གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Waly Tanti Fitrani

TA2025 -> CASE STUDY 2

Waly Tanti Fitrani གིས-
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

1. Dalam pendekatan tradisional, penilaian fair value mengandalkan judgement profesional penilai menggunakan teknik penilaian yang telah diterima seperti pendekatan pasar, biaya, dan pendapatan, dengan asumsi dan input yang dapat dijelaskan serta diaudit. Sebaliknya, pendekatan berbasis AI memanfaatkan data real-time dan algoritma prediktif untuk menentukan nilai wajar secara otomatis, namun proses penalarannya sering sulit dipahami (black box), sehingga menimbulkan tantangan terhadap prinsip transparansi, verifiabilitas, dan faithful representation dalam teori akuntansi.

2. Secara epistemologis, penggunaan AI menggeser sumber pengetahuan akuntansi dari keahlian manusia menuju model statistik yang belajar dari data, sehingga validitas penilaian sangat bergantung pada kualitas data dan desain algoritma. Ketika asumsi dan logika AI tidak dapat diungkapkan secara jelas, evaluasi atas kebenaran dan keandalan informasi menjadi sulit, yang dapat melemahkan dasar keyakinan pemakai laporan keuangan terhadap angka fair value yang disajikan.

3. Untuk menjamin akuntabilitas sesuai IFRS 13, perusahaan perlu menerapkan transparansi model melalui model governance, dokumentasi input signifikan, pengungkapan metode dan asumsi utama, serta uji sensitivitas terhadap parameter yang memengaruhi nilai wajar. Selain itu, harus ada human-in-the-loop dalam proses persetujuan akhir penilaian, audit independen atas data dan algoritma, serta pelaporan yang memadai mengenai keterbatasan model sehingga hasil AI tetap dapat diaudit dan dipercaya oleh pemangku kepentingan.

TA2025 -> CASE STUDY 1

Waly Tanti Fitrani གིས-
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

1. Penggunaan teknologi blockchain dalam sustainability reporting dapat memperkuat teori akuntansi terkait reliabilitas dan transparansi karena data yang dicatat bersifat tidak dapat diubah, mudah diverifikasi, serta memiliki jejak audit yang jelas. Hal ini mendukung prinsip *faithful representation* dan *verifiability*, sehingga informasi mengenai jejak karbon dan asal bahan baku menjadi lebih akurat, dapat dipercaya, serta mengurangi peluang manipulasi data. Dengan demikian, blockchain dapat meningkatkan kualitas pelaporan keberlanjutan dan kepercayaan stakeholder terhadap informasi akuntansi yang disajikan perusahaan.

2. PT Hijau Lestari kemungkinan menghadapi tantangan regulasi karena pemanfaatan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan belum sepenuhnya diatur di Indonesia, sehingga aspek legalitas, validitas bukti elektronik, dan perlindungan data pemasok masih berpotensi diperdebatkan. Di tingkat global, perbedaan standar pelaporan keberlanjutan dan persyaratan verifikasi seperti GRI, ISSB, atau kebijakan rantai pasok negara importir dapat menimbulkan kompleksitas kepatuhan. Selain itu, biaya implementasi, kesiapan teknologi, dan kompetensi SDM juga menjadi hambatan yang perlu diatasi agar sistem berbasis blockchain berjalan efektif dan diterima oleh regulator maupun stakeholder internasional.

3. Untuk mendukung keberhasilan implementasi blockchain, PT Hijau Lestari perlu menerapkan pengendalian internal dan tata kelola data yang kuat sesuai prinsip akuntansi, memastikan setiap transaksi keberlanjutan dapat diverifikasi dan diaudit dengan jelas. Implementasi sebaiknya dilakukan secara bertahap melalui proyek percontohan pada sebagian rantai pasok sambil meningkatkan kompetensi SDM terkait akuntansi digital. Perusahaan juga perlu membangun kolaborasi dengan auditor, regulator, dan pihak eksternal untuk memastikan kesesuaian dengan standar GRI serta praktik pelaporan global, sehingga penerapan teknologi ini benar-benar meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan stakeholder terhadap laporan keberlanjutan.

