NAMA: Ocha Aulia Azzahra
NPM: 2411021140
Kalau kita lihat kondisi sekarang di mana rupiah sudah menyentuh kisaran Rp17.376 per dolar AS, dampaknya bisa kita rasakan dari tiga sisi sekaligus:
1. Dari sisi mahasiswa, yang paling kerasa itu di pengeluaran harian yang pelan-pelan membengkak. Misalnya soal makan harian, tahu dan tempe yang jadi lauk andalan kos-kosan itu bahan dasarnya kedelai impor. Begitu rupiah melemah, harga kedelai dalam rupiah otomatis naik, dan penjual terpaksa mengecilkan ukuran atau menaikkan harga. Yang tadinya Rp2.000 dapat dua potong tahu, sekarang cuma satu. Belum lagi kalau laptop rusak dan butuh ganti spare part karena komponennya mayoritas impor, biaya servis pun ikut melonjak. Ditambah lagi buat yang langganan Canva Pro, atau Spotify yang ditagih dalam dolar, tagihan bulanannya otomatis naik mengikuti kurs. Dan yang sering terlewat dari perhatian adalah soal transportasi.
Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan BBM dalam jumlah signifikan, dan transaksinya dilakukan dalam dolar. Pemerintah juga sedang mengevaluasi dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi jika pelemahan rupiah terus berlanjut, sebab subsidi energi sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar agar beban APBN tidak membengkak. Artinya, ketika rupiah terus melemah, tekanan untuk menaikkan harga BBM semakin besar. Buat mahasiswa yang tiap hari naik motor ke kampus, isi bensin yang tadinya Rp20.000 sudah cukup untuk seminggu, bisa jadi tidak lagi cukup. Yang naik ojol pun sama, tarif otomatis menyesuaikan ketika harga BBM naik. Pendapatan nominal mungkin tetap sama, tapi nilai riilnya berkurang sehingga kita kehilangan sebagian kemampuan membeli barang dan jasa yang sebelumnya terjangkau dengan jumlah uang yang sama. Uang jajan dari orang tua nominalnya sama, tapi isinya makin sedikit.
2. Dari sisi barang yang naik harga, hampir semua yang kita konsumsi sehari-hari terdampak, terutama yang bahan bakunya masih bergantung pada impor. Dampak pertama yang muncul adalah kenaikan harga pangan impor, bahan baku makanan, obat, alat kesehatan, elektronik, pakan ternak, dan barang kebutuhan rumah tangga. Naiknya harga BBM memperparah kondisi ini karena BBM adalah komponen biaya yang masuk ke hampir semua rantai distribusi barang. Truk pengangkut sayur dari petani ke pasar pakai solar, motor kurir pengiriman online pakai bensin, warung makan yang restock bahan baku juga kena biaya transportasi lebih tinggi sehingga semua itu ujung-ujungnya dibebankan ke harga jual. Bahkan barang yang kelihatannya ‘lokal’ pun tetap kena dampaknya karena kemasannya pun ikut terdampak. Harga plastik juga akan mengalami kenaikan, sehingga harga turunannya seperti harga makanan dan minuman ikut terimbas naik. Jadi hampir tidak ada sudut pengeluaran yang benar-benar aman dari efek depresiasi ini, apalagi kalau dibarengi kenaikan BBM.
3. Dari sisi UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah, dampaknya paling berat karena mereka kena dari dua arah sekaligus. Bagi UMKM yang bergantung pada bahan baku impor seperti kain, bahan makanan, atau mesin, kenaikan harga membuat biaya produksi melonjak, berimbas pada harga jual yang lebih mahal dan daya saing yang menurun. Kenaikan BBM memperparah kondisi ini karena biaya distribusi dan operasional ikut terseret naik. Misalnya pedagang bakso keliling, harga daging naik karena pakan ternak impor mahal, gas elpiji ikut naik, belum lagi ongkos keliling pakai motor yang kini makan bensin lebih banyak di kantong. Di saat yang sama, konsumen rumah tangga mengurangi belanja, sehingga UMKM yang bergantung pada daya beli masyarakat terkena dampak langsung, bisnis kuliner kecil misalnya bisa melihat omzetnya turun karena pelanggan menahan pengeluaran. Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, kondisi ini bahkan lebih menekan karena mereka tidak punya tabungan atau aset sebagai pegangan. Buruh harian, petani kecil, dan pedagang pasar adalah kelompok yang paling merasakan efek berantai ini seperti penghasilan tidak naik, tapi semua pengeluaran kompak naik bersamaan. Jika rupiah bertahan di kisaran ini dalam waktu lama, masyarakat akan merasakan tekanan langsung pada biaya hidup.