FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Number of replies: 22

                                                                            A

Forum ini disediakan untuk berdiskusi dan berbagi mengenai Laporan observasi yang sedang dipelajari. 

Silahkan berpartisipasi aktif pada forum ini untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi yang telah disampaikan di atas.

Petunjuk diskusi kelompok:

  1. Kelompok yang mendapatkan giliran untuk memaparkan materi  sesuai dengan Topik Bahasan menyiapkan  media presentasi berupa PPT interaktif untuk diunggah dalam forum ini. 
  2. Mahasiswa lainnya pada hari pertemuan memahami materi presentasi dan materi makalah dan dipersilahkan untuk bertanya,  terkait materi tersebut atau hal-hal lain yang berhubungan dengan materi yang ditampilkan oleh pemateri. Cara bertanya dan berdiskusi: Mahasiswa me-reply pada topik yang disediakan kemudian menuliskan nama dan NPM serta pertanyaan atau berupa tanggapan.
  3. Selamat berdiskusi dan tetap semangat.


In reply to First post

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Cici Regina Nainggolan གིས-

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat siang Ibu dan teman-teman semua. Kami dari kelompok 2 dengan anggota :

1. Cici Regina Nainggolan (2413053003)

2. Naufal Fadhlirrahman (2413053005)

Akan mempresentasikan hasil diskusi kelompok kami.


Terimakasih


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

In reply to Cici Regina Nainggolan

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

FARIDA PALUPI གིས-
Nama : Farida Palupi
NPM : 2413053087

Izin bertanya, berdasarkan beberapa penelitian yang telah dijelaskan dalam kajian literature, kesulitan berhitung tidak hanya berkaitan dengan kemampuan siswa saja, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan metode pembelajaran. Menurut kelompok 2, bagaimana kerja sama antara guru, sekolah, dan keluarga dapat membantu mengatasi kesulitan berhitung pada siswa sekolah dasar?
In reply to FARIDA PALUPI

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Naufal Fadhlirrahman གིས-
Nama : Naufal Fadhlirrahman
Npm : 2413053005
izin menjawab pertanyaan dari Farida Palupi
Berdasarkan kajian literatur dalam makalah kami, kesulitan berhitung dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Karena itu, penyelesaiannya tidak hanya dibebankan kepada guru, tapi juga kerja sama antara guru, sekolah, dan keluarga. Contoh guru seperti yg dibahas membuat sebuah desain pembelajaran ASSURE. Lalu sekolah punya peran sebagai pembuat sistem dan pendukung fasilitas, keluarga dapat memberikan motivasi dan support sebagai pembiasaan dari proses belajar karna bagian dari faktor eksternal.
Jika ketiga pihak bekerja sama, maka kesulitan berhitung bisa diminimalisir karena dari aspek akademik, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah sudah ditangani.
In reply to Cici Regina Nainggolan

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

ABRAL AL-TISA 2413053051 གིས-
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Izin bertanya kepada kelompok 2

Nama: Abral Al-Tisa
NPM: 2413053051

Dalam materi dijelaskan bahwa menurut Mulyono Abdurrahman kesulitan berhitung itu berkaitan dengan kelemahan proses kognitif, bukan karena rendahnya kecerdasan.

Berdasarkan hal tersebut, bagaimana cara guru SD membedakan siswa yang memang mengalami hambatan kognitif dengan siswa yang sebenarnya hanya kurang latihan atau kurang motivasi belajar?
In reply to ABRAL AL-TISA 2413053051

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Naufal Fadhlirrahman གིས-
Nama : Naufal Fadhlirrahman
Npm : 2413053005
izin menjawab pertanyaan dari tisa
kuncinya yaitu ada pada penggunaan media pembelajaran. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa peserta didik fase A berada di tahap operasional konkret. Jadi ketika guru sudah membimbing dan menggunakan benda konkret tetapi peserta didik masih konsisten bingung pada konsep dasar bisa dikatakan ini adalah hambatan kognitif. Tetapi jika peserta didik mampu memahami saat dibimbing dan menggunakan benda konkret kemudian dikesempatan berikutnya tidak bisa ini bisa dibilang malas kurang motivasi atau kurang latihan
In reply to Cici Regina Nainggolan

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

ADELIA NANDA FEBRIANI གིས-
Nama : Adelia Nanda Febriani
Npm : 2413053106

Izin bertanya menurut kelompok 2 kenapa desain model pembelajaran assure menjadi pilihan yang pas untuk menyelesaikan permasalahan berhitung ini padahal masih banyak model pembelajaran lain nya?
In reply to ADELIA NANDA FEBRIANI

