Posts made by Muhammad Dhani Pradana

Nama : Muhammad Dhani Pradana
NPM : 2411021013

1. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,41%, dampak apa yang akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia terutama dari sisi rumah tangga?

Kalau pertumbuhan ekonomi cuma 4,41%, yang paling kerasa itu sektor lapangan pekerjaan. Sampai April 2026 ini ada lebih dari 15 ribu pekerja yang terkena PHK. Bayangin aja kalau pertumbuhan lebih rendah daripada 4% lagi, tambah banyak itu pengangguran (karena lapangan pekerjaan tidak banyak sebagai akibat pertumbuhan ekonomi tidak bisa menampung angkatan kerja barusan tiap tahunnya). Selain itu upah juga gak selaras dengan peningkatan PDB, perusahaan gapunya alasan untuk menaikkan gaji karyawannya. Intinya 4,41% kalau konteksnya Indonesia bisa dibilang TIDAK CUKUP karena Indonesia itu menghasilkan banyak angkatan kerja baru, yang kena apa? Benar— fresh graduate dan masyarakat kelas bawah.

Nama : Muhammad Dhani Pradana 

NPM : 2411021013


1. Dampak depresiasi rupiah terhadap kehidupan pribadi sebagai mahasiswa

Sejujurnya, dampaknya sangat terasa terutama di biaya operasional kuliah. Sebagai mahasiswa, kita kan sangat bergantung pada teknologi. Laptop, handphone, sampai komponen komputer itu semuanya barang impor. Kalau rupiah melemah, harga gadget dan suku cadangnya otomatis makin mahal. Saya jadi harus berpikir dua kali kalau mau servis laptop atau beli perangkat baru untuk mendukung tugas kuliah.

Selain itu, buat teman-teman yang rencana ikut program pertukaran pelajar atau lanjut studi ke luar negeri, depresiasi ini jadi beban besar karena biaya hidup di sana jadi berkali-kali lipat lebih mahal kalau dikonversi ke rupiah. Untuk yang tinggal di kos-kosan, biaya makan harian juga pasti ikut naik karena harga bahan pangan biasanya ikut menyesuaikan dengan harga BBM dan biaya transportasi yang terpengaruh dolar.

2. Barang atau kebutuhan di sekitar yang akan mengalami kenaikan harga.

Kalau saya perhatikan, barang-barang yang kemungkinan besar bakal naik harganya antara lain:

  - Barang Elektronik dan Gadget. Seperti yang saya bilang tadi, laptop dan HP  hampir semuanya berbasis harga global.

  - Makanan Olahan Berbasis Gandum dan Kedelai. Seperti mie instan dan gorengan (tahu/tempe). Perlu diingat kalau gandum itu 100% impor, dan kedelai kita juga masih banyak yang didatangkan dari luar negeri. Ini makanan wajib mahasiswa yang paling rawan naik harga.

  - Bahan Bakar Minyak (BBM). Karena Indonesia juga masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah, kalau rupiah loyo, biaya subsidi negara membengkak. Ujung-ujungnya, harga BBM nonsubsidi atau bahkan subsidi bisa saja dinaikkan pemerintah untuk menjaga APBN.

  - Tiket Pesawat dan Transportasi. Maskapai bayar avtur dan suku cadang pakai dolar, jadi harga tiket pasti makin tidak masuk akal kalau mau pulang kampung.

3. Dampak terhadap UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah 

Ini bagian yang paling krusial. Bagi UMKM, depresiasi ini seperti dipukul dari dua arah. Pertama, biaya produksi naik drastis kalau mereka pakai bahan baku impor (seperti perajin tempe atau pedagang makanan). Kedua, mereka tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena takut pelanggannya kabur. Akhirnya, margin keuntungan mereka makin tipis, dan banyak yang terancam gulung tikar kalau kondisi ini terus terjadi bertahun-tahun.

Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, dampaknya jauh lebih parah. Kelompok ini biasanya menghabiskan sebagian besar pendapatannya cuma untuk makan. Saat terjadi cost-push inflation (inflasi karena biaya produksi naik), harga kebutuhan pokok melonjak tapi gaji mereka tidak ikut naik secepat itu. Dampaknya, daya beli merosot tajam. Mereka terpaksa mengurangi konsumsi protein atau nutrisi lain demi bisa makan nasi, dan ini dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada kualitas kesehatan dan sumber daya manusia kita secara nasional.

