Posts made by Kharisma Apri Irencia

Nama : Kharisma Apri Irencia
NPM : 2411021099

saya memilih soal no 3 yaitu apakah pertumbuhan ekonomi tinggi selalu menunjukan kondisi masyarakat yang benar benar sejahtera?

jawabannya
Tidak selalu. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu semua masyarakat sejahtera, karena kadang yang menikmati hanya kelompok atau daerah tertentu saja. Jadi yang penting bukan cuma( angka )pertumbuhan tinggi, tapi juga kita bisa melihat dari apakah pendapatan merata, lapangan kerja bertambah, dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Nama : Kharisma Apri Irencia
npm : 2411021099

1. Dampak terhadap Kehidupan Pribadi sebagai Pelajar
Dampak depresiasi rupiah ini sebenarnya sudah saya rasakan sehari-hari, namun sering tidak langsung disadari dari mana asalnya. Contoh paling konkret: harga makan di warung sekitar kampus belakangan terasa lebih mahal. Seporsi nasi tempe yang dulu Rp 10.000 sekarang sudah Rp 13.000–15.000. Indonesia masih mengimpor sebagian besar kedelainya, jadi ketika rupiah melemah, harganya merambat sampai ke warung. Hal yang sama terjadi pada perangkat kuliah. Harga laptop, charger, atau headset naik cukup signifikan dibanding setahun lalu karena komponen elektronik hampir semuanya masih impor dan dihargai dalam dolar.
Yang bikin saya sadar ini serius: uang saku saya tidak berkurang, tapi rasanya makin cepat habis. Itulah yang disebut penutunan daya beli riil bukan nominalnya yang berkurang, tapi nilai yang bisa dibeli dari uang itu yang menyusut akibat cost-push inflation.

2. Barang dan Kebutuhan yang Berpotensi Naik Harga
Di sekitar kehidupan saya di Bandar Lampung, ada beberapa barang yang paling cepat terasa naiknya.
Makanan pokok berbahan baku impor seperti tahu, tempe, mie instan, dan roti adalah yang paling langsung terasa karena berbahan dasar kedelai dan gandum yang masih banyak kita impor. Lalu BBM dan transportasi Lampung sangat bergantung pada kendaraan, jadi kalau harga BBM naik akibat pelemahan rupiah, efeknya menjalar ke ongkos ojol hingga harga barang di pasar.
Yang sering luput dari perhatian adalah obat-obatan, padahal sekitar 90% bahan baku farmasi Indonesia masih diimpor. Dan khusus di Lampung, harga pupuk dan pestisida impor juga naik, yang langsung menekan biaya produksi petani kecil di sekitar kota.

3. Dampak terhadap UMKM dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Ini yang menurut saya paling penting dibicarakan karena sering tidak terlihat di permukaan.
Bayangkan ibu penjual gorengan di dekat kos. Harga minyak, tepung, dan cabai sudah naik semua. Tapi kalau dia naikkan harga gorengannya, pembeli protes atau pindah. Akhirnya dia terpaksa perkecil ukuran atau kurangi isian margin tergerus dari dua sisi sekaligus. Bedanya dengan perusahaan besar, UMKM tidak punya akses ke instrumen lindung nilai (hedging) untuk melindungi diri dari risiko kurs. Mereka sepenuhnya pasrah pada pergerakan pasar, dan kalau tidak kuat, ujungnya gulung tikar dan karyawannya kehilangan pekerjaan.
Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, bebannya bahkan lebih mendasar. Hampir seluruh penghasilan mereka langsung habis untuk kebutuhan pokok, sehingga tidak ada ruang untuk berhemat. Upah mereka juga tidak otomatis naik mengikuti inflasi buruh harian dan pedagang kecil tidak bisa begitu saja menegosiasikan kenaikan pendapatan. Dan yang paling tidak adil secara struktural: mereka tidak punya aset pelindung inflasi seperti dolar, emas, atau properti yang justru nilainya terlindungi ketika rupiah melemah.
Dari perspektif ekonomi pembangunan, inilah yang disebut dampak regresif beban terberat justru ditanggung oleh mereka yang paling tidak mampu menanggungnya. Tanpa kebijakan yang berpihak, depresiasi yang berkepanjangan hanya akan memperlebar ketimpangan dan menjauhkan kita dari tujuan pembangunan yang inklusif.
Nama : Kharisma Apri Irencia
NPM : 2411021099

1. Strategi paling prioritas
Menurut saya yaitu pemerataan infrastruktuur digital. Alasannya, desa ini masih terkendala sinyal internet yang tidak stabil, sehingga akses dasar menjadi syarat utama sebelum program digital lain dijalankan. Setelah itu, perlu dilanjutkan dengan literasi digital agar warga mampu menggunakan teknologi secara aman dan efektif.

2. Dua kegiatan konkret dalam 6 bulan ke depan
Pertama, melakukan pemetaan titik sinyal dan menyediakan pusat internet desa di lokasi strategis seperti balai desa atau sentra UMKM. Kedua, mengadakan pelatihan digital dasar untuk warga, khususnya tentang penggunaan marketplace, WhatsApp Business, foto produk, dan keamanan digital.

3. Pihak yang harus dilibatkan
Pihak yang perlu dilibatkan adalah pemerintah desa, swasta, komunitas lokal, dan kampus. Pemerintah desa berperan sebagai koordinator, swasta membantu dari sisi jaringan dan fasilitas, komunitas lokal memastikan partisipasi warga, sedangkan kampus dapat mendampingi pelatihan dan evaluasi programnya.
Nama : Kharisma Apri Irencia
NPM : 2411021099

STUDI KASUS 3
E-Commerce vs Toko Tradisional

1. Digitalisasi mematikan usaha kecil offline?
Menurut saya ga sepenuhnya mati sih, tapi yang ga mau berubah ya bakal ketinggalan. Yang mau adaptasi justru bisa lebih berkembang karena jangkauan pembelinya lebih luas, ga cuma orang sekitar aja.

2. Strategi adaptasi UMKM gimana?
Salah satu strategi yang bisa terapkan itu menurut saya UMKM juga bisa meniru berjualan online kaya sambil live in juga produk mereka, promosiin produk bisa daftar di marketplace, promosi lewat Instagram/TikTok, pakai QRIS biar bisa terima bayar digital. Intinya UMKM harus "naik kelas" ke digital tapi tetap jaga keunikan produknya.

3. Monopoli platform merugikan ga?
Menurut saya ini yang bahaya. UMKM malah jadi terlalu bergantung ke platform besar. Kalau Shopee tiba-tiba naikin komisi atau ubah algoritma, pastinya pedagang kecil yang paling kena dampaknya. Karena mereka ga punya pilihan banyak.