Posts made by Ocha Aulia Azzahra -

Nama: Ocha Aulia Azzahra
Npm: 2411021140

Apakah pertumbuhan ekonomi tinggi selalu menunjukkan kondisi masyarakat yg benar-benar sejahtera?
Jawab:
Menurut saya belum tentu, karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu belum memastikan bahwa masyarakat lebih sejahtera. Soalnya yang lebih dirasakan masyarakat itu biasanya apakah harga kebutuhan masih terjangkau, lapangan kerja mudah didapat, dan pendapatan cukup buat kebutuhan sehari-hari. Kalau hal-hal itu belum membaik, masyarakat belum tentu merasa sejahtera walaupun ekonomi negara tumbuh tinggi. Contohnya di Q1 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61%, tapi pertumbuhan itu banyak didorong oleh belanja pemerintah yang naik besar. Jadi belum tentu kondisi ekonomi masyarakat ikut membaik secara merata.

Jadi menurut saya, pertumbuhan ekonomi itu penting, tapi bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan. Yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan itu benar-benar terasa manfaatnya buat masyarakat luas.
NAMA: Ocha Aulia Azzahra
NPM: 2411021140

Kalau kita lihat kondisi sekarang di mana rupiah sudah menyentuh kisaran Rp17.376 per dolar AS, dampaknya bisa kita rasakan dari tiga sisi sekaligus:

1. Dari sisi mahasiswa, yang paling kerasa itu di pengeluaran harian yang pelan-pelan membengkak. Misalnya soal makan harian, tahu dan tempe yang jadi lauk andalan kos-kosan itu bahan dasarnya kedelai impor. Begitu rupiah melemah, harga kedelai dalam rupiah otomatis naik, dan penjual terpaksa mengecilkan ukuran atau menaikkan harga. Yang tadinya Rp2.000 dapat dua potong tahu, sekarang cuma satu. Belum lagi kalau laptop rusak dan butuh ganti spare part karena komponennya mayoritas impor, biaya servis pun ikut melonjak. Ditambah lagi buat yang langganan Canva Pro, atau Spotify yang ditagih dalam dolar, tagihan bulanannya otomatis naik mengikuti kurs. Dan yang sering terlewat dari perhatian adalah soal transportasi.
Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan BBM dalam jumlah signifikan, dan transaksinya dilakukan dalam dolar. Pemerintah juga sedang mengevaluasi dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi jika pelemahan rupiah terus berlanjut, sebab subsidi energi sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar agar beban APBN tidak membengkak. Artinya, ketika rupiah terus melemah, tekanan untuk menaikkan harga BBM semakin besar. Buat mahasiswa yang tiap hari naik motor ke kampus, isi bensin yang tadinya Rp20.000 sudah cukup untuk seminggu, bisa jadi tidak lagi cukup. Yang naik ojol pun sama, tarif otomatis menyesuaikan ketika harga BBM naik. Pendapatan nominal mungkin tetap sama, tapi nilai riilnya berkurang sehingga kita kehilangan sebagian kemampuan membeli barang dan jasa yang sebelumnya terjangkau dengan jumlah uang yang sama. Uang jajan dari orang tua nominalnya sama, tapi isinya makin sedikit.

2. Dari sisi barang yang naik harga, hampir semua yang kita konsumsi sehari-hari terdampak, terutama yang bahan bakunya masih bergantung pada impor. Dampak pertama yang muncul adalah kenaikan harga pangan impor, bahan baku makanan, obat, alat kesehatan, elektronik, pakan ternak, dan barang kebutuhan rumah tangga. Naiknya harga BBM memperparah kondisi ini karena BBM adalah komponen biaya yang masuk ke hampir semua rantai distribusi barang. Truk pengangkut sayur dari petani ke pasar pakai solar, motor kurir pengiriman online pakai bensin, warung makan yang restock bahan baku juga kena biaya transportasi lebih tinggi sehingga semua itu ujung-ujungnya dibebankan ke harga jual. Bahkan barang yang kelihatannya ‘lokal’ pun tetap kena dampaknya karena kemasannya pun ikut terdampak. Harga plastik juga akan mengalami kenaikan, sehingga harga turunannya seperti harga makanan dan minuman ikut terimbas naik. Jadi hampir tidak ada sudut pengeluaran yang benar-benar aman dari efek depresiasi ini, apalagi kalau dibarengi kenaikan BBM.

3. Dari sisi UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah, dampaknya paling berat karena mereka kena dari dua arah sekaligus. Bagi UMKM yang bergantung pada bahan baku impor seperti kain, bahan makanan, atau mesin, kenaikan harga membuat biaya produksi melonjak, berimbas pada harga jual yang lebih mahal dan daya saing yang menurun. Kenaikan BBM memperparah kondisi ini karena biaya distribusi dan operasional ikut terseret naik. Misalnya pedagang bakso keliling, harga daging naik karena pakan ternak impor mahal, gas elpiji ikut naik, belum lagi ongkos keliling pakai motor yang kini makan bensin lebih banyak di kantong. Di saat yang sama, konsumen rumah tangga mengurangi belanja, sehingga UMKM yang bergantung pada daya beli masyarakat terkena dampak langsung, bisnis kuliner kecil misalnya bisa melihat omzetnya turun karena pelanggan menahan pengeluaran. Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, kondisi ini bahkan lebih menekan karena mereka tidak punya tabungan atau aset sebagai pegangan. Buruh harian, petani kecil, dan pedagang pasar adalah kelompok yang paling merasakan efek berantai ini seperti penghasilan tidak naik, tapi semua pengeluaran kompak naik bersamaan. Jika rupiah bertahan di kisaran ini dalam waktu lama, masyarakat akan merasakan tekanan langsung pada biaya hidup.
NAMA: Ocha Aulia Azzahra
NPM: 2411021140