Intinya, kalau depresiasi ini tidak segera ditangani dengan kebijakan moneter yang tepat (seperti yang dilakukan Bank Indonesia dengan intervensi pasar atau menaikkan suku bunga acuan), stabilitas ekonomi yang sudah dibangun bakal goyah dan memperlebar jurang kesenjangan sosial.

Nama : Muhammad Dhani Pradana
NPM : 2411021013

1. Strategi mana dari lima strategi yang paling prioritas untuk desa ini serta
berikan alasannya.

Prioritas utamanya adalah Strategi 1 mengenai infrastruktur
dan Strategi 5 tentang literasi digital. Hal ini dikarenakan kendala mendasar di
Desa Tambakrejo adalah sinyal yang masih 3G dan tidak stabil serta kondisi warga
yang masih gaptek. Tanpa sinyal yang mumpuni, layanan digital lain tidak akan
bisa diakses, sementara literasi diperlukan agar warga paham manfaat teknologi
dan berani mulai berjualan secara online.

2. Usulkan dua kegiatan konkret dalam enam bulan ke depan untuk memulai
transformasi digital.

Kegiatan pertama adalah pengadaan titik WiFi publik gratis
di balai desa atau area pelelangan ikan melalui program Desa Digital untuk
mengatasi keterbatasan sinyal seluler. Kegiatan kedua adalah pelatihan praktis
pembuatan akun marketplace bagi perajin anyaman bambu agar mereka bisa mulai
memasarkan produk ke luar daerah secara mandiri tanpa tergantung pada perantara
konvensional.

3. Siapa saja pihak yang harus dilibatkan baik dari pemerintah desa, swasta,
komunitas, maupun kampus.

Pemerintah desa berperan sebagai penggerak utama dalam
pengalokasian dana dan kebijakan lokal, sedangkan pihak swasta dari provider
internet dibutuhkan untuk upgrade jaringan ke 4G atau 5G. Selain itu,
keterlibatan mahasiswa dari kampus sangat penting untuk melakukan pendampingan
teknis langsung kepada warga, sementara komunitas seperti Siberkreasi bisa
dilibatkan untuk memberikan edukasi mengenai cara bertransaksi digital yang aman
agar warga terhindar dari penipuan online.
Nama: Muhammad Dhani Pradana
NPM: 2411021013

STUDI KASUS 4

1. Apakah fintech membantu atau justru membebani masyarakat?
Menurut saya, fintech lending di Indonesia 2026 ini lebih banyak menjadi jaring daripada solusi finansial produktif karena penggunaannya didominasi untuk gaya hidup atau konsumsi instan, yang dimana itu di atas kemampuan bayar mereka. Meskipun membantu pencairan dana darurat, bunga harian yang akumulatif malah sering membuat peminjam terjebak dalam utang yang gak ada ujungnya, sehingga ekonomi masyarakat justru makin retak dari dalam.

2. Bagaimana regulasi melindungi konsumen dari praktik predatory?
Menurut saya, regulasi yang ada sekarang masih sering kecolongan oleh aplikasi-aplikasi cross-country ilegal yang operasinya pindah-pindah terus dan sulit diberantas sampai ke akarnya. Meskipun ada batasan bunga dari OJK, perlindungan data pribadi konsumen di 2025-2026 masih sering bocor, membuat nasabah seringkali mendapatkan intimidasi dan teror digital yang merusak reputasi mereka secara sosial tanpa ada tindakan hukum yang cepat dari otoritas terkait.

3. Dampak terhadap inklusi keuangan versus over-indebtedness?
Menurut saya, dampak yang paling mengerikan adalah naiknya inklusi keuangan yang tidak dibarengi literasi, sehingga menghasilkan generasi gagal bayar di mana anak muda tahun 2026 banyak yang sudah hancur skor kreditnya (BI Checking) bahkan sebelum mereka mulai berkarier secara stabil. Over-indebtedness atau beban utang yang berlebih ini membuat pergerakan ekonomi kita stagnan karena pendapatan masyarakat habis tersedot hanya untuk menyetor bunga pinjol saja, bukannya untuk ditabung atau investasi produktif.

Kesimpulannya... fintech di Indonesia tahun 2025-2026 ini lebih menjadi jebakan gaya hidup"daripada solusi modal usaha yang nyata, karena kemudahan aksesnya justru menciptakan fenomena gagal bayar masal di kalangan anak muda yang literasi keuangannya rendah. Realitanya, inklusi keuangan kita memang naik secara angka, tapi di baliknya masyarakat malah tercekik beban bunga konsumtif yang membuat ekonomi rumah tangga keropos akibat pola gali lubang tutup lubang yang makin sistematis dan sulit dihentikan.