NPM: 2523031006
Fenomena alam dalam satu dasawarsa terakhir menunjukkan perubahan yang semakin ekstrem dan tidak menentu mulai dari peningkatan suhu global, banjir besar, kekeringan panjang, hingga kebakaran hutan yang meluas. Perubahan-perubahan ini tidak hanya merupakan dinamika alam semata, tetapi memiliki korelasi kuat dengan aktivitas manusia. Emisi gas rumah kaca dari industri, transportasi, dan penggunaan energi fosil mempercepat pemanasan global, sementara deforestasi menghilangkan kemampuan alam untuk menyerap karbon dan menjaga stabilitas iklim. Urbanisasi yang tidak terkendali juga mengubah keseimbangan ekosistem lokal sehingga memicu banjir, penurunan kualitas udara, serta meningkatnya suhu perkotaan. Polusi plastik maupun limbah industri memperburuk kondisi ekosistem laut dan daratan sehingga keanekaragaman hayati menurun dengan cepat. Melalui berbagai penelitian iklim terkini, seperti laporan IPCC (2018, 2021) dan kajian keberlanjutan lingkungan oleh Rockström et al. (2018), disimpulkan bahwa lebih dari 70% perubahan fenomena ekstrem dalam dekade terakhir dipicu aktivitas manusia. Artinya, manusia bukan hanya penyebab utama kerusakan, melainkan juga aktor yang memiliki pengaruh paling besar untuk memulihkan dan menjaga eksistensi alam bagi generasi mendatang.
Pengaruh manusia terhadap keberlanjutan alam sangat signifikan karena keputusan hari ini menentukan daya dukung bumi di masa depan. Upaya mengurangi emisi, menghentikan deforestasi, memulihkan ekosistem, mengembangkan energi terbarukan, serta menerapkan gaya hidup berkelanjutan mampu memperlambat laju perubahan iklim. Berbagai studi menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan dapat terjadi dengan cepat jika intervensi manusia dilakukan secara kolektif. Sebagai contoh, rehabilitasi mangrove mampu menurunkan abrasi dan meningkatkan keanekaragaman hayati pesisir, sementara reforestasi mampu memulihkan kualitas tanah dan udara dalam waktu relatif singkat. Ini membuktikan bahwa manusia memiliki ruang kendali yang besar terhadap keberlanjutan alam. Oleh karena itu, menjaga eksistensi alam bukan sekadar tanggung jawab moral, tetapi sebuah keharusan untuk menjamin keberlanjutan hidup generasi mendatang, karena kesehatan bumi saat ini adalah fondasi kehidupan manusia pada masa depan.