Perkembangan ipteks tidak pernah lepas dari sektor ekonomi karena keduanya memiliki hubungan simbiotik yang saling memperkuat. Ekonomi menjadi pendorong utama inovasi teknologi melalui investasi riset dan pengembangan, sementara ipteks menjadi enabler pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi. Sejak Revolusi Industri hingga era digital saat ini, setiap lompatan teknologi dari mesin uap, listrik, komputer, hingga AI selalu dimotivasi oleh kebutuhan ekonomi untuk mengoptimalkan produksi, menekan biaya, dan membuka pasar baru. Schumpeter menyebutnya sebagai "creative destruction" di mana inovasi teknologi menjadi motor penggerak kapitalisme. Negara-negara maju seperti AS, China, dan negara-negara Eropa mengalokasikan dana riset hingga 2-4% dari PDB mereka karena memahami bahwa investasi ipteks adalah kunci daya saing ekonomi global.
Adaptasi manusia dalam modernisasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan. Pentingnya adaptasi terletak pada kenyataan bahwa digitalisasi ekonomi telah mengubah fundamental cara produksi, distribusi, dan konsumsi. World Economic Forum memperkirakan bahwa 65% anak-anak yang masuk sekolah dasar saat ini akan bekerja pada jenis pekerjaan yang belum ada sekarang. Untuk survive, manusia perlu mengembangkan literasi digital, critical thinking, kreativitas, dan kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Upaya konkret meliputi: reskilling dan upskilling melalui platform pembelajaran online, membangun adaptabilitas dan resiliensi mental, mengembangkan soft skills yang tidak tergantikan oleh AI seperti empati dan kolaborasi, serta memanfaatkan teknologi sebagai alat pemberdayaan bukan ancaman.
Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran perlu dirancang dengan pendekatan yang kontekstual, kritis, dan berorientasi masa depan. Pertama, kurikulum IPS harus mengintegrasikan literasi ekonomi digital, termasuk memahami e-commerce, fintech, cryptocurrency, dan sharing economy, bukan hanya teori ekonomi klasik. Kedua, menggunakan pedagogi konstruktivis dengan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) yang mengajak siswa menganalisis kasus nyata seperti dampak platform digital terhadap UMKM lokal atau perubahan pola konsumsi generasi Z. Ketiga, mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui analisis data ekonomi, membandingkan berbagai perspektif tentang globalisasi, dan mengevaluasi kebijakan ekonomi. Keempat, memanfaatkan teknologi pembelajaran seperti simulasi ekonomi digital, virtual field trip ke perusahaan startup, dan project-based learning yang melibatkan siswa membuat model bisnis digital sederhana. Kelima, menanamkan kesadaran tentang perubahan mikro ekonomi (perilaku konsumen digital, gig economy) dan makro ekonomi (perdagangan internasional digital, kebijakan fiskal di era digital). Pembelajaran IPS harus menghasilkan generasi yang tidak hanya memahami kondisi saat ini tetapi mampu mengantisipasi, beradaptasi, dan bahkan menjadi agen perubahan dalam transformasi ekonomi global yang terus berlangsung.
Sumber:
Schumpeter, J.A. (1942). Capitalism, Socialism and Democracy. New York: Harper & Brothers.
World Economic Forum. (2020). The Future of Jobs Report 2020. Geneva: World Economic Forum.
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2021). Persaingan di Era Globalisasi dan Ekonomi Digital. Diakses dari https://www.ristekbrin.go.id/kolom-opini/persaingan-di-era-globalisasi-dan-ekonomi-digital/
OECD. (2019). Measuring the Digital Transformation: A Roadmap for the Future. Paris: OECD Publishing.
Adaptasi manusia dalam modernisasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan. Pentingnya adaptasi terletak pada kenyataan bahwa digitalisasi ekonomi telah mengubah fundamental cara produksi, distribusi, dan konsumsi. World Economic Forum memperkirakan bahwa 65% anak-anak yang masuk sekolah dasar saat ini akan bekerja pada jenis pekerjaan yang belum ada sekarang. Untuk survive, manusia perlu mengembangkan literasi digital, critical thinking, kreativitas, dan kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Upaya konkret meliputi: reskilling dan upskilling melalui platform pembelajaran online, membangun adaptabilitas dan resiliensi mental, mengembangkan soft skills yang tidak tergantikan oleh AI seperti empati dan kolaborasi, serta memanfaatkan teknologi sebagai alat pemberdayaan bukan ancaman.
Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran perlu dirancang dengan pendekatan yang kontekstual, kritis, dan berorientasi masa depan. Pertama, kurikulum IPS harus mengintegrasikan literasi ekonomi digital, termasuk memahami e-commerce, fintech, cryptocurrency, dan sharing economy, bukan hanya teori ekonomi klasik. Kedua, menggunakan pedagogi konstruktivis dengan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) yang mengajak siswa menganalisis kasus nyata seperti dampak platform digital terhadap UMKM lokal atau perubahan pola konsumsi generasi Z. Ketiga, mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui analisis data ekonomi, membandingkan berbagai perspektif tentang globalisasi, dan mengevaluasi kebijakan ekonomi. Keempat, memanfaatkan teknologi pembelajaran seperti simulasi ekonomi digital, virtual field trip ke perusahaan startup, dan project-based learning yang melibatkan siswa membuat model bisnis digital sederhana. Kelima, menanamkan kesadaran tentang perubahan mikro ekonomi (perilaku konsumen digital, gig economy) dan makro ekonomi (perdagangan internasional digital, kebijakan fiskal di era digital). Pembelajaran IPS harus menghasilkan generasi yang tidak hanya memahami kondisi saat ini tetapi mampu mengantisipasi, beradaptasi, dan bahkan menjadi agen perubahan dalam transformasi ekonomi global yang terus berlangsung.
Sumber:
Schumpeter, J.A. (1942). Capitalism, Socialism and Democracy. New York: Harper & Brothers.
World Economic Forum. (2020). The Future of Jobs Report 2020. Geneva: World Economic Forum.
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2021). Persaingan di Era Globalisasi dan Ekonomi Digital. Diakses dari https://www.ristekbrin.go.id/kolom-opini/persaingan-di-era-globalisasi-dan-ekonomi-digital/
OECD. (2019). Measuring the Digital Transformation: A Roadmap for the Future. Paris: OECD Publishing.