གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

TA2025 -> CASE STUDY

MUHAMMAD ARIFIN ILHAM གིས-
Nama : Muhammad Arifin Ilham
NPM : 2413031003

1. Perilaku manajemen PT Lestari Mineral 

Keputusan manajemen PT Lestari Mineral untuk menerapkan pendekatan akuntansi konservatif dalam pengakuan biaya lingkungan mencerminkan sikap kehati-hatian terhadap risiko jangka panjang. Langkah ini kemungkinan didorong oleh keinginan untuk memastikan keberlanjutan usaha sekaligus mematuhi peraturan pemerintah yang semakin menekankan pentingnya tanggung jawab lingkungan. Dengan mencatat biaya reklamasi lebih dini, perusahaan menunjukkan komitmen sosialnya terhadap pelestarian lingkungan. Dampaknya, masyarakat dan pemerintah dapat menilai positif kepedulian tersebut, sementara investor mungkin melihat laba yang lebih kecil sebagai hal yang kurang menarik. Dengan demikian, konservatisme akuntansi menjadi alat untuk menjaga reputasi dan kredibilitas perusahaan dalam jangka panjang, walaupun bisa menurunkan daya tarik investasi jangka pendek.

2. Tekanan dari investor luar negeri Ketika seorang akuntan menghadapi desakan dari investor asing untuk menampilkan laba yang lebih besar, muncul dilema etika profesional. Mengikuti keinginan tersebut tanpa dasar yang sah dapat melanggar prinsip-prinsip utama profesi akuntan, seperti integritas dan objektivitas. Peran akuntan bukan untuk memenuhi kepentingan kelompok tertentu, melainkan memastikan laporan keuangan disajikan secara adil, relevan, dan dapat dipercaya oleh semua pihak. Walaupun pendekatan agresif mungkin dapat dibenarkan menurut interpretasi terbaru IFRS, keputusan pelaporan tetap harus didasarkan pada substansi ekonomi yang sebenarnya, keberlanjutan usaha, serta kepatuhan terhadap standar akuntansi nasional.

3. Proses penetapan standar akuntansi dan ekonomi politik 

Pembentukan standar akuntansi sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan politik, baik dalam skala nasional maupun internasional. Dalam konteks Indonesia, upaya pemerintah untuk mengembangkan standar yang lebih berorientasi pada keberlanjutan sering kali berhadapan dengan tekanan dari kelompok industri, seperti sektor pertambangan, yang memiliki kepentingan ekonomi besar. Di tingkat global, proses penyusunan IFRS pun tidak terlepas dari pengaruh negara maju dan lembaga keuangan internasional. Contohnya terlihat pada krisis keuangan 2008, ketika banyak negara mendesak IASB untuk melonggarkan aturan fair value karena dianggap memperburuk krisis. Hal ini memperlihatkan bahwa standar akuntansi merupakan hasil kompromi antara teori, praktik, serta kepentingan politik dan ekonomi.

4. Perbandingan prinsip vs aturan 

IFRS yang berbasis prinsip memberikan kelonggaran bagi perusahaan untuk menyesuaikan pelaporan keuangan dengan kondisi bisnis sebenarnya, selama tetap berlandaskan pada substansi ekonomi. Sebaliknya, sistem GAAP yang berbasis aturan bersifat lebih ketat dan terperinci, sehingga membatasi ruang interpretasi. Di Indonesia, pendekatan berbasis prinsip seperti IFRS dianggap lebih sesuai karena karakteristik ekonomi yang cepat berubah, keragaman industri, dan meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan. Pendekatan ini memungkinkan standar akuntansi nasional menjadi lebih fleksibel terhadap perkembangan global, sembari tetap mencerminkan nilai-nilai lokal seperti transparansi, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan.


TA2025 -> DISKUSI

MUHAMMAD ARIFIN ILHAM གིས-
Nama : Muhammad Arifin Ilham
NPM : 2413031003

JURNAL 1

 Tulisan karya Muhammad Daham Sabbar menegaskan bahwa akuntansi keuangan tidak hanya berfungsi sebagai proses pencatatan transaksi, tetapi juga sebagai media utama dalam menyediakan informasi yang jujur, relevan, dan berguna bagi berbagai pihak yang berkepentingan. Di tengah arus globalisasi, laporan keuangan dituntut untuk mencerminkan kondisi ekonomi yang nyata agar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan yang akurat. Untuk mencapai tujuan tersebut, akuntansi perlu menekankan aspek keandalan, relevansi, serta kesesuaian dengan standar internasional, sehingga laporan keuangan perusahaan dapat dibandingkan secara global.
Lebih dari sekadar fungsi ekonomi, akuntansi memiliki tanggung jawab sosial dalam menjaga kepercayaan publik dan mendorong kemajuan ekonomi. Laporan yang disajikan secara transparan mampu meningkatkan kepercayaan investor dan masyarakat, sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha. Sebaliknya, penyalahgunaan akuntansi untuk tujuan manipulatif dapat merusak kredibilitas dan menimbulkan krisis kepercayaan. Oleh karena itu, penulis menegaskan bahwa akuntansi keuangan perlu dipahami bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi juga sebagai instrumen etika yang berperan penting dalam menjaga kestabilan dan pertumbuhan ekonomi.

JURNAL 2 

Artikel ini membahas tentang akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) yang mengaitkan unsur psikologis, sosial, dan perilaku manusia dengan praktik akuntansi. Akuntansi tidak sekadar mencatat transaksi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sikap, motivasi, persepsi, karakter, dan nilai-nilai yang dimiliki individu maupun kelompok dalam organisasi. Penulis menekankan pentingnya memahami aspek psikologis dan sosial ini agar sistem akuntansi tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga mampu mencegah terjadinya penyimpangan etika, seperti manipulasi laporan keuangan yang kerap muncul di perusahaan besar. Dengan demikian, akuntansi sejatinya sangat erat kaitannya dengan perilaku manusia yang menjalankan maupun menggunakan sistem tersebut.

Selain itu, artikel ini mengulas bagaimana teori-teori psikologi—seperti perubahan sikap, teori motivasi, disonansi kognitif, hingga pembentukan kepribadian—dapat diterapkan dalam bidang akuntansi keperilakuan. Pemahaman ini membantu menjelaskan bagaimana perilaku individu di dalam organisasi memengaruhi proses pengambilan keputusan dan perancangan sistem akuntansi. Penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan mengenai akuntansi keperilakuan penting bagi praktisi dan akademisi agar dapat menciptakan sistem yang lebih transparan, beretika, dan mendukung keberlanjutan organisasi. Dengan mengintegrasikan unsur kemanusiaan, akuntansi dapat berfungsi tidak hanya sebagai alat perhitungan, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun kepercayaan dan integritas dalam dunia bisnis.