Posts made by amanda crescentyas ghaitsadini

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Izin Bapak.

Izin memperkenalkan diri,
Nama : Amanda Crescentyas Ghaitsadini Kusumawarhani
NPM : 2313053034
Kelas : 6/B


Izin menjawab diskusi,

1. Jika dibandingkan, menurut saya Model 221 (kmr tunggal) justru memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dalam hal pengelolaan. Dalam satu ruang terdapat dua tingkatan kelas dengan kebutuhan belajar yang berbeda, sementara hanya ada satu guru yang menangani. Tantangannya tidak hanya pada pembagian waktu, tetapi juga menjaga agar konsentrasi siswa dan suasana kelas tetap kondusif. Saat guru berfokus pada satu kelompok, kelompok lain harus tetap aktif tanpa merasa terabaikan. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan pola “perpindahan perhatian” yang terstruktur. Guru dapat mengatur waktu pendampingan secara bergiliran, menyiapkan tugas mandiri dengan instruksi yang jelas sebelum berpindah fokus, serta menegakkan aturan kelas yang konsisten. Dengan pola yang teratur, siswa akan terbiasa dan tetap merasa mendapatkan bimbingan meskipun guru tidak selalu berada di dekat mereka.

2. Dalam menentukan keterkaitan antar tingkat kelas, hal yang perlu diperhatikan adalah agar penggabungan tema tidak menyebabkan materi menjadi kurang mendalam. Acuan utama tetap pada capaian pembelajaran masing-masing tingkat. Keterkaitan tersebut berfungsi sebagai penghubung konteks, bukan untuk menyamakan kedalaman materi. Contohnya pada tema “lingkungan”. Kelas bawah dapat mempelajari jenis-jenis lingkungan dan kebiasaan menjaga kebersihan, sedangkan kelas atas lebih diarahkan pada pembahasan dampak pencemaran serta upaya penanganannya secara lebih kritis. Meskipun temanya sama, tingkat berpikir dan kompleksitas tetap disesuaikan. Dengan demikian, integrasi tetap berjalan tanpa mengorbankan target kurikulum setiap kelas.

3. LKS yang disusun secara tepat memang sangat membantu dalam pembelajaran kelas rangkap karena dapat meningkatkan kemandirian siswa. Namun, menurut saya LKS belum dapat sepenuhnya menggantikan peran guru, terutama dalam menyampaikan konsep yang rumit atau berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Peran guru tetap penting untuk memberikan penegasan, klarifikasi, serta umpan balik secara langsung. Sebagai pendukung, dapat diterapkan sistem tutor sebaya dengan pembagian tugas yang jelas, misalnya menunjuk siswa sebagai ketua kelompok yang telah mendapatkan arahan dari guru sebelumnya. Meskipun demikian, guru tetap perlu melakukan evaluasi akhir untuk memastikan pemahaman siswa tetap tepat dan tidak terjadi perbedaan interpretasi antar kelompok. Dengan demikian, LKS dan tutor sebaya berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti utama peran guru.

Sekian, terima kasih.
Assalamualaikum wr wb,
Izin memperkenalkan diri, Pak
Nama : Amanda Crescentyas Ghaitsadini Kusumawarhani
NPