Menurut saya, menanamkan civic partisipan di SD tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran teori Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan saja, tetapi harus diwujudkan dalam pengalaman nyata dan pembiasaan sehari-hari. Anak-anak belajar lebih efektif melalui praktik langsung dibandingkan sekadar penjelasan konseptual.
Pertama, penerapan budaya demokrasi di kelas merupakan langkah awal yang penting. Guru dapat melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan sederhana, seperti memilih ketua kelas melalui musyawarah atau pemungutan suara. Melalui kegiatan ini, siswa belajar menghargai pendapat orang lain, menerima hasil keputusan bersama, serta bertanggung jawab atas pilihan yang telah disepakati. Proses ini melatih mereka menjadi individu yang partisipatif dan demokratis.
Kedua, kegiatan organisasi dan kerja sama di sekolah juga berperan besar. Keterlibatan siswa dalam kepengurusan kelas, kegiatan pramuka, atau kerja bakti sekolah memberikan pengalaman langsung tentang pentingnya kontribusi individu dalam kelompok. Misalnya, saat mengikuti kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, siswa tidak hanya belajar tentang kebersihan, tetapi juga memahami bahwa setiap tindakan kecil mereka memiliki dampak bagi kenyamanan bersama. Inilah bentuk nyata pendidikan kewarganegaraan yang kontekstual.
Ketiga, guru harus menjadi teladan dalam bersikap partisipatif dan adil. Keteladanan memiliki pengaruh kuat terhadap pembentukan karakter siswa. Jika guru menghargai pendapat siswa, bersikap terbuka, dan menyelesaikan konflik melalui dialog, maka siswa akan meniru pola tersebut dalam kehidupan sosialnya.