan moral, sedangkan Kohlberg menjelaskan secara detail tahapan moralitasnya sendiri.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by windi arisma yanti -
Nama:windi arisma yanti
Npm:2513032027

(Lawrence kohlberg)

level 1=prakonvensional

pada level prakonvensional seseorang menilai perihal yang baik dan yang buruk berdasarkan faktor faktor diluar dirinya seperti hubungan sebab-akibat,ganjaran-hukum,menyenangkan-tidak menyenangkan

-orientasi hukuman dan kepatuhan
pada tahap ini seseorang patuh terhadap aturan karena takut hukuman

-orientasi relativis instrumental
pada tahap ini seseorang melakukan hal baik karena mengharapkan imbalan,jadi seseorang bisa terlihat sangat baik namun sebenarnya maksud utama hanya untuk mendapatkan keuntungan dari perbuatan baik nya itu.


level 2: konvensional

pada level konvensional seseorang mulai menyesuaikan strap nya dengan harapan orang orang tertentu ia mulai keluar dari sikap egoisme, mementingkan diri sendiri dan mulai melihat kebahagiaan kenyamanan orang lain sebagai sesuatu yang patut di perjuangkan

-orientasi hubungan interpersonal yang baiik (anak baik)
perilaku yang membatu orang untuk mendapatkan pengakuan dan dianggap anak baik


-orientasi hukum dan ketertiban
mulai menyadari bahwa diluar kelompok lokal masih ada kelompok yang lebih luas yang memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku

level 3=pascakonvensional

Pada level ini, seseorang menilai benar dan salah berdasarkan prinsip moral dan hati nurani sendiri, bukan hanya karena aturan atau kesepakatan sosial.

-kontrak sosial legalistis
Fokus pada kontrak sosial dan hak-hak individu. Individu pada tahap ini cenderung memahami bahwa hak-hak individu perlu dilindungi dan dihormati

-prinsip etika universital
prinsip ini adalah prinsip yang menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan seperti keadilan,ketulusan dalam membantu orang lain dan hormat kepada nilai suatu kehidupan.prinsip ini disebut universal karena berlaku dimanapun dan kapanpun.dapat disimpulkan bahwa prinsip tertinggi adalah prinsip hati nurani universal

perbandingan
perbandingan teori piaget dengan kohlberg yaitu keduanya memiliki kesamaan yaitu fokus pada perkembangan anak namun sudut pandang nya berbeda,piaget lebih spesifik terhadap perkembangan berpikir anak sedangkan kohlberg lebih berfokus bagaimana anak memahami tahapan tahapan moral dan etika sampai usia dewasa
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Dzahrotus syita -

Nama : Dzahrotus syita 

NPM : 2513032005 

Tahap perkembangan moral menurut teori Kohlberg :

1.Prakonvensional(Pre-Conventional)

yaitu mengikuti aturan untuk menghindari hukuman dengan bertindak demi kepentingan diri sendiri.Tahap awal perkembangan moral yang umumnya terjadi pada anak-anak usia 4 sampai sekitar 10 tahun. Pada tahap ini, cara berpikir moral seseorang masih sangat sederhana dan berpusat pada diri sendiri

Dibagi 2 tahap :

a. orientasi hukuman dan kepatuhan 

contoh : Seseorang menilai baik dan buruknya sesuatu tergantung pada orientasi hukuman. Misalnya seorang anak merasa benar apabila mengikuti perintah dari orang tuanya dan akan merasa bersalah apabila melanggar perintah dari orang tuanya. Penalaran moral seperti ini apabila seseorang pernah melakukan kebaikan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari suatu hukuman

b. orientasi relativis instrumental

Seseorang melakukan perbuatan baik pertama-tama untuk untuk mengharapkan imbalan perbuatan baik dapat menjadi alat dukungan dari orang lain 

contohnya : seperti anak kecil yang mau melalukan sesuatu dan di iming-imingi hadiah yang menarik pada tahap ini anak- anak menganggap untuk mendapat kan keuntungan 

2.Konvensional( Conventional) 

Pada tahap konvensional orang -orang mulai menyesuaikan dengan tertib sosial yang berlaku di masyarakat untuk kesenangan dan kenyamanan orang lain . Ia mulai keluar dari sikap pada masa ini juga seseorang sudah sadar akan pentingnya realitas 

Ia mulai memahami bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan kerja sama, kejujuran, dan kepatuhan terhadap hukum agar tercipta keteraturan. Umumnya, tingkat konvensional berkembang pada usia remaja hingga dewasa awal, ketika individu mulai aktif berinteraksi dan mencari pengakuan sosial.

Konvensional di bagi menjadi 2 tahap:

1.orientasi anak manis 

Individu berperilaku baik agar disukai dan diterima orang lain dan penilaian moral didasarkan pada niat baik dan hubungan sosial yang harmonis Ia berfokusnya pada menyenangkan orang lain dan menjaga citra dirinya sebagai orang baik 

Contoh : pada tahap ini seseorang memiliki prinsip bahwa dirinya anak manis prilaku yang menyenangkan yaitu prilaku yang menyenangkan orang lain dan membantu orang lain dan sesuai yang di harapkan orang lain dan oleh karna itu ia akan selalu mematuhi peraturan- peraturan dalam kelompok geng abg

2.orientasi hukum dan ketertiban 

egoisme Memenuhi harapan orang lain memenuhi tugas dan kewajiban sistem sosial dan menjunjung tinggi hukum yang berlaku 

Contoh : Seorang anak mematuhi peraturan sekolah dan guru bukan karena takut dihukum, tetapi karena ia percaya bahwa peraturan dibuat untuk kebaikan bersama dan menjaga ketertiban

3.Pasca konvensional(Post-Conventional)

Mengikuti prinsip-prinsip universal keadilan dan kebenaran yang tertanam di dalam diri menyeimbangkan kepedulian terhadap diri sendiri dengan kepedulian terhadap sesama dan kebaikan bersama bertindak secara independen dan etis tanpa menghiraukan ekspektasi orang lain.Hidup baik adalah tanggung jawab masing- masing pribadi 

dibagi menjadi 2 tahap :

1.Kontrak sosial legalistis

Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa aturan dan hukum adalah hasil kesepakatan sosial yang dibuat untuk melindungi hak dan kepentingan bersama. 

Contoh: Seorang siswa mengusulkan perubahan aturan sekolah yang dianggap tidak adil, seperti hukuman berlebihan untuk keterlambatan, dengan alasan agar peraturan lebih manusiawi.

2.prinsip etika universal

Pada tahap tertinggi ini, seseorang berperilaku berdasarkan prinsip moral universal, seperti keadilan, kejujuran, kesetaraan, dan rasa kemanusiaan. Ia menjadikan hati nurani dan nilai kemanusiaan sebagai pedoman utama

contoh :Prinsip yang menjunjung nilai nilai kemanusiaan , keadilan, ketulusan membantu orang lain , persamaan hak manusia prinsip ini di sebut universal karna dapat di berlakukan di setiap situasi pada tahap ini seseorang mengatur tingkah laku dan penilaian moral berdasarkan hak nya . Ia mampu baik dan buruk secara rasional dan etis.

Perbandingan Dalam teori piaget menekankan bahwa perkembangan moral anak berasal dari interaksi sosial dan permainan aturan, serta berfokus pada perubahan cara berpikir anak terhadap aturan. Sementara teori Kohlberg mengembangkan teori Piaget menjadi lebih luas dan sistematis, dengan 6 tahap penalaran moral yang menunjukkan bagaimana seseorang berpikir tentang keadilan dan nilai moral secara universal.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Amanda Tria Ramadhani -
Nama  : Amanda Tria Ramadhani
NPM    : 2513032020

Teori perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg mempunyai 3 level yaitu sebagai berikut.
1. Pra-konvensional
Pada level pra-konvensional seseorang menilai perihal yang baik dan buruk berdasarkan factor-faktor diluar dirinya seperti hubungan sebab akibat, gangjaran dan hukuman, serta menyenangkan dan tidak menyenangkan. Level ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu.
a. Orientasi hukuman dan kepatuhan Seseorang menentukan baik buruknya sesuatu berdasarkan hukuman. Contohnya seorang anak merasa benar apabila mengikuti perintah orang tuanya dan akan merasa bersalah apabila melanggar perintah orang tuanya. b. Orientasi relativis instrumental Seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan. Contohnya seorang anak baru mau melakukan sesuau Ketika diiming-imingi hadiah.

 2. Konvensional
Pada level ini seseorang sudah mulai keluar dari sikap egoism dan sudah sadar akan pentingnya loyalitas. Level ini di bagi menjadi dua tahap yaitu.
a. Orientasi anak manis Pada tahap ini anak menganggap bahwa perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain. Contoh : pada tahap ini seseorang memiliki prinsip bahwa dirinya anak manis prilaku yang menyenangkan yaitu prilaku yang menyenangkan orang lain dan membantu orang lain dan sesuai yang di harapkan orang lain dan oleh karna itu ia akan selalu mematuhi peraturan- peraturan dalam kelompok geng abg.
b. Orientasi hukum dan ketertiban Pada tahap ini anak sadar bahwa mereka adalah bagian dari kelompok dalam Masyarakat. Contoh : Seorang anak mematuhi peraturan sekolah dan guru bukan karena takut dihukum, tetapi karena ia percaya bahwa peraturan dibuat untuk kebaikan bersama dan menjaga ketertiban.

 3. Pasca-konvensional
Pada level ini hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi atas dasar prinsip yang muncul dalam batin. Level ini di bagi menjadi dua tahap yaitu.
a. Kontrak sosial legalitas Seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum bisa diubah sesuai konteks dan situasi tertentu.
b. Prinsip etika universal Seseorang mulai menyadari bahwa didalam lubuk hatinya terdapat prinsip menjunjung tinggi nilai kemanusiaan seperti keadilan.


Dari teori Piaget dan Kohlberg persamaan dan perbedaan yang saya dapatkan adalah sebagai berikut.

Persamaan teori Lawrence Kohlberg dengan Piaget yaitu, Teori perkembangan moral Piaget dan Kohlberg memiliki persamaan mendasar, yaitu keduanya memandang perkembangan moral sebagai proses bertahap yang terjadi seiring dengan pertumbuhan usia dan perkembangan kognitif individu. Keduanya menekankan bahwa pemahaman moral tidak bersifat instan, melainkan berkembang melalui interaksi sosial dan pengalaman, terutama dengan teman sebaya dan lingkungan. Selain itu, baik Piaget maupun Kohlberg menganggap bahwa perkembangan moral berfokus pada pemahaman terhadap aturan, keadilan, dan niat di balik tindakan, serta bahwa individu harus melalui tahapan-tahapan perkembangan secara berurutan dan tidak bisa dilewati begitu saja.

Perbedaan teori Lawrence Kohlberg dengan Piaget yaitu. Piaget menganalisis bahwa tingkat kedewasaan seseorang tergantung pada umurnya sedangkan Kohlberg menganalisis bahwa tingkat kedewasa seseorang tidak berdasarkan pada usianya namun dari proses pendidikan dan cara berfikirnya.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Ghazia Fatimatuzzahra Hami -
Nama: Ghazia Fatimatuzzahra Hami
NPM: 2513032014

Tahap-tahap kesadaran moral menurut Kohlberg

Kesadaran moral seseorang berkembang dalam tiga level yaitu:
1. pra-konvensional
Konvensional berasal dari bahasa latin yaitu seseorang menilai perihal yang baik dan buruk berdasarkan faktor-faktor di luar dirinya seperti: hubungan sebab akibat,ganjaran dan hukuman,serta yang menyeramkan dan tidak menyenangkan.
level ini dibagi menjadi dua tahap yaitu: orientasi hukuman dan kepatuhan orientasi instrumental yaitu:
Tahap 1: orientasi hukuman dan kepatuhan seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman dan kepatuhan, misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan merasa bersalah apabila melanggar perintah orang tuanya. penalaran seperti itu pertama-tama didasari oleh kesadaran bahwa ketika ia tidak mampu ia akan mendapat hukuman yang menimbulkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman, bicara tampak bahwa itu sendiri untuk menyelamatkan dirinya sendiri menjadi sakitnya hukuman ia menulis sampai pada pemahaman bahwa Berbuat baik itu akan memberi manfaat positif juga bagi orang lain.
Tahap 2: orientasi individualisme dan pertukaran instrumental prinsip doudes seseorang melakukan perbuatan baik pertama-tama Karena mengharapkan imbalan ia sudah mulai menyadari bahwa orang lain juga punya kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya, Oleh karena itu perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain.
contoh kita bisa melihat perilaku anak-anak kecil yang baru mau disuruh melakukan sesuatu ketika diiming-iming Ini hadiah yang menarik.
jadi seseorang di dalam ini bisa saja kelihatan sangat baik namun sebenarnya maksud utama dari perbuatan baiknya itu adalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

2. konvensional
seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertentu atau dengan tertib sosial yang berlaku dalam masyarakat tertentu. ia mulai keluar dari sikap egois yang memungkinkan diri sendiri dan mulai melihat kebahagiaan dan kenyamanan orang lain sebagai sesuatu yang mampu untuk memperjuangkan diri seseorang.

Tahap dari orientasi anak manis, orientasi hukum yaitu:
- Tahap 1 orientasi anak manis
seseorang melalui prinsip bahwa saya adalah anak manis perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain membantu orang lain dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain Oleh karena itu, ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya agar tidak merasa malu.
- Tahap 2 orientasi hukum dan ketertiban
makna kelompok seseorang mulai menyadari bahwa di luar kelompok lokal seperti keluarga, teman sebaya, teman sekolah, organisasi-organisasi, himpunan-himpunan, dan sebagainya. kebanyakan orang dewasa sudah berada di tahap ini.

