Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008
1. Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi)
Penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan meningkatkan reliabilitas informasi karena setiap data—seperti jejak karbon, penggunaan energi, atau asal bahan baku—tersimpan dalam ledger terdistribusi yang tidak mudah dimodifikasi, sehingga mengurangi risiko manipulasi atau greenwashing. Dalam teori akuntansi, konsep verifiability dan representational faithfulness semakin kuat karena transaksi atau data lingkungan divalidasi oleh banyak pihak dan memiliki jejak audit yang permanen. Transparansi juga meningkat karena data dapat dilihat secara real-time dan dapat ditelusuri (traceable) sehingga pemangku kepentingan lebih percaya bahwa laporan mengikuti prinsip GRI yang menekankan akurasi, kelengkapan, dan keterbandingan informasi.
2. Tantangan Regulasi Indonesia dan Global
PT Hijau Lestari dapat menghadapi tantangan dari sisi regulasi karena penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan masih relatif baru dan belum sepenuhnya diatur secara spesifik oleh OJK maupun standar GRI, sehingga terdapat risiko ketidakpastian hukum dan kesulitan penyesuaian terhadap pedoman audit lingkungan. Selain itu, peraturan perlindungan data di Indonesia (UU PDP) dapat membatasi jenis data yang boleh disimpan dalam blockchain, terutama jika melibatkan data sensitif atau lintas negara. Secara global, tantangan muncul pada harmonisasi standar, interoperabilitas teknologi, serta penerimaan auditor dan regulator yang mungkin masih meragukan validitas data berbasis blockchain jika tidak disertai mekanisme verifikasi independen.
3. Rekomendasi Strategi Implementasi
PT Hijau Lestari dapat mengadopsi pendekatan bertahap dengan melakukan pilot project pada satu jenis data keberlanjutan (misalnya jejak karbon) untuk menguji kelayakan sistem blockchain sebelum diperluas ke seluruh rantai pasok. Berdasarkan teori akuntansi, perusahaan perlu memastikan bahwa sistem yang diterapkan memenuhi karakteristik kualitatif laporan seperti relevance, faithful representation, dan comparability dengan mengintegrasikan smart contract untuk otomatisasi pencatatan data yang terukur. PT Hijau Lestari juga sebaiknya bekerja sama dengan auditor independen, konsultan GRI, serta regulator (seperti OJK dan KLHK) untuk memastikan kesesuaian praktik dengan standar nasional dan internasional. Selain itu, meningkatkan literasi teknologi internal dan menyediakan mekanisme off-chain verification menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas data dan penerimaan pemangku kepentingan.
NPM : 2413031008
1. Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi)
Penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan meningkatkan reliabilitas informasi karena setiap data—seperti jejak karbon, penggunaan energi, atau asal bahan baku—tersimpan dalam ledger terdistribusi yang tidak mudah dimodifikasi, sehingga mengurangi risiko manipulasi atau greenwashing. Dalam teori akuntansi, konsep verifiability dan representational faithfulness semakin kuat karena transaksi atau data lingkungan divalidasi oleh banyak pihak dan memiliki jejak audit yang permanen. Transparansi juga meningkat karena data dapat dilihat secara real-time dan dapat ditelusuri (traceable) sehingga pemangku kepentingan lebih percaya bahwa laporan mengikuti prinsip GRI yang menekankan akurasi, kelengkapan, dan keterbandingan informasi.
2. Tantangan Regulasi Indonesia dan Global
PT Hijau Lestari dapat menghadapi tantangan dari sisi regulasi karena penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan masih relatif baru dan belum sepenuhnya diatur secara spesifik oleh OJK maupun standar GRI, sehingga terdapat risiko ketidakpastian hukum dan kesulitan penyesuaian terhadap pedoman audit lingkungan. Selain itu, peraturan perlindungan data di Indonesia (UU PDP) dapat membatasi jenis data yang boleh disimpan dalam blockchain, terutama jika melibatkan data sensitif atau lintas negara. Secara global, tantangan muncul pada harmonisasi standar, interoperabilitas teknologi, serta penerimaan auditor dan regulator yang mungkin masih meragukan validitas data berbasis blockchain jika tidak disertai mekanisme verifikasi independen.
3. Rekomendasi Strategi Implementasi
PT Hijau Lestari dapat mengadopsi pendekatan bertahap dengan melakukan pilot project pada satu jenis data keberlanjutan (misalnya jejak karbon) untuk menguji kelayakan sistem blockchain sebelum diperluas ke seluruh rantai pasok. Berdasarkan teori akuntansi, perusahaan perlu memastikan bahwa sistem yang diterapkan memenuhi karakteristik kualitatif laporan seperti relevance, faithful representation, dan comparability dengan mengintegrasikan smart contract untuk otomatisasi pencatatan data yang terukur. PT Hijau Lestari juga sebaiknya bekerja sama dengan auditor independen, konsultan GRI, serta regulator (seperti OJK dan KLHK) untuk memastikan kesesuaian praktik dengan standar nasional dan internasional. Selain itu, meningkatkan literasi teknologi internal dan menyediakan mekanisme off-chain verification menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas data dan penerimaan pemangku kepentingan.