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Naufal Fadhlirrahman གིས-
Nama : Naufal Fadhlirrahman
Kelas : 2413053005
izin menjawab pertanyaan dari Adelia Nanda Febriani
memang bahwa banyak model desain pembelajaran, baik yang berorientasi kelas, produk, maupun sistem. Namun, pemilihan model harus disesuaikan dengan konteks permasalahan dan ruang lingkup kajian.Kasus yang kami analisis adalah kesulitan berhitung pada peserta didik Fase A di kelas 1 dan 2. Model seperti dick & carey, model morrison ross kemp, lebih bersifat sistematis skala besar dan sering digunakan untuk pengembangan kurikulum atau sistem pembelajaran secara menyeluruh. Sedangkan ASSURE memang dirancang untuk pembelajaran dikelas. Fokus pada Media dan Keterlibatan Aktif, ASSURE memiliki komponen yang sangat spesifik
-Select Methods, Media, and Materials
-Utilize Materials
-Require Learner Participation
Model seperti ADDIE memang sistematis, tetapi lebih umum dan tidak secara spesifik menekankan integrasi media dalam aktivitas kelas seperti ASSURE.
In reply to ADELIA NANDA FEBRIANI

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Monika ardhana parasmitha གིས-
Nama: Monika Ardhana Parasmitha
NPM:2413053153
Izin menjawab pertanyaan adel

Model ASSURE dianggap sebagai pilihan yang paling pas untuk menyelesaikan permasalahan berhitung karena sifatnya yang sangat praktis, sistematis, dan dirancang khusus untuk penggunaan di dalam ruang kelas oleh guru. Berbeda dengan model desain instruksional lain seperti ADDIE yang cenderung bersifat makro dan kompleks, ASSURE memberikan penekanan kuat pada analisis karakteristik siswa (Analyze Learners) dan pemilihan media yang tepat (Select Strategies, Technology, Media, and Materials), yang sangat krusial dalam mengubah konsep berhitung yang abstrak menjadi konkret. Selain itu, model ini mewajibkan adanya partisipasi aktif siswa (Require Learner Participation), yang merupakan kunci utama dalam penguasaan matematika; siswa tidak sekadar menonton, tetapi terlibat langsung dalam praktik hitung yang terstruktur. Fleksibilitas model ini memungkinkan guru untuk melakukan evaluasi dan revisi (Evaluate and Revise) secara cepat terhadap efektivitas media yang digunakan, sehingga hambatan belajar siswa dalam berhitung dapat segera terdeteksi dan diperbaiki dalam satu siklus pembelajaran yang efisien.
In reply to Cici Regina Nainggolan

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Tya Nabila Saumi གིས-
Tya Nabila Saumi
2413053007
Izin bertanya, selain model ASSURE adakah model lain untuk menyelesaikan permasalahan kesulitan berhitung di sekolah dasar?
In reply to Tya Nabila Saumi

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Agin Aulia Putri གིས-
Izin menanggapi pertanyaann tya
Nama: Agin Aulia Putri
NPM:2413053028
Selain model ASSURE terdapat beberapa model pembelajaran lain yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi kesulitan berhitung pada siswa sekolah dasar. Salah satunya adalah model Dick & Carey. Model ini menekankan perancangan pembelajaran secara sistematis mulai dari menganalisis kebutuhan belajar siswa, menentukan tujuan pembelajaran, mengembangkan materi, hingga melakukan evaluasi. Dengan menggunakan model ini, guru dapat terlebih dahulu mengidentifikasi bagian konsep berhitung yang paling sulit dipahami siswa, kemudian merancang strategi pembelajaran yang sesuai agar siswa dapat memahami materi secara bertahap.

Selain itu terdapat juga model Morrison, Ross, dan Kemp yang memiliki sifat lebih fleksibel. Model ini memungkinkan guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi kelas, karakteristik siswa, serta materi yang diajarkan. Dalam konteks kesulitan berhitung, guru dapat menyesuaikan metode, media, dan strategi pembelajaran sehingga siswa lebih mudah memahami konsep matematika.

Dengan demikian, model ASSURE bukan satu-satunya model yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan berhitung di sekolah dasar. Guru dapat memilih berbagai model pembelajaran lain yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan situasi pembelajaran agar proses belajar menjadi lebih efektif dan membantu siswa memahami konsep berhitung dengan lebih baik.
In reply to Cici Regina Nainggolan

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

AZZAHRA CHIKA PERTIWI གིས-
Nama : Azzahra Chika Pertiwi
NPM : 2413053033

Izin bertanya kepada kelompok 2:
Apa bentuk intervensi atau strategi pembelajaran yang paling cocok menurut kalian dan dapat diterapkan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan berhitung pada peserta didik fase A di sekolah dasar?
In reply to AZZAHRA CHIKA PERTIWI