TA2025 -> CASE STUDY

Waly Tanti Fitrani གིས-
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

ANALISIS KRITIS :
1. Tantangan pada penerapan teori akuntansi tradisional (di era automatisasi & blockchain)
a. Pengakuan dan timing (recognition & measurement)
Teori tradisional bergantung pada judgement manusia (estimasi cadangan, pengakuan pendapatan, penilaian wajar). Saat proses itu diotomasi oleh AI/algoritma, muncul masalah: siapa yang menentukan asumsi dasar, dan bagaimana memastikan bahwa algoritma menerapkan prinsip pengakuan sesuai kerangka akuntansi (mis. revenue recognition, impairment)? Model bisa menunda pengakuan beban atau percepat pendapatan karena parameter yang “diperhalus” untuk menghasilkan angka yang stabil.
b. Transparansi & explainability
Banyak model AI (deep learning, ensemble) bersifat black-box: sulit menjelaskan mengapa sistem memilih angka tertentu. Teori akuntansi mensyaratkan pengungkapan dan dasar estimasi tetapi bila estimasi dihasilkan oleh model yang tidak bisa dijelaskan, prinsip transparansi menjadi sulit diterapkan.
c. Auditabilitas & bukti audit
Teori audit dan bukti audit tradisional mengasumsikan adanya dokumen/ bukti yang dapat diverifikasi. Blockchain menambah jejak immutable tetapi transformasi yang dilakukan oleh AI (pre-processing, feature engineering) mungkin tidak tercatat di ledger publik; ini mempersulit auditor merekonstruksi alur keputusan ekonomi yang melatarbelakangi angka dalam laporan.
d. Penafsiran konsep materialitas & relevansi
Otomatisasi memungkinkan banyak keputusan mikro (thresholds, rounding rules). Hal ini menuntut penyesuaian konsep materialitas: apakah banyak keputusan kecil yang diotomasi kumulatifnya menjadi material? Teori tradisional jarang membahas “mass automation” dari decisions.
e. Kecepatan & frekuensi laporan
Sistem digital bisa menghasilkan laporan real-time. Teori akuntansi dan proses pengendalian dirancang untuk periode (quarter, year). Perbedaan frekuensi menuntut mekanisme kontrol dan governance baru.

2. Peluang
• Efisiensi & konsistensi: Otomasi mengurangi kesalahan manual, standardisasi pengakuan, dan mempercepat closing.
• Audit trail lebih kuat (blockchain): Immutable ledger memudahkan verifikasi asal transaksi jika desainnya benar (on-chain proofs).
• Analitik untuk deteksi risiko: AI dapat mendeteksi anomali transaksi atau pola fraud lebih cepat daripada pemeriksaan manual.
Risiko manipulasi
• Manipulasi model / parameter tuning: Jika manajemen mengendalikan model, mereka bisa men-tune hyperparameter atau training data untuk “menghasilkan” hasil yang diinginkan (mis. understate allowance).
• Delay pengakuan biaya lewat algoritma: Rule-based scheduling bisa diset untuk menunda expense recognition (mis. shifting provisioning ke periode berikutnya).
• Data poisoning / input manipulation: Karena model bergantung pada data, pihak internal dapat mengubah/menyaring data input (mis. memfilter buruk invoices) sehingga output terlihat sehat.
• Opacity memberi celah moral hazard: Ketika keputusan diambil “oleh mesin”, aktor manusia bisa berlindung di balik algoritma untuk menghindari tanggung jawab.
• Automated scaling of small manipulations: Banyak keputusan mikro yang tampak tidak material bisa diotomasi sehingga akumulasi dampaknya menjadi material (needle moving).


ETIKA DAN TRANSPARANSI :
1. Risiko etika ketika estimasi dan judgement digantikan oleh algoritma AI
a. Akuntabilitas & tanggung jawab profesional
Akuntan harus tetap bertanggung jawab atas estimasi. Delegasi ke AI tidak menghilangkan tanggung jawab profesional tapi jika perusahaan tidak menetapkan human-in-the-loop, akuntan kehilangan kontrol dan etika profesional terancam (conflict of interest, pressure to conform).
b. Bias & diskriminasi dalam model
Model dapat memperkuat bias historis (misal: menilai risiko kredit tertentu lebih rendah/tinggi tanpa basis ekonomi yang sah). Ini bisa memengaruhi cadangan kerugian, penilaian wajar, dan kebijakan provisioning.
c. Konflik kepentingan dan tekanan hasil
Tekanan manajemen untuk “menjaga citra” dapat mendorong penggunaan algoritma sebagai alat kosmetik: men-setting loss thresholds, reward function, atau objective function model agar menghasilkan angka yang menguntungkan.
d. Transparansi kepada pemakai laporan
Etika memerlukan pengungkapan asumsi material. Model yang tidak bisa dijelaskan menjadikan pengungkapan formal sulit dan mengurangi kemampuan pengguna laporan untuk mengevaluasi risiko.
e. Kegagalan model & overreliance
Kerap terjadi overreliance pada model ketika model gagal dalam kondisi pasar yang berubah (geopolitik, suku bunga tinggi), estimasi bisa jauh meleset dan menimbulkan kerugian material.

