NAMA: Fiusa Avit Caessar
NPM: 2456031015
KELAS: Mandiri A
Menurut saya “Jurnal Penelitian Politik Vol. 16 No. 1 (Juni 2019)” membahas situasi politik jelang Pemilu Serentak 2019 di Indonesia. Ada beberapa poin penting, kayak penguatan sistem presidensial supaya pemerintahan lebih stabil, peran perempuan lewat narasi “Emak-Emak dan Ibu Bangsa” buat ningkatin partisipasi mereka, dan pentingnya Polri yang netral supaya gak ada konflik.
Jurnal juga kupas soal populisme yang bikin politik makin panas dan polarisasi, plus tantangan demokrasi seperti hoaks dan politik identitas yang bikin masyarakat terpecah. Mereka bilang literasi politik harus ditingkatin biar pemilih gak gampang termakan isu.
Walau Indonesia udah jadi negara demokrasi besar, praktiknya masih banyak masalah. Pilpres 2019 contohnya, belum bisa hasilin pemimpin yang benar-benar ideal. Pilar demokrasi kayak partai politik, media, dan masyarakat sipil juga belum maksimal. Kepercayaan publik ke hasil pemilu rendah, sampai terjadi kerusuhan 22 Mei.
Politisasi identitas juga kuat banget, dua kubu capres (Jokowi dan Prabowo) sama-sama pakai isu agama buat cari suara, kayak “Ijtima Ulama” dukung Prabowo, sementara Jokowi gandeng Ma’ruf Amin. Partai politik malah sering ngandelin artis jadi caleg demi suara, bukan karena kompeten. Kampanye juga banyak yang formalitas doang, gak nyentuh isu penting rakyat.
Birokrasi juga gak netral, banyak pejabat yang dipaksa dukung capres tertentu. Akibatnya, masyarakat makin gak percaya sama KPU, partai, dan lembaga hukum. Demokrasi jadi rawan konflik kalau semua gak profesional.
Singkatnya, demokrasi Indonesia udah maju tapi masih banyak drama. Pilpres 2019 nunjukin politik kita belum dewasa, banyak yang mikirin kepentingan sendiri. Harusnya semua elemen bangsa kerja bareng supaya pemilu lebih damai, adil, dan bikin rakyat sejahtera.