3. pasca konvensional
hidup baik mulai dipandang sebagai tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin di diri seseorang. mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mentah-mentah hukum bukanlah sesuatu yang harus ditaati secara mutlak melainkan sesuatu yang terlebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul di dalam hati nurani level ini. prinsip-prinsip yang berlaku universal tersebut adalah prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat kemanusiaan seperti prinsip keadilan, ketulusan, dalam membantu orang lain, persamaan hak manusia, dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan. berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani ini juga dibagi menjadi dua tahap yaitu:
1. kontrak sosial negatif namun seseorang mulai menyadari bahwa suatu tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia di sini orang mulai berpikir bahwa hukum itu dapat diubah dan disesuaikan dengan konten atau situasi yang ada sejauh dapat memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum.
2. Orientasi pada prinsip hati nurani yang berlaku universal seseorang mulai menyadari bahwa di dalam tubuh hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat manusia seperti prinsip keadilan, kepengurusan dalam membantu orang lain persamaan hak manusia dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan prinsip-prinsip itu disebut universal karena dapat diberlakukan di setiap situasi tempat taman dan segala aspek kehidupan manusia. Prinsip hati nurani yang berlaku universal yang sangat besar ketika menghadapi suatu realitas sosial bertentangan dengan aturan-aturan yang ada dalam masyarakat tertentu bukan pertama-tama karena egoisme yang pribadi atau mencari keuntungan pribadi melainkan karena jujur tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta hormat terhadap martabat sesamanya.

Perbandingan teori Kohlberg dengan piaget:
1.) Teori Kohlberg menentang kedewasaan berdasarkan usia kedewasaan, sedangkan teori piaget menentukan kedewasaan berdasarkan usia atau tahapan.
2.) Teori Kohlberg membagi kedewasaan menjadi 3 level yaitu pra konvensional, konvensional, dan pasca konvensional, sedangkan teori piaget membaginya menjadi 2 tahapan yaitu heteronom, dan otonom.
3.) Teori Kohlberg lebih menekankan pada prinsip hati nurani, sedangkan teori piaget lebih mendidik anak berdasarkan usia dimana anak mulai tebentuk.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Nadila Kholissah -
Nama : Nadila Kholissah
Npm : 2513032028
Prakonvesional menjelaskan bahwa saling berhubungan yaitu:
Hubungan sebab-akibat
Ganjaran-Hukuman
Menyenangkan-tidak menyenangkan

A. Prakonvesional dibagi menjadi 2 tahap yaitu
1.Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
Pada tahap pertama seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar, pemahaman moral itu didasarkan pada kesadaran.

2. Orientasi Realitivis Instrumental Di tahap ini, individu mulai memahami bahwa tindakan dapat dinilai berdasarkan keuntungan pribadi. Mereka melakukan sesuatu jika mereka percaya itu akan menguntungkan mereka.
Pada tahap kedua seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan contoh: "anak kecil mau disuruh jika diiming imingin hadiah", "jika aku membantu mu apa imbalanku?"

B. Konvesional di mana individu mulai menginternalisasi standar moral dari masyarakat dan memandang tindakan baik sebagai tindakan yang selaras dengan norma sosial, serta penting untuk mematuhi hukum demi memelihara ketertiban, seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, dibagi menjadi 2 yaitu
1. Tahap anak manis
Anak Manis seseorang menganut perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain membantu orang lain dan oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya

2. Hukum dan Ketertiban (sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat)Perilakunya moralitas dipandang sebagai kewajiban untuk menjaga hukum dan ketertiban sosial dan sadar bahwa dirinya sebagai dari masyarakat. Aturan dan hukum harus ditegakkan untuk menjaga fungsi masyarakat penekanannya adalah untuk mematuhi hukum secara mutlak kebanyakan orang dewasa sudah ada ditahap ini.

C. Pascakonvensional
Hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi, penekanan pada prinsip yang muncul dalam batin. Tahapan pada pascakonvensional dibagi menjadi 2 yaitu
1. Kontrak sosial legalistis
Seseorang mulai mengenali bahwa suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, selalu terbuka kemungkinan untuk memperbarui dan mengaktualkan suatu hukum melalui persetujuan demokratis. Perilakunya adalah seseorang memahami bahwa hukum dan aturan adalah kesepakatan sosial yang bisa diubah jika tidak lagi melayani kepentingan masyarakat luas. Hak individu bisa lebih penting daripada hukum tertentu.

2. Prinsip etika universal
Prinsip ini bersifat universal karena bisa berlaku dimanapun dan kapanpun
Prinsip hati universal (prinsip yang menjunjung tinggi nilai dan martabat kemanusiaan seperti keadilan ketulusan dalam membantu orang lain dan persamaan hak manusia dan hormat kepada nilai suatu kehidupan. Prinsip ini disebut universal karna dapat di lakukan di berbagai tempat, situasi, dan segala aspek kehidupan manusia.
Dapat disimpulkan bahwa prinsip tertinggi adalah Prinsip hati nurani universal sayangnya prinsip itu tidak selalu memiliki rumusan yang konkret, oleh karna itu dibutuhkan kepekaan hati nurani yang besar ketika menghadapi sesuatu realitas atau persoalan)

Perbandingan jean Piaget dan Lawrence Kohlberg
Teori jean Piaget: menjelaskan moral anak dalam kaitannya dengan perkembangan kognitif
Teori Kohlberg: menjelaskan perkembangan moral berdasarkan tingkat kesadaran moral dan keadaan sosial
Jumlah tahapan
Piaget: 6 tahapan (pramoral, moralitas heteronom, moralitas realisme, moralitas otonom, operasional konkret, operasional formal)
Kohlberg : tingkat prakonvensional (orientasi hukum, orientasi instrumental), tingkat konvensional (anak manis, hukum dan ketertiban), tingkat pascakonvensional(kontrak sosial legalistic, prinsip etika universal)
Rentan usia
Piaget: dari usia 0-12 tahun
Kohlberg : dapat berlangsung dari kanak kanak hingga dewasa (tidak memandang usia)
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Rismatul Zahra -
Nama:Rismatul Zahra
Npm:2513032029

Pra-konvesional seseorang menilai perihal yang baik dan buruk berdasarkan faktor-faktor di luar dirinya seperti hubungan sebab akibat,ganjaran dan hukuman,serta yang menyeramkan dan tidak menyenangkan,level ini dibagi menjadi dua tahap yaitu: orientasi hukuman dan kepatuhan orientasi instrumental.

A.orientasi hukuman dan kepatuhan seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman dan kepatuhan, misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan merasa bersalah apabila melanggar.
B.Orientasi instrumental,pada tahap kedua yakni orientasi dalam bisnis instrumental prinsip doudes seseorang melakukan perbuatan baik pertama-tama Karena mengharapkan imbalan,Oleh karena itu perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain sebagai.
2. level konvensional seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertentu atau dengan tertib sosial yang berlaku dalam masyarakat tertentu ia mulai keluar dari sikap egois yang memungkinkan diri sendiri dan mulai melihat kebahagiaan dan kenyamanan.
Tahap dari orientasi anak manis, orientasi hukum, dan seperti ini pada tahap ketiga yaitu:

A.orientasi anak manis seseorang melalui prinsip bahwa saya adalah anak manis perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain membantu orang lain dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain Oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya agar tidak merasa malu.
B.orientasi hukum dan ketertiban makna kelompok seseorang mulai menyadari bahwa di luar kelompok lokal seperti keluarga teman sebaya teman sekolah organ-organisasi organisasi himpunan-himpunan dan sebagainya ditandai sampai mana itu baru sampai,dengan demikian memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku adalah mematuhi hukum secara mutlak agar ketertiban sosial dapat terjadi kebanyakan orang dewasa sudah berada di tahap ini pada level.

penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani ini juga dibagi menjadi dua tahap yakni.

1.kontrak sosial negatif namun seseorang mulai menyadari bahwa suatu tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia di sini orang mulai berpikir bahwa hukum itu dapat diubah dan disesuaikan dengan konten atau situasi yang ada sejauh dapat memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum oleh karena itu dapat diselenggarakan suatu persetujuan demokratis kontrak sosial dan konsensus bebas agar mencapai kesepakatan yang baru pada tahap yaitu.

2.orientasi pada prinsip hati nurani yang berlaku universal seseorang mulai menyadari bahwa di dalam tubuh hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku prinsip-prinsip yang berlaku universal tersebut adalah prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat manusia seperti prinsip keadilan kepengurusan dalam membantu orang lain persamaan hak manusia dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan prinsip-prinsip itu disebut universal karena dapat diberlakukan di setiap situasi tempat taman dan segala aspek kehidupan manusia seseorang yang berada pada tahap ini mengatur tingkah laku dan penilaian moralnya berdasarkan hasil membangun pribadi yang berlaku secara universal tersebut ketika melanggar dapat disimpulkan bahwa hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku.

Kesimpulannya:
Teori piaget lebih melihat perkembangan moral sebagai suatu aturan atau hasil interaksi antara pelaksanaan aturan,teori ini juga menyusun perkembangan moral yang dikenal sebagai teori struktural-kognitif, sedangkan teori kohlberh mengusulkan suatu teori perkembangan pemikiran moral tiap tiap tahap ditandai oleh struktur mental khusus.Kholberg mengidentifikasi enam tahapan terbagi menjadi tiga level perkembangan pemikiran moral,kemudian,kholberg menyempurnakan menjadi tujuh tahapan
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Rianti Maharani -
Nama : Rianti Maharani
NPM : 2513032011

Analisis Video

Tahap Tahap Perkembangan Moral Menurut Teori Lawrence Kohlberg

1. Prakonvesional
Mengikuti aturan untuk menghindari hukuman. Bertindak demi kepentingan diri sendiri. Kepatuhan buta kepada otoritas demi kepentingan diri sendiri. Berkaitan dengan Hubungan sebab-akibat, ganjaran-hukuman, menyenangkan-tidak menyenangkan. Prakonvesional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:

1). Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
Pada tahap pertama seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar, pemahaman moral itu didasarkan pada kesadaran bahwa ketika ia tidak patuh ia akan mendapatkan hukuman yang menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman disini tampak bahwasanya seseorang melakukannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, ia baru sampai pada pemahaman bahwa berbuat baik akan memberi manfaat positif.
2). Orientasi Realitivis Instrumental
Pada tahap kedua seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan. contoh: anak kecil mau disuruh jika diiming imingin hadiah. Maka dari itu seseorang pada tahap ini terlihat sangat baik namun sebenarnya maksut utama dari perbuatannya itu adalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

2. Konvesional
Pada tahap ini seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, sadar akan pentingnya loyalitas. Memenuhi tugas dan kewajiban sistem sosial. Menjunjung tinggi hukum. Konvesional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:
 
1). Tahap Anak Manis
Pada tahap ini seseorang menganut prinsip anak manis dimana seseorang menganut perilaku yang baik yaitu berupa perilaku yang menyenangkan orang lain seperti membantu orang lain dan oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya agar tidak merasa malu dan bersalah. 
2). Hukum dan Ketertiban pada tahap ini sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat, memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku. Mematuhi hukum agar ketertiban bisa terjamin, kebanyakan orang dewasa susah berada pada tahap ini. Setiap orang patut tunduk kepada aturan hukum yang mengaturnya.

3. Pascakonvensional
Hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi, penekanan pada prinsip yang muncul dalam batin. Mengikuti prinsip-prinsip universal keadilan dan kebenaran yang telah tertanam dalam diri. Menyeimbangkan kepedulian terhadap diri sendiri dengan kepedulian terhadap sesama dan kebaikan bersama. Pascakonvensional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:

1). Kontrak sosial legalistis
Segi hukum masih diterapkan namun, seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, selalu terbuka kemungkinan untuk memperbarui dan mengaktualkan suatu hukum melalui persetujuan demokratis. Hukum dapat diubah sesuai konteks dan situasi yang ada selama memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum. Oleh karena itu, dapat diselenggarakan kontrak sosial agar mencapai kesepakatan yang baru.
2). Prinsip etika universal
Prinsip ini bersifat universal karena bisa berlaku dimanapun dan kapanpun, dapat dilakukan diberbagai tempat, situasi, dan segala aspek kehidupan manusia. Prinsip hati universal seseorang mulai menyadari didalam hatinya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku yaitu berupa prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan, ketulusan membantu orang lain dan hormat terhadap suatu nilai kehidupan

Membandingkan Teori Piaget dan Kohlberg

Persamaan Teori Piaget dan Kohlberg
Kedua teori ini sama-sama menjelaskan perkembangan anak secara bertahap, dimana proses perkembangan anak berlangsung melalui beberapa tahap, tidak terjadi sekaligus. Tetapi, bertahap sesuai usia dan pengalaman anak. Dimana proses perkembangan anak akan semakin kompleks seiring dengan bertambahnya usia dan tahapan perkembangan yang dilaluinya. Selain itu, keduanya sama-sama menekankan pentingnya interaksi sosial dengan lingkungan sekitar sebagai faktor utama dalam proses perkembangan anak.

Perbedaan Teori Piaget dan Kohlberg
Piaget lebih berfokus pada perkembangan kognitif yaitu kemampuan berpikir dan memahami dunia berkembang, sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Sementara itu, Teori Kohlberg lebih berfokus pada perkembangan moral, bagaimana seseorang memahami konsep benar dan salah serta membentuk penalaran moralnya. Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan kognitif, sedangkan Kohlberg mengidentifikasi enam tahap perkembangan moral yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkat. Selain itu, Kohlberg mengembangkan tahap moral yang lebih kompleks, bahkan sampai tahap dewasa, sedangkan Piaget lebih berfokus pada usia anak hingga remaja.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Bambang Kurniawan -
NAMA: BAMBANG KURNIAWAN
NPM: 2513032015

1. Tingkat 1: Pra konvensional
Tingkat awal perkembangan moral di mana penilaian benar-salah didasari oleh konsekuensi langsung terhadap pelaku (hukuman atau imbalan). Individu belum memahami norma sosial, moral bersifat egosentris.

Tahap 1: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman
Perilaku ditentukan oleh menghindari hukuman, benar apa yang tidak membuat pelaku dihukum. Fokus pada konsekuensi langsung, bukan niat atau prinsip dan moralitas dipandang sebagai kepatuhan buta terhadap aturan.
Contoh: Menaruh kembali mainan karena takut dimarahi guru atau orangtua.

Tahap 2 : Orientasi Individualisme dan Pertukaraan
Tindakan dipilih berdasarkan keuntungan pribadi atau pertukaran moralitas bersifat instrumental dan pragmatis.Tindakan yang benar adalah yang dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri, meskipun ada unsur timbal balik.
Contoh: Menolong teman hanya agar diberi snack.

