Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008
1. Perbandingan
penilaian fair value tradisional vs berbasis AI (perspektif teori akuntansi)
Pendekatan tradisional
penilaian fair value mengandalkan metode seperti market approach, income approach, atau cost approach yang dilakukan oleh penilai profesional dengan asumsi, pertimbangan, dan dokumentasi yang dapat diaudit sehingga konsisten dengan prinsip faithful representation dalam teori akuntansi. Sebaliknya, pendekatan berbasis AI menggunakan algoritma dan data besar (big data) untuk menghasilkan estimasi nilai wajar secara otomatis, sehingga meningkatkan timeliness dan potensi akurasi berbasis pola pasar real-time, namun menimbulkan tantangan karena proses pengambilan keputusannya tidak selalu dapat dijelaskan, sehingga mengurangi aspek verifiability dan understandability dalam karakteristik kualitatif laporan keuangan. Dengan demikian, secara teori akuntansi pendekatan tradisional unggul dalam transparency & auditability, sementara AI unggul dalam relevance & predictive value, tetapi berisiko tidak memenuhi elemen-elemen representasi setia jika model tidak dapat dijelaskan secara memadai.
2. Implikasi epistemologis penggunaan AI dalam penentuan fair value
Dari sudut epistemologi akuntansi, penggunaan AI menggeser sumber pengetahuan dari profesional manusia menuju sistem algoritmik yang bergantung pada data, sehingga pengetahuan akuntansi tidak lagi lahir dari expert judgement tetapi dari pola statistik yang belum tentu dapat dipahami secara konseptual. Validitas pengetahuan akuntansi menjadi problematis karena hasil AI bersifat correlation-based, bukan causation-based, sehingga pengguna laporan tidak dapat menilai ketepatan dasar asumsi yang digunakan mesin dalam menentukan nilai wajar. Selain itu, black box issue melemahkan klaim bahwa fair value tersebut adalah “pengetahuan akuntansi yang terpercaya” karena proses epistemiknya tidak dapat diverifikasi oleh auditor, sehingga mengancam prinsip objectivity dan faithful representation. Akibatnya, epistemologi akuntansi menghadapi tantangan baru: apakah nilai wajar yang tidak dapat dijelaskan secara manusiawi tetap dapat dianggap sebagai pengetahuan yang sah.
3. Strategi akuntabilitas dan pelaporan agar sesuai IFRS 13
PT Cerdas Digital perlu menerapkan strategi explainable AI (XAI) untuk memastikan bahwa algoritma
penilaian dapat dijelaskan, termasuk dokumentasi model, variabel utama, sumber data, serta
penilaian risiko bias sehingga auditor dapat melakukan model audit. Selain itu, perusahaan harus menyediakan disclosure tambahan sesuai IFRS 13, seperti teknik valuasi, level hirarki fair value (Level 1–3), sensitivitas asumsi, serta batasan reliabilitas model AI untuk memperkuat transparansi. Perusahaan juga dapat menerapkan human oversight, yaitu kombinasi AI dan profesional penilai untuk melakukan reasonableness check agar estimasi tetap dapat dipertanggungjawabkan secara normatif. Terakhir, governance teknologi perlu diperkuat melalui komite audit, kebijakan manajemen model (model validation framework), dan audit independen algoritma untuk memastikan proses AI memenuhi prinsip verifiability, faithful representation, dan neutrality sesuai standar IFRS 13.