2. Sikap akuntan professional:
• Pertahankan prinsip profesional & independensi: akuntan harus menolak tekanan; dokumentasikan instruksi manajemen dan keputusan profesional.
• Human-in-the-loop mandatory: setiap output material dari AI harus mendapat review profesional yang terdokumentasi (reasonableness checks, sensitivity analysis).
• Model governance & approval: terapkan charter formal: siapa owner model, siapa yang boleh mengubahnya, change logs, approval board (termasuk independen komite risiko).
• Transparansi & disclosure: jelaskan penggunaan AI dan dampaknya terhadap estimasi material; ungkapkan asumsi utama, confidence intervals, serta back-testing hasil historis.
• Whistleblowing & protection: siapkan saluran aman untuk melaporkan manipulasi model/ data tampering.


RESPON STRATEGIS:
1. Rekomendasi praktis audit & pengawasan untuk sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi
Untuk perusahaan (manajemen & board):
• AI/Model Governance Framework sertakan pengembangan, validasi, deployment, monitoring, dan decommissioning model. Libatkan fungsi audit internal, risk, compliance, dan independen data scientists.
• Data lineage & immutable logging pastikan semua preprocessing, transformasi, dan parameter model dicatat (audit trail) ledger blockchain harus menyimpan hash/ pointers ke sumber data & versi model.
• Human oversight & approval gates khususnya untuk estimasi yang mempengaruhi laba, harus ada sign-off level senior (CFO/financial controller).
• Back-testing & stress testing — jalankan skenario ekstrem (currency shock, liquidity crunch) untuk melihat sensitivitas model.
• Segregation of duties & access controls — batasi siapa yang dapat mengubah data, param, atau model code; gunakan key management dan multi-sig pada smart contracts.
Untuk auditor publik:
• Expand audit procedures auditor harus menguji: data pipeline, model training processes, validation results, and monitoring alerts. Bukti audit harus mencakup reproducibility tests.
• Use specialists (tech & ML audit teams) tambahkan data scientists & cyber experts untuk menilai model validity, overfitting, data poisoning risk.
• Obtain logs & hashes minta cryptographic proofs dari blockchain (transaction hashes, timestamps) untuk membuktikan tidak ada perubahan setelah pencatatan.
• Evaluate management’s model governance termasuk model change controls, model inventory, and independent validation.
• Continuous auditing / real-time monitoring mengingat tempo digital, auditor perlu mekanisme monitoring berkelanjutan, bukan hanya sampling periodik.

2. belum sepenuhnya.
• Standar akuntansi (IFRS/GAAP) menetapkan prinsip umum (pengakuan, pengukuran, pengungkapan) yang masih relevan, tapi kurang detail soal hal-hal spesifik digital: pengakuan transaksi on-chain, akuntansi smart contracts, algoritma-driven estimates, dan bukti audit berbasis kriptografi.
• Standar auditing juga sedang berevolusi, namun perlu pedoman praktis terkait audit model AI, penggunaan bukti elektronik immutable, dan audit atas sistem otomatis.
• Oleh karena itu, regulator dan standard setters perlu mengeluarkan guidance yang lebih rinci (mis. disclosure tentang penggunaan AI, requirement model governance, cyber risk disclosures, treatment for digital assets & smart contracts).

TA2025 -> CASE STUDY

Waly Tanti Fitrani གིས-
NAMA: WALY TANTI FITRANI
2413031031

1. Analisis indikatif kasus PT Karya Sentosa
Berdasarkan tanda-tanda yang Anda sebutkan (lonjakan laba 45% tahun 2022, kenaikan piutang usaha, penurunan cadangan kerugian piutang, kenaikan pendapatan tanpa peningkatan arus kas operasi) secara akuntansi klasik ini konsisten dengan manajemen laba berbasis akrual. Indikator kunci dan alasan mengapa tiap indikator mencurigakan:
• Kenaikan signifikan piutang usaha jika penjualan naik tetapi kas tidak, kemungkinan sebagian pendapatan diakui tetapi belum terealisasi (rekognisi pendapatan agresif) → sinyal akrual positif yang bisa menaikkan laba tanpa kas. (Literatur mendefinisikan abnormal growth di piutang sebagai red flag untuk accrual manipulation).
• Penurunan cadangan kerugian piutang menurunkan allowance meningkatkan laba bersih sekarang (mengurangi beban) meski risiko kolektibilitas tetap ada manajemen dapat “mencoret” cadangan untuk memperbaiki laba. Tindakan ini sering muncul pada praktik pengelolaan akrual.
• Pendapatan ↑ tetapi arus kas operasi tidak meningkat (or malah stagnan/menurun) ketidaksesuaian laba vs cash flows adalah indikator kualitas laba rendah dan sering dipakai untuk mendeteksi accrual-based earnings management (earnings quality issue). Dechow et al. dan studi berikutnya merekomendasikan membandingkan laba akuntansi dengan cash flows untuk deteksi.
• Lonjakan laba besar (45%) dalam satu tahun lonjakan tajam, terutama tanpa dukungan operasi kas/permintaan pasar, menambah kecurigaan; manajer dengan insentif (bonus, target covenants) sering menggunakan akrual untuk “memenuhi” target. (Teori opportunistic).