Tingkat 2 : Moralitas Konvensional
Tingkat menengah di mana moralitas ditentukan oleh aturan, harapan sosial, dan hubungan interpersonal. Individu menilai tindakan berdasarkan apakah tindakan itu memenuhi ekspektasi orang penting atau menjaga ketertiban sosial.

Tahap 3: Orientasi hubungan interpersonal yang baik
Penilaian moral bertumpu pada keinginan mendapatkan persetujuan dan dinilai baik oleh orang lain—terutama oleh mereka yang dekat secara emosional. Seseorang berusaha memenuhi ekspektasi keluarga dan teman-temannya, dan motif niat baik mulai menjadi pertimbangan dalam menilai tindakan.
Contoh: Remaja menolong teman di depan guru agar dipuji dan dianggap baik.

Tahap 4: Orientasi menjaga tatanan sosial
Di tahap ini, seseorang meyakini bahwa aturan dan undang-undang harus ditaati secara mutlak demi menjaga ketertiban sosial. Suatu tindakan dinilai benar karena sesuai dengan hukum, dan setiap orang berkewajiban mematuhinya meski itu menimbulkan dampak pribadi.
Contoh: Menolak mencontek karena aturan sekolah melarang.

Tingkat 3: Moralitas pasca konvensional
Tahap ini ditandai oleh cara berpikir yang berlandaskan prinsip etika abstrak dan bersifat universal, melampaui aturan dari otoritas atau kelompok sosial tertentu. Hanya sebagian kecil orang yang mencapai tingkat perkembangan moral ini.

Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Hak-hak Individu
Pada tahap ini seseorang melihat hukum sebagai alat sosial yang dibuat untuk melindungi hak dasar dan kesejahteraan bersama. Hukum dianggap bersifat fleksibel bisa diubah bila tidak lagi melayani kepentingan banyak orang dan ada pengakuan bahwa hak-hak individu kadang berada di atas aturan hukum yang berlaku.
Contoh: Seorang pemuda mengkritik aturan sekolah yang diskriminatif dan mengusulkan perubahan lewat musyawarah.

Tahap 6: Orientasi Prinsip Etika Universal
Di puncak perkembangan moral ini, seseorang bertindak berdasarkan prinsip etika universal yang dipilihnya sendiri misalnya keadilan, martabat, dan kesetaraan meskipun hal itu bisa bertentangan dengan hukum. Hati nurani menjadi pedoman utama, dan prinsip-prinsip tersebut diterapkan untuk semua orang.
Contoh: Seseorang melanggar aturan yang tidak adil untuk membantu korban, berdasar prinsip kemanusiaan.

2. Video tentang tahapan moral (Kohlberg) memperlihatkan perkembangan moral sebagai proses bertahap yang dipengaruhi pengalaman sosial dan pemikiran kognitif. Pada tingkat paling awal pra-konvensional moralitas dipicu motivasi eksternal: anak menilai tindakan berdasarkan konsekuensi langsung (hukuman atau hadiah). Individu biasanya menampilkan perilaku patuh yang bersifat instrumental, misalnya anak berhenti berbuat salah karena takut dimarahi atau karena mendapat imbalan. Tahap ini menekankan bahwa moral belum berakar pada pemahaman norma sosial, melainkan pada kebutuhan pribadi.

Memasuki tingkat konvensional, penilaian moral bergeser ke orientasi relasional dan sistem sosial. Individu mulai internalisasi ekspektasi kelompok: tindakan baik adalah yang mendapat pengakuan dari orang lain (baik–buruk menurut pandangan sosial). Di sini menunjukkan anak remaja atau dewasa muda yang bertindak sesuai harapan teman, guru, atau keluarga motivasi utamanya adalah mempertahankan citra sosial dan hubungan. Tahap berikutnya dalam level ini, orientasi pada hukum dan ketertiban, menegaskan pentingnya norma formal dan aturan sebagai penopang keteraturan sosial. Contoh pada video mungkin tokoh menolak mencontek karena patuh pada aturan sekolah demi menjaga “keadilan” sistem.

Level pasca-konvensional dalam video menggambarkan puncak otonomi moral: individu sudah mampu menilai hukum dan norma menurut prinsip etika yang lebih tinggi keadilan, hak asasi, dan kemanusiaan. Pada tahap kontrak sosial, tokoh dapat mempertanyakan aturan yang tidak adil dan mencari solusi lewat dialog atau perubahan kolektif. Tahap tertinggi, prinsip moral universal, memperlihatkan aksi berani yang berlandaskan nilai prinsip, meski berisiko melanggar undang-undang. Narasi menekankan pergeseran dari orientasi eksternal ke internal; moral menjadi lebih reflektif dan universal.

Vidio juga menyinggung faktor pendorong transisi antar tahap: interaksi sosial, konflik nilai, dan kemampuan kognitif untuk melihat perspektif lain. Kesimpulannya, perkembangan moral menurut Kohlberg bukan sekadar belajar aturan, melainkan proses pematangan pemikiran moral dari kepatuhan berbasis hukuman sampai pengambilan keputusan atas dasar prinsip etika universal.

3. Kohlberg dan Piaget sama-sama memandang moralitas sebagai proses perkembangan, tetapi fokus dan rinciannya berbeda: Piaget menekankan hubungan antara perkembangan kognitif dan perubahan dari moral heteronom (aturan dari luar) ke moral otonom (aturan sebagai hasil kesepakatan), berdasar observasi permainan dan interaksi anak, sedangkan Kohlberg merinci enam tahap penalaran moral dari orientasi hukuman/imbalan sampai prinsip etika universal dengan metode wawancara dilema moral. Piaget lebih menyorot mekanisme kognitif dan peran teman sebaya dalam membentuk pemahaman aturan, sementara Kohlberg menekankan progresi logis dalam alasan moral dan penekanan pada konsep keadilan. Singkatnya, Piaget menjelaskan “bagaimana” pemahaman aturan berkembang, dan Kohlberg menguraikan “tingkat” penalaran moral yang mungkin dicapai individu.

4. Piaget memandang perkembangan moral sebagai bagian dari pertumbuhan cara berpikir seseorang. Ia berpendapat bahwa kemampuan anak dalam memahami aturan dan menilai benar atau salah tumbuh seiring dengan perkembangan kognitifnya, dan membaginya ke dalam dua tahap utama: tahap moral heteronom (anak melihat aturan sebagai sesuatu yang tetap dan harus ditaati) serta tahap moral otonom (anak mulai menyadari bahwa aturan bisa disepakati dan diubah).

Sementara itu, Kohlberg memperluas gagasan Piaget dengan fokus yang lebih mendalam pada penalaran moral. Ia membaginya menjadi tiga tingkat besar pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional yang masing-masing terdiri dari dua tahap. Setiap tahap menggambarkan cara berpikir yang semakin matang dalam memahami moralitas, dari sekadar takut hukuman hingga bertindak berdasarkan prinsip keadilan universal. Dengan kata lain, Piaget menjelaskan “awal mula” berpikir moral, sedangkan Kohlberg merinci “proses dan tingkatan” berpikir moral seseorang sepanjang hidupnya.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Muhammad Irfan Maulana -

NAMA: Muhammad Irfan Maulana
NPM: 2513032007
Tahapan Perkembangan Moral Menurut Lawrence Kohlberg

Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa kesadaran moral manusia tumbuh secara bertahap seiring dengan perkembangan usia, pengalaman hidup, serta kematangan kemampuan berpikir. Menurut Kohlberg, proses perkembangan moral terbagi ke dalam tiga level utama, yaitu prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional, di mana masing-masing level terdiri dari dua tahap perkembangan yang menggambarkan cara individu menilai baik dan buruk dalam kehidupannya.

Prakonvensional, seseorang menilai moralitas berdasarkan konsekuensi eksternal, seperti hukuman dan penghargaan.

  1. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan, individu berbuat baik semata-mata karena takut mendapat hukuman. Seorang anak, misalnya, patuh terhadap orang tua bukan karena kesadaran moral, melainkan untuk menghindari rasa bersalah atau ketidaknyamanan akibat hukuman.

  2. Tahap orientasi relativis instrumental, seseorang mulai memahami bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan yang sama dengannya. Namun, tindakan baik masih dilakukan dengan tujuan memperoleh imbalan atau keuntungan pribadi. Pada tahap ini, moralitas bersifat timbal balik sederhana dan masih egosentris.

Konvensional, individu mulai mengarahkan perilakunya agar selaras dengan harapan sosial dan norma yang berlaku di lingkungannya.

  1. Tahap orientasi anak baik (good boy/good girl), seseorang berusaha untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diterima oleh kelompok sosialnya. Ia ingin dianggap baik, sopan, dan dapat diterima oleh orang lain. Loyalitas terhadap kelompok serta keinginan untuk menjaga hubungan sosial menjadi motivasi utama.

  2. Tahap orientasi hukum dan ketertiban, individu mulai memahami pentingnya aturan dalam menjaga keteraturan sosial. Ia menaati hukum bukan lagi karena takut dihukum, tetapi karena merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai warga masyarakat.

Pascakonvensional, seseorang telah mencapai tahap moral yang lebih tinggi, di mana penilaian moral tidak lagi ditentukan oleh aturan eksternal, melainkan oleh prinsip etika yang diyakini secara pribadi.

  1. Tahap kontrak sosial legalistis, menunjukkan bahwa hukum bukan sesuatu yang mutlak, melainkan dapat diubah jika tidak lagi mencerminkan keadilan. Seseorang mulai berpikir kritis terhadap sistem hukum dan mengutamakan kesejahteraan sosial sebagai dasar pertimbangan moral.

  2. Tahap prinsip etika universal, merupakan puncak kesadaran moral di mana individu berperilaku berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan universal seperti keadilan, kebenaran, kesetaraan, dan rasa hormat terhadap kehidupan manusia. Pada tahap ini, hati nurani menjadi sumber utama keputusan moral, bahkan ketika nilai-nilai tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku.

Perbandingan Teori Piaget dan Kohlberg 

Persamaan

Baik Jean Piaget maupun Lawrence Kohlberg memiliki pandangan yang sejalan tentang bagaimana manusia mengembangkan moralitasnya. Keduanya menilai bahwa moralitas tidak diturunkan secara biologis, melainkan tumbuh dari proses berpikir dan pengalaman sosial. Mereka sama-sama menganggap bahwa perkembangan moral terjadi secara bertahap, berurutan, dan tidak dapat dilompati. Dalam pandangan kedua tokoh ini, kemampuan berpikir logis dan memahami perspektif orang lain sangat menentukan cara seseorang menilai tindakan benar atau salah. Piaget dan Kohlberg juga sependapat bahwa moralitas tidak hanya soal kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga kemampuan memahami alasan di balik aturan tersebut. Dengan demikian, keduanya menekankan bahwa moral sejati berkembang ketika individu mampu berpikir reflektif dan memahami makna moral di balik suatu tindakan, bukan sekadar takut akan hukuman.

Perbedaan

Meskipun memiliki dasar teori yang sama, Piaget dan Kohlberg berbeda dalam ruang lingkup, pendekatan, dan kedalaman analisisnya. Piaget meneliti perkembangan moral pada anak-anak dan membaginya ke dalam dua tahap utama, yaitu tahap moral heteronom (ketika anak menganggap aturan berasal dari otoritas luar dan bersifat mutlak) dan tahap moral otonom (ketika anak mulai memahami bahwa aturan dapat disesuaikan melalui kesepakatan bersama). Kohlberg kemudian mengembangkan gagasan Piaget lebih jauh dengan meneliti perkembangan moral hingga usia dewasa. Ia mengusulkan enam tahap moral yang dikelompokkan dalam tiga level besar: prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Selain itu, metode yang digunakan keduanya juga berbeda. Piaget menggunakan observasi langsung terhadap anak-anak dalam situasi bermain dan interaksi sosial, sedangkan Kohlberg memakai wawancara dilema moral, seperti dilema Heinz, untuk menilai cara berpikir seseorang dalam situasi etis yang kompleks. Piaget menekankan hasil tindakan moral anak, sementara Kohlberg berfokus pada proses penalaran yang mendasarinya. Dengan demikian, teori Kohlberg memberikan gambaran yang lebih luas dan mendalam mengenai perkembangan moral, dari masa kanak-kanak hingga kedewasaan, serta menempatkan hati nurani dan prinsip kemanusiaan sebagai puncak tertinggi kesadaran moral.


In reply to First post

Re: Analisis Video

by Duwi Nur Latifah 2513032018 -
Nama : Duwi Nur Latifah
NPM : 2513032018

Tiga Tingkat Perkembangan Moral Pribadi menurut Lawrence Kohlberg
1). Prakonvensional
aMengikutituran untuk menghindari hukuman. Bertindak demi kepentingan diri sendiri. Kepatuhan buta kepada otoritas demi kepentingan diri sendiri. Seorang menilai perihal yang baik dan buruk berdasarkan faktor dilingkungan dirinya, contohnya:Hubungan sebab akibat, ganjaran hukuman, dan menyenangkan tidak menyenangkan. Ada 2 tahap yaitu
Tahap1 : orientasi hukuman dan kepatuhan (berdasarkan rasa takut atas hukuman)
Tahap2 : orientasi relativitas instrumental (mengharapkan kebaikan dibalas dengan imbalan)
2). Konvensional
Memenuhi harapan orang lain, Memenuhi tugas dan kewajiban sistem sosial, dan Menjunjung tinggi hukum. Ada 2 tahap yaitu:
Tahap3 : orientasi anak manis (perilaku orang baik akan menyenangkan orang lain, pasti tidak akan melakukan kesalahan)
Tahap4 : orientasi hukum dan ketertiban (Berkewajiban mematuhi hukum secara mutlak)
3). Pascakonvensional (Berprinsip)
Mengikuti prinsip-prinsip universal keadilan dan kebenaran yang tertanam di dalam diri.
Menyeimbangkan kepedulian terhadap diri sendiri dengan kepedulian terhadap sesama dan kebaikan bersama. Bertindak secara independen dan etis tanpa menghiraukan ekspektasi orang lain. Hukum tidak bisa ditelan secara mentah harus dipilih terlebih dahulu. Ada 2 tahap yaitu :
Tahap5 : kontrak sosial legalistis (hukum dapat diubah dan disesuaikan dengan konteks yang dibutuhkan)
Tahap6 : Prinsip etika universal (berlaku dimanapun dan kapanpun)
Jadi menurut Lawrence Kohlberg, hukum tertinggi yaitu hati nurani yang berlaku universal.

