Posts made by RENO RENO SETIA

Nama : Reno Setia
NPM : 2453053051

1. Bagaimana struktur pembelajaran IPS SD dalam kurikulum bisa membantu guru menyeimbangkan pengembangan pengetahuan, keterampilan sosial, dan sikap siswa?
Struktur kurikulum IPS SD sebenarnya dirancang supaya tiga aspek itu—pengetahuan, keterampilan, dan sikap—tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mengisi dalam satu rangkaian pembelajaran. Biasanya ini terlihat dari capaian pembelajaran yang sudah memuat unsur kognitif (memahami konsep), unsur keterampilan (mengamati, berdiskusi, menyampaikan pendapat), dan unsur sikap (menghargai perbedaan, bertanggung jawab, peduli lingkungan sosial).
Guru bisa menerjemahkan struktur ini ke dalam kegiatan yang memuat ketiganya sekaligus. Misalnya, saat mengangkat tema "keragaman budaya di Indonesia", guru tidak berhenti pada penjelasan macam-macam suku dan adat istiadat (pengetahuan), tapi mengajak siswa mewawancarai teman sekelas yang berasal dari daerah berbeda (keterampilan sosial: berkomunikasi, mendengarkan aktif), kemudian menutup pembelajaran dengan refleksi tentang pentingnya menghormati perbedaan tersebut (sikap toleransi). Dengan cara ini, satu topik pembelajaran sudah mencakup tiga ranah tanpa perlu memisahkannya ke dalam kegiatan yang terpisah-pisah.

2. Apa yang terjadi kalau guru hanya fokus menyampaikan materi tanpa mengaitkan tujuan pembelajaran, materi, proses, dan asesmen?
Kalau keempat komponen ini berjalan sendiri-sendiri, pembelajaran jadi kehilangan arah yang jelas. Guru mengajar, tapi tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai dari kegiatan itu, dan penilaian yang dilakukan pun jadi tidak nyambung dengan apa yang sudah diajarkan.
Contohnya begini: tujuan pembelajaran menyebutkan siswa harus mampu "menganalisis dampak interaksi sosial di lingkungan sekitar", tapi dalam praktiknya guru hanya membacakan materi dari buku paket tanpa mengajak siswa mengamati kondisi nyata di lingkungannya. Ujung-ujungnya, soal ujian yang diberikan pun cuma menagih hafalan definisi, bukan menguji kemampuan analisis seperti yang tertulis di tujuan awal. Akibatnya, ada kesenjangan antara apa yang hendak dicapai dengan apa yang sebenarnya diukur—siswa bisa saja mendapat nilai bagus, tapi kemampuan berpikir yang ingin dibentuk sama sekali belum tercapai. Dalam jangka panjang, ini membuat pembelajaran IPS terasa formalitas belaka, sekadar menuntaskan materi tanpa dampak nyata bagi cara berpikir dan bersikap siswa.

3. Bagaimana seharusnya guru menyusun pembelajaran IPS SD agar struktur kurikulum tidak sekadar jadi dokumen administratif, melainkan benar-benar terhubung dengan kehidupan sosial siswa sehari-hari?
Kuncinya ada pada bagaimana guru menerjemahkan dokumen kurikulum itu ke dalam pengalaman belajar yang konkret dan dekat dengan keseharian siswa, bukan sekadar mengikuti urutan bab di buku ajar.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Sebelum menyusun rencana pembelajaran, guru sebaiknya mengenali dulu persoalan sosial apa yang sedang dihadapi siswa di lingkungan mereka—bisa soal sampah, kemacetan, perundungan antarteman, atau kesenjangan ekonomi di sekitar sekolah—lalu menjadikannya pintu masuk untuk membahas konsep IPS yang relevan.
- Materi yang ada di kurikulum diperlakukan sebagai kerangka besar, bukan naskah yang harus diikuti kata demi kata. Guru punya ruang untuk memilih contoh, studi kasus, atau kegiatan yang paling pas dengan kondisi siswanya masing-masing.
- Proses pembelajaran diarahkan supaya siswa aktif mengamati dan mendiskusikan persoalan nyata, bukan hanya duduk mendengarkan penjelasan guru. Misalnya, alih-alih hanya menerangkan tentang "masalah lingkungan", siswa bisa diajak mengamati pengelolaan sampah di sekitar rumah masing-masing, lalu berdiskusi mencari solusi sederhana yang bisa mereka lakukan sendiri.
- Penilaian juga perlu disesuaikan agar tidak hanya menguji ingatan, tapi melihat sejauh mana siswa mampu menghubungkan apa yang dipelajari dengan kondisi nyata di sekitarnya, misalnya lewat tugas proyek kecil atau laporan pengamatan.

