གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Tantowi Jauhari

TA2025 -> CASE STUDY

Tantowi Jauhari གིས-
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Analisis Kritis (AI & Blockchain vs. Akuntansi Tradisional)
Tantangan Teori Tradisional: AI menantang prinsip kehati-hatian (conservatism) dan realisasi dengan mempercepat/menunda pengakuan transaksi. Data immutable blockchain dapat bertentangan dengan kebutuhan penilaian fair value yang fluktuatif (akibat geopolitik/suku bunga).

Digitalisasi: Risiko & Peluang:
Peluang: Data real-time dan immutable meningkatkan keandalan dan efisiensi audit.
Risiko: Potensi manipulasi algoritmik (delay pengakuan beban atau manipulasi estimasi) yang sulit dideteksi karena prosesnya black-box bagi auditor eksternal.

2. Etika dan Transparansi
Risiko Etika AI: Akuntan berisiko kehilangan akuntabilitas dengan menyalahkan keputusan judgement pada algoritma (moral hazard). Jika algoritma AI memiliki bias untuk menghaluskan laba (earnings smoothing), ia akan melegitimasi praktik tidak etis secara otomatis.

Sikap Akuntan Profesional: Harus berpegang pada Integritas dan Objektivitas. Akuntan wajib mendokumentasikan dan mempertahankan judgement algoritmik berdasarkan standar (bukan tekanan investor), serta melaporkan tekanan yang tidak etis kepada Komite Audit.

3. Respon Strategis (Audit & SPK)
Penyesuaian Audit:
Fokus audit beralih dari transaksi sampel ke pengujian desain dan parameter algoritma AI dan validasi model.
Adopsi Continuous Auditing dan melibatkan spesialis data/TI untuk mengaudit logic AI dan blockchain.

Adaptivitas Standar Pelaporan Keuangan (SPK): Belum sepenuhnya adaptif. SPK masih kurang memiliki panduan spesifik tentang judgement yang dihasilkan oleh AI, pengungkapan teknologi inti (blockchain/AI), dan kerangka fair value yang spesifik untuk aset digital. Diperlukan amandemen untuk mengatur tata kelola data akuntansi digital.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

Tantowi Jauhari གིས-
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Resume Jurnal 1 – “Does XBRL Adoption Increase Financial Information Transparency?”

(Jordan, 2024)
Jurnal ini meneliti dampak adopsi XBRL terhadap transparansi informasi keuangan perusahaan keuangan di Yordania. Dengan menggunakan survei terhadap 124 manajer, auditor, dan akuntan, penelitian ini menemukan bahwa XBRL secara signifikan meningkatkan transparansi, kualitas, serta keterandalan laporan keuangan. XBRL membantu mengurangi kesenjangan informasi (information asymmetry), mempercepat proses pelaporan, meningkatkan komparabilitas laporan, serta memudahkan analisis oleh pemangku kepentingan. Hasilnya mendukung bahwa digitalisasi pelaporan—melalui tagging data dan standarisasi—sejalan dengan peningkatan efisiensi dan kualitas pengungkapan.

2. Resume Jurnal 2 – “Digitalization of Financial Reporting Through XBRL and the Cost of Equity”

(Indonesia, 2022)
Jurnal ini mengkaji hubungan adopsi XBRL dan cost of equity pada 59 perusahaan BEI, dibandingkan antara masa pra-adopsi (2014–2015) dan pasca-adopsi (2016–2017). Temuan menunjukkan bahwa XBRL menurunkan cost of equity, terutama pada perusahaan berukuran besar. Hal ini terjadi karena XBRL meningkatkan kualitas dan keterbandingan laporan keuangan, sehingga mengurangi risiko informasi dan meningkatkan kepercayaan investor. Namun penelitian juga mencatat bahwa fase awal adopsi XBRL sering menimbulkan error, sehingga manfaat tidak langsung dirasakan secara instan.

Opini saya :
Kedua jurnal memberikan gambaran menarik bahwa XBRL bukan sekadar teknologi pelaporan, tetapi merupakan alat strategis untuk memperkuat kualitas informasi keuangan dan menurunkan risiko pasar. Meski konteks kedua negara berbeda—Yordania menekankan transparansi, Indonesia menyoroti dampaknya terhadap biaya modal—kedua penelitian sepakat bahwa XBRL membawa peningkatan signifikan dalam kualitas pelaporan. Menurut saya, ini menunjukkan bahwa digitalisasi pelaporan adalah kebutuhan global yang tidak bisa dihindari. Namun, implementasinya harus memperhatikan kesiapan teknologi, pelatihan SDM, dan kualitas taksonomi agar manfaatnya optimal. Dengan perencanaan yang tepat, XBRL dapat menjadi fondasi untuk pelaporan yang lebih kredibel, tepat waktu, dan berorientasi masa depan.

TA2025 -> CASE STUDY

Tantowi Jauhari གིས-
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Analisis praktik manajemen laba pada PT Karya Sentosa
Kasus PT Karya Sentosa menunjukkan beberapa indikator kuat terjadinya manajemen laba berbasis akrual. Peningkatan kredit usaha (piutang) yang signifikan dapat mengindikasikan percepatan pengakuan pendapatan, sementara penurunan cadangan kerugian piutang menunjukkan upaya memperkecil beban sehingga laba terlihat lebih tinggi. Selain itu, kenaikan pendapatan yang tidak diikuti oleh peningkatan arus kas operasi merupakan tanda klasik dari manajemen laba akrual, karena laba tercatat naik tetapi tidak ditopang oleh kas riil. Kombinasi ketiga sinyal ini sejalan dengan literatur yang menegaskan bahwa manipulasi akrual dilakukan melalui kebijakan estimasi, penentuan cadangan, dan timing pengakuan pendapatan, sehingga memperkuat dugaan bahwa laba PT Karya Sentosa kemungkinan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya.

2. Perbandingan dua jurnal ilmiah terkini tentang manajemen laba
Jurnal pertama misalnya oleh Waweru & Prot (2021) menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model akrual Jones termodifikasi untuk mengukur tingkat manajemen laba pada perusahaan di negara berkembang, dan menemukan bahwa tekanan kinerja serta leverage tinggi meningkatkan kecenderungan manipulasi laba. Sementara itu, jurnal kedua oleh Rahman & Hutabarat (2020) menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif dengan menilai praktik manajemen laba dari sudut tata kelola perusahaan, dan menyimpulkan bahwa efektivitas komite audit serta independensi dewan dapat menekan praktik akrual manipulatif. Perbedaan keduanya terletak pada fokus: jurnal pertama menekankan faktor keuangan sebagai pendorong, sedangkan jurnal kedua menekankan mekanisme tata kelola. Metodologinya juga berbeda, di mana satu murni berbasis data statistik, sementara lainnya menambahkan analisis wawancara untuk memperkaya interpretasi.

3. Evaluasi kritis: apakah manajemen laba selalu negatif?
Praktik manajemen laba tidak selalu bersifat negatif, meskipun sering dipersepsikan demikian. Dari perspektif oportunistik, manajemen laba merugikan pemangku kepentingan karena menyesatkan pengambil keputusan dan menyebabkan laporan keuangan kehilangan relevansi. Namun, dari perspektif signaling, manajemen laba dapat digunakan untuk menyampaikan informasi internal yang tidak bisa diungkapkan secara eksplisit, misalnya menjaga stabilitas laba agar mencerminkan prospek jangka panjang perusahaan. Sejumlah penelitian (misalnya Ronen & Yaari, 2008) menunjukkan bahwa earnings management dapat bersifat efisien jika dilakukan dalam batas wajar dan bertujuan meningkatkan relevansi informasi. Oleh karena itu, sifat negatif atau positifnya tergantung pada motivasi, intensitas, serta dampaknya terhadap pengguna laporan keuangan.

4. Kesimpulan dan rekomendasi untuk pemangku kepentingan
Indikasi manajemen laba pada PT Karya Sentosa perlu mendapat perhatian serius karena dapat memengaruhi kepercayaan investor dan kredibilitas laporan keuangan. Pemangku kepentingan disarankan untuk meminta perusahaan melakukan pengungkapan lebih transparan terkait estimasi akuntansi, memperkuat fungsi audit internal, serta meningkatkan efektivitas komite audit untuk mengawasi kebijakan akrual. Investor dan kreditur juga perlu melakukan analisis arus kas yang lebih mendalam dan tidak hanya bergantung pada laba bersih. Secara keseluruhan, tindakan preventif dan tata kelola yang kuat sangat diperlukan agar kualitas pelaporan keuangan terjaga dan risiko manipulasi dapat diminimalkan.