Perbedaan Teori Piaget dan Kohlberg
Piaget lebih memusatkan dan mengfokuskan perhatiannya pada perkembangan kognitif adalah kemampuan berpikir dan memahami dunia berkembang, sejak masa anak anak sampai remaja. Dan menurut Teori Kohlberg lebih berfokus pada perkembangan moral, bagaimana seseorang memahami konsep benar dan salah serta membentuk penalaran moralnya. Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan kognitif, sedangkan Kohlberg mengidentifikasi enam tahap perkembangan moral yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkat. Selain itu, Kohlberg juga mengembangkan tahap moral yang lebih kompleks, bahkan sampai tahap dewasa, sedangkan Piaget lebih berfokus pada usia anak hingga remaja saja.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Ghina Aprilia Lutfiani -
Nama : Ghina Aprilia Lutfiani 
NPM : 2513032023

Tahap tahap berkembang moral menurut Flaurence Kolhberg 

1.Pada tahap pra konvensional, seseorang menilai tindakan baik atau buruk berdasarkan akibat yang langsung diterimanya. Ia berbuat baik karena takut dihukum atau karena mengharapkan hadiah. Pada tahap ini, dorongan moral masih bersifat eksternal, belum muncul dari kesadaran diri. Individu bertindak karena rasa takut atau keinginan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Contoh perilaku: seseorang yang menemukan dompet di bank memilih mengembalikannya karena takut terekam CCTV atau takut dimarahi oleh petugas keamanan. Ia belum benar-benar memahami bahwa mengambil barang orang lain itu salah, hanya takut akan konsekuensinya.

2.Pada tahap konvensional, seseorang mulai menyesuaikan diri dengan norma sosial dan aturan yang berlaku. Ia berbuat baik karena ingin diterima dan dihargai oleh orang lain. Nilai moral di tahap ini sudah berkembang, tetapi masih dipengaruhi oleh pandangan masyarakat. Individu mulai mematuhi aturan demi menjaga citra diri dan ketertiban sosial.
Contoh perilaku: seseorang mengembalikan dompet karena ingin dianggap sebagai orang jujur dan baik oleh pegawai bank atau teman temannya. Ia melakukan tindakan benar karena merasa harus menyesuaikan diri dengan harapan sosial dan menjaga nama baik.

3.Pada tahap pascakonvensional, seseorang sudah memiliki kesadaran moral yang matang. Ia memahami bahwa hukum dan aturan tidak selalu mutlak, melainkan dapat dinilai kembali berdasarkan prinsip keadilan dan hati nurani. Pada tahap ini, individu bertindak bukan karena takut atau ingin dipuji, tetapi karena ia yakin bahwa tindakan tersebut benar secara moral dan manusiawi.
Contoh perilaku: seseorang mengembalikan dompet tanpa diketahui siapa pun dan tanpa berharap imbalan. Ia melakukannya dengan ikhlas karena menyadari bahwa kejujuran dan tanggung jawab adalah nilai yang harus dijaga sebagai manusia beretika.

Melalui tahapan tersebut, dapat disimpulkan bahwa perkembangan moral menurut Kohlberg menunjukkan proses pendewasaan yang terjadi seiring bertambahnya pengalaman dan kemampuan berpikir. Tindakan sederhana seperti mengembalikan dompet menjadi gambaran konkret bagaimana seseorang bisa berada di tahap moral yang berbeda tergantung pada niat dan kesadarannya. Moral sejati tampak ketika seseorang berbuat baik bukan karena takut atau ingin dipuji, tetapi karena kebaikan itu muncul dari hati yang tulus.


Perbandingan Teori Kohlberg dan Piaget
Teori perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg dan Jean Piaget memiliki kesamaan bahwa keduanya memandang moral sebagai proses yang tumbuh seiring perkembangan kognitif manusia. Namun, keduanya memiliki fokus yang berbeda. 

1. Kohlberg menekankan pada penalaran moral yang berkembang dalam tiga tingkat utama pra konvensional, konvensional, dan pascakonvensional yang menggambarkan bagaimana seseorang berpindah dari ketaatan terhadap aturan luar menuju kesadaran moral yang bersumber dari hati nurani.
2. Piaget berfokus pada pemahaman anak terhadap aturan dan keadilan yang terbagi menjadi dua tahap, yaitu moral heteronom dan moral otonom. Pada tahap heteronom, anak memandang aturan sebagai sesuatu yang tetap dan tidak boleh diubah sedangkan pada tahap otonom, anak mulai memahami bahwa aturan dapat disesuaikan melalui kesepakatan bersama.

Kedua teori tersebut memiliki kesamaan dalam pandangan bahwa moral berkembang melalui pengalaman sosial dan interaksi dengan lingkungan. Perbedaannya, Kohlberg menggambarkan perkembangan moral secara lebih kompleks hingga masa dewasa, sedangkan Piaget lebih berfokus pada masa kanak kanak. Namun, keduanya sama sama menegaskan bahwa moralitas tidak terbentuk secara instan, melainkan hasil dari proses berpikir, refleksi, dan pembelajaran dari kehidupan sosial sehari hari.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Rachealia Selcy A 2513032033 -
Nama: Rachealia Selcy A
Npm: 2513032033

Menurut kolbert Orang berkembang dalam tiga level yaitu:
1.Prakonvensional
konvensional seseorang menilai perihal yang baik dan buruk berdasarkan faktor-faktor di luar dirinya seperti:
hubungan sebab akibat,ganjaran dan hukuman,serta yang menyeramkan dan tidak menyenangkan.

level ini dibagi menjadi dua tahap yaitu: orientasi hukuman dan kepatuhan orientasi instrumental. pada tahap pertama yakni,

Tahap 1: orientasi hukuman dan kepatuhan seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman dan kepatuhan, misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan merasa bersalah apabila melanggar perintah orang tuanya. Penalaran seperti itu pertama-tama didasari oleh kesadaran bahwa ketika ia tidak mampu ia akan mendapat hukuman yang menimbulkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman, bicara tampak bahwa itu sendiri untuk menyelamatkan dirinya sendiri menjadi sakitnya hukuman ia menulis sampai pada pemahaman bahwa Berbuat baik itu akan memberi manfaat positif juga bagi orang lain.

Tahap 2: orientasi relativis instrumental seseorang melakukan perbuatan baik pertama-tama Karena mengharapkan imbalan, ia sudah mulai menyadari bahwa orang lain juga punya kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya. Oleh karena itu perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain sebagai contoh kita bisa melihat perilaku anak-anak kecil yang baru mau disuruh melakukan sesuatu ketika iming-iming Ini hadiah yang menarik.
jadi seseorang di dalam ini bisa saja kelihatan sangat baik namun sebenarnya maksud utama dari perbuatan baiknya itu adalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi

2.level konvensional seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertentu atau dengan tertib sosial yang berlaku dalam masyarakat tertentu, ia mulai keluar dari sikap egois yang memungkinkan diri sendiri dan mulai melihat kebahagiaan dan kenyamanan orang lain sebagai sesuatu yang mampu untuk memperjuangkan. Level ini dibagi menjadi dua tahap:

Tahap 1: orientasi anak manis: seseorang melalui prinsip bahwa saya adalah anak manis perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain, membantu orang lain dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain. Oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya agar tidak merasa malu yang bersalah, di sini unsur setia kawan dalam kelompok sangat di dewa-dewakan hal ini biasa terjadi misalnya dalam kelompok-kelompok remaja dan ABG, biasanya anak-anak remaja lebih memilih untuk berbohong demi temannya daripada dianggap pengkhianat oleh kelompoknya.

Tahap 2: orientasi hukum dan ketertiban, makna kelompok seseorang mulai menyadari bahwa di luar kelompok lokal seperti keluarga, teman sebaya, teman sekolah, oorganisasi organisasi himpunan-himpunan dan sebagainya. Masih banyak kelompok yang lebih luas yaitu, suku bangsa, agama dan negara. Ia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok yang lebih besar itu dan dengan demikian memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku. Penekanannya adalah mematuhi hukum secara mutlak agar ketertiban sosial dapat terjadi. kebanyakan orang dewasa sudah berada di tahap ini.


3.pasca konvensional, hidup baik mulai dipandang sebagai tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin, di sini seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mentah-mentah, hukum bukanlah sesuatu yang harus ditaati secara mutlak melainkan sesuatu yang terlebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul di dalam hati nurani, level Ini juga dibagi menjadi dua tahap yakni:
-kontrak sosial legalistis: kontrak sosial legalistis segi hukum masih ditetapkan namun seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia, disini orang mulai berfikir bahwa hukum itu dapat diubah dan disesuaikan dengan konteks atau situasi yang ada sejauh dapat memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum. oleh karena itu dapat diselenggarakan suatu persetujuan demokratis kontrak sosial dan konsensus bebas agar mencapai kesepakatan yang baru yaitu orientasi.

-pada prinsip hati nurani yang berlaku universal, seseorang mulai menyadari bahwa di dalam lubuk hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku universal tersebut adalah prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat kemanusiaan, seperti prinsip keadilan, ketulusan, dalam membantu orang lain persamaan hak manusia dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan. prinsip-prinsip itu disebut universal karena dapat diberlakukan di setiap situasi, tempat dan segala aspek kehidupan manusia. seseorang yang berada pada saat ini mengatur tingkah laku dan penilaian moralnya berdasarkan hati nurani pribadi yang berlaku secara universal tersebut dapat disimpulkan bahwa hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku universal itu tidak selalu memiliki rumusan yang konkret, oleh karena itu dibutuhkan suatu kepekaan hati nurani yang sangat besar ketika menghadapi suatu realitas. prinsip-prinsip ini juga seringkali bertentangan dengan aturan-aturan yang ada dalam masyarakat tertentu karena egoisme pribadi atau mencari keuntungan pribadi melainkan karena menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta hormat terhadap martabat sesamanya


Kehidupan dan sebagai tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin di sini seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mentah-mentah hukum bukanlah sesuatu yang harus ditaati secara mutlak melainkan sesuatu yang terlebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani ini juga dibagi menjadi dua tahap yakni.

kontrak sosial negatif namun seseorang mulai menyadari bahwa suatu tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia di sini orang mulai berpikir bahwa hukum itu dapat diubah dan disesuaikan dengan konten atau situasi yang ada sejauh dapat memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum oleh karena itu dapat diselenggarakan suatu persetujuan demokratis kontrak sosial dan konsensus bebas agar mencapai kesepakatan yang baru pada tahap yaitu.

orientasi pada prinsip hati nurani yang berlaku universal seseorang mulai menyadari bahwa di dalam tubuh hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku prinsip-prinsip yang berlaku universal tersebut adalah prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat manusia seperti prinsip keadilan kepengurusan dalam membantu orang lain persamaan hak manusia dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan prinsip-prinsip itu disebut universal karena dapat diberlakukan di setiap situasi tempat taman dan segala aspek kehidupan manusia seseorang yang berada pada tahap ini mengatur tingkah laku dan penilaian moralnya berdasarkan hasil membangun pribadi yang berlaku secara universal tersebut ketika melanggar dapat disimpulkan bahwa hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku universal yang sangat besar ketika menghadapi suatu realitas sosial bertentangan dengan aturan-aturan yang ada dalam masyarakat tertentu bukan pertama-tama karena egoisme yang pribadi atau mencari keuntungan pribadi melainkan karena jujur tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta hormat terhadap martabat sesamanya.

Perbandingan teori Kohlberg dengan Piaget
-Kohlberg lebih berfokus pada bagaimana penalaran moral berkembang melalui pemahaman prinsip prinsip universal.

-Sedangkan Piaget, perkembangan moral dilihat sebagai bagian dari perkembangan kognitif secara keseluruhan, melibatkan interaksi antara tindakan dan pikiran dalam membangun konsep moral.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by 2513032030 2513032030 -
Nama : REVA FERDIANSYAH
NPM : 2513032030Tahapan 

Perkembangan Moral Menurut Lawrence Kohlberg

Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa perkembangan moral manusia berlangsung secara bertahap mengikuti perkembangan usia. Menurutnya cara seseorang menilai sesuati itu baik atau buruk tidak muncul begitu saaja, tapi butuh bptoses., melainkan melalui proses yang berkembang secara berkelanjutan . Kohlberg membagi perkembangan moral ke dalam tiga tahap, yaitu prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Masing-masing tahapan ini mencerminkan kesadaran moral yang semakin sulit seiring pertumbuhan manusia.

Pada tahap prakonvensional, penilaian moral seseorang masih didasarkan pada konsekuensi dari tindakan, seperti ancaman hukuman atau janji yang diberikan.

Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan menggambarkan kondisi di mana seseorang berbuat baik karena takut dengan hukuman. Seperti anak kecil yang menuruti perintah orang tua bukan karena tau benar atau salah, tetapi agar tidak kena teguran atau kena omelan dari orang tua.

Tahap orientasi seseorang mulai mikir, kalau mau hidup enak, harus saling bantu dan saling mengerti dengan orang lain, namun tindakan baik masih dilakukan demi memperoleh keuntungan pribadi. Pada fase ini, perilaku moral bersifat timbal balik sederhana, belum murni karena kesadaran sosial.

Beranjak ke tahap konvensional, seseorang mulai menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dan harapan masyarakat di sekitarnya. Moralitas tidak lagi semata-mata bergantung pada hukuman atau hadiah, melainkan pada penerimaan sosial dan kepatuhan terhadap aturan.

Tahap orientasi anak baik memperlihatkan bahwa individu berperilaku baik agar diterima oleh lingkungan sosialnya. Ia ingin dianggap sopan, loyal, dan berkarakter baik oleh kelompoknya. Dorongan untuk menjaga keharmonisan menjadi landasan moralnya.

Tahap orientasi hukum dan ketertiban menunjukkan bahwa seseorang sudah memahami pentingnya hukum dan peraturan untuk menjaga tatanan sosial. Kepatuhan dilakukan bukan karena rasa takut, tetapi karena kesadaran moral akan tanggung jawab sosial.

Selanjutnya, pada tahap pascakonvensional, seseorang mencapai tingkat penalaran moral yang lebih matang. Pada tingkat ini, nilai moral didasarkan pada prinsip pribadi dan hati nurani, bukan semata aturan eksternal.

