Nama : Muhammad Dhani Pradana
NPM : 2411021013
1. Dampak depresiasi rupiah terhadap kehidupan pribadi sebagai mahasiswa
Sejujurnya, dampaknya sangat terasa terutama di biaya operasional kuliah. Sebagai mahasiswa, kita kan sangat bergantung pada teknologi. Laptop, handphone, sampai komponen komputer itu semuanya barang impor. Kalau rupiah melemah, harga gadget dan suku cadangnya otomatis makin mahal. Saya jadi harus berpikir dua kali kalau mau servis laptop atau beli perangkat baru untuk mendukung tugas kuliah.
Selain itu, buat teman-teman yang rencana ikut program pertukaran pelajar atau lanjut studi ke luar negeri, depresiasi ini jadi beban besar karena biaya hidup di sana jadi berkali-kali lipat lebih mahal kalau dikonversi ke rupiah. Untuk yang tinggal di kos-kosan, biaya makan harian juga pasti ikut naik karena harga bahan pangan biasanya ikut menyesuaikan dengan harga BBM dan biaya transportasi yang terpengaruh dolar.
2. Barang atau kebutuhan di sekitar yang akan mengalami kenaikan harga.
Kalau saya perhatikan, barang-barang yang kemungkinan besar bakal naik harganya antara lain:
- Barang Elektronik dan Gadget. Seperti yang saya bilang tadi, laptop dan HP hampir semuanya berbasis harga global.
- Makanan Olahan Berbasis Gandum dan Kedelai. Seperti mie instan dan gorengan (tahu/tempe). Perlu diingat kalau gandum itu 100% impor, dan kedelai kita juga masih banyak yang didatangkan dari luar negeri. Ini makanan wajib mahasiswa yang paling rawan naik harga.
- Bahan Bakar Minyak (BBM). Karena Indonesia juga masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah, kalau rupiah loyo, biaya subsidi negara membengkak. Ujung-ujungnya, harga BBM nonsubsidi atau bahkan subsidi bisa saja dinaikkan pemerintah untuk menjaga APBN.
- Tiket Pesawat dan Transportasi. Maskapai bayar avtur dan suku cadang pakai dolar, jadi harga tiket pasti makin tidak masuk akal kalau mau pulang kampung.
3. Dampak terhadap UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah
Ini bagian yang paling krusial. Bagi UMKM, depresiasi ini seperti dipukul dari dua arah. Pertama, biaya produksi naik drastis kalau mereka pakai bahan baku impor (seperti perajin tempe atau pedagang makanan). Kedua, mereka tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena takut pelanggannya kabur. Akhirnya, margin keuntungan mereka makin tipis, dan banyak yang terancam gulung tikar kalau kondisi ini terus terjadi bertahun-tahun.
Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, dampaknya jauh lebih parah. Kelompok ini biasanya menghabiskan sebagian besar pendapatannya cuma untuk makan. Saat terjadi cost-push inflation (inflasi karena biaya produksi naik), harga kebutuhan pokok melonjak tapi gaji mereka tidak ikut naik secepat itu. Dampaknya, daya beli merosot tajam. Mereka terpaksa mengurangi konsumsi protein atau nutrisi lain demi bisa makan nasi, dan ini dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada kualitas kesehatan dan sumber daya manusia kita secara nasional.
Intinya, kalau depresiasi ini tidak segera ditangani dengan kebijakan moneter yang tepat (seperti yang dilakukan Bank Indonesia dengan intervensi pasar atau menaikkan suku bunga acuan), stabilitas ekonomi yang sudah dibangun bakal goyah dan memperlebar jurang kesenjangan sosial.