Nama : Mutia Husaida
Npm : 2513032026
Lawrence Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral yang menjelaskan bagaimana cara berpikir seseorang tentang benar dan salah berkembang seiring bertambahnya usia.
1. Tingkat Pra-Konvensional
Pada tahap ini, moral masih didasarkan pada konsekuensi (hukuman atau hadiah).
Tahap 1: Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
Anak taat aturan karena takut dihukum.
Contoh: Anak tidak mencuri karena takut dimarahi atau dihukum.
Tahap 2: Orientasi Relativis Instrumental
Anak patuh aturan jika ada keuntungan buat dirinya.
Contoh: Anak membantu temannya karena ingin dibalas budi.
2. Tingkat Konvensional
Moral mulai didasarkan pada norma sosial dan harapan orang lain.
Tahap 3: Orientasi “Anak Manis”
Ingin dianggap manis oleh orang lain, patuh karena ingin diterima.
Contoh: Tidak berbohong supaya teman dan guru menyukai.
Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban
Patuh aturan karena itu kewajiban dan menjaga ketertiban masyarakat.
Contoh: Taat lalu lintas karena itu peraturan negara.
3. Tingkat Pascakonvensional
Moral sudah berdasarkan prinsip dan nilai-nilai universal, bukan sekadar aturan.
Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial dan Legalitas
Aturan bisa diubah jika melanggar hak asasi manusia.
Contoh: Menentang hukum yang tidak adil demi keadilan.
Tahap 6: Prinsip Hati Nurani Universal
Keputusan moral berdasarkan hati nurani dan prinsip etika universal.
Contoh: Membela kebenaran meskipun melawan arus atau membahayakan diri.
Perkembangan moral menurut Kohlberg menunjukkan bahwa moralitas seseorang berkembang seiring kematangan berpikirnya.
Awalnya seseorang berbuat baik karena takut dihukum, kemudian karena ingin diterima masyarakat, dan akhirnya karena sadar akan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Dengan kata lain, semakin tinggi tahap moral seseorang, semakin mandiri ia dalam menentukan kebenaran berdasarkan nurani dan keadilan, bukan sekadar aturan luar.
Dan perbandingan antara kohlberg dan Piaget yakni:
Persamaan:
1. Sama-sama meneliti perkembangan moral manusia
Keduanya berfokus pada bagaimana seseorang memahami benar dan salah, serta bagaimana cara berpikir moral itu berkembang seiring usia.
2. Bersifat tahap-tahap (berurutan)
Piaget dan Kohlberg sama-sama percaya bahwa perkembangan moral terjadi secara bertahap, dari tahap yang sederhana menuju tahap yang lebih kompleks dan matang.
3. Berlandaskan pada perkembangan kognitif
Keduanya menganggap bahwa perkembangan moral sangat dipengaruhi oleh kemampuan berpikir (kognitif). Semakin matang cara berpikir seseorang, semakin tinggi juga tingkat penalaran moralnya.
4. Menekankan pentingnya interaksi sosial
Baik Piaget maupun Kohlberg menilai bahwa interaksi dengan orang lain, baik teman, keluarga, maupun masyarakat membantu seseorang memahami nilai, aturan, dan keadilan.
Perbedaan :
1. Cakupan usia dan fokus perkembangan
Piaget hanya meneliti perkembangan moral pada anak-anak, sedangkan Kohlberg memperluasnya hingga remaja dan dewasa.
2. Jumlah tahap perkembangan
Piaget membagi perkembangan moral menjadi empat tahap utama (Motor Activity, Praoperasional, Operasional, dan Kodifikasi Peraturan).
Kohlberg membaginya menjadi enam tahap yang dikelompokkan dalam tiga tingkat (Pra-konvensional, Konvensional, dan Pascakonvensional).
3. Cara anak memahami aturan
Menurut Piaget, anak awalnya melihat aturan sebagai mutlak dan tidak bisa diubah, lalu berkembang menjadi aturan yang bisa disepakati bersama.
Sementara menurut Kohlberg, anak awalnya taat karena takut hukuman atau ingin hadiah, lalu berkembang menjadi taat karena nilai moral dan hati nurani.
4. Pendekatan penelitian
Piaget mendasarkan teorinya pada observasi anak-anak bermain dan melihat bagaimana mereka mematuhi aturan permainan.
Kohlberg menggunakan dilema moral (misalnya “Kasus Heinz”) untuk menilai bagaimana seseorang memberi alasan atas pilihan moralnya.
5. Fokus utama teori
Piaget menekankan pada perubahan cara berpikir anak terhadap aturan dan keadilan sosial.
Kohlberg menekankan pada penalaran moral dan prinsip etika universal seperti keadilan, hak asasi, dan kemanusiaan.