Posts made by Ahmad Ridwan Syuhada

PKDIPS2025 -> Diskusi

by Ahmad Ridwan Syuhada -
Perkembangan ipteks tidak pernah lepas dari sektor ekonomi karena keduanya memiliki hubungan simbiotik yang saling memperkuat. Ekonomi menjadi pendorong utama inovasi teknologi melalui investasi riset dan pengembangan, sementara ipteks menjadi enabler pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi. Sejak Revolusi Industri hingga era digital saat ini, setiap lompatan teknologi dari mesin uap, listrik, komputer, hingga AI selalu dimotivasi oleh kebutuhan ekonomi untuk mengoptimalkan produksi, menekan biaya, dan membuka pasar baru. Schumpeter menyebutnya sebagai "creative destruction" di mana inovasi teknologi menjadi motor penggerak kapitalisme. Negara-negara maju seperti AS, China, dan negara-negara Eropa mengalokasikan dana riset hingga 2-4% dari PDB mereka karena memahami bahwa investasi ipteks adalah kunci daya saing ekonomi global.

Adaptasi manusia dalam modernisasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan. Pentingnya adaptasi terletak pada kenyataan bahwa digitalisasi ekonomi telah mengubah fundamental cara produksi, distribusi, dan konsumsi. World Economic Forum memperkirakan bahwa 65% anak-anak yang masuk sekolah dasar saat ini akan bekerja pada jenis pekerjaan yang belum ada sekarang. Untuk survive, manusia perlu mengembangkan literasi digital, critical thinking, kreativitas, dan kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Upaya konkret meliputi: reskilling dan upskilling melalui platform pembelajaran online, membangun adaptabilitas dan resiliensi mental, mengembangkan soft skills yang tidak tergantikan oleh AI seperti empati dan kolaborasi, serta memanfaatkan teknologi sebagai alat pemberdayaan bukan ancaman.

Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran perlu dirancang dengan pendekatan yang kontekstual, kritis, dan berorientasi masa depan. Pertama, kurikulum IPS harus mengintegrasikan literasi ekonomi digital, termasuk memahami e-commerce, fintech, cryptocurrency, dan sharing economy, bukan hanya teori ekonomi klasik. Kedua, menggunakan pedagogi konstruktivis dengan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) yang mengajak siswa menganalisis kasus nyata seperti dampak platform digital terhadap UMKM lokal atau perubahan pola konsumsi generasi Z. Ketiga, mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui analisis data ekonomi, membandingkan berbagai perspektif tentang globalisasi, dan mengevaluasi kebijakan ekonomi. Keempat, memanfaatkan teknologi pembelajaran seperti simulasi ekonomi digital, virtual field trip ke perusahaan startup, dan project-based learning yang melibatkan siswa membuat model bisnis digital sederhana. Kelima, menanamkan kesadaran tentang perubahan mikro ekonomi (perilaku konsumen digital, gig economy) dan makro ekonomi (perdagangan internasional digital, kebijakan fiskal di era digital). Pembelajaran IPS harus menghasilkan generasi yang tidak hanya memahami kondisi saat ini tetapi mampu mengantisipasi, beradaptasi, dan bahkan menjadi agen perubahan dalam transformasi ekonomi global yang terus berlangsung.

Sumber:
Schumpeter, J.A. (1942). Capitalism, Socialism and Democracy. New York: Harper & Brothers.
World Economic Forum. (2020). The Future of Jobs Report 2020. Geneva: World Economic Forum.
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2021). Persaingan di Era Globalisasi dan Ekonomi Digital. Diakses dari https://www.ristekbrin.go.id/kolom-opini/persaingan-di-era-globalisasi-dan-ekonomi-digital/
OECD. (2019). Measuring the Digital Transformation: A Roadmap for the Future. Paris: OECD Publishing.

DMP2025 -> CASE STUDY

by Ahmad Ridwan Syuhada -
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008

1. Ide kreatif Model/pendekatan pembelajaran:
a. Model Project-Based Learning (PjBL)
Dengan model PjBL, siswa diberi tugas proyek yang menuntut mereka aktif mencari, mengolah, dan menyajikan informasi terkait topik globalisasi. Misalnya, siswa dapat membuat proyek penelitian tentang dampak globalisasi di daerah mereka atau membuat presentasi tentang perusahaan multinasional di Indonesia yang memengaruhi berbagai negara. Model ini mengembangkan kreativitas, kemandirian, serta keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Penelitian menunjukkan bahwa PjBL meningkatkan keaktifan belajar dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS.

b.Pendekatan Cooperative Learning
Pendekatan ini menekankan pembelajaran kolaboratif di mana siswa belajar dalam kelompok untuk saling berdiskusi dan menyelesaikan masalah bersama terkait globalisasi. Misalnya, siswa dapat dibagi menjadi kelompok yang membahas aspek-aspek globalisasi seperti ekonomi, budaya, dan teknologi, lalu mempresentasikan hasil diskusinya. Pendekatan ini meningkatkan keterampilan sosial dan kemampuan komunikasi siswa, serta membuat proses pembelajaran lebih interaktif dan menyenangkan.

2. Ide Pembelajaran Inovatif
Ide Pembelajaran: "Eksplorasi Globalisasi Melalui Project Discovery Cooperative"
a. Model dan Pendekatan:
- Menggunakan Project-Based Learning (PjBL) sebagai kerangka utama, yang memungkinkan siswa mengerjakan proyek nyata terkait dampak globalisasi di masyarakat sekitar.
- Dipadukan dengan pendekatan Discovery Learning, di mana siswa secara aktif menemukan konsep dan fenomena globalisasi melalui eksplorasi dan observasi.
- Pendekatan Cooperative Learning digunakan untuk mengorganisasi kerja kelompok agar siswa dapat berdiskusi, saling membantu, dan mengembangkan keterampilan sosial.

b.Metode:
- Mengamati: Siswa diawali dengan mengamati video atau berita terbaru tentang globalisasi dan pengaruhnya.
- Menanya dan Eksplorasi: Siswa membuat pertanyaan dan mencari data serta informasi melalui diskusi, wawancara dengan narasumber, dan studi pustaka sederhana.
- Membuat Proyek: Siswa membuat presentasi, poster, atau video pendek yang merefleksikan hasil eksplorasi mereka.
- Presentasi dan Refleksi: Proyek dipresentasikan dalam kelompok dengan sharing antar kelompok untuk memperluas pemahaman serta melakukan refleksi bersama.

c.Teknik Pembelajaran:
- Ice Breaking sebagai motivasi awal agar suasana kelas lebih hidup dan siap belajar.
- Diskusi kelompok terstruktur untuk pengumpulan dan pengolahan informasi.
- Penggunaan media visual dan teknologi sederhana (misalnya, video dan poster).
- Penilaian autentik melalui penilaian proyek yang menilai kerja sama, kreativitas, dan pemahaman konsep.

Penggabungan ini menumbuhkan keterlibatan aktif siswa, rasa ingin tahu, dan keterampilan berpikir kritis. Sesuai dengan karakteristik IPS yang memerlukan pemahaman kontekstual dan analisis sosial budaya. Membuat pembelajaran lebih bermakna dengan mengaitkan materi dengan fenomena nyata di lingkungan siswa, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan antusiasme belajar.​​

3. Teknik evaluasi dalam rancangan pembelajaran "Eksplorasi Globalisasi Melalui Project Discovery Cooperative" menggunakan penilaian autentik berbasis proyek, yang sangat mendorong keterlibatan dan kreativitas siswa dengan beberapa cara:
a. Penilaian berbasis proyek menuntut siswa untuk aktif memilih topik, mengumpulkan dan menganalisis data, serta menginterpretasikan informasi secara mandiri. Hal ini memacu siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menghasilkan karya yang orisinal dan bermakna bagi mereka.​
b. Penilaian autentik menggunakan rubrik yang jelas sebagai panduan sehingga siswa memahami kriteria keberhasilan, mulai dari aspek kerja sama, kreativitas, pemahaman konsep, hingga kemampuan komunikasi. Keterbukaan kriteria ini memotivasi siswa untuk meningkatkan kualitas kerja mereka secara bertahap.​
c. Penilaian ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir proyek tetapi juga proses pembelajaran siswa, seperti kemampuan berdiskusi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. Dengan demikian, keterlibatan aktif dalam kelompok dan pengembangan keterampilan sosial dan intelektual terus dipupuk.​
d. Penilaian proyek mengaitkan tugas siswa dengan konteks kehidupan nyata, membuat pembelajaran lebih relevan dan bermakna sehingga siswa lebih tertarik dan merasa memiliki kontrol atas pembelajaran mereka. Ini secara natural meningkatkan minat dan partisipasi.

DMP2025 -> Tugas Mandiri Pertemuan 11

by Ahmad Ridwan Syuhada -
Ahmad Ridwan Syuhada
2523031008

Model ADDIE merupakan salah satu desain pembelajaran abad 21 yang sangat relevan dan populer digunakan karena pendekatannya yang sistematis dan fleksibel dalam mengembangkan pembelajaran yang efektif dan menarik. Nama ADDIE sendiri merupakan akronim dari lima tahap utama dalam proses desain pembelajaran, yaitu Analyze (analisis), Design (perancangan), Develop (pengembangan), Implement (implementasi), dan Evaluate (evaluasi). Tahap analisis bertujuan mengidentifikasi kebutuhan belajar, tujuan, karakteristik peserta didik, serta kendala dan sumber daya yang ada. Selanjutnya di tahap desain, perencana pembelajaran menyusun strategi, memilih metode, dan merencanakan media serta bahan ajar secara rinci. Pada tahap pengembangan, semua materi dan media pembelajaran dikembangkan sesuai rencana desain. Tahap implementasi adalah proses pelaksanaan pembelajaran di lapangan sesuai dengan materi dan metode yang telah disiapkan. Terakhir, tahap evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas pembelajaran, baik dari segi hasil belajar peserta maupun proses pembelajaran itu sendiri, sehingga dapat diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut.

Model ADDIE sangat cocok untuk pembelajaran abad 21 karena menekankan penggunaan teknologi dan pengembangan keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Dengan struktur yang jelas pada setiap tahapannya, model ini memungkinkan guru untuk menciptakan pengalaman belajar yang terarah dan adaptif, sekaligus memastikan keberlanjutan peningkatan mutu pembelajaran melalui evaluasi berkelanjutan. Selain itu, fleksibilitas model ADDIE memungkinkan penerapannya dalam berbagai konteks pembelajaran, baik tatap muka, daring, maupun kombinasi keduanya, sehingga sangat mendukung dinamika pendidikan modern yang terus berubah. Dengan demikian, model ADDIE bukan hanya membantu guru dalam merancang pembelajaran yang sistematis tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan inovasi yang sangat dibutuhkan dalam era digital dan globalisasi saat ini

DMP2025 -> Tugas Individu

by Ahmad Ridwan Syuhada -
Ahmad Ridwan Syuhada
2523031008

Pendekatan, strategi, model, metode, dan teknik merupakan komponen yang saling berkaitan dalam proses pembelajaran, namun memiliki makna dan tingkat penerapan yang berbeda. Pendekatan adalah landasan filosofis dan cara pandang guru terhadap pembelajaran, yang menentukan bagaimana siswa dipahami dan bagaimana proses belajar seharusnya dijalankan, misalnya pendekatan konstruktivistik yang menempatkan siswa sebagai peserta aktif dalam membangun pengetahuan. Dari pendekatan tersebut, lahirlah strategi sebagai rencana umum yang mengatur arah dan cara mencapai tujuan pembelajaran secara menyeluruh, misalnya strategi pembelajaran ekspositori atau inkuiri. Model pembelajaran merupakan kerangka operasional yang menggambarkan langkah-langkah sistematis dalam penyelenggaraan pembelajaran, seperti model Problem Based Learning atau Discovery Learning, yang memberikan pola terstruktur kepada guru dan siswa. Selanjutnya, metode adalah cara spesifik yang dipakai untuk mengimplementasikan model dan strategi dalam pembelajaran, seperti ceramah, diskusi, atau demonstrasi, yang membantu mengatur aktivitas belajar secara konkrit. Terakhir, teknik adalah langkah-langkah praktis dan spesifik yang digunakan dalam pelaksanaan metode, yang bisa bervariasi sesuai konteks kelas dan karakter siswa, misalnya teknik diskusi kelompok kecil atau tanya jawab. Dengan demikian, kerangka ini menunjukkan hirarki mulai dari pendekatan yang bersifat filosofis, strategi sebagai rencana umum, model sebagai desain sistematis, metode sebagai cara pelaksanaan, dan teknik sebagai aplikasi praktis yang fleksibel di lapangan.

DMP2025 -> Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by Ahmad Ridwan Syuhada -
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008

Permasalahan ketimpangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan di Indonesia sangat nyata dan menjadi tantangan utama pembangunan pendidikan nasional. Sekolah-sekolah di perkotaan umumnya memiliki fasilitas lebih lengkap, guru yang berkualitas, serta akses teknologi yang memadai, sementara di daerah pedesaan sering kekurangan ruang kelas, sarana belajar, hingga akses listrik dan internet. Selain itu, distribusi guru profesional yang tidak merata menyebabkan banyak sekolah pedesaan kekurangan tenaga pengajar berkualifikasi. Faktor ekonomi keluarga di pedesaan juga memperparah masalah, karena anak-anak terkadang harus membantu orang tua bekerja sehingga angka putus sekolah di pedesaan lebih tinggi daripada di perkotaan. Kondisi ini mengakibatkan ketidakmerataan kesempatan belajar dan kualitas pendidikan yang signifikan di Indonesia (Kompasiana, Abdullah Hakim, 2025)

Desain pembelajaran Kemp sangat cocok dipadukan dengan model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) untuk menangani ketimpangan kualitas pendidikan di daerah pedesaan. Desain Kemp menekankan perencanaan pembelajaran yang komprehensif dan berkelanjutan, yang dimulai dari analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, penetapan tujuan, pemilihan materi dan strategi pembelajaran, hingga evaluasi dan revisi. Fleksibilitas desain Kemp memungkinkan guru menyesuaikan konteks lokal dan karakteristik siswa di daerah pedesaan yang memerlukan perhatian khusus pada analisis kebutuhan dan penggunaan media pembelajaran yang relevan. Siklus revisi dalam desain Kemp memungkinkan penyesuaian berkelanjutan sesuai kondisi lapangan yang dinamis. Model PjBL yang menitikberatkan pada pembelajaran melalui pengerjaan proyek yang kontekstual sangat relevan dengan pendekatan Kemp. PjBL mendorong siswa belajar aktif, mandiri, dan kolaboratif dengan memecahkan masalah nyata yang dekat dengan lingkungan mereka. Hal ini sangat membantu memotivasi siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna serta aplikatif. Proyek-proyek yang berlandaskan budaya dan sumber daya lokal dapat meningkatkan keterlibatan siswa serta mengatasi keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar di daerah terpencil. Penggunaan proyek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari sekaligus memotivasi siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara nyata. Dengan menggabungkan desain Kemp dan model PjBL, proses pembelajaran menjadi terstruktur secara sistemik tetapi tetap dinamis dan kontekstual. Guru dapat mengidentifikasi kebutuhan khusus siswa, merancang proyek yang relevan, serta melakukan evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan. Pendekatan ini dapat mengatasi masalah kualitas pendidikan yang tidak merata dan meningkatkan hasil belajar secara signifikan di daerah pedesaan dan terpencil.