Nama: Refamei Kudadiri
Npm: 2413031014
Jika dibandingkan dengan metode FIFO (First In, First Out), metode LIFO (Last In, First Out) menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga meningkat (inflasi). Hal ini disebabkan karena dalam metode LIFO, biaya persediaan yang paling baru dan lebih mahal digunakan terlebih dahulu untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP). Akibatnya, HPP menjadi lebih tinggi, sedangkan laba kotor dan laba bersih menjadi lebih rendah. Meskipun laba menurun, kelebihan metode LIFO dalam kondisi harga naik adalah beban pajak perusahaan juga menjadi lebih kecil karena laba yang dilaporkan berkurang.
Sebaliknya, selama periode harga menurun (deflasi), metode LIFO justru akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO. Hal ini karena biaya persediaan yang paling baru dan lebih murah digunakan terlebih dahulu, sehingga HPP menjadi lebih rendah dan laba meningkat. Namun, keuntungannya bisa bersifat semu karena nilai persediaan akhir di neraca akan tampak lebih rendah dari nilai pasar sebenarnya, sehingga posisi keuangan perusahaan tampak kurang kuat.
Npm: 2413031014
Jika dibandingkan dengan metode FIFO (First In, First Out), metode LIFO (Last In, First Out) menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga meningkat (inflasi). Hal ini disebabkan karena dalam metode LIFO, biaya persediaan yang paling baru dan lebih mahal digunakan terlebih dahulu untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP). Akibatnya, HPP menjadi lebih tinggi, sedangkan laba kotor dan laba bersih menjadi lebih rendah. Meskipun laba menurun, kelebihan metode LIFO dalam kondisi harga naik adalah beban pajak perusahaan juga menjadi lebih kecil karena laba yang dilaporkan berkurang.
Sebaliknya, selama periode harga menurun (deflasi), metode LIFO justru akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO. Hal ini karena biaya persediaan yang paling baru dan lebih murah digunakan terlebih dahulu, sehingga HPP menjadi lebih rendah dan laba meningkat. Namun, keuntungannya bisa bersifat semu karena nilai persediaan akhir di neraca akan tampak lebih rendah dari nilai pasar sebenarnya, sehingga posisi keuangan perusahaan tampak kurang kuat.