Posts made by Waly Tanti Fitrani

AKM A2025 -> Diskusi

by Waly Tanti Fitrani -
NAMA: WALY TANTI FITRANI
2413031031

Pencatatan, penilaian, dan penyajian aset tak berwujud mengikuti PSAK 19. Aset tak berwujud dicatat ketika dapat diidentifikasi, memberikan manfaat ekonomi di masa depan, dan biayanya dapat diukur secara andal misalnya hak paten, merek dagang, dan software. Pada saat pengakuan awal, aset ini diukur sebesar biaya perolehan, lalu setelahnya dapat dinilai menggunakan model biaya (dikurangi amortisasi dan penurunan nilai) atau model revaluasi jika terdapat pasar aktif. Dalam penyajiannya di laporan posisi keuangan, aset tak berwujud ditampilkan terpisah dari aset lainnya, termasuk informasi umur manfaat, metode amortisasi, serta pengujian impairment secara periodik untuk memastikan nilainya tidak overstated.

AKM A2025 -> Diskusi

by Waly Tanti Fitrani -
nama: Waly tanti Fitrani
NPM: 2413031031

Perbedaan Aset Tetap dan Properti Investasi:
Aset tetap (fixed assets) adalah aset berwujud yang digunakan dalam operasi perusahaan untuk menghasilkan barang/jasa dan tidak dimaksudkan untuk dijual, seperti mesin, kendaraan, dan peralatan pabrik. Sebaliknya, properti investasi (investment property) adalah tanah atau bangunan yang dimiliki untuk memperoleh pendapatan sewa atau untuk peningkatan nilai (capital gain), bukan untuk digunakan dalam kegiatan operasional. Dalam PSAK 16 aset tetap digunakan untuk operasional, sedangkan PSAK 13 mengatur properti investasi yang bertujuan menghasilkan keuntungan dari investasi.

Jika saya diminta untuk memilih, Saya akan memilih membeli properti investasi karena aset tersebut berpotensi menghasilkan arus kas pasif dari sewa serta kenaikan nilai properti dalam jangka panjang. Selain itu, properti investasi dapat dikelola secara fleksibel—dijual ketika harga pasar menguntungkan. Namun, keputusan ini tetap bergantung pada strategi bisnis: jika perusahaan fokus pada produksi atau operasional, maka aset tetap akan lebih relevan.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Waly Tanti Fitrani -
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

Artikel pertama berjudul “Does XBRL Adoption Increase Financial Information Transparency in Digital Disclosure Environment?” meneliti bagaimana penerapan XBRL (eXtensible Business Reporting Language) dapat meningkatkan transparansi informasi keuangan di perusahaan keuangan di Yordania. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi XBRL mampu memperbaiki efisiensi, keandalan, dan keterbukaan laporan keuangan, mengurangi asimetri informasi, serta memperkuat kepercayaan investor. Studi ini menegaskan bahwa teknologi pelaporan digital menjadi kunci dalam meningkatkan tata kelola dan pengambilan keputusan di pasar berkembang.
Artikel kedua membahas konsep dan manfaat Behavioral Accounting, yaitu bagaimana faktor psikologis dan perilaku manusia memengaruhi proses akuntansi dan pengambilan keputusan keuangan. Pendekatan ini menyoroti pentingnya memahami bias kognitif, motivasi, dan persepsi individu dalam proses pelaporan, audit, serta perumusan kebijakan akuntansi agar hasilnya lebih realistis dan manusiawi.

Menurut opini saya: Kedua artikel ini saling melengkapi antara aspek teknologi dan perilaku dalam akuntansi modern. Penerapan XBRL menunjukkan bahwa transparansi dan efisiensi bisa dicapai melalui inovasi digital, namun keberhasilannya tetap bergantung pada perilaku dan kesiapan manusia yang mengelola sistem tersebut. Dalam pandangan saya, masa depan akuntansi harus mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan pemahaman perilaku agar pelaporan keuangan tidak hanya akurat dan cepat, tetapi juga etis, transparan, dan berorientasi pada kepentingan publik.

TA2025 -> CASE STUDY

by Waly Tanti Fitrani -
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

1. Tantangan utama yang dihadapi PT Sumber Hijau adalah menyeimbangkan antara tujuan ekspansi ekonomi dengan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. Perusahaan harus menghadapi tekanan dari berbagai pihak investor global yang menuntut penerapan prinsip ESG, LSM yang menyoroti dampak deforestasi, serta masyarakat adat yang khawatir kehilangan hak atas lahan. Selain itu, perusahaan perlu menyesuaikan sistem pelaporannya agar selaras dengan standar GRI dan SDGs (khususnya SDG 13, 15, dan 8), sementara kerangka PSAK yang digunakan masih berfokus pada informasi keuangan tradisional. Integrasi data lingkungan, sosial, dan ekonomi ke dalam laporan keuangan menjadi tantangan teknis sekaligus etis yang menuntut transparansi, akuntabilitas, dan inovasi dalam praktik pelaporan.

2. Dalam konteks PT Sumber Hijau, teori akuntansi positif dapat digunakan untuk menjelaskan 'mengapa' manajemen memilih melaporkan isu keberlanjutan, misalnya sebagai respons terhadap tekanan dari investor global, regulasi, atau untuk menjaga legitimasi sosial dan citra perusahaan. Pendekatan ini melihat pelaporan keberlanjutan sebagai perilaku strategis yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik perusahaan. Sementara itu, teori akuntansi normatif berfokus pada 'bagaimana seharusnya' pelaporan dilakukan, menekankan prinsip etika, transparansi, dan tanggung jawab sosial sesuai dengan standar seperti GRI dan tujuan SDGs. Dengan demikian, teori positif menjelaskan motivasi praktis di balik pelaporan, sedangkan teori normatif memberikan dasar moral dan konseptual bagi praktik pelaporan keberlanjutan yang ideal.

3. PT Sumber Hijau dapat mengintegrasikan pelaporan SDGs ke dalam laporan keuangannya melalui pendekatan pelaporan terintegrasi (Integrated Reporting/IR) yang menggabungkan informasi keuangan dan non-keuangan secara menyeluruh. Meskipun PSAK belum sepenuhnya mengatur ESG, perusahaan dapat menggunakan standar GRI untuk mengungkap dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang relevan dengan SDG 13, 15, dan 8, serta mengacu pada kerangka ISSB atau SASB untuk indikator kuantitatif yang dapat dihubungkan dengan kinerja keuangan. Dalam penerapannya, perusahaan dapat menambahkan bagian khusus dalam laporan tahunan yang memetakan kontribusi bisnis terhadap SDGs, menjelaskan kebijakan, target, dan hasil keberlanjutan dengan data terukur agar tetap konsisten dan dapat diaudit bersama laporan keuangan utama.

4. Sebagai akuntan yang bertanggung jawab atas pelaporan keberlanjutan, saya akan menyarankan PT Sumber Hijau untuk menyusun narasi laporan yang transparan, seimbang, dan berbasis data. Laporan harus menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan dengan menjelaskan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara jujur termasuk tantangan yang dihadapi. Untuk memenuhi ekspektasi stakeholder lokal, narasi perlu menyoroti kontribusi terhadap masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penciptaan lapangan kerja. Sementara bagi stakeholder global, laporan harus mengaitkan kinerja perusahaan dengan target SDGs dan prinsip ESG internasional, disertai indikator kinerja dan capaian yang terukur.