Dengan pendekatan seperti ini, kurikulum tidak lagi sekadar berhenti sebagai dokumen yang tersimpan rapi, tetapi benar-benar hidup dan terasa manfaatnya bagi siswa dalam memahami serta menghadapi persoalan sosial di sekitarnya.

Nama: Reno Setia

NPM: 2453053051

Izin Menjawab Bapak

1. Mengapa pembelajaran IPS SD harus terus disesuaikan dengan karakteristik siswa dan dinamika sosial masyarakat?

Alasannya karena ada dua faktor yang sama-sama tidak statis: perkembangan anak dan kondisi masyarakat.

- Anak usia SD sedang mengalami tahap berpikir yang bertahap, dari yang masih sangat bergantung pada hal-hal konkret menuju kemampuan berpikir yang lebih abstrak (sesuai teori Piaget). Siswa kelas rendah masih memerlukan ilustrasi nyata dan visual, sedangkan siswa kelas tinggi sudah mampu diajak memahami hubungan sebab-akibat yang lebih rumit. Oleh karena itu, isi dan cara mengajar harus disesuaikan agar tidak terlalu berat atau justru terlalu ringan bagi mereka.

- Selain itu, kondisi sosial di masyarakat terus bergeser—munculnya teknologi digital, media sosial, perpindahan penduduk, persoalan lingkungan, hingga keragaman budaya yang makin mudah diakses lewat internet. Bila materi IPS masih memakai gambaran lama, misalnya hanya membahas transaksi di pasar tradisional tanpa menyentuh pembayaran digital, siswa akan kesulitan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan yang mereka jalani.

Contoh nyatanya: dulu topik "jual beli" biasanya digambarkan lewat pasar tradisional dengan pembayaran tunai. Kini, guru dapat memperkaya materi tersebut dengan mengenalkan transaksi melalui dompet digital atau belanja daring yang sudah tidak asing bagi siswa, sehingga pemahaman tentang "permintaan dan penawaran" terasa lebih dekat dengan pengalaman keseharian mereka.

2. Bagaimana hakikat pembelajaran IPS SD dapat mendorong siswa mempraktikkan konsep sosial, bukan sekadar mengetahuinya?

Pada dasarnya, IPS tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi tentang masyarakat, melainkan juga membangun sikap dan kecakapan sosial yang dapat langsung digunakan siswa. Hal ini akan terwujud bila pembelajaran dikaitkan dengan pengalaman nyata di lingkungan siswa, bukan sekadar menghafal definisi dari buku.

Contoh situasinya:

- Nilai "kerja sama" akan lebih bermakna jika tidak hanya dijelaskan secara teori. Guru bisa mengajak siswa bekerja bersama membersihkan area sekolah, kemudian mengajak mereka merefleksikan bagaimana pembagian peran dan gotong royong tersebut mencerminkan makna kerja sama yang dipelajari.

- Pemahaman tentang "hak dan kewajiban" dapat dipraktikkan lewat kegiatan simulasi pemilihan ketua kelas, di mana siswa merasakan langsung proses bermusyawarah, belajar menghargai pendapat yang berbeda, dan menerima hasil keputusan bersama.

Melalui pendekatan semacam ini, siswa bukan sekadar mengetahui pengertian "kerja sama", tetapi juga terbiasa menerapkannya ketika menghadapi situasi sosial yang sesungguhnya, baik di sekolah maupun di rumah.

3. Apa akibatnya bila pembelajaran IPS SD hanya menekankan hafalan tanpa melatih siswa mengamati, menganalisis, dan menyelesaikan persoalan sosial?

Beberapa konsekuensi yang dapat muncul:

- Pemahaman yang dangkal dan mudah terlupakan— siswa mungkin bisa menjawab soal ujian, namun tidak benar-benar mengerti makna sosial di baliknya, sehingga pengetahuan tersebut tidak melekat lama karena tidak dibangun dari pengalaman langsung.

