Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008
1. Analisis Kritis (AI & Blockchain vs. Akuntansi Tradisional)
Tantangan Teori Tradisional: AI menantang prinsip kehati-hatian (conservatism) dan realisasi dengan mempercepat/menunda pengakuan transaksi. Data immutable blockchain dapat bertentangan dengan kebutuhan penilaian fair value yang fluktuatif (akibat geopolitik/suku bunga).
Digitalisasi: Risiko & Peluang:
Peluang: Data real-time dan immutable meningkatkan keandalan dan efisiensi audit.
Risiko: Potensi manipulasi algoritmik (delay pengakuan beban atau manipulasi estimasi) yang sulit dideteksi karena prosesnya black-box bagi auditor eksternal.
2. Etika dan Transparansi
Risiko Etika AI: Akuntan berisiko kehilangan akuntabilitas dengan menyalahkan keputusan judgement pada algoritma (moral hazard). Jika algoritma AI memiliki bias untuk menghaluskan laba (earnings smoothing), ia akan melegitimasi praktik tidak etis secara otomatis.
Sikap Akuntan Profesional: Harus berpegang pada Integritas dan Objektivitas. Akuntan wajib mendokumentasikan dan mempertahankan judgement algoritmik berdasarkan standar (bukan tekanan investor), serta melaporkan tekanan yang tidak etis kepada Komite Audit.
3. Respon Strategis (Audit & SPK)
Penyesuaian Audit:
Fokus audit beralih dari transaksi sampel ke pengujian desain dan parameter algoritma AI dan validasi model.
Adopsi Continuous Auditing dan melibatkan spesialis data/TI untuk mengaudit logic AI dan blockchain.
Adaptivitas Standar Pelaporan Keuangan (SPK): Belum sepenuhnya adaptif. SPK masih kurang memiliki panduan spesifik tentang judgement yang dihasilkan oleh AI, pengungkapan teknologi inti (blockchain/AI), dan kerangka fair value yang spesifik untuk aset digital. Diperlukan amandemen untuk mengatur tata kelola data akuntansi digital.
NPM : 2413031008
1. Analisis Kritis (AI & Blockchain vs. Akuntansi Tradisional)
Tantangan Teori Tradisional: AI menantang prinsip kehati-hatian (conservatism) dan realisasi dengan mempercepat/menunda pengakuan transaksi. Data immutable blockchain dapat bertentangan dengan kebutuhan penilaian fair value yang fluktuatif (akibat geopolitik/suku bunga).
Digitalisasi: Risiko & Peluang:
Peluang: Data real-time dan immutable meningkatkan keandalan dan efisiensi audit.
Risiko: Potensi manipulasi algoritmik (delay pengakuan beban atau manipulasi estimasi) yang sulit dideteksi karena prosesnya black-box bagi auditor eksternal.
2. Etika dan Transparansi
Risiko Etika AI: Akuntan berisiko kehilangan akuntabilitas dengan menyalahkan keputusan judgement pada algoritma (moral hazard). Jika algoritma AI memiliki bias untuk menghaluskan laba (earnings smoothing), ia akan melegitimasi praktik tidak etis secara otomatis.
Sikap Akuntan Profesional: Harus berpegang pada Integritas dan Objektivitas. Akuntan wajib mendokumentasikan dan mempertahankan judgement algoritmik berdasarkan standar (bukan tekanan investor), serta melaporkan tekanan yang tidak etis kepada Komite Audit.
3. Respon Strategis (Audit & SPK)
Penyesuaian Audit:
Fokus audit beralih dari transaksi sampel ke pengujian desain dan parameter algoritma AI dan validasi model.
Adopsi Continuous Auditing dan melibatkan spesialis data/TI untuk mengaudit logic AI dan blockchain.
Adaptivitas Standar Pelaporan Keuangan (SPK): Belum sepenuhnya adaptif. SPK masih kurang memiliki panduan spesifik tentang judgement yang dihasilkan oleh AI, pengungkapan teknologi inti (blockchain/AI), dan kerangka fair value yang spesifik untuk aset digital. Diperlukan amandemen untuk mengatur tata kelola data akuntansi digital.