Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093
1. Penilaian fair value secara tradisional menggunakan metode seperti market, income, dan cost approach dengan asumsi yang jelas, terdokumentasi, dan mudah diverifikasi sehingga memenuhi prinsip transparansi dalam akuntansi. Sementara itu, sistem AI mengolah data pasar real-time dan menggunakan model prediktif yang sangat cepat dan akurat, tetapi proses kerjanya sulit dijelaskan karena bersifat “black box”. Kondisi ini membuat pendekatan AI lebih relevan secara informasi, namun menimbulkan masalah pada aspek keterandalan dan kejelasan proses penilaian.
2. AI menggeser dasar pengetahuan akuntansi dari model valuasi yang dapat dijelaskan menjadi analisis pola data yang tidak selalu dapat dipahami oleh manusia. Meski nilai yang dihasilkan AI bisa lebih tepat secara prediksi, dasar penalarannya sulit dibuktikan karena mekanisme internal model tidak transparan, sehingga menimbulkan epistemic opacity. Hal ini memicu pertanyaan mengenai keabsahan dan keandalan informasi akuntansi yang dihasilkan, terutama karena IFRS menuntut informasi yang dapat diverifikasi dan bebas bias.
3. Agar penggunaan AI tetap memenuhi IFRS 13, perusahaan perlu meningkatkan keterbukaan model melalui dokumentasi rinci, penerapan explainable AI, serta pencatatan input dan asumsi utama. Output AI juga harus diuji melalui back-testing, perbandingan dengan metode manual, dan audit algoritma untuk memastikan tidak ada bias. Selain itu, perusahaan harus mengungkapkan teknik valuasi AI, sumber data, tingkat fair value, sensitivitas input, dan risiko model dalam laporan keuangan. Dengan cara ini, hasil penilaian AI dapat tetap dianggap akuntabel dan dapat diaudit sesuai standar.
NPM : 2413031093
1. Penilaian fair value secara tradisional menggunakan metode seperti market, income, dan cost approach dengan asumsi yang jelas, terdokumentasi, dan mudah diverifikasi sehingga memenuhi prinsip transparansi dalam akuntansi. Sementara itu, sistem AI mengolah data pasar real-time dan menggunakan model prediktif yang sangat cepat dan akurat, tetapi proses kerjanya sulit dijelaskan karena bersifat “black box”. Kondisi ini membuat pendekatan AI lebih relevan secara informasi, namun menimbulkan masalah pada aspek keterandalan dan kejelasan proses penilaian.
2. AI menggeser dasar pengetahuan akuntansi dari model valuasi yang dapat dijelaskan menjadi analisis pola data yang tidak selalu dapat dipahami oleh manusia. Meski nilai yang dihasilkan AI bisa lebih tepat secara prediksi, dasar penalarannya sulit dibuktikan karena mekanisme internal model tidak transparan, sehingga menimbulkan epistemic opacity. Hal ini memicu pertanyaan mengenai keabsahan dan keandalan informasi akuntansi yang dihasilkan, terutama karena IFRS menuntut informasi yang dapat diverifikasi dan bebas bias.
3. Agar penggunaan AI tetap memenuhi IFRS 13, perusahaan perlu meningkatkan keterbukaan model melalui dokumentasi rinci, penerapan explainable AI, serta pencatatan input dan asumsi utama. Output AI juga harus diuji melalui back-testing, perbandingan dengan metode manual, dan audit algoritma untuk memastikan tidak ada bias. Selain itu, perusahaan harus mengungkapkan teknik valuasi AI, sumber data, tingkat fair value, sensitivitas input, dan risiko model dalam laporan keuangan. Dengan cara ini, hasil penilaian AI dapat tetap dianggap akuntabel dan dapat diaudit sesuai standar.