Kiriman dibuat oleh Resti Gustin

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Resti Gustin -
NAMA : Resti Gustin
NPM : 24130301020

1. Dalam pelaporan aset tetap PT Nusantara Properti, keunggulan fair value memberikan nilai aset yang lebih relevan dan mencerminkan kondisi pasar properti yang sedang berfluktuasi, sehingga membantu investor menilai kondisi keuangan dengan lebih akurat. Namun, kekurangan nilai wajar ini tergantung pada penilai pihak ketiga dan asumsi yang bisa subjektif, yang berpotensi memengaruhi keandalan dan menyebabkan fluktuasi nilai signifikan. Sedangkan historical cost lebih andal dan objektif karena berdasarkan harga perolehan nyata, tetapi kurang relevan jika nilai pasar telah berubah jauh dari biaya perolehan.

2. Dalam konteks Indonesia dan IFRS, fair value dapat meningkatkan relevansi informasi dengan menunjukkan nilai aset terkini, namun harus dilakukan oleh penilai independen menggunakan metodologi yang transparan. Apabila nilai wajar sulit diukur dengan andal, penggunaan historical cost tetap diperbolehkan agar keandalan tidak dikorbankan. Pengungkapan menyeluruh terkait metode penilaian dan asumsi penting sangat diperlukan agar pengguna laporan memahami risiko yang melekat.

3. Sebagai anggota DSAK IAI, saya merekomendasikan penggunaan fair value sebagai metode utama pengukuran aset tetap properti di pasar aktif dengan penilai profesional terakreditasi. Namun, opsi biaya historis harus tetap tersedia untuk kondisi pasar tidak aktif atau nilai wajar tidak dapat diukur andal. Kebijakan ini harus menekankan keseimbangan relevansi dan keandalan, serta mengatur pengungkapan lengkap dan pembatasan pengakuan keuntungan belum terealisasi agar laporan keuangan tetap kredibel dan transparan.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Resti Gustin -
NAMA : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Jurnal “Historical Costs versus Fair Value Measurement in Financial Accounting” membahas dua konsep utama dalam pengukuran aset dan kewajiban dalam akuntansi keuangan, yaitu biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis mengacu pada pencatatan aset berdasarkan harga perolehan awal, sedangkan nilai wajar mencerminkan kondisi ekonomi saat ini dengan menggunakan harga pasar. Jurnal ini mengulas penggunaan standar pelaporan keuangan internasional (IFRS) yang semakin mengadopsi pengukuran nilai wajar, terutama pada tanggal neraca, meskipun pada pengakuan awal aset dan kewajiban biasanya dicatat berdasarkan biaya historis.

Jurnal ini menyoroti beberapa alasan pergeseran menuju nilai wajar, seperti rendahnya potensi informasi dari biaya historis dalam beberapa kasus (misalnya investasi dan instrumen keuangan), kebutuhan untuk mempertahankan modal fisik, serta objektivitas dan keterbandingan pengukuran nilai wajar. Namun, juga dibahas risiko dan masalah penerapan nilai wajar, terutama ketika pasar aktif tidak ada atau selama masa krisis keuangan, yang dapat menyebabkan nilai wajar sulit diestimasi dengan andal.

Pada periode krisis, terjadi kecenderungan untuk menunda atau mengganti penggunaan nilai wajar dengan pengukuran berbasis entitas spesifik karena pasar tidak stabil. Jurnal menyimpulkan bahwa kedua pendekatan biaya historis dan nilai wajar sebaiknya digunakan secara komplementer agar informasi akuntansi tetap relevan dan dapat dipercaya. Nilai wajar lebih cocok untuk instrumen keuangan, sedangkan pengukuran berbasis entitas mungkin lebih tepat untuk aset non keuangan dalam beberapa kasus.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Resti Gustin -
NAMA : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Setelah menonton video tersebut, bisa dipahami bahwa dalam pencatatan aset dan kewajiban perusahaan di neraca ada dua metode utama, yaitu biaya historis (historical cost) dan nilai wajar (fair value). Biaya historis mencatat aset berdasarkan harga perolehan awalnya, sementara nilai wajar mencatat aset berdasarkan harga pasar saat ini. Misalnya, jika sebuah perusahaan membeli gedung kantor 20 tahun yang lalu seharga 5 juta dolar, tapi sekarang nilainya sudah 35 juta dolar karena kenaikan pasar properti, perusahaan bisa memilih mencatatnya pada nilai historis 5 juta atau nilai wajarnya 35 juta. Namun, perusahaan harus konsisten dalam metode yang dipilih dan menerapkannya pada seluruh aset sejenis, tidak boleh berganti metode secara acak. Penentuan nilai wajar sering kali membutuhkan penilaian ahli yang menggunakan transaksi aset sejenis di pasar sebagai referensi. Nilai wajar biasanya digunakan untuk aset seperti properti, merek dagang, kewajiban seperti hutang dan pensiun, meskipun tidak semua kategori aset mengizinkan penggunaan nilai wajar.

Jadi intinya, video menjelaskan perbedaan antara biaya historis dan nilai wajar dalam akuntansi serta bagaimana penggunaannya dalam pencatatan aset di neraca perusahaan.