གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Tantowi Jauhari

TA2025 -> CASE STUDY 1

Tantowi Jauhari གིས-
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi)
Penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan meningkatkan reliabilitas informasi karena setiap data—seperti jejak karbon, penggunaan energi, atau asal bahan baku—tersimpan dalam ledger terdistribusi yang tidak mudah dimodifikasi, sehingga mengurangi risiko manipulasi atau greenwashing. Dalam teori akuntansi, konsep verifiability dan representational faithfulness semakin kuat karena transaksi atau data lingkungan divalidasi oleh banyak pihak dan memiliki jejak audit yang permanen. Transparansi juga meningkat karena data dapat dilihat secara real-time dan dapat ditelusuri (traceable) sehingga pemangku kepentingan lebih percaya bahwa laporan mengikuti prinsip GRI yang menekankan akurasi, kelengkapan, dan keterbandingan informasi.

2. Tantangan Regulasi Indonesia dan Global
PT Hijau Lestari dapat menghadapi tantangan dari sisi regulasi karena penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan masih relatif baru dan belum sepenuhnya diatur secara spesifik oleh OJK maupun standar GRI, sehingga terdapat risiko ketidakpastian hukum dan kesulitan penyesuaian terhadap pedoman audit lingkungan. Selain itu, peraturan perlindungan data di Indonesia (UU PDP) dapat membatasi jenis data yang boleh disimpan dalam blockchain, terutama jika melibatkan data sensitif atau lintas negara. Secara global, tantangan muncul pada harmonisasi standar, interoperabilitas teknologi, serta penerimaan auditor dan regulator yang mungkin masih meragukan validitas data berbasis blockchain jika tidak disertai mekanisme verifikasi independen.

3. Rekomendasi Strategi Implementasi
PT Hijau Lestari dapat mengadopsi pendekatan bertahap dengan melakukan pilot project pada satu jenis data keberlanjutan (misalnya jejak karbon) untuk menguji kelayakan sistem blockchain sebelum diperluas ke seluruh rantai pasok. Berdasarkan teori akuntansi, perusahaan perlu memastikan bahwa sistem yang diterapkan memenuhi karakteristik kualitatif laporan seperti relevance, faithful representation, dan comparability dengan mengintegrasikan smart contract untuk otomatisasi pencatatan data yang terukur. PT Hijau Lestari juga sebaiknya bekerja sama dengan auditor independen, konsultan GRI, serta regulator (seperti OJK dan KLHK) untuk memastikan kesesuaian praktik dengan standar nasional dan internasional. Selain itu, meningkatkan literasi teknologi internal dan menyediakan mekanisme off-chain verification menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas data dan penerimaan pemangku kepentingan.

TA2025 -> CASE STUDY

Tantowi Jauhari གིས-
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Analisis Kritis (AI & Blockchain vs. Akuntansi Tradisional)
Tantangan Teori Tradisional: AI menantang prinsip kehati-hatian (conservatism) dan realisasi dengan mempercepat/menunda pengakuan transaksi. Data immutable blockchain dapat bertentangan dengan kebutuhan penilaian fair value yang fluktuatif (akibat geopolitik/suku bunga).

Digitalisasi: Risiko & Peluang:
Peluang: Data real-time dan immutable meningkatkan keandalan dan efisiensi audit.
Risiko: Potensi manipulasi algoritmik (delay pengakuan beban atau manipulasi estimasi) yang sulit dideteksi karena prosesnya black-box bagi auditor eksternal.

2. Etika dan Transparansi
Risiko Etika AI: Akuntan berisiko kehilangan akuntabilitas dengan menyalahkan keputusan judgement pada algoritma (moral hazard). Jika algoritma AI memiliki bias untuk menghaluskan laba (earnings smoothing), ia akan melegitimasi praktik tidak etis secara otomatis.

Sikap Akuntan Profesional: Harus berpegang pada Integritas dan Objektivitas. Akuntan wajib mendokumentasikan dan mempertahankan judgement algoritmik berdasarkan standar (bukan tekanan investor), serta melaporkan tekanan yang tidak etis kepada Komite Audit.

3. Respon Strategis (Audit & SPK)
Penyesuaian Audit:
Fokus audit beralih dari transaksi sampel ke pengujian desain dan parameter algoritma AI dan validasi model.
Adopsi Continuous Auditing dan melibatkan spesialis data/TI untuk mengaudit logic AI dan blockchain.

Adaptivitas Standar Pelaporan Keuangan (SPK): Belum sepenuhnya adaptif. SPK masih kurang memiliki panduan spesifik tentang judgement yang dihasilkan oleh AI, pengungkapan teknologi inti (blockchain/AI), dan kerangka fair value yang spesifik untuk aset digital. Diperlukan amandemen untuk mengatur tata kelola data akuntansi digital.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

Tantowi Jauhari གིས-
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Resume Jurnal 1 – “Does XBRL Adoption Increase Financial Information Transparency?”

(Jordan, 2024)
Jurnal ini meneliti dampak adopsi XBRL terhadap transparansi informasi keuangan perusahaan keuangan di Yordania. Dengan menggunakan survei terhadap 124 manajer, auditor, dan akuntan, penelitian ini menemukan bahwa XBRL secara signifikan meningkatkan transparansi, kualitas, serta keterandalan laporan keuangan. XBRL membantu mengurangi kesenjangan informasi (information asymmetry), mempercepat proses pelaporan, meningkatkan komparabilitas laporan, serta memudahkan analisis oleh pemangku kepentingan. Hasilnya mendukung bahwa digitalisasi pelaporan—melalui tagging data dan standarisasi—sejalan dengan peningkatan efisiensi dan kualitas pengungkapan.

2. Resume Jurnal 2 – “Digitalization of Financial Reporting Through XBRL and the Cost of Equity”

(Indonesia, 2022)
Jurnal ini mengkaji hubungan adopsi XBRL dan cost of equity pada 59 perusahaan BEI, dibandingkan antara masa pra-adopsi (2014–2015) dan pasca-adopsi (2016–2017). Temuan menunjukkan bahwa XBRL menurunkan cost of equity, terutama pada perusahaan berukuran besar. Hal ini terjadi karena XBRL meningkatkan kualitas dan keterbandingan laporan keuangan, sehingga mengurangi risiko informasi dan meningkatkan kepercayaan investor. Namun penelitian juga mencatat bahwa fase awal adopsi XBRL sering menimbulkan error, sehingga manfaat tidak langsung dirasakan secara instan.

Opini saya :
Kedua jurnal memberikan gambaran menarik bahwa XBRL bukan sekadar teknologi pelaporan, tetapi merupakan alat strategis untuk memperkuat kualitas informasi keuangan dan menurunkan risiko pasar. Meski konteks kedua negara berbeda—Yordania menekankan transparansi, Indonesia menyoroti dampaknya terhadap biaya modal—kedua penelitian sepakat bahwa XBRL membawa peningkatan signifikan dalam kualitas pelaporan. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa digitalisasi pelaporan adalah kebutuhan global yang tidak bisa dihindari. Namun, implementasinya harus memperhatikan kesiapan teknologi, pelatihan SDM, dan kualitas taksonomi agar manfaatnya optimal. Dengan perencanaan yang tepat, XBRL dapat menjadi fondasi untuk pelaporan yang lebih kredibel, tepat waktu, dan berorientasi masa depan.