2. Perbandingan dua jurnal ilmiah terkini (5 tahun terakhir) ringkas & fokus perbedaan
A. “Accrual-Based Earnings Management and the COVID-19 …” (2023) studi empiris lintas-sektor
• Pendekatan & metodologi: fokus pada accrual-based responses firms selama shock COVID; menggunakan model discretionary accruals (modified-Jones atau varian) dan regresi panel. Sampel: firm-years 2018–2021.
• Temuan utama: peningkatan insentif manajemen laba selama ketidakpastian (beberapa sektor meningkatkan accruals untuk menstabilkan laba), dan efeknya lebih kuat pada firm dengan kelemahan tata kelola. Menunjukkan bagaimana tekanan eksternal mendorong akrual-manipulation.
B. “Accruals and Firm Life Cycle: Improving regulatory earnings detection” (Almand dkk., 2023) metodologi deteksi & heterogenitas
• Pendekatan & metodologi: fokus pada bagaimana karakteristik firm life-cycle (growth, mature, decline) memengaruhi akrual normal dan model deteksi earnings management; usulan pengelompokan firma menurut lifecycle untuk meningkatkan akurasi model deteksi accrual abnormal. Metode: pengelompokan sampel + evaluasi model accrual (kinerja model di tiap grup).
• Temuan utama: model accrual yang mengontrol life-cycle stage memiliki power deteksi lebih baik artinya satu model «satu ukuran cocok semua» kurang efektif; firm growth stage cenderung memiliki akrual normal berbeda sehingga tinggi false positives kalau tidak dikendalikan.

3. Evaluasi kritis apakah earnings management selalu negatif?
Tidak selalu. Literatur menunjukkan dua perspektif besar: opportunistic (biasanya negatif membohongi pemakai laporan) dan signalling/efficient contracting (manajer menggunakan diskresi untuk menyampaikan informasi atau menstabilkan laba demi mengurangi cost of capital). Kajian literatur menunjukkan mayoritas studi memandang praktik ini oportunistik, tetapi ada bukti bahwa pada tingkat tertentu manajemen laba bisa meningkatkan relevansi informasi (mis. smoothing yang membantu prediksi investor). Namun empiris menunjukkan trade-off: akrual berlebihan menurunkan kualitas laba & prediktabilitas arus kas, dan sering menyebabkan kerugian pemangku kepentingan jangka panjang. Jadi secara praktis: dosis dan motif penting discretionary accounting yang transparan dan tertekan tata kelola bisa memberi manfaat; manipulasi opportunistik untuk keuntungan pribadi merugikan.

4. Kesimpulan & rekomendasi untuk stakeholder
Kesimpulan singkat: pola PT Karya Sentosa sangat konsisten dengan accrual-based earnings management opportunistik. Risiko: kualitas laba rendah, reputasi, kemungkinan restatement atau penurunan pasar jika terbukti.
Rekomendasi praktis:
Untuk Dewan Komisaris / Komite Audit
• Segera minta forensic accounting review atas pengakuan pendapatan, aging piutang, dan kebijakan allowance; gunakan model modified-Jones / Kothari (uji discretionary accruals).
• Evaluasi insentif manajemen (skema bonus/stock-based) dan sesuaikan agar tidak mempromosikan short-term accrual manipulation.
Untuk Auditor eksternal
• Tingkatkan pengujian substantif pada kolektibilitas piutang, cut-off penjualan, dan verifikasi kas masuk setelah periode pelaporan.
Untuk Investor & Analis
• Fokus pada quality of earnings metrics: operating cash flow margin, cash conversion, accruals-to-assets, dan perbandingan receivables growth vs sales growth. Hati-hati menilai laba yang tidak disokong arus kas.
Untuk Regulator / Publik
• Meningkatkan pengungkapan kebijakan provisi/piutang dan transparansi manajemen estimasi; perketat pengawasan jika pola manipulatif terlihat.