Posts made by Alya Khoirun Nisa

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019.

1. Jurnal 1
Jurnal ini meneliti apakah penerapan XBRL (eXtensible Business Reporting Language) dapat meningkatkan transparansi informasi keuangan di negara berkembang. XBRL adalah format pelaporan digital yang memudahkan analisis, pertukaran, dan aksesibilitas data keuangan antar pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi XBRL secara signifikan meningkatkan keterbukaan, akurasi, dan efisiensi pelaporan keuangan, terutama di pasar yang masih berkembang dan menghadapi tantangan tata kelola. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada dukungan regulasi, kesiapan teknologi, dan literasi digital akuntan serta pengguna laporan keuangan.

Opini:
Artikel ini memberikan kontribusi penting bagi modernisasi pelaporan keuangan di era digital. Menurut saya, penerapan XBRL di Indonesia dan negara berkembang lainnya akan sangat bermanfaat untuk memperkuat transparansi publik dan mengurangi risiko manipulasi data. Namun, penerapannya harus disertai dengan pelatihan sumber daya manusia dan sistem audit digital yang memadai agar manfaatnya maksimal.


2. Jurnal 2
Jurnal ini mengulas berbagai pembatasan (restrictions) dalam kerangka konseptual pelaporan keuangan (Conceptual Framework for Financial Reporting – CFW) yang dikembangkan oleh IASB dan FASB. Studi ini menjelaskan bahwa meskipun kerangka konseptual bertujuan untuk meningkatkan konsistensi dan relevansi laporan keuangan, masih terdapat banyak keterbatasan dalam penerapannya, seperti konservatisme akuntansi, relevansi informasi, dan subjektivitas penilaian. Penulis menekankan perlunya penyempurnaan kerangka ini agar mampu mengakomodasi kebutuhan pengguna laporan di era globalisasi dan digitalisasi.

Opini:
Tulisan ini sangat relevan dalam konteks harmonisasi standar akuntansi global. Menurut saya, pembahasan mengenai keterbatasan CFW menunjukkan bahwa pelaporan keuangan masih memiliki celah interpretasi yang bisa memengaruhi objektivitas laporan. Oleh karena itu, pembaruan konsep dan standar yang lebih adaptif terhadap praktik bisnis modern dan teknologi pelaporan digital seperti XBRL menjadi sangat penting.

Kesimpulannya:
Kedua jurnal tersebut sama-sama menyoroti pentingnya transparansi dan konsistensi dalam pelaporan keuangan global. Jurnal pertama menekankan transformasi digital melalui XBRL, sedangkan jurnal kedua mengulas keterbatasan konseptual dalam sistem pelaporan tradisional. Jika dikaitkan, keduanya menunjukkan arah perkembangan akuntansi modern yang menuntut pelaporan yang lebih terbuka, real-time, dan berbasis teknologi, sekaligus tetap berlandaskan prinsip etis dan konseptual yang kuat.

TA2025 -> CASE STUDY

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019.

1. Tantangan utama dalam menyelaraskan ekspansi bisnis dengan prinsip keberlanjutan dan pelaporan SDGs

Tantangan utama PT Sumber Hijau adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Ekspansi bisnis ke wilayah hutan tropis berpotensi menimbulkan kerusakan ekosistem dan konflik sosial dengan masyarakat adat. Selain itu, perusahaan menghadapi tekanan dari investor global dan LSM lingkungan untuk memastikan bahwa kegiatan operasional mereka sejalan dengan prinsip ESG dan SDGs, terutama SDG 13 (Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Tantangan lainnya adalah bagaimana menyusun laporan keberlanjutan yang transparan dan kredibel, dengan data yang dapat diverifikasi serta menunjukkan komitmen nyata terhadap praktik bisnis berkelanjutan tanpa menghambat target ekonomi perusahaan.

2. Pendekatan teori akuntansi positif dan normatif dalam memahami pelaporan keberlanjutan

Menurut teori akuntansi positif, perilaku perusahaan dalam pelaporan keberlanjutan dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan tekanan eksternal, seperti harapan investor, regulasi, dan citra publik. Artinya, PT Sumber Hijau akan berusaha melaporkan informasi keberlanjutan jika hal itu menguntungkan reputasi dan akses terhadap modal. Sementara itu, teori akuntansi normatif menekankan bagaimana pelaporan seharusnya dilakukan berdasarkan nilai moral dan tanggung jawab sosial. Dari perspektif ini, pelaporan keberlanjutan PT Sumber Hijau bukan hanya untuk kepentingan bisnis, tetapi juga sebagai bentuk akuntabilitas etis terhadap masyarakat dan lingkungan. Kedua teori ini membantu memahami bahwa keputusan pelaporan ESG bukan hanya teknis, tetapi juga refleksi dari nilai dan strategi perusahaan.
3. Integrasi pelaporan SDGs ke dalam laporan keuangan meskipun PSAK belum mengakomodasi ESG

Walau PSAK belum sepenuhnya mengatur pelaporan ESG, PT Sumber Hijau dapat mengadopsi pendekatan pelaporan terpadu (Integrated Reporting) dari IIRC dan standar GRI (Global Reporting Initiative). Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menggabungkan informasi keuangan dan non-keuangan secara holistik. PT Sumber Hijau dapat menggunakan GRI Standards 2021 untuk mengukur dan melaporkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi, sambil tetap mengikuti PSAK untuk aspek keuangan. Selain itu, perusahaan dapat menautkan setiap indikator GRI dengan target SDGs yang relevan (misalnya GRI 305 untuk emisi gas rumah kaca dikaitkan dengan SDG 13). Dengan demikian, laporan akan lebih komprehensif dan sesuai dengan ekspektasi investor global.
4. Saran dalam penyusunan narasi laporan untuk menjawab ekspektasi stakeholder lokal dan global

Sebagai akuntan, langkah pertama adalah membantu perusahaan menyusun narasi yang transparan, seimbang, dan berbasis bukti. Narasi laporan keberlanjutan sebaiknya menjelaskan dampak positif dan negatif ekspansi secara terbuka, langkah mitigasi yang diambil (seperti reboisasi, perlindungan lahan adat, atau penggunaan energi hijau), serta capaian terhadap SDGs terkait. Untuk stakeholder lokal, laporan harus menonjolkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar, seperti peningkatan lapangan kerja dan program pemberdayaan. Sementara bagi stakeholder global, narasi harus menekankan kepatuhan terhadap standar ESG, kontribusi pada pengurangan emisi karbon, dan tata kelola yang transparan. Dengan pendekatan ini, laporan akan memperkuat kredibilitas dan membangun kepercayaan lintas pihak.