- Kemampuan berpikir kritis tidak terasah — semestinya IPS melatih siswa untuk peka terhadap masalah sosial di sekelilingnya (seperti kemiskinan, sampah, atau konflik antarteman) serta mencari jalan keluarnya. Bila pembelajaran hanya berfokus pada hafalan, kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah ini tidak akan berkembang.

- Munculnya jarak antara teori dan praktik — siswa mungkin hafal istilah seperti "toleransi" atau "gotong royong", tetapi belum tentu mampu mewujudkannya ketika menghadapi perbedaan pendapat atau konflik yang sebenarnya.

- Menurunnya kepekaan sosial — salah satu tujuan IPS adalah mencetak warga negara yang peduli dan tanggap terhadap lingkungan sosialnya. Tanpa dilatih mengamati dan menganalisis, siswa cenderung bersikap pasif dan kurang peka terhadap persoalan di sekitarnya.

Alasan mendasarnya, IPS pada hakikatnya adalah mata pelajaran yang berpijak pada kehidupan nyata, bukan semata ilmu yang bersifat teoretis. Jika pembelajarannya hanya berhenti pada hafalan, maka tujuan inti IPS—yaitu membentuk warga negara yang kritis, peduli, dan mampu berperan aktif di tengah masyarakat—tidak akan tercapai secara maksimal.

DesainB1 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 5

by RENO RENO SETIA -
Izin menjawab pertanyaan dari celsi

Pembelajaran yang terlalu fokus pada prosedur memang bisa menjadi salah satu penyebab rendahnya kemampuan numerasi siswa. Namun kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa itu adalah penyebab utama. Kemampuan numerasi siswa juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti lingkungan keluarga, motivasi belajar, dan kemampuan dasar yang dimiliki siswa.

Sebagai calon pendidik, kita perlu memastikan terlebih dahulu faktor apa yang paling memengaruhi. Salah satu caranya adalah dengan melakukan asesmen diagnostik. Asesmen ini membantu guru mengetahui kemampuan awal siswa dan kesulitan yang mereka alami dalam belajar numerasi. Dalam PPT juga dijelaskan bahwa jika tidak ada asesmen diagnostik, guru akan sulit memahami kebutuhan belajar siswa. 

Selain itu, guru juga perlu memahami karakteristik siswa. Guru perlu melihat latar belakang siswa, minat belajar, dan dukungan dari lingkungan keluarga. Dengan begitu, guru dapat mengetahui apakah kesulitan belajar lebih disebabkan oleh metode pembelajaran atau oleh faktor lain.

Guru juga perlu mengevaluasi cara mengajar yang digunakan. Jika pembelajaran hanya menekankan langkah-langkah pengerjaan soal, siswa biasanya hanya menghafal cara mengerjakan tanpa benar-benar memahami konsepnya. Hal ini membuat siswa kesulitan ketika menghadapi soal yang berbeda atau soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. 

Guru juga bisa mencoba menggunakan metode pembelajaran yang berbeda, seperti diskusi atau pembelajaran berbasis masalah. Jika setelah metode pembelajaran diubah kemampuan siswa menjadi lebih baik, maka dapat disimpulkan bahwa cara mengajar memang memiliki pengaruh besar.

Jadi, sebagai calon guru kita tidak boleh langsung menyimpulkan satu penyebab saja. Kita perlu melihat berbagai faktor yang memengaruhi kemampuan numerasi siswa agar solusi yang diberikan benar-benar tepat.

PGSD_PP2H_GENAP 24/25 -> FORUM DISKUSI

by RENO RENO SETIA -
Assalamulaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat malam ibu.
Mohon maaf sebelumnya ibu, Izin memperkenalkan
Kelas : 4 SD
Kelompok 9
Nama Kelompok :
1. Emelda Tri Ranjani_2453053017_Matematika_Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal
2. Nindyta_2453053008_Pengukuran
3. ⁠Reno setia_2453053051_bilangan cacah
4. Foger Fireza_2453053013_Matematika_Bangun Datar

saya Reno Setia izin mengumpulkan tugas Individu membuat modul mata pelajaran Matematika kelas 4 Sekolah Dasar

Terima kasih
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh