Kiriman dibuat oleh Waly Tanti Fitrani

ASP A26 -> Diskusi

oleh Waly Tanti Fitrani -
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

1. Anggaran Tradisional
Anggaran yang disusun berdasarkan pengeluaran tahun sebelumnya dan disesuaikan dengan kebutuhan tahun berikutnya. Lingkupnya berfokus pada pos-pos pengeluaran, seperti belanja pegawai, belanja barang, dan belanja operasional.
2. Anggaran Berbasis Kinerja
Anggaran yang disusun berdasarkan target dan hasil yang ingin dicapai. Lingkupnya mencakup perencanaan program, indikator kinerja, penggunaan dana, serta evaluasi hasil kegiatan pemerintah.
3. Zero-Based Budgeting (ZBB)
Anggaran yang disusun dari awal dengan menilai kembali kebutuhan setiap program, tanpa langsung bergantung pada anggaran tahun sebelumnya. Lingkupnya meliputi identifikasi kegiatan, analisis biaya dan manfaat, penentuan prioritas, serta alokasi dana.
4. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)
Sistem penganggaran yang menghubungkan perencanaan jangka panjang, penyusunan program, dan pengalokasian anggaran. Lingkupnya mencakup penetapan tujuan, analisis alternatif program, perkiraan biaya, dan pemilihan program yang sesuai dengan tujuan pemerintah.
5. Anggaran Partisipatif
Anggaran yang melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan penentuan prioritas kebutuhan publik. Lingkupnya meliputi musyawarah perencanaan pembangunan, penyampaian aspirasi masyarakat, penentuan prioritas, dan pengawasan pelaksanaan anggaran.
6. Anggaran Fleksibel
Anggaran yang dapat disesuaikan dengan perubahan tingkat aktivitas atau kebutuhan pelayanan. Lingkupnya mencakup penyesuaian biaya operasional berdasarkan volume kegiatan, misalnya perubahan jumlah penerima layanan kesehatan atau peserta didik.

ASP A26 -> Diskusi

oleh Waly Tanti Fitrani -
Nama: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

1. Bagaimanakah paradigma anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Menurut pandangan saya, anggaran tradisional dan anggaran berbasis New Public Management (NPM) memiliki perbedaan dalam cara pemerintah mengelola anggaran. Anggaran tradisional lebih berfokus pada pengeluaran tahun sebelumnya, kemudian anggaran tahun berikutnya disusun dengan menyesuaikan jumlah anggaran yang sudah ada. Paradigma ini cenderung menekankan kepatuhan terhadap aturan dan penggunaan dana sesuai pos anggaran, tetapi terkadang kurang memperhatikan apakah pengeluaran tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, anggaran berbasis NPM lebih menekankan hasil, kinerja, efisiensi, dan efektivitas penggunaan anggaran. Menurut saya, pendekatan ini lebih mendorong pemerintah untuk memastikan bahwa setiap dana yang dikeluarkan menghasilkan manfaat nyata, bukan sekadar menghabiskan anggaran. Misalnya, keberhasilan anggaran pendidikan tidak cukup dinilai dari besarnya dana yang terserap, tetapi juga dari peningkatan kualitas pembelajaran dan fasilitas pendidikan. Jadi, anggaran tradisional lebih berorientasi pada input atau jumlah dana yang digunakan, sedangkan NPM lebih menekankan output dan hasil yang dicapai.

2. Bagaimanakah proses implementasi ZBB dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM?
Zero-Based Budgeting (ZBB) atau penganggaran berbasis nol dapat menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan antara anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM. Hal ini karena ZBB tidak langsung menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar penyusunan anggaran baru, tetapi mengharuskan setiap kegiatan dan pengeluaran dievaluasi serta dijustifikasi kembali berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya.

Proses penerapan ZBB dimulai dengan mengidentifikasi seluruh kegiatan yang membutuhkan anggaran, kemudian menyusun alasan dan tujuan dari setiap kegiatan. Setelah itu, pemerintah menilai manfaat, biaya, serta prioritas masing-masing kegiatan, lalu membandingkannya untuk menentukan program yang paling layak didanai. Anggaran selanjutnya dialokasikan berdasarkan prioritas dan kemampuan keuangan yang tersedia, kemudian pelaksanaannya dievaluasi untuk mengetahui apakah target yang ditetapkan telah tercapai.

Menurut saya, ZBB dapat menjembatani kedua paradigma tersebut karena tetap membutuhkan perencanaan dan pengendalian anggaran, seperti dalam pendekatan tradisional, tetapi juga mempertimbangkan manfaat, efisiensi, dan hasil yang ingin dicapai, seperti dalam NPM. Contohnya, pemerintah tidak harus terus mempertahankan anggaran suatu program hanya karena program tersebut sudah ada sejak tahun sebelumnya. Jika program itu kurang bermanfaat, anggarannya dapat dikurangi atau dialihkan ke program yang lebih dibutuhkan masyarakat. Dengan demikian, ZBB dapat membantu menciptakan pengelolaan anggaran publik yang lebih transparan, rasional, dan berorientasi pada hasil.

ASP A26 -> Diskusi

oleh Waly Tanti Fitrani -
Nama: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

Menurut pemahaman saya, sistem manajemen sektor publik di era digital merupakan cara pemerintah dan lembaga publik mengelola pelayanan, informasi, anggaran, serta sumber daya dengan memanfaatkan teknologi digital agar pekerjaan menjadi lebih efektif, efisien, dan transparan. Perkembangan teknologi membuat masyarakat mengharapkan pelayanan yang lebih cepat dan mudah tanpa harus selalu datang langsung ke kantor pemerintahan. Namun, penerapan sistem manajemen digital di sektor publik juga memiliki tantangan, seperti keterbatasan akses internet di beberapa daerah, rendahnya kemampuan digital sebagian masyarakat, risiko kebocoran data, dan ancaman serangan siber. Oleh karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menyediakan teknologi, tetapi juga perlu meningkatkan kemampuan pegawai, menjaga keamanan data, dan memastikan seluruh masyarakat tetap dapat mengakses pelayanan.

MPPE A26 -> Diskusi 1

oleh Waly Tanti Fitrani -
Nama : Waly Tanti Fitrani
NPM: 2413031031

Perbedaan populasi dan sampel, yaitu populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti, sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili keseluruhan populasi. Contohnya, kalau ingin meneliti mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Lampung, seluruh mahasiswa Pendidikan Ekonomi itu disebut populasi, sedangkan misalnya saya hanya mengambil 50 mahasiswa sebagai responden, 50 mahasiswa tersebut disebut sampel.