Tahap kontrak sosial legalistis menggambarkan bahwa hukum dapat dikritisi dan diubah bila tidak sesuai dengan prinsip keadilan. Individu mulai berpikir rasional dan mempertimbangkan kesejahteraan umum sebagai ukuran moral.

Tahap prinsip etika universal merupakan puncak perkembangan moral. Seseorang bertindak berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal, seperti keadilan, kesetaraan, dan rasa hormat terhadap kehidupan. Pada tahap ini, hati nurani menjadi pedoman utama, bahkan ketika prinsip moral yang diyakini bertentangan dengan norma sosial atau hukum yang berlaku.

Perbandingan Teori Piaget dan Kohlberg
Persamaan

Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg memiliki kesamaan pandangan dalam menafsirkan bagaimana manusia mengembangkan pemahaman moralnya. Keduanya berpendapat bahwa moralitas tidak diwariskan secara genetik, melainkan terbentuk melalui proses berpikir dan pengalaman sosial yang dialami individu. Mereka sepakat bahwa perkembangan moral bersifat tahap demi tahap, dan setiap tahap menggambarkan kemajuan dalam cara seseorang memahami serta menilai tindakan moral. Baik Piaget maupun Kohlberg menekankan pentingnya kemampuan berpikir logis dan kemampuan memahami sudut pandang orang lain dalam proses pembentukan moralitas. Mereka juga beranggapan bahwa moralitas sejati bukan sekadar ketaatan terhadap aturan, melainkan kesadaran akan alasan di balik aturan tersebut. Dengan kata lain, individu yang bermoral adalah mereka yang mampu merefleksikan dan memahami nilai-nilai moral secara mendalam, bukan hanya mengikuti perintah karena takut dihukum.

Perbedaan

Meskipun memiliki dasar teori yang mirip, Piaget dan Kohlberg memiliki perbedaan dari segi cakupan kajian, pendekatan penelitian, dan kedalaman analisis. Piaget meneliti perkembangan moral pada anak-anak dan membaginya menjadi dua tahap utama, yaitu moral heteronom dan moral otonom. Pada tahap moral heteronom, anak menganggap aturan sebagai sesuatu yang datang dari luar dan tidak boleh dilanggar. Sedangkan pada tahap moral otonom, anak mulai memahami bahwa aturan dapat diubah berdasarkan kesepakatan bersama dan prinsip keadilan.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Dewa Ayu Kartika Utami -
NAMA: DEWA AYU KARTIKA UTAMI
NPM: 2513032032

Tahapan Penalaran Moral Menurut Lawrence Kohlberg

Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa perkembangan moral manusia berlangsung dalam tiga level utama, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Setiap level memiliki dua tahap yang menunjukkan bagaimana seseorang menilai baik dan buruk berdasarkan perkembangan cara berpikirnya.
1. Level Pra-Konvensional
Pada tahap ini, penilaian moral masih bergantung pada akibat langsung dari tindakan seperti hukuman atau hadiah. Cara berpikir seseorang masih berpusat pada kepentingan diri sendiri.

Tahap 1: Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
Individu menganggap suatu tindakan benar jika bisa menghindarkan diri dari hukuman. Ia patuh bukan karena memahami makna moral, tetapi karena takut akan akibat buruk. Contohnya, anak mengikuti perintah orang tua karena takut dimarahi atau dihukum.

Tahap 2: Orientasi Instrumental (Relativis-naif)
Seseorang berbuat baik karena mengharapkan imbalan atau keuntungan pribadi. Ia mulai memahami bahwa orang lain juga memiliki keinginan, namun tindakannya tetap didorong oleh kepentingan diri sendiri. Misalnya, anak mau membantu orang tua jika dijanjikan hadiah.

2. Level Konvensional
Pada tahap ini, seseorang mulai menyesuaikan perilakunya dengan norma sosial dan harapan orang lain. Ia berusaha berbuat baik agar diterima dan dianggap sebagai bagian dari kelompok.

Tahap 3: Orientasi Anak Baik
Perilaku baik dilakukan untuk menyenangkan orang lain dan menjaga nama baik di lingkungan sosial. Misalnya, remaja rela berbohong demi melindungi temannya agar tidak dimarahi guru. Nilai moral diukur dari penerimaan sosial, bukan dari hati nurani sendiri.

Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban
Seseorang menyadari bahwa aturan penting untuk menciptakan keteraturan dalam masyarakat. Ia percaya hukum harus ditaati demi keadilan dan keamanan bersama. Contohnya, seseorang mematuhi aturan lalu lintas bukan karena takut ditilang, tapi karena sadar pentingnya keselamatan umum.

3. Level Pasca-Konvensional

Pada tahap ini, penilaian moral sudah didasarkan pada hati nurani dan prinsip kemanusiaan universal. Seseorang menilai baik buruknya tindakan berdasarkan keyakinan dan nilai pribadi, bukan hanya aturan luar.

Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial
Individu memahami bahwa hukum dibuat untuk kepentingan manusia dan bisa diubah bila tidak adil. Ia menilai aturan berdasarkan manfaat sosial dan kesejahteraan bersama. Misalnya, seseorang mendukung perubahan kebijakan yang dirasa merugikan masyarakat kecil.

Tahap 6: Prinsip Etika Universal (Hati Nurani)
Tahap tertinggi ini ditandai dengan kesadaran moral yang sepenuhnya berasal dari dalam diri. Seseorang berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan, kejujuran, persamaan hak, dan penghargaan terhadap kehidupan. Ia memilih mengikuti suara hati meskipun harus bertentangan dengan aturan yang berlaku.

Perbandingan Teori Kohlberg dan Piaget
Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg sama-sama meneliti perkembangan moral, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Piaget menekankan bagaimana anak memahami aturan melalui dua tahap, yaitu moralitas heteronom (aturan dianggap mutlak) dan moralitas otonom (aturan bisa diubah lewat kesepakatan).

Sementara itu, Kohlberg mengembangkan pemikiran Piaget menjadi tiga level dan enam tahap, yang menjelaskan proses penalaran moral dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Keduanya sepakat bahwa moral berkembang bertahap seiring dengan pertumbuhan usia dan pengalaman sosial. Namun, jika Piaget berfokus pada anak-anak, Kohlberg memperluasnya sampai dewasa, dengan menekankan hati nurani dan nilai kemanusiaan universal sebagai dasar moral tertinggi.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Reyke Diah Pitaloka -
Nama:Reyke Diah Pitaloka
NPM :2513032017

A. Menurut Prakonvesional itu terbagi menjadi 2 tahab yaitu:

1.Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Pada tahap pertama seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar, pemahaman moral itu didasarkan pada kesadaran.

2. Orientasi relativitas instrumental
Seorang melakukan hal baik Karena mengharapkan imbalan ia mulai menyadari bahwa orang juga punya kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya oleh karenanya perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain misalnya seorang anak kecil disuruh sesuatu karena diiming-imingi hadiah yang menarik

B.konvensional

pada level konvensional seseorang mulai menyesuaikan strap nya dengan harapan orang orang tertentu ia mulai keluar dari sikap egoisme, mementingkan diri sendiri dan mulai melihat kebahagiaan kenyamanan orang lain sebagai sesuatu yang patut di perjuangkan
- Tahap 1 orientasi anak manis
seseorang melalui prinsip bahwa saya adalah anak manis perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain membantu orang lain dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain Oleh karena itu, ia akan selalu berusaha untuk mematuhi kewajiban dalam kelompoknya agar tidak merasa malu.
- tahap 2 orientasi hukum dan ketertiban makna kelompok seseorang mulai menyadari bahwa di luar kelompok lokal seperti keluarga teman sebaya teman sekolah organ-organisasi organisasi himpunan-himpunan dan sebagainya ditandai sampai mana itu baru sampai,dengan demikian memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku adalah mematuhi hukum secara mutlak agar ketertiban sosial dapat terjadi kebanyakan orang dewasa sudah berada di tahap ini pada level.

C.Pasca konvensional

Mengikuti prinsip-prinsip universal keadilan dan kebenaran yang tertanam di dalam diri menyeimbangkan kepedulian terhadap diri sendiri dengan kepedulian terhadap sesama dan kebaikan bersama bertindak secara independen dan etis tanpa menghiraukan ekspektasi orang lain.Hidup baik adalah tanggung jawab masing- masing pribadi
- kontrak sosial legalistis
Fokus pada kontrak sosial dan hak-hak individu. Individu pada tahap ini cenderung memahami bahwa hak-hak individu perlu dilindungi dan dihormati

- Orientasi Prinsip Etika Universal

Pada tahap tertinggi ini, individu mengikuti prinsip-prinsip etika yang dipilih sendiri dan universal (seperti keadilan, martabat, dan kesetaraan hak), yang mungkin bertentangan dengan hukum. Hati nurani menjadi panduan utama. Prinsip-prinsip ini harus diterapkan secara universal, tanpa memandang ras, agama, atau kewarganegaraan

PIAGET

1.Piaget dan kohlberg itu sama-sama merujuk pada perkembangan anak akan tetapi kedua memiliki pandangan yang berbeda
-Piaget ini lebih mengarah perkembangan kognitif
-kohlberg tingkat perkembangan itu berdasarkan moral

1. Piaget ini ada 6 tahapan yang terdiri dari: pramoral, moralitas heteronom, moralitas realisme, moralitas otonom, operasional konkret, operasional formal.

2. Kohlberg :
-tingkat prakonvensional (orientasi hukum, orientasi instrumental),
-tingkat konvensional (anak manis, hukum dan ketertiban) tingkat -pascakonvensional(kontrak sosial legalistic, prinsip etika universal)
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Anggun Maulia Sari -
NAMA : ANGGUN MAULIA SARI
NPM : 2513032025

Pada video di atas terdapat tahap-tahap perkembangan moral menurut kohlberg. Terdapat tiga level yaitu:

1. Pra-konvensional
Konvensional berasal dari bahasa latin yaitu seseorang menilai perihal yang baik dan buruk berdasarkan faktor-faktor di luar dirinya seperti hubungan sebab akibat serta yang menyeramkan dan tidak menyenangkan. Level ini dibagi menjadi dua tahap yaitu pertama orientasi hukuman dan kepatuhan yang dimana seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman dan kepatuhan, misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan merasa bersalah apabila melanggar perintah orang tuanya. Pada tahap kedua yaitu orientasi individualisme dan pertukaran instrumental prinsip seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan ia sudah mulai menyadari bahwa orang lain juga punya kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya seperti kita bisa melihat perilaku anak-anak kecil yang baru mau disuruh melakukan sesuatu ketika dirayu kaya nanti bakal dapat hadiah yang menarik. jadi seseorang di dalam ini bisa saja kelihatan sangat baik namun sebenarnya maksud utama dari perbuatan baiknya itu adalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi.


2. konvensional
Sikap seseorang dengan harapan atau dengan tertib sosial yang berlaku dalam masyarakat dan mulai keluar dari sikap egois yang memungkinkan diri sendiri mulai melihat kebahagiaan dan kenyamanan orang lain sebagai sesuatu yang mampu untuk memperjuangkan diri seseorang. Ada tahap pertama orientasi anak manis yang di mana seseorang melalui prinsip bahwa saya adalah anak berperilaku yang membantu orang lain dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain. Tahap kedua orientasi hukum dan ketertiban itu seseorang mulai menyadari bahwa di luar kelompok lokal seperti keluarga, teman sebaya, teman sekolah, bahkan organisasi.

3. pasca-konvensional
Dipandang sebagai tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip yang dianut dalam batin dan hati nurani diri seseorang. Berdasarkan prinsip yang muncul dalam hati nurani ini juga dibagi menjadi dua tahap yaitu pertama kontrak sosial negatif namun seseorang mulai menyadari bahwa suatu tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia untuk kepentingan dan kesejahteraan umum. Kedua orientasi universal itu seseorang mulai menyadari bahwa di dalam tubuh hatinya sebenarnya terdapat prinsip yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia seperti prinsip keadilan, kepengurusan dalam membantu orang lain.

Jadi teori moral kohlberg dan piaget sama-sama membahas bagaimana seseorang belajar membedakan benar dan salah seiring bertambahnya usia. Menurut jean piaget membagi perkembangan moral menjadi dua tahap yaitu moralitas heteronom yang di mana anak menilai baik dan buruk karena takut hukuman, dan moralitas otonom yang di mana anak mulai sadar bahwa aturan bisa diubah lewat kesepakatan dan keadilan harus seimbang. Kohlberg mengembangkan ide ini menjadi tiga level, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Pada tahap pra-konvensional, orang berbuat baik karena takut dihukum atau ingin hadiah. Pada tahap konvensional, seseorang taat aturan karena ingin diterima dan menjaga ketertiban. Sementara di tahap pasca-konvensional, keputusan moral didasarkan pada hati nurani dan prinsip kemanusiaan. Jadi, kalau piaget fokus pada anak-anak, Kohlberg memperluasnya sampai remaja dan dewasa dengan penekanan pada kesadaran moral yang lebih dalam.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Mulya Putri -
Nama : Mulya Putri
Npm :2513032024

Tahap-tahap perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg

preconventional
berasal dari bahasa latin yang artinya menyesuaikan.

pada tahap prakonvensional
seseorang sudah bisa menilai hal yang baik dan buruk berdasarkan faktor-faktor diluar individu(diri sendiri) seperti hubungan sebab-akibat,ganjaran dan hukuman serta yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Prakonvensional ini dibagi menjadi dua tahap :
1.orientasi hukuman dan kepatuhan
2.orientasi relativis instrumental


pada tahap pertama yaitu orientasi Hukuman dan kepatuhan (orientasi hukuman dan kepatuhan)
dimana seseorang menilai baik buruk suatu perilaku berdasarkan rasa takut kepada hukuman,contoh seorang anak merasa dirinya paling benar karena dia mematuhi perkataan orang tua nya/sekitarnya,dan anak merasa bersalah jika dia melanggar sebuah aturan atau perilaku yang ia lakukan penalaran moral seperti itu pertama² didasarkan pada dia akan mendapatkan hukuman yang menimbulkan rasa sakit padanya sama tampak pada sikap etnosentrisme seseorang pertama tama melakukan kebaikan untuk menyelamatkan diri nya sendiri dan sakitnya hukuman tersebut dia belum sampai pada pemahaman bahwa berbuat baik itu akan memberi manfaat kepada diri sendiri dan orang lain.

