NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031
1. Tantangan utama yang dihadapi PT Sumber Hijau adalah menyeimbangkan antara tujuan ekspansi ekonomi dengan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. Perusahaan harus menghadapi tekanan dari berbagai pihak investor global yang menuntut penerapan prinsip ESG, LSM yang menyoroti dampak deforestasi, serta masyarakat adat yang khawatir kehilangan hak atas lahan. Selain itu, perusahaan perlu menyesuaikan sistem pelaporannya agar selaras dengan standar GRI dan SDGs (khususnya SDG 13, 15, dan 8), sementara kerangka PSAK yang digunakan masih berfokus pada informasi keuangan tradisional. Integrasi data lingkungan, sosial, dan ekonomi ke dalam laporan keuangan menjadi tantangan teknis sekaligus etis yang menuntut transparansi, akuntabilitas, dan inovasi dalam praktik pelaporan.
2. Dalam konteks PT Sumber Hijau, teori akuntansi positif dapat digunakan untuk menjelaskan 'mengapa' manajemen memilih melaporkan isu keberlanjutan, misalnya sebagai respons terhadap tekanan dari investor global, regulasi, atau untuk menjaga legitimasi sosial dan citra perusahaan. Pendekatan ini melihat pelaporan keberlanjutan sebagai perilaku strategis yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik perusahaan. Sementara itu, teori akuntansi normatif berfokus pada 'bagaimana seharusnya' pelaporan dilakukan, menekankan prinsip etika, transparansi, dan tanggung jawab sosial sesuai dengan standar seperti GRI dan tujuan SDGs. Dengan demikian, teori positif menjelaskan motivasi praktis di balik pelaporan, sedangkan teori normatif memberikan dasar moral dan konseptual bagi praktik pelaporan keberlanjutan yang ideal.
3. PT Sumber Hijau dapat mengintegrasikan pelaporan SDGs ke dalam laporan keuangannya melalui pendekatan pelaporan terintegrasi (Integrated Reporting/IR) yang menggabungkan informasi keuangan dan non-keuangan secara menyeluruh. Meskipun PSAK belum sepenuhnya mengatur ESG, perusahaan dapat menggunakan standar GRI untuk mengungkap dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang relevan dengan SDG 13, 15, dan 8, serta mengacu pada kerangka ISSB atau SASB untuk indikator kuantitatif yang dapat dihubungkan dengan kinerja keuangan. Dalam penerapannya, perusahaan dapat menambahkan bagian khusus dalam laporan tahunan yang memetakan kontribusi bisnis terhadap SDGs, menjelaskan kebijakan, target, dan hasil keberlanjutan dengan data terukur agar tetap konsisten dan dapat diaudit bersama laporan keuangan utama.
4. Sebagai akuntan yang bertanggung jawab atas pelaporan keberlanjutan, saya akan menyarankan PT Sumber Hijau untuk menyusun narasi laporan yang transparan, seimbang, dan berbasis data. Laporan harus menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan dengan menjelaskan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara jujur termasuk tantangan yang dihadapi. Untuk memenuhi ekspektasi stakeholder lokal, narasi perlu menyoroti kontribusi terhadap masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penciptaan lapangan kerja. Sementara bagi stakeholder global, laporan harus mengaitkan kinerja perusahaan dengan target SDGs dan prinsip ESG internasional, disertai indikator kinerja dan capaian yang terukur.