Posts made by Farhan Hidayatulloh

Nama: Farhan Hidayatulloh
NPM: 2411021091

2. Jika pemerintah tidak meningkatkan belanja secara besar-besaran, sektor mana yang seharusnya menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia?
Menurut saya, pertanyaan ini justru yang paling penting karena kalau kita jujur, ketergantungan pada belanja pemerintah sebagai motor utama ekonomi itu ngga bisa terus-terusan. APBN ada batasnya, dan kalau setiap tahun harus mengandalkan stimulus fiskal besar hanya untuk menjaga pertumbuhan, itu lama-lama jadi beban yang ngga sehat buat fiskal kita. Jadi menurut saya ada tiga sektor yang seharusnya lebih berperan. Pertama, investasi swasta. Di Q1 2026 ini yang sudah kita ketahui bahwa PMTB sudah tumbuh 5,96%, itu bagus, tapi masih bisa lebih optimal. Kalau iklim investasi di Indonesia makin ramah, regulasinya jelas, kepastian hukumnya juga terjaga, para investor baik domestik maupun asing pasti akan lebih berani untuk masuk. Investasi swasta yang kuat itu jauh lebih berkelanjutan karena ngga bergantung pada APBN. Kemudian yang kedua menurut saya ekspor, terutama dari komoditas unggulan kita seperti CPO, nikel, dan batu bara. Tapi ngga cukup kalau kita hanya ekspor bahan mentah saja. Disini Indonesia perlu serius dalam mendorong hilirisasi supaya nilai tambahnya lebih besar dan manfaatnya juga lebih terasa. Kalau net ekspor kita bisa konsisten positif, itu jadi penopang PDB yang solid dan lebih mandiri. Dan yang ketiga ini yang paling fundamental menurut saya, yaitu konsumsi rumah tangga yang tumbuh secara organik. Bukan karena THR atau efek musiman hari raya, tapi karena memang pendapatan masyarakat naik secara riil akibat produktivitas yang meningkat dan lapangan kerja yang juga terbuka luas. Nah, itu baru yang namanya pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.
Nama: Farhan Hidayatulloh
NPM: 2411021091

1. Kalau kita melihat kondisi kurs rupiah yang sudah menyentuh angka Rp17.354 per dolar AS, jujur ini bukan angka yang kecil dan dampaknya bisa langsung saya rasakan sebagai mahasiswa. Yang paling terasa pertama kali itu pasti di biaya pendidikan. Saya pakai laptop, handphone, dan berbagai perangkat elektronik untuk kuliah, semuanya itu entah barangnya langsung impor atau setidaknya komponen di dalamnya berasal dari luar negeri. Kalau rupiah terus melemah, harga perangkat elektronik baru pasti akan naik signifikan. Misalnya saya butuh ganti laptop karena rusak, yang tadinya bisa dibeli dengan harga tertentu, sekarang bisa jauh lebih mahal karena produsen menyesuaikan harga dengan kurs yang berlaku. Kemudian dari sisi biaya hidup sehari-hari. Uang saku yang saya terima nominalnya tetap dalam rupiah, tapi daya beli rupiah itu sendiri semakin mengecil. Artinya dengan jumlah uang yang sama, barang yang bisa saya beli jadi lebih sedikit. Ini persis seperti yang dijelaskan di materi, yaitu depresiasi itu menggerus kesejahteraan riil masyarakat, termasuk mahasiswa.

2. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya banyak sekali barang di sekitar kita yang harganya rawan naik saat rupiah melemah. Yang paling mudah diidentifikasi adalah barang-barang yang proses produksinya melibatkan komponen atau bahan baku impor. Elektronik dan gadget jelas yang paling kentara. Smartphone, laptop, earphone, bahkan charger, semua bergantung pada komponen dari luar negeri, terutama dari China, Korea, dan Jepang. Ketika kurs rupiah melemah, importir harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membayar dalam dolar, dan selisih itu pasti dibebankan ke konsumen. Makanan dan minuman pun tidak luput. Tepung terigu, kedelai untuk tempe dan tahu, hingga gula pasir sebagian masih diimpor. Jadi bahan makanan pokok yang selama ini terasa "murah" pun bisa ikut terkerek harganya. Bayangkan kalau harga tahu dan tempe naik, itu langsung berdampak ke meja makan masyarakat bawah sekalipun. BBM dan transportasi juga perlu diwaspadai. Bahkan terakhir sudah ada yang mengalami kenaikan harga, karena Indonesia masih mengimpor minyak mentah dalam jumlah tertentu. Kalau BBM yang lainnya ikut naik, otomatis efeknya akan langsung terasa dan menjalar ke hampir semua harga barang, karena distribusi menjadi lebih mahal.

3. Ini menurut saya bagian yang paling krusial dan memprihatinkan dari fenomena depresiasi rupiah. Dari sisi UMKM, banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang menggunakan bahan baku impor dalam proses produksinya, misalnya pedagang makanan yang menggunakan tepung atau bumbu impor. Ketika kurs rupiah melemah, biaya produksi mereka langsung naik, sementara kemampuan mereka untuk menaikkan harga jual sangat terbatas karena konsumen mereka juga sudah tertekan daya belinya. Yang lebih berat lagi, UMKM sering kali tidak bisa dengan mudah beralih ke bahan baku lokal, karena keterbatasan kualitas atau ketersediaan. Sehingga pilihan mereka sering kali hanya dua, antara menaikkan harga dan kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga tapi margin keuntungan habis tergerus. Sementara, dari sisi masyarakat berpenghasilan rendah juga dampaknya bahkan lebih parah lagi. Pendapatan mereka sudah terbatas dan tetap dalam nominal rupiah, sementara harga barang-barang kebutuhan pokok terus naik. Ini yang disebut sebagai penurunan daya beli riil, secara nominal penghasilan tidak berkurang, tapi secara nyata kemampuan untuk membeli barang dan jasa semakin menyusut, sehingga kenaikan harga barang-barang tersebut akan langsung menekan standar hidup mereka.
Nama: Farhan Hidayatulloh
NPM: 2411021091

1. Menurut saya, strategi yang paling prioritas untuk Desa Tambakrejo ini adalah strategi yang ke-1 yaitu mengenai pemerataan infrastruktur digital. Alasannya karena masalah utama di desa ini terletak pada sinyal internet yang masih 3G dan tidak stabil. Jika jaringan internet saja masih lemah, maka strategi lain seperti mencetak SDM digital, UMKM go digital, E-Government, maupun Keamanan & literasi digital akan sangat sulit untuk berjalan secara maksimal. Karena menurut saya, disini Infrastruktur merupakan fondasi utama dari mulainya transformasi digital. Ketika akses internet sudah baik dan stabil, maka masyarakat akan lebih mudah belajar teknologi, memasarkan produk secara online, serta mengakses layanan pemerintah tanpa harus datang bolak-balik ke kota. Jadi, pembangunan infrastruktur digital menjadi langkah awal yang paling penting/prioritas untuk desa ini.

2. Dua kegiatan konkret yang bisa dilakukan untuk memulai transformasi digital di desa tersebut dalam 6 bulan ke depan, menurut saya yang pertama adalah pemasangan WiFi desa dan penguatan jaringan internet. Yang dimana pada kegiatan ini bisa dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah atau provider internet. Dengan adanya akses internet yang lebih baik akan menjadi sarana dasar bagi masyarakat untuk belajar, berkomunikasi, dan mulai menjalankan usaha secara digital. Titik WiFi bisa ditempatkan di balai desa, pasar, atau area publik agar mudah diakses warga. Kemudian, yang kedua adalah pelatihan UMKM dan pemuda desa mengenai pemasaran digital. Pada kegiatan ini, masyarakat bisa diajarkan bagaimana cara menggunakan marketplace, membuat akun media sosial bisnis, mempromosikan produk, hingga memakai pembayaran digital. Selain itu, melalui kegiatan ini pemuda desa juga bisa diberi pelatihan desain, editing, atau pengelolaan toko online supaya punya peluang kerja baru tanpa harus merantau ke kota.

3. Menurut saya, supaya program transformasi digital di Desa Tambakrejo bisa berjalan maksimal, perlu melibatkan beberapa pihak sekaligus. Soalnya, program seperti ini tidak akan efektif kalau hanya dijalankan satu pihak saja, tetapi harus ada kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Yang paling utama tentu pemerintah desa, karena punya peran sebagai penggerak utama dalam menjalankan program ini. Lalu pihak swasta seperti provider internet, marketplace, atau bank digital juga penting untuk membantu jaringan, pelatihan, dan akses pasar bagi UMKM. Selain itu, komunitas masyarakat perlu ikut terlibat untuk mengajak warga berpartisipasi dan menjaga keberlanjutan program. Sedangkan kampus bisa membantu lewat mahasiswa atau dosen yang memberikan pelatihan, pendampingan, serta solusi digital sederhana untuk desa. Jadi disini, menurut saya pemerintah desa dan swasta menjadi pihak utama, sedangkan komunitas dan kampus berperan sebagai pendukung agar program bisa berjalan maksimal.
Nama: Farhan Hidayatulloh
NPM: 2411021091

STUDI KASUS 3 (E-Commerce vs Toko Tradisional)

Terkait isu diskusi pertama, kalau ditanya apakah digitalisasi mematikan usaha kecil offline, menurut pandangan saya tidak sepenuhnya seperti itu. Justru yang terjadi sebenarnya adalah perubahan dari bagaimana cara para penjual bersaing untuk menjual produknya dengan memanfaatkan teknologi atau digitalisasi saat ini. Usaha kecil yang masih bertahan menggunakan cara lama tanpa memanfaatkan teknologi yang ada akan mengalami kesulitan, karena mereka kalah dari segi harga, promosi, dan jangkauan pasarnya. Tapi di sisi lain, UMKM yang mau beradaptasi justru punya peluang yang lebih besar untuk berkembang, karena bisa menjual produknya ke pasar yang lebih luas lewat platform digital tersebut. Jadi, bukan usaha kecilnya yang hilang, tapi yang tidak bisa mengikuti perubahan zaman di era digitalisasi teknologi saat ini yang akan tertinggal.

Kemudian untuk isu diskusi yang kedua, dalam menghadapi kondisi perubahan saat ini, memang UMKM perlu punya strategi adaptasi. Menurut saya, salah satunya itu adalah dengan mulai beradaptasi masuk ke platform digital, baik untuk promosi maupun penjualan. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kualitas produk dan pelayanan supaya bisa bersaing di marketplacenya. Jadi UMKM juga bisa menggabungkan penjualan online dan offline, tidak harus meninggalkan toko fisik sepenuhnya. Dengan begitu, mereka tetap bisa menjangkau pembeli yang berbeda dan memaksimalkan peluang yang ada dengan memanfaatkan teknologi atau digitalisasi saat ini.

Dan untuk isu diskusi yang ketiga ini, mengenai monopoli platform menurut pandangan saya hal tersebut memang menjadi salah satu risiko dalam digitalisasi ekonomi. Kenapa seperti itu? Karena marketplace punya kekuatan besar untuk menguasai data, system, dan akses pasar, jadi bisa saja mempengaruhi persaingan antar penjual. Kalau tidak diatur dengan baik, hal ini bisa merugikan UMKM karena jadi bergantung pada platform tersebut. Ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya membawa dampak positif, tapi ada juga tantangan seperti ketimpangan dan potensi monopoli yang merugikan.

Dari secara keseluruhan, digitalisasi lewat e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada ini memang memberikan banyak manfaat, seperti efisiensi dan akses pasar yang lebih luas, Tapi di lain sisi juga menuntut para pelaku usahanya untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Jadi menurut saya kunci utamanya itu ada di keseimbangan, antara kemampuan UMKM dalam mengikuti perkembangan digitalisasi teknologi dan peran pemerintah dalam menjaga agar persaingan tetap sehat, adil, dan tidak merugikan pihak tertentu.