1. Kalau dari studi kasus Desa Tambakrejo ini, menurut saya strategi yang paling prioritas itu ada dua, yaitu Strategi 1. infrastruktur digital dan 3. UMKM go digital.
Prioritas utama yaitu infrastruktur nya dulu, karena di kasusnya jelas banget kalau sinyal internet di desa tambakrejo masih 3G dan nggak stabil. Jadi kalau internet aja susah, mau jualan online atau pakai aplikasi juga pasti akan terhambat. Jadi ini bisa jadi pondasi awalnya. Kemudian setelah infrastruktur itu langsung ke UMKM go digital, karena Desa Tambakrejo sebenarnya sudah punya produk nyata kayak ikan laut dan anyaman bambu, jadi yang dibutuhkan itu bukan produksi lagi tapi akses pasar. Begitu masuk ke marketplace, dampaknya bisa langsung kerasa ke pendapatan warga. Kalau SDM didahulukan, biasanya skill belum kepakai karena belum ada ekosistemnya, ujung-ujungnya tetap memilih merantau.

2. Kalau untuk kegiatan konkretnya dalam 6 bulan ke depan, saya usul dua hal:
Pertama, pemerintah desa bisa koordinasi sama Kominfo daerah buat ngajuin pemasangan BTS 4G lewat program BAKTI Kominfo atau Desa Digital. Ini harus jalan duluan karena semua kegiatan berikutnya bergantung sama sinyal yang stabil. Begitu sinyal udah bagus selanjutnya yaitu, pelatihan digital untuk UMKM dan pemuda desa. Isinya simpel tapi aplikatif, seperti cara jualan di marketplace, foto produk yang menarik, sama cara promosi lewat WhatsApp atau media sosial. Jadi mereka bisa langsung praktik.

3. Untuk pihak yang dilibatkan, menurut saya ini harus ada kolaborasi dari berbagai pihak seperti:
Dari pemerintah desa, perannya penting untuk nyediain tempat dan ngatur program.
Dari pemerintah pusat atau daerah, terutama Kominfo, bisa bantu infrastruktur dan pelatihan.
Dari swasta, seperti provider internet dan marketplace, bisa bantu jaringan dan pemasaran.
Dari kampus, mahasiswa bisa turun langsung lewat KKN buat ngasih pelatihan dan pendampingan.
Dan dari pihak komunitas lokal kayak karang taruna bisa jadi penggerak di lapangan.
Nama: Ocha Aulia Azzahra
NPM: 2411021140

Studi kasus 3: E-Commerce vs Toko Tradisional
1. Apakah digitalisasi mematikan usaha kecil offline?
2. Bagaimana strategi adaptasi UMKM menghadapi perubahan?
3. Apakah terjadi monopoli platform yang merugikan?

Digitalisasi ini memang sangat memengaruhi cara masyarakat dalam melakukan aktivitas jual beli. Dulu harus datang langsung ke toko, sekarang cukup lewat HP aja sudah bisa beli apa pun lewat marketplace seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada. Karna semuanya jadi terasa lebih cepat, praktis, dan nggak ribet. Kalau dibilang digitalisasi mematikan usaha kecil offline, menurut saya nggak sepenuhnya. Tapi memang bikin mereka jadi harus kerja lebih keras. Toko yang masih jualan secara tradisional tanpa ikut online biasanya mulai kalah saing, karena sekarang orang lebih suka yang gampang dan banyak promo. Jadi sebenarnya bukan dimatikan, tapi lebih ke “kalau nggak ikut berubah, ya bakal ketinggalan”.

Nah untuk strategi adaptasinya, UMKM bisa mulai pelan-pelan masuk ke dunia digital. Nggak harus langsung besar, yang penting mulai dulu. Misalnya jualan di marketplace, promosi lewat media sosial, atau kasih diskon biar menarik pembeli. Selain itu bisa juga pakai cara gabungan, jadi tetap punya toko fisik tapi juga jualan online. Intinya sih harus mau belajar dan nggak takut coba hal baru. Kalau soal monopoli, kemungkinan itu ada. Soalnya sekarang banyak transaksi yang terpusat di platform besar. Kalau mereka terlalu dominan, bisa aja aturan jadi lebih berat ke penjual kecil, misalnya biaya admin atau persaingan harga yang semakin ketat. Makanya perlu juga peran pemerintah buat ngawasin supaya tetap adil dan nggak merugikan UMKM.

Jadi intinya, e-commerce itu nggak sepenuhnya buruk atau baik. Ada sisi peluangnya, tapi juga ada tantangannya. Tinggal gimana pelaku usaha bisa menyesuaikan diri. Kalau bisa ikut perkembangan, justru bisa berkembang lebih jauh. Tapi kalau tetap bertahan di cara lama tanpa perubahan, ya bakal makin susah bersaing.