pada tahap kedua yaitu relativis instrumental(orientasi relativis instrumental)
dimana seseorang melakukan kebaikan pertama' karena mengharapkan ada imbalan dia sudah bisa menyadari bahwa orang lain juga punya keinginan yang sama dengan dirinya oleh karena itu perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau syarat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain/sekitarnya,contoh seperti kita bisa melihat anak-anak kecil yang baru mau melakukan sesuatu ketika dia di bilangin jika dia melakukan sesuatu itu akan diberi hadiah jadi seseorang ditahap ini bisa saja terlihat sangat baik tapi sebenernya maksud utama dari perbuatan tersebut adalah untuk mendapatkan iming"(hadiah) dan keuntungan pribadi

pada level konvensional
seseorang bisa menyesuaikan sikap nya dengan harapan orang' tertentu,kemudian ia bisa keluar dari sikap egoisme dalam pribadinya,serta mulai melihat kebahagian dan kesenangan orang lain sebagai sesuatu yang patut diperjuangkan,kemudian disini seseorang mulai mengaruh orientasi pada tahap sosial atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat
level itu dibagi menjadi dua tahap
1.orientasi anak manis
2.orientasi hukum dan ketertiban

pada tahap ketiga yaitu orientasi anak manis(orientasi anak manis)
seseorang yakin pada prinsip bahwa dirinya adalah anak manis perilaku yang baik yaitu perilaku yang menyenangkan orang lain membantu orang lain dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain atau sekitarnya,oleh karena itu ia akan berusaha untuk mematuhi norma-norma yang ada agar tidak merasa malu dan bersalah,kemudian unsur setiap Kawann dan komunitas sangat dibanggakan hal ini biasa terjadi misalnya seperti remaja dan ABG biasanya pada anak remaja tersebut lebih memilih untuk berkumpul demi melindungi teman-teman nya dari pada dia dianggap berkhianat oleh klompok atau komunitasnya.

pada tahap keempat yaitu orientasi hukum dan ketertiban(orientasi hukum dan ketertiban)
makna kelompok akan diperluas sadar bahwa dirinya adalah bagian dari golongan masyarakat adapun kelompok yang lebih luas seperti suku bangsa,agama dan negara ia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok yang lebih besar itu dan dengan demikian memiliki suatu kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku
penakaran nya yaitu mematuhi hukum secara mutlak agar ketertiban sosial dapat terjadi kebanyakan orang yang sudah dewasa sudah berada ditahap itu.

pada level pascakonvensional
hidup yang baik mulai dipandang sebagai tanggung jawab setiap individu atas dasar prinsip yang dianut dalam batin nya,kemudian seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mutlak mentah-mentah hukum bukan sesuatu yang harus ditaati secara mutlak melainkan sesuatu yang terlebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani,level ini dibagi menjadi dua tahap yaitu
1.kontrak sosial legalitas
2.prinsip etika universal

pada tahap kelima yaitu kontrak sosial legalistis(orientasi kontrak sosial legalistis)
dimana segi dukung masih ditekankan namun seseorang mulai menyadari bahwasanya suatu hukum tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia,serta orang akan berfikir bahwa hukum itu dapat diubah dan di sesuaikan dengan konteks atau situasi yang ada sejauh dapat memberi manfaat sosial atau kepentingan dan kesejahteraan umum,oleh karena itu dapat diselenggarakan suatu persetujuan demokratis kontrak sosial dan sensus bebas agar mencapai kesepakatan yang baru

pada tahap keenam yaitu orientasi pada prinsip hati nurani yang berlaku universal(orientasi prinsip etika universal)
dimana seseorang sudah mulai menyadari bahwa didalam hukum sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku universal, prinsip-prinsip yang berlaku universal tersebut adalah prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada pada manusia seperti keadilan, ketulusan dalam membantu,persamaan hak manusia,dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan prinsip-prinsip itu disebut universal karena dapat melakukan setiap situasi dan segala aspek manusia seseorang yang berada pada tahap ini sudah bisa mengatur tingkah laku dan penilaian moral yang berdasarkan hati nurani pribadi yang berlaku secara umum atau universal tersebut,ia akan mengalami sebuah penyesalan yang sangat dalam ketika ia melanggar sebuah aturan

dapat disimpulkan bahwa Lawrence Kohlberg
hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani universal yang sebenernya prinsip-prinsip itu tidak selalu menjadi pusat yang konkret untuk menunjukan suatu kepekaan hati nurani yang sangat besar ketika menghadapi suatu realitas prinsip-prinsip ini seringkali bertentangan dengan aturan-aturan yang ada didalam masyarakat tertentu bukan pertama' karena soal pribadi atau cari keuntungan pribadi melainkan karena junjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta hormat terhadap martabat sesama.

Jean Piaget dan Kohlberg mempunyai persamaan yang menilai bahwa manusia itu tumbuh dari proses berfikir dan pengalaman sosialnya.

perbedaan nya yaitu Piaget menilai perkembangan moral yang merujuk pada anak-anak dan dibagi menjadi beberapa tahap-tahap.Kemudian Kohlberg mengembangkan ide Piaget lebih jauh dengan menilai perkembangan moral hingga usia dewasa.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Aila Azzura -
Nama: Aila Azzura
Npm : 2513032035

Kohlberg)

Tingkat I: Moralitas Prakonvensional

Pada tingkat ini, cara berpikir moral dipengaruhi oleh hasil yang bersifat eksternal: hukuman, imbalan, dan kebutuhan pribadi. Norma moral berasal dari luar individu. Ini biasanya terlihat pada anak-anak prasekolah, sekolah dasar, dan beberapa remaja.

Tahap 1: Fokus pada Kepatuhan dan Hukuman

Di tahap ini, orang berusaha untuk menghindari hukuman dari otoritas. Moralitas dipahami sebagai kepatuhan tanpa pertanyaan terhadap aturan. Mereka tidak memikirkan niat di balik tindakan, hanya hasil fisik yang ditimbulkan.

Contoh Penalaran: "Mencuri itu salah karena nantinya kamu bisa masuk penjara. "

Tahap 2: Fokus pada Individualisme dan Pertukaran

Moralitas diartikan oleh apa yang menguntungkan diri sendiri. Ada pengertian bahwa mungkin ada sudut pandang yang berbeda, namun kebenaran berdasarkan saling memberi (imbalan). Ini adalah moralitas yang berfokus pada "apa untungnya bagi saya" atau "timbal balik" yang sederhana.

Contoh Penalaran: "Kamu bantu aku, aku bantu kamu. Jika aku mencuri untuk mendapatkan obat, itu karena aku membutuhkan sesuatu. "

Tingkat II: Moralitas Konvensional

Sebagian besar remaja dan dewasa ada di tingkat ini. Penalaran moral didasari oleh kepatuhan pada norma sosial dan ekspektasi kelompok. Individu menyerap serta mengikuti aturan dari masyarakat atau keluarga.

Tahap 3: Fokus pada Hubungan Interpersonal yang Positif

Moralitas berakar pada keinginan untuk disetujui dan dianggap baik oleh orang lain, terutama oleh orang yang dekat secara emosional. Individu berusaha memenuhi harapan dari keluarga dan teman. Niat baik mulai dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.

Contoh Penalaran: "Saya tidak akan mencuri, karena orang akan menganggap saya orang jahat dan tidak menyukai saya. "

Tahap 4: Fokus pada Pemeliharaan Tatanan Sosial

Di tahap ini, individu meyakini bahwa aturan dan hukum harus dipatuhi tanpa kecuali untuk menjaga tatanan sosial. Tindakan dianggap benar oleh karena adanya hukum yang mengaturnya, dan setiap individu diwajibkan untuk menghormati hukum, terlepas dari dampak pribadi yang mungkin timbul.

Contoh Penalaran: "Hukum harus dihormati. Jika semua orang mencuri, masyarakat akan menjadi kacau. Kewajiban saya adalah menghormati hukum. "

Tingkat III: Moralitas Pascakonvensional

Tingkat ini ditandai dengan cara berpikir yang berdasar pada prinsip-prinsip etika universal dan abstrak, yang melampaui aturan dari otoritas atau masyarakat tertentu. Hanya sebagian kecil orang yang mencapai tingkat ini.

Tahap 5: Fokus pada Kontrak Sosial dan Hak Individu

Individu menyadari bahwa hukum adalah alat sosial yang dikembangkan untuk melindungi hak-hak dasar serta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Hukum dipandang sebagai sesuatu yang fleksibel dan bisa berubah jika tidak lagi menguntungkan mayoritas. Ada pengakuan bahwa hak individu bisa lebih tinggi daripada hukum yang berlaku.

Contoh Penalaran: "Mencuri obat untuk menyelamatkan hidup adalah tindakan yang benar, karena hak untuk hidup lebih penting daripada hukum yang mengatur kepemilikan. Hukum harus diubah jika tidak mampu melindungi kehidupan. "

Tahap 6: Fokus pada Prinsip Etika Universal

Pada tahap tertinggi ini, individu mengutamakan prinsip-prinsip etika yang mereka pilih sendiri dan bersifat universal (seperti keadilan, martabat, dan kesetaraan hak), yang mungkin bertentangan dengan hukum yang ada. Hati nurani menjadi pedoman utama. Prinsip-prinsip ini harus diterapkan secara universal, tanpa memandang ras, agama, atau kewarganegaraan.

Contoh Penalaran: "Saya harus mencuri obat itu, bukan hanya karena hukum kepemilikan bisa jadi salah, tetapi karena semua kehidupan manusia memiliki nilai yang sama, dan saya berkewajiban untuk mendukung keadilan universal ini."

(PIAGET)
1. Piaget dan Kohlberg keduanya menyoroti aspek pertumbuhan anak, tetapi dari perspektif yang berbeda:
Piaget lebih menekankan cara anak berpikir serta memahami lingkungan mereka (kognitif).
Kohlberg lebih berfokus pada cara anak belajar mengerti tentang moralitas dan etika (moral).

2. Kohlberg memperluas teori Piaget dengan menambahkan tahapan moral yang lebih rinci hingga usia dewasa.
Dalam bidang pendidikan dan psikologi, keduanya saling melengkapi:
Piaget membantu pengajar merencanakan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Melsa Julia -
Nama : Melsa Julia
Npm : 2513032010

Jadi,analisis vidio di atas yang dapat saya ambil adalah
Tahap Tahap Perkembangan Moral Menurut Teori Lawrence Kohlberg

1. Prakonvesional

(Mengikuti aturan untuk menghindari hukuman). Bertindak demi kepentingan diri sendiri. Kepatuhan buta kepada otoritas demi kepentingan diri sendiri. Berkaitan dengan Hubungan sebab-akibat, ganjaran-hukuman, menyenangkan-tidak menyenangkan. Prakonvesional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:

1). Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
Pada tahap pertama seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar, pemahaman moral itu didasarkan pada kesadaran bahwa ketika ia tidak patuh ia akan mendapatkan hukuman yang menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman disini tampak bahwasanya seseorang melakukannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, ia baru sampai pada pemahaman bahwa berbuat baik akan memberi manfaat positif.
2). Orientasi Realitivis Instrumental
Pada tahap kedua seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan. contoh: anak kecil mau disuruh jika diiming imingin hadiah. Maka dari itu seseorang pada tahap ini terlihat sangat baik namun sebenarnya maksut utama dari perbuatannya itu adalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

2. Konvesional

Pada tahap ini seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, (menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain), sadar akan pentingnya loyalitas. Memenuhi tugas dan kewajiban sistem sosial. Menjunjung tinggi hukum. Konvesional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:
1). Tahap Anak Manis
Pada tahap ini seseorang menganut prinsip anak manis dimana seseorang menganut perilaku yang baik yaitu berupa perilaku yang menyenangkan orang lain seperti membantu orang lain dan oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya agar tidak merasa malu dan bersalah.
2). Hukum dan Ketertiban pada tahap ini sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat, memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku. Mematuhi hukum agar ketertiban bisa terjamin, kebanyakan orang dewasa susah berada pada tahap ini. Setiap orang patut tunduk kepada aturan hukum yang mengaturnya.

3. Pascakonvensional

Hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi, penekanan pada prinsip yang muncul dalam batin. Mengikuti prinsip-prinsip universal keadilan dan kebenaran yang telah tertanam dalam diri. Menyeimbangkan kepedulian terhadap diri sendiri dengan kepedulian terhadap sesama dan kebaikan bersama. Pascakonvensional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:
1). Kontrak sosial legalistis
Segi hukum masih diterapkan namun, seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, selalu terbuka kemungkinan untuk memperbarui dan mengaktualkan suatu hukum melalui persetujuan demokratis. Hukum dapat diubah sesuai konteks dan situasi yang ada selama memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum. Oleh karena itu, dapat diselenggarakan kontrak sosial agar mencapai kesepakatan yang baru.
2). Prinsip etika universal
Prinsip ini bersifat universal karena bisa berlaku dimanapun dan kapanpun, dapat dilakukan diberbagai tempat, situasi, dan segala aspek kehidupan manusia. Prinsip hati universal seseorang mulai menyadari didalam hatinya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku yaitu berupa prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan, ketulusan membantu orang lain dan hormat terhadap suatu nilai kehidupan

Perbandingan Teori Piaget dan Kohlberg:

1. Persamaan antara  Teori Piaget dan Kohlberg adalah Kedua teori ini sama-sama menjelaskan perkembangan anak secara bertahap, dimana proses perkembangan anak berlangsung melalui beberapa tahap, tidak terjadi sekaligus. Tetapi, bertahap sesuai usia dan pengalaman anak. Dimana proses perkembangan anak akan semakin kompleks seiring dengan bertambahnya usia dan tahapan perkembangan yang dilaluinya. Selain itu, keduanya sama-sama menekankan pentingnya interaksi sosial dengan lingkungan sekitar sebagai faktor utama dalam proses perkembangan anak.

