Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019.
1. Tantangan utama dalam menyelaraskan ekspansi bisnis dengan prinsip keberlanjutan dan pelaporan SDGs
Tantangan utama PT Sumber Hijau adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Ekspansi bisnis ke wilayah hutan tropis berpotensi menimbulkan kerusakan ekosistem dan konflik sosial dengan masyarakat adat. Selain itu, perusahaan menghadapi tekanan dari investor global dan LSM lingkungan untuk memastikan bahwa kegiatan operasional mereka sejalan dengan prinsip ESG dan SDGs, terutama SDG 13 (Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Tantangan lainnya adalah bagaimana menyusun laporan keberlanjutan yang transparan dan kredibel, dengan data yang dapat diverifikasi serta menunjukkan komitmen nyata terhadap praktik bisnis berkelanjutan tanpa menghambat target ekonomi perusahaan.
2. Pendekatan teori akuntansi positif dan normatif dalam memahami pelaporan keberlanjutan
Menurut teori akuntansi positif, perilaku perusahaan dalam pelaporan keberlanjutan dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan tekanan eksternal, seperti harapan investor, regulasi, dan citra publik. Artinya, PT Sumber Hijau akan berusaha melaporkan informasi keberlanjutan jika hal itu menguntungkan reputasi dan akses terhadap modal. Sementara itu, teori akuntansi normatif menekankan bagaimana pelaporan seharusnya dilakukan berdasarkan nilai moral dan tanggung jawab sosial. Dari perspektif ini, pelaporan keberlanjutan PT Sumber Hijau bukan hanya untuk kepentingan bisnis, tetapi juga sebagai bentuk akuntabilitas etis terhadap masyarakat dan lingkungan. Kedua teori ini membantu memahami bahwa keputusan pelaporan ESG bukan hanya teknis, tetapi juga refleksi dari nilai dan strategi perusahaan.
3. Integrasi pelaporan SDGs ke dalam laporan keuangan meskipun PSAK belum mengakomodasi ESG
Walau PSAK belum sepenuhnya mengatur pelaporan ESG, PT Sumber Hijau dapat mengadopsi pendekatan pelaporan terpadu (Integrated Reporting) dari IIRC dan standar GRI (Global Reporting Initiative). Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menggabungkan informasi keuangan dan non-keuangan secara holistik. PT Sumber Hijau dapat menggunakan GRI Standards 2021 untuk mengukur dan melaporkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi, sambil tetap mengikuti PSAK untuk aspek keuangan. Selain itu, perusahaan dapat menautkan setiap indikator GRI dengan target SDGs yang relevan (misalnya GRI 305 untuk emisi gas rumah kaca dikaitkan dengan SDG 13). Dengan demikian, laporan akan lebih komprehensif dan sesuai dengan ekspektasi investor global.
4. Saran dalam penyusunan narasi laporan untuk menjawab ekspektasi stakeholder lokal dan global
Sebagai akuntan, langkah pertama adalah membantu perusahaan menyusun narasi yang transparan, seimbang, dan berbasis bukti. Narasi laporan keberlanjutan sebaiknya menjelaskan dampak positif dan negatif ekspansi secara terbuka, langkah mitigasi yang diambil (seperti reboisasi, perlindungan lahan adat, atau penggunaan energi hijau), serta capaian terhadap SDGs terkait. Untuk stakeholder lokal, laporan harus menonjolkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar, seperti peningkatan lapangan kerja dan program pemberdayaan. Sementara bagi stakeholder global, narasi harus menekankan kepatuhan terhadap standar ESG, kontribusi pada pengurangan emisi karbon, dan tata kelola yang transparan. Dengan pendekatan ini, laporan akan memperkuat kredibilitas dan membangun kepercayaan lintas pihak.