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Agin Aulia Putri གིས-
Izin menanggapi pertanyaann chika
Nama: Agin Aulia Putri
NPM:2413053028
Menurut saya, strategi pembelajaran yang paling cocok untuk membantu peserta didik fase A yang mengalami kesulitan berhitung adalah dengan menggunakan benda konkret atau benda nyata. Pada tahap ini, anak-anak lebih mudah memahami sesuatu yang bisa mereka lihat dan pegang secara langsung. Guru bisa menggunakan alat sederhana seperti stik es krim, kancing, atau balok hitung agar siswa dapat menghitung sambil memegang benda tersebut. Dengan cara ini, siswa lebih mudah memahami konsep penjumlahan atau pengurangan.

Selain itu, pembelajaran juga bisa dilakukan melalui permainan berhitung sederhana agar suasana belajar tidak terasa membosankan. Misalnya menggunakan kartu angka atau permainan kelompok yang melibatkan kegiatan menghitung. Cara ini dapat membuat siswa lebih tertarik untuk belajar matematika dan tidak merasa takut ketika menghadapi pelajaran berhitung.

Guru juga perlu memberikan perhatian lebih kepada siswa yang mengalami kesulitan, misalnya dengan memberikan penjelasan secara perlahan dan memberikan latihan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Dengan cara ini, siswa dapat belajar berhitung secara bertahap sehingga lebih mudah memahami materi yang diajarkan.
In reply to Cici Regina Nainggolan

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Cintia Dwi Cahyati གིས-
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154

Izin bertanya,
Bagaimana membedakan kesulitan berhitung yang bersifat konseptual dengan yang disebabkan oleh keterlambatan perkembangan kognitif?
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Gendy bima pangestu གིས-
Izin menanggapi pertanyaan dari cintia
Nama : Gendy Bima Pangestu
Npm : 2413053127

Untuk membedakannya, kita perlu melihat sumber masalahnya dan pola kesulitannya.

Kalau kesulitan berhitung bersifat konseptual, biasanya siswa sebenarnya kemampuan berpikirnya sesuai usia, tapi ia belum memahami konsep dasarnya. 

Misalnya, ia bisa menghitung angka satu per satu, tetapi tidak paham makna nilai tempat atau tidak mengerti kenapa 3 + 4 bisa jadi 7. Jika dijelaskan ulang dengan cara berbeda atau diberi contoh konkret, biasanya ia mulai memahami. Jadi masalahnya ada pada pemahaman materi, bukan pada kemampuan berpikir secara umum.

Sedangkan jika disebabkan oleh keterlambatan perkembangan kognitif, kesulitannya lebih menyeluruh. Anak mungkin lambat memahami instruksi, sulit mengingat langkah-langkah sederhana, atau kesulitan berpikir logis meskipun sudah diberi contoh berulang kali. Bukan hanya matematika, tapi juga pelajaran lain yang membutuhkan penalaran bisa terdampak. Perkembangannya memang lebih lambat dibanding teman seusianya.

Jadi perbedaannya terlihat dari ruang lingkup kesulitannya. Jika hanya pada konsep tertentu dan bisa membaik dengan strategi pembelajaran yang tepat, itu cenderung konseptual. Namun jika menyangkut kemampuan berpikir secara umum dan terjadi di banyak bidang, kemungkinan berkaitan dengan perkembangan kognitif.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Cici Regina Nainggolan གིས-
Izin menjawab pertanyaan dari saudari Cintia Dwi Cahyani.
Saya, Cici Regina Nainggolan dengan NPM 2413053003.
Izin menjawab: guru dapat membedakan keduanya dengan mengamati tingkat pemahaman siswa terhadap soal matematika. Apabila kesulitan yang dialami bersifat konseptual, biasanya siswa belum menguasai konsep tertentu dalam pelajaran matematika. Contohnya, mereka mungkin mampu melakukan perhitungan, tetapi tidak sepenuhnya memahami arti dari operasi atau konsep yang sedang dipelajari. Ketika guru memberikan penjelasan dengan lebih sederhana atau menggunakan contoh yang lebih nyata, siswa umumnya mulai bisa mengikutinya.
Di sisi lain, jika kesulitan tersebut disebabkan oleh keterlambatan dalam perkembangan kognitif, maka hambatan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan satu konsep berhitung saja. Siswa cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami penjelasan, kesulitan dalam mengikuti alur berpikir, dan fenomena ini sering kali juga terlihat dalam pelajaran lainnya. Jadi, kesulitannya tidak hanya terbatas pada pelajaran matematika, melainkan juga berkaitan dengan perkembangan kemampuan berpikir anak secara keseluruhan.
In reply to Cici Regina Nainggolan

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Gita Adella གིས-
Nama : Gita Adella
NPM : 2413053092

Izin bertanya, menurut kalian, langkah apa saja yang dapat dilakukan guru agar siswa tidak mengalami kesulitan berhitung? Sebutkan contoh metode atau media yang bisa digunakan di kelas?
In reply to Gita Adella

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

ABRAL AL-TISA 2413053051 གིས-

Perkenalkan saya.

Nama: Abral Al-Tisa

NPM: 2413053051

Kelompok: 3

Izin menanggapi pertanyaan dari Gita Adella

Menurut saya, agar siswa tidak kesulitan berhitung, guru harus memastikan mereka paham konsep dasarnya dulu, lalu memberi latihan sedikit demi sedikit. Penjelasan bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari supaya lebih mudah dimengerti. Guru juga perlu memberi tahu dengan jelas di mana letak kesalahan siswa agar mereka bisa memperbaikinya. Kemudian metode yang bisa digunakan misalnya belajar sambil bermain, kerja kelompok kecil, atau latihan soal secara bertahap. Media yang dapat dipakai seperti kancing, stik es krim, kartu angka, garis bilangan, atau uang mainan. Dengan cara ini, siswa lebih mudah memahami berhitung dan tidak merasa takut pada pelajaran matematika.

In reply to Cici Regina Nainggolan

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Rika Noviliana གིས-
Nama: Rika Noviliana
Npm : 2413053073

Izin bertanya,dalam pemaparan disebutkan bahwa kesulitan berhitung tidak selalu disebabkan oleh rendahnya kecerdasan, tetapi lebih pada proses kognitif seperti persepsi visual dan memori kerja menurut Mulyono Abdurrahman. Sementara itu, pembelajaran pada Kurikulum Merdeka Fase A menekankan penggunaan benda konkret. Pertanyaannya, apakah penggunaan benda konkret saja sudah cukup untuk mengatasi kesulitan berhitung yang berkaitan dengan proses kognitif tersebut, atau masih diperlukan strategi pembelajaran lain? Jelaskan.
In reply to Rika Noviliana

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

ABRAL AL-TISA 2413053051 གིས-

Izin menanggapi pertanyaan dari Rika Noviliana

Perkenalkan saya.

Nama: Abral Al-Tisa

NPM: 2413053051

Kelompok: 3

Tanggapan:

Menurut saya, penggunaan benda konkret dalam Kurikulum Merdeka Fase A memang dapat membantu siswa memahami konsep berhitung. Dengan benda konkret, siswa bisa melihat dan menghitung langsung sehingga persepsi visual mereka lebih terbantu saat memahami jumlah atau operasi sederhana.

Namun, penggunaan benda konkret saja belum tentu cukup untuk mengatasi kesulitan yang berkaitan dengan memori kerja. Karena itu, guru masih perlu menggunakan strategi lain seperti latihan bertahap, pengulangan, serta penggunaan media visual atau permainan berhitung agar siswa lebih mudah memahami dan mengingat konsep yang dipelajari.

In reply to First post

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Syarifah Siti Fatimah NA གིས-
Nama: Syarifah Siti Fatimah NA
NPM: 2413053036

Izin bertanya, bagaimana cara mengukur keberhasilan penerapan model ASSURE dalam mengatasi kesulitan berhitung?
In reply to Syarifah Siti Fatimah NA

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Naufal Fadhlirrahman གིས-
Nama : Naufal Fadhlirrahman
Npm : 2413053005

izin menjawab pertanyaan dari syarifah siti fatimah nayara
Jadi untuk mengukur keberhasilan dari penerapan model ASSURE, yang pertama bisa diliat yaitu apakah mencapai tujuan pembelajarannya atau tidak. Seperti yang ada di bagian komponen state objective, misalnya siswa mampu melakukan penjumlahan sampai 20 dengan menggunakan benda konkret. Jika siswa dikelas mampu mencapai itu, bisa dikatakan penerapan model ASSURE efektif.

Kemudian ada pada model ASSURE ada juga komponen evalute dan revise. Guru disini menilai apakah media dan metode pembelajaran cocok dengan karakteristik siswa. Jika sesudah revisi ada peningkatan hasil belajar maka penerapan model ASSURE dikatakan berhasil. 
In reply to First post

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

Elfira Rosa Lubis གིས-
Nama: Elfira Rosa Lubis
NPM : 2413053014

izin bertanya dalam makalah dijelaskan bahwa kebutuhan pembelajaran merupakan kesenjangan antara kondisi belajar siswa dan kompetensi yang diharapkan menurut pemakalah, bagaimana cara guru memastikan bahwa kesenjangan tersebut benar-benar teridentifikasi secara objektif, bukan hanya berdasarkan asumsi guru?