2. Perbedaan Teori Piaget dan Kohlberg terletak pada bagian Piaget lebih berfokus pada perkembangan kognitif yaitu kemampuan berpikir dan memahami dunia berkembang, sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Sementara itu, Teori Kohlberg lebih berfokus pada perkembangan moral, bagaimana seseorang memahami konsep benar dan salah serta membentuk penalaran moralnya. Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan kognitif, sedangkan Kohlberg mengidentifikasi enam tahap perkembangan moral yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkat. Selain itu, Kohlberg mengembangkan tahap moral yang lebih kompleks, bahkan sampai tahap dewasa, sedangkan Piaget lebih berfokus pada usia anak hingga remaja.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Shinta Diana -

Nama: Shinta Diana

Npm: 2513032004

Kelas; 25A

Tahap – Tahap Perkembangan Moral (Moral Stage) menurut Lawrence Kohlberg

1. PRAKONVESIONAL

-Hubungan sebab-akibat 

-Ganjaran – hukuman

-Menyenangkan – tidak menyenangkan


Level ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu:

-orientasi hukuman dan kepatuhan 

Seseorang menilai baik buruknya perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman. Misalnya, seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya, dan merasa bersalah apabila melanggar perintah orang tuanya. Penalaran moral seperti itu di dasari ketika ia tidak patuh ia akan mendapat hukuman yang menimbulkan rasa sakit,dan perasaan tidak nyaman.

-orientasi relativis instrumental

Seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan. Ia sudah mulai menyadari bahwa orang lain juga punya keinginan dan kepentingan yang sama dengan dirinya.Oleh karna itu, perbuatan baik dapat digunakan sebagai alat instrument untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain. Contohnya, perilaku anak kecil yang baru mau disuruh melakukan sesuatu jika di iming-imingi hadiah yang menarik. Jadi seseorang di tahap ini bisa saja terlihat sangat baik, namun sebenarnya maksut utama dari perbuatan baiknya itu Adalah untuk mendapat keuntungan pribadi.


2. KONVENSIONAL

-Keluar dari egoisme pribadi

-Menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain.

-Sadar akan pentingnya loyalitas


Level ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu:

-Orientasi anak manis

Perilaku yang baik Adalah perilaku yang menyenangkan orang lain,membantu orang lain, dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain.

-Orientasi hukum dan ketertiban

Makna kelompok di perluas…..

Sadar bahwa dirinya Adalah bagian dari Masyarakat


3. PASCAKONVENSIONAL

-Hidup baik Adalah tanggung jawab masing-masing pribadi

-Penekanan pada prinsip yang muncul dalam batin


Level ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu:

-Kontrak sosial legalistis

Selalu terbuka kemungkinan untuk memperbarui dan mengaktualkan suatu hukum melalui persetujuan demokratis.

-Prinsip hati nurani universal

Menjunjung tinggi nilai-nilai martabat kemanusiaan. Seperti, prinsip keadilan, ketulusan dalam membantu orang lain, persamaan hak manusia, dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan. Berlaku dimana pun dan kapan pun.


Perbandingan Teori Kohlberg dan Piaget

1.Teori Kohlberg Fokus pada perkembangan penalaran moral dari anak-anak hingga dewasa, lebih luas cakupannya, sedangkan Piaget Fokus pada perkembangan moral anak-anak dan hubungannya dengan perkembangan kognitif.

2.Teori Kohlberg Mengembangkan teori Piaget menjadi lebih rinci dan mencakup rentang usia yang lebih panjang serta kedalaman moralitas yang lebih kompleks, sedangkan Piaget Menjelaskan dasar awal perkembangan moral, terutama di usia anak.

3.Teori Kohlberg mengembangkan lebih lanjut teori Piaget dengan 3 tingkatan besar perkembangan moral: Pra-konvensional ,Konvensional ,Pasca-konvensional. Setiap tingkatan memiliki 2 tahap, total 6 tahap. Sedangkan Teori Piaget mengembangkan dua tahap utama: Moralitas heteronom,Moralitas Otonom.

4. Keduanya sepakat bahwa moralitas berkembang secara bertahap, tapi kohlberg memberikan struktur yang lebih detail dan luas.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by NILA DWI LANA 2513032070 -

Nama : Nila Dwi Lana 

NPM : 2513032070

Kelas 25C 

Perkembangan Pemikiran Moral Menurut Lawrence Kohlberg: Tiga Tingkat dan Enam Tahap


Cara seseorang dalam memahami dan merespons isu-isu moral merupakan cerminan langsung dari kondisi mental dan tingkat kematangan moral yang mereka miliki. Proses pengembangan moral ini bersifat konstruktif dan terjadi secara bertahap. Secara garis besar, Lawrence Kohlberg membagi perkembangan pemikiran moral menjadi tiga tingkat utama, yang masing-masingnya terdiri dari dua fase, menghasilkan total enam tahapan perkembangan moral.

1. Tingkat Pra-Konvensional : Tingkat ini umumnya terjadi pada anak-anak, di mana penilaian moralitas suatu tindakan didasarkan pada konsekuensi langsung, terutama yang berkaitan dengan hukuman dan keuntungan pribadi. Pada level ini, nilai-nilai moral belum terinternalisasi dalam diri individu.

Tahap 1: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman: Tindakan dianggap benar atau salah semata-mata berdasarkan potensi hukuman yang akan diterima. Moralitas sepenuhnya dipandu oleh otoritas eksternal. Semakin berat sanksi yang mungkin dikenakan, semakin buruk tindakan tersebut dinilai. Individu pada tahap ini cenderung belum mampu memahami perspektif orang lain.

Tahap 2: Orientasi Individualisme dan Pertukaran:

Perilaku yang dianggap benar didefinisikan oleh kepuasan keinginan atau manfaat maksimal bagi diri sendiri. Walaupun sudah ada kesadaran akan sudut pandang orang lain, hubungan antarpribadi diartikan sebagai interaksi timbal balik yang bersifat instrumental (asas quid pro quo atau "kau bantu aku, aku bantu kau").

2. Tingkat Konvensional : Tingkat ini mulai dicapai sejak masa remaja hingga dewasa. Individu mulai mempertimbangkan norma sosial, peran sosial dalam komunitas, dan peraturan yang berlaku. Fokus moralitas beralih kepada standar yang ditetapkan oleh masyarakat, orang tua, atau pemerintah.

Tahap 3: Orientasi Kesepakatan Interpersonal:Penentuan baik atau buruk didasarkan pada penerimaan dan penghargaan dari lingkungan sosial terdekat (keluarga, teman). Tujuannya adalah untuk diakui sebagai "orang baik," mempertahankan hubungan yang harmonis, dan memenuhi ekspektasi kelompok.

Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban:Moralitas ditimbang berdasarkan hukum dan norma yang berlaku di masyarakat. Individu meyakini bahwa hukum dan peraturan harus ditegakkan demi menjaga ketertiban sosial dan stabilitas masyarakat, sehingga ketaatan terhadap hukum dianggap sebagai kewajiban.

3. Tingkat Pasca-Konvensional : Ini merupakan level tertinggi dari pemikiran moral yang hanya dapat dicapai oleh sebagian kecil orang dewasa. Pada tingkat ini, individu mengembangkan prinsip moral abstrak yang bersifat lebih universal dan mungkin tidak selalu selaras dengan hukum positif atau norma sosial. Moralitas berakar pada kode etik pribadi yang telah terserap.

Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Hak Individu: Individu memahami bahwa hukum adalah kontrak sosial yang dapat diubah dan menyadari adanya keragaman nilai serta pandangan. Hukum wajib dihormati selama hukum tersebut melindungi hak dasar dan kesejahteraan mayoritas. Jika suatu hukum dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan, individu memiliki kesadaran untuk mempertanyakan atau berupaya mereformasinya.

Tahap 6: Orientasi Prinsip Etika Universal: Keputusan moral didasarkan pada prinsip etika universal yang abstrak, seperti keadilan, kesetaraan, martabat, dan hak asasi manusia. Individu bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang terinternalisasi ini, bahkan ketika hal tersebut berkonflik dengan hukum dan peraturan yang ada. Sumber utama dari keputusan moral adalah nurani pribadi yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip etika universal.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Dahlia Dahlia -

Nama : Dahlia

Npm : 2513032021


Teori Perkembangan Moral oleh Lawrence Kohlberg

Lawrence Kohlberg, seorang psikolog dari Amerika, merumuskan teori mengenai perkembangan moral yang memiliki dampak besar di bidang psikologi pendidikan serta perkembangan manusia. Ia berpendapat bahwa moralitas tidak muncul secara mendadak, melainkan melalui serangkaian tahapan yang sistematis yang berhubungan erat dengan perkembangan pemikiran atau kognitif individu. Menurutnya, untuk menilai moralitas seseorang, kita tidak hanya melihat tindakan yang dilakukan, tetapi juga cara mereka berpikir dan mengambil keputusan ketika dihadapkan pada masalah etis.


Kohlberg merancang teorinya dengan berdasarkan wawancara yang dilakukan pada individu berbagai usia, menggunakan dilema moral sebagai alat, salah satu yang terkenal adalah Dilema Heinz. Dari penelitian tersebut, ia menemukan bahwa perkembangan penalaran moral terjadi dalam tiga tingkat utama, masing-masing tingkat terdiri dari dua tahap, sehingga total ada enam tahap dalam perkembangan moral.


1. Tingkat Pra-Konvensional

Tingkat ini biasanya terlihat pada anak-anak hingga usia sekitar sembilan tahun. Pada fase ini, perilaku moral masih ditentukan oleh otoritas luar dan fokus pada kepentingan pribadi. Anak-anak menilai baik atau buruk suatu tindakan berdasarkan konsekuensi langsung yang diterima, khususnya berkaitan dengan hukuman atau imbalan.


Tahap 1: Orientasi Kepatuhan dan Hukuman

Individu berperilaku baik karena membenci hukuman. Aturan dianggap tidak dapat dibantah. Pemikirannya sederhana: sesuatu dianggap salah jika menyebabkan hukuman.

Contoh: "Aku tidak akan mencuri karena aku akan dimarahi guru atau orangtua. "


Tahap 2: Orientasi Kepentingan Pribadi

Pada tahap ini, anak-anak mulai menyadari bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan kepentingan masing-masing. Tindakan baik dilakukan jika ada imbalan atau keuntungan yang bisa didapat. Sosialisasi dianggap sebagai pertukaran yang saling menguntungkan.

Contoh: "Aku membantumu mengerjakan PR, tapi kamu harus membantuku nanti. "


2. Tingkat Konvensional

Tingkat ini biasanya muncul saat masa remaja dan berlanjut hingga dewasa. Moralitas individu mulai dipengaruhi oleh norma sosial serta aturan yang ada di masyarakat. Individu ingin diterima oleh orang-orang di sekitarnya dan merasa berkewajiban menjaga ketertiban sosial.


Tahap 3: Orientasi Kesepakatan Interpersonal

Di tahap ini, individu melakukan kebaikan untuk mendapatkan pengakuan dan dianggap baik oleh orang lain. Tujuannya adalah untuk mempertahankan hubungan baik, bukan hanya berfokus pada hasil dari tindakan tersebut.

Contoh: "Aku harus bersikap ramah agar semua orang menyukaiku. "


Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban

Di tingkat ini, individu mengikuti hukum dan aturan demi keteraturan komunitas. Mereka percaya bahwa mematuhi hukum adalah tanggung jawab moral yang utama untuk mencapai keadilan dan menjaga stabilitas sosial.

Contoh: "Mencuri tetap salah karena melanggar hukum dan merusak tatanan masyarakat. "


3. Tingkat Pasca-Konvensional

Tingkat yang terakhir ini menunjukkan pemikiran moral yang lebih matang dan abstrak. Hanya sedikit orang dewasa yang dapat mencapai tingkat ini karena memerlukan kemampuan pemikiran etis dan reflektif yang tinggi. Pada fase ini, individu menilai moralitas berdasarkan prinsip-prinsip universal, bukan hanya mengikuti aturan dari masyarakat.


Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Hak Individu

Individu mulai menyadari bahwa hukum dibuat berdasarkan konsensus sosial dan bisa diubah jika bertentangan dengan keadilan atau hak asasi manusia. Nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan keadilan dianggap lebih penting daripada aturan hukum yang kaku.

Tahap 6: Pemahaman Prinsip Etika Universal

Di tahap ini, tindakan moral didasari oleh prinsip etika yang berlaku secara umum, seperti keadilan, kesetaraan, dan penghormatan kepada martabat manusia. Individu akan tetap setia pada prinsip moralnya meskipun harus melawan hukum atau tekanan dari lingkungan sosial.

Contoh: “Saya akan memperjuangkan kebenaran, meskipun itu berarti menentang aturan yang tidak adil. ”


Kesimpulan

Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral pada manusia adalah sebuah proses yang panjang, yang bergerak dari kepatuhan karena rasa takut akan hukuman menuju pemahaman moral yang berlandaskan prinsip etika universal. Setiap tahap menggambarkan cara berpikir yang semakin canggih dan mendalam mengenai konsepsi benar dan salah.

Teori ini adalah pengembangan dari pendapat Jean Piaget, yang sebelumnya hanya membagi perkembangan moral menjadi dua tahap besar: moralitas heteronom (bergantung pada aturan eksternal) dan moralitas otonom (berdasarkan kesadaran individu). Kohlberg memperluasnya menjadi enam tahap yang lebih terperinci, dengan menekankan pentingnya penalaran moral sebagai dasar dalam pembentukan perilaku etis dalam kehidupan manusia.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Dewi Sartika 2513032016 -

Nama: Dewi Sartika 

NPM: 2513032016

Tahap-tahap Perkembangan Menurut Kohlberg

Terdapat 3 tahapan perkembangan

1. Prakonvensional

Seseorang menilai sesuatu baik dan buruk berdasarkan Faktor-faktor Seperti:

Hubungan Sebab akibat

Ganjaran hukuman

Menyenangkan dan tidak Menyenangkan

Pra-konvensional dibagi menjadi dua tahap yaitu:

1. ) orientasi hukuman dan kepatuhan

 Seseorang menilai baik dan buruknya perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman.

Contoh: Seorang anak merasa benar apabila mematuhi perkataan orang tuanya dan merasa bersalah apabila melanggar perkataan orang tuanya.

Moral seperti ini didasarkan pada kesadaran bahwa jika tidak patuh, dia akan mendapatkan hukuman yang menimbulkan rasa sakit. Maka dari itu dia akan melakukan kebaikan untuk menyelamatkan dirinya. Dia belum Sampai pada pemahaman bahwa berbuat baik akan Menimbulkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.


2.) Orientasi relativis Instrumental

 Seseorang melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan imbalan. Dia mulai menyadari bahwa orang lain punya kepentingan dan keinginan yang sama sehingga perbuatan baik dapat digunakan sebagai alat keuntungan. Contohnya seorang anak baru mau disuruh ketika diiming-imingi hadiah.


2. Konvensional 

Pada fase ini seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertentu atau dengan tertib sosial yang berlaku pada masyarakat. Mulai keluar dari egoisme pribadi dan menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain. Pada level ini dibagi 2 tahap, yaitu:

1.) Orientasi anak manis

Pada orientasi ini perilaku baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain, membantu orang lain dan perilaku yang diharapkan orang lain. Oleh karena itu ia akan berusaha mematuhi norma-norma dalam kelompoknya agar tidak merasa malu dan bersalah.


2.) Hukum dan ketertiban 

Pada fase ini seseorang mulai menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat, dan dia menyadari harus patuh pada hukum yang berlaku.


3. Pasca Konvensional 

Pada tahap ini hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi, atas dasar prinsip-prinsip yang muncul dari batin. Di sini seseorang menyadari bahwa hukum tidak dapat diterima secara mentah-mentah dan hukum bukanlah sesuatu yang harus ditaati secara mutlak, melainkan harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip dari dalam hati.

Fase ini dibagi menjadi dua, yaitu: 

1.) Kontrak sosial legalistis

Pada tahap ini seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia. Orang orang mulai berpikir bahwa hukum dapat diubah dan disesuaikan dengan konteks atau situasi yang ada.

2.) Prinsip hati nurani universal 

Pada fase ini seseorang mulai menyadari dalam hukum terdapat prinsip-prinsip universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai martabat dan kemanusiaan, seperti Keadilan, ketulusan, persamaan dan hormat kepada nilai suatu kehidupan. Prinsip-prinsip tersebut dapat disebut universal karena dapat diterapkan dalam segala situasi kehidupan, berlaku di manapun dan kapanpun. Seseorang pada tahap ini mengatur tingkah laku dan nilai moralnya berdasarkan hati nurani.


Persamaan dan perbedaan teori Piaget dan teori Kohlberg 

Persamaan Teori Piaget dan Kohlberg

Kedua teori ini sama-sama menjelaskan perkembangan anak secara bertahap, di mana proses perkembangan anak melalui beberapa tahapan. Tahapan ini berubah sesuai dengan usia dan pengalaman anak. Dimana semakin tinggi proses perkembangan anak, maka anak tersebut semakin paham bahwa suatu kebaikan, keburukan, dan hukum dapat diatur oleh manusia. Selain itu, keduanya sama-sama menekankan pentingnya interaksi dengan lingkungan sekitar dalam proses perkembangan anak.


Perbedaan Teori Piaget dan Kohlberg

Pada teori Piaget lebih berfokus pada proses perkembangan moral yaitu kemampuan perkembangan kognitif yang dimulai sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Sementara itu, Teori Kohlberg berfokus pada perkembangan moral tentang benar dan salah. Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan kognitif, sedangkan Kohlberg mengemukakan enam tahap perkembangan moral yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkat dari usia anak anak hingga dewasa.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Mutia Husaida -

Nama : Mutia Husaida

Npm : 2513032026


Lawrence Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral yang menjelaskan bagaimana cara berpikir seseorang tentang benar dan salah berkembang seiring bertambahnya usia.

1. Tingkat Pra-Konvensional

Pada tahap ini, moral masih didasarkan pada konsekuensi (hukuman atau hadiah).

Tahap 1: Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Anak taat aturan karena takut dihukum.

Contoh: Anak tidak mencuri karena takut dimarahi atau dihukum.


Tahap 2: Orientasi Relativis Instrumental 

Anak patuh aturan jika ada keuntungan buat dirinya.

Contoh: Anak membantu temannya karena ingin dibalas budi.

2. Tingkat Konvensional

Moral mulai didasarkan pada norma sosial dan harapan orang lain.

Tahap 3: Orientasi “Anak Manis”

Ingin dianggap manis oleh orang lain, patuh karena ingin diterima.

Contoh: Tidak berbohong supaya teman dan guru menyukai.


Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban

Patuh aturan karena itu kewajiban dan menjaga ketertiban masyarakat.

Contoh: Taat lalu lintas karena itu peraturan negara.

3. Tingkat Pascakonvensional

Moral sudah berdasarkan prinsip dan nilai-nilai universal, bukan sekadar aturan.

Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Legalitas

Aturan bisa diubah jika melanggar hak asasi manusia.

Contoh: Menentang hukum yang tidak adil demi keadilan.


Tahap 6: Prinsip Hati Nurani Universal

Keputusan moral berdasarkan hati nurani dan prinsip etika universal.

Contoh: Membela kebenaran meskipun melawan arus atau membahayakan diri.


Perkembangan moral menurut Kohlberg menunjukkan bahwa moralitas seseorang berkembang seiring kematangan berpikirnya.

Awalnya seseorang berbuat baik karena takut dihukum, kemudian karena ingin diterima masyarakat, dan akhirnya karena sadar akan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dengan kata lain, semakin tinggi tahap moral seseorang, semakin mandiri ia dalam menentukan kebenaran berdasarkan nurani dan keadilan, bukan sekadar aturan luar.


Dan perbandingan antara kohlberg dan Piaget yakni: 

Persamaan:

1. Sama-sama meneliti perkembangan moral manusia

Keduanya berfokus pada bagaimana seseorang memahami benar dan salah, serta bagaimana cara berpikir moral itu berkembang seiring usia.

2. Bersifat tahap-tahap (berurutan)

Piaget dan Kohlberg sama-sama percaya bahwa perkembangan moral terjadi secara bertahap, dari tahap yang sederhana menuju tahap yang lebih kompleks dan matang.

3. Berlandaskan pada perkembangan kognitif

Keduanya menganggap bahwa perkembangan moral sangat dipengaruhi oleh kemampuan berpikir (kognitif). Semakin matang cara berpikir seseorang, semakin tinggi juga tingkat penalaran moralnya.

4. Menekankan pentingnya interaksi sosial

Baik Piaget maupun Kohlberg menilai bahwa interaksi dengan orang lain, baik teman, keluarga, maupun masyarakat membantu seseorang memahami nilai, aturan, dan keadilan.


Perbedaan :

1. Cakupan usia dan fokus perkembangan

Piaget hanya meneliti perkembangan moral pada anak-anak, sedangkan Kohlberg memperluasnya hingga remaja dan dewasa.

2. Jumlah tahap perkembangan

Piaget membagi perkembangan moral menjadi empat tahap utama (Motor Activity, Praoperasional, Operasional, dan Kodifikasi Peraturan).

Kohlberg membaginya menjadi enam tahap yang dikelompokkan dalam tiga tingkat (Pra-konvensional, Konvensional, dan Pascakonvensional).

3. Cara anak memahami aturan

Menurut Piaget, anak awalnya melihat aturan sebagai mutlak dan tidak bisa diubah, lalu berkembang menjadi aturan yang bisa disepakati bersama.

Sementara menurut Kohlberg, anak awalnya taat karena takut hukuman atau ingin hadiah, lalu berkembang menjadi taat karena nilai moral dan hati nurani.

4. Pendekatan penelitian

Piaget mendasarkan teorinya pada observasi anak-anak bermain dan melihat bagaimana mereka mematuhi aturan permainan.

Kohlberg menggunakan dilema moral (misalnya “Kasus Heinz”) untuk menilai bagaimana seseorang memberi alasan atas pilihan moralnya.

5. Fokus utama teori

Piaget menekankan pada perubahan cara berpikir anak terhadap aturan dan keadilan sosial.

Kohlberg menekankan pada penalaran moral dan prinsip etika universal seperti keadilan, hak asasi, dan kemanusiaan.

In reply to First post

Re: Analisis Video

by Bunga Nurainni Nasution -
Nama : Bunga Nurainni Nasution
Npm : 2513032001

Teori Lawrence kohlberg
Tahapan-tahapan penalaran moral, menurut Kohlberg kesadaran moral seseorang berkembang dalam tiga level yang pertama prakonvensional, konvensional dan pasca konvensional.
Pertama tingkat pra-konvensional, biasanya terjadi pada anak-anak. Pada tahap ini, moral seseorang masih didasari oleh rasa takut akan hukuman dan keinginan mendapatkan hadiah. Pra konvensional di bagi menjadi 2 yakni :
Tahap 1: Orientasi kepatuhan dan hukuman, seseorang menilai baik dan buruknya berdasarkan rasa takut terhadap hukuman. Contohnya seorang anak merasa benar apabila mematuhi perkataan orang tuanya dan merasa bersalah apabila melanggar perintahnya.
Tahap 2: Orientasi instrumental, seseorang melakukan perbuatan baik pertama-tama mengharapkan imbalan,yang dimana perbuatan baik bisa digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain. Contohnya seorang anak baru mau disuruh melakukan sesuatu ketika diiming-imingi hadiah yang menarik.
 
Kedua tingkat konvensional, biasanya muncul pada masa remaja. Di tahap ini, seseorang mulai mematuhi aturan karena ingin diterima oleh lingkungan serta mulai keluar dari sikap egois dan mementingkan diri sendiri. Konvensional di bagi menjadi 2 tahap, yakni :
Tahap 3: orientasi anak manis, seseorang berbuat baik agar dianggap baik oleh orang lain. Pelaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain, membantu orang lain dan sesuai dengan diharapkan orang lain.
Tahap 4: Orientasi hukum dan ketertiban, makna kelompok diperluas di mana individu mulai sadar bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat,dengan demikian memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku.

Ketiga tingkat pasca-konvensional, muncul ketika seseorang sudah berpikir lebih matang. Ia menilai sesuatu berdasarkan nilai kemanusiaan dan keadilan, bukan sekadar aturan. Pasca konvensional di bagi 2,yakni :
Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistis, seseorang mulai menyadari bahwa sesuatu hukum tertentu, belum tentu dapat diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia. seseorang sadar bahwa hukum bisa diubah jika tidak adil.
Tahap 6: Prinsip hati nurani universal, seseorang berpegang pada nilai moral yang diyakini seperti kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan, meski bertentangan dengan aturan.

Kohlberg dan Piaget punya kesamaan dimana terori  mereka berdua sama sama  mempelajari bagaimana moral seseorang berkembang. Namun, cara mereka melihatnya berbeda. Piaget melakukan penelitiannya pada anak-anak. Ia menemukan ada dua cara berpikir utama tentang moral:
1.Moralitas Aturan Mutlak (Heteronom): tahap pertama perkembangan moral di mana anak memandang aturan sebagai sesuatu yang tetap, tidak dapat diubah, dan dipaksakan oleh figur otoritas
2. Moralitas Mandiri (Otonom):tahap perkembangan moral di mana anak, biasanya sekitar usia 10 tahun ke atas, memahami bahwa aturan memiliki tujuan, dapat diubah melalui kesepakatan bersama, dan penilaian moral didasarkan pada niat dan konteks, bukan hanya pada hukuman atau konsekuensi dari figur otoritas.

Kohlberg mengambil ide Piaget dan mengembangkannya menjadi enam tingkatan yang lebih luas, mencakup perkembangan moral dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Intinya, ia tidak hanya memperhatikan apakah seseorang tahu aturan, tetapi ia lebih fokus pada cara seseorang berpikir dan menimbang saat menghadapi masalah moral yang rumit di kehidupan nyata.

Sederhananya:
Piaget fokus pada hasil tindakan (apakah perbuatan itu benar atau salah berdasarkan aturan).
Kohlberg fokus pada alasan berpikir di balik keputusan moral itu.

Kedua teori ini sangat bermanfaat dalam mengajar moral, yang dimana pada teori Piaget mengajarkan kita bahwa dasar moral anak dibentuk melalui interaksi sosial (bermain dan bergaul). Sementara itu, Kohlberg menunjukkan bahwa moral seseorang bisa terus diasah dan menjadi lebih matang melalui pengalaman hidup dan merenungkan kembali tindakan diri sendiri (refleksi).

Singkatnya, Piaget membangun dasarnya dan Kohlberg memperluasnya menjadi sebuah peta jalan untuk berpikir secara moral yang lebih dewasa. Dengan memahami keduanya, seorang guru bisa mendidik siswa agar mereka tidak hanya menghafal aturan, tetapi juga mengerti alasan kuat di balik mengapa kita harus berbuat baik.
In reply to First post

Re: Analisis Video

by Komang Panji Anggara -
Pada video menjelaskan bahwa perkembangan moral manusia tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui tahapan bertingkat yang berkembang seiring usia, pengalaman sosial, dan kemampuan berpikir seseorang. Lawrence Kohlberg mengembangkan teorinya dari penelitian Jean Piaget, dengan menekankan pada proses penalaran moral, bukan hanya pada hasil atau perilaku. Ia membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkat.

1.Tingkat pra-konvensional
Anak bertindak benar jika tindakan itu menguntungkan dirinya (“aku bantu kamu, nanti kamu bantu aku”). Moralitas diukur berdasarkan timbal balik yang bersifat pribadi. Anak memandang tindakan benar apabila menghindari hukuman. Dalam video, hal ini tergambar ketika seorang anak tidak mau mencuri karena takut dimarahi, bukan karena memahami nilai kejujuran.

2.Tingkat konvensional
Seorang anak bertindak agar dianggap baik oleh orang lain. Dalam video, remaja menuruti aturan sekolah bukan karena sadar moral, tapi karena ingin diterima kelompoknya.

3.Tingkat pascakonvensional
Seseorang menilai hukum secara rasional: aturan dapat diubah bila tidak adil. Misalnya, dalam video tokoh dewasa berani menentang sistem yang menindas karena bertentangan dengan hak manusia.

Jean Piaget: Perkembangan moral anak berdasarkan interaksi sosial dan kognitif.

Lawrence Kohlberg:
Proses penalaran moral yang terus berkembang seiring kedewasaan.

Perkembangan moral tidak hanya bergantung pada usia, tetapi juga pada kemampuan berpikir reflektif dan pengalaman sosial seseorang. Kohlberg memperluas pandangan Piaget dengan menekankan proses penalaran moral yang lebih kompleks, dari ketaatan terhadap otoritas menuju kesadaran etika universa.l