Kiriman dibuat oleh Tio Rahellita br sihaloho

Nama:Tio rahellita br sihaloho
Npm :2451012021

Memberikan tanggapan atas jawaban yang diberikan kelompok teman teman kemarin

Saya setuju bahwa teori Freud masih relevan, terutama pada aspek superego yang berperan saat seseorang menimbang keputusan sebelum membeli. Namun, jika dikaitkan dengan era digital sekarang, proses pertimbangan itu sering kali dipengaruhi oleh algoritma dan iklan yang secara tidak sadar mendorong impuls konsumtif. Jadi, walaupun superego masih berfungsi, tekanannya kini datang bukan hanya dari nilai sosial, tapi juga dari sistem digital yang memengaruhi pola pikir konsumen.
Nama:Tio rahellita br Sihaloho
Npm :2451012021


Tanggapan saya:
“kelompok kalian menjawab dari faktor lingkungan tapi Menurut saya, memang benar gender identity banyak dipengaruhi faktor lingkunganTapi kalau kita perhatikan, lingkungan itu sendiri sering dibentuk oleh media dan industri pemasaran. Misalnya, iklan yang terus menghubungkan makeup dengan perempuan atau olahraga dengan laki-laki. Jadi, bisa dibilang konsumen tidak sepenuhnya bebas memilih, karena pilihan mereka sudah diarahkan oleh konstruksi yang dibuat industri.”
Perusahaan bisa banget memanfaatkan faktor afektif konsumen dalam strategi pemasarannya dengan cara memainkan emosi. Iklan sekarang nggak cuma nunjukin fungsi produk, tapi lebih sering ngasih cerita atau suasana hati yang bisa bikin orang kebawa perasaan. Misalnya, brand kopi bikin iklan yang menekankan momen kebersamaan keluarga, bukan sekadar rasa kopi itu sendiri. Atau brand smartphone yang lebih menonjolkan bagaimana HP bisa bikin kita merasa lebih percaya diri dan dekat dengan orang lain, bukan cuma spek kamera atau memori. Strategi ini efektif karena konsumen biasanya lebih gampang ingat perasaan yang ditimbulkan dibanding detail teknis produk. Dengan menciptakan iklan yang menyentuh sisi afektif, perusahaan bisa bikin konsumen merasa ‘punya hubungan emosional’ dengan produk atau brand, sehingga pada akhirnya lebih loyal dan mau beli walaupun harganya lebih mahal. Jadi kuncinya adalah bikin orang merasa bahwa membeli produk itu bukan cuma soal fungsi, tapi juga soal identitas, kebanggaan, dan pengalaman emosional yang mereka dapat
Nama :Tio rahellita br sihaloho
Npm:2451012021


1.Kalau sebuah brand makanan ataupun yg lain terkenal pakai jasa buzzer buat naikin nama mereka di media sosial, apakah cara ini bener-bener bisa bikin orang paham, kenal, dan inget mereknya dalam jangka panjang, atau cuma bikin orang tau sekilas karena lagi rame aja, terus begitu hype selesai orang jadi lupa?

Menurut saya Belanja online itu ada enaknya juga sebenernya, ada juga ruginya. Enaknya, orang jadi lebih gampang dan hemat waktu, misalnya ibu rumah  tangga atau saya sendiri bisa belanja sayur di aplikasi tanpa harus ke pasar, atau mahasiswa bisa beli buku impor yang susah dicari di toko. Tapi sisi jeleknya, sering bikin orang jadi kalap karena banyak promo sampe kecanduan juga ada juga yang sudah beli tapi ga sesuai dengan ekspetasi di fotonya itu juga menurut saya kerugian 

Contoh nyatanya juga pas momen flash sale 12.12 di Shopee banyak orang akhirnya beli barang hanya karena murah,dikontrol dan mereka rata rata si pembeli ini pada checkout Karna takut kehabisan barangnya padahal sebenarnya nggak terlalu dibutuhin. Jadi, belanja online bisa meningkatkan kesejahteraan kalau dipakai bijak, tapi bisa juga bikin boros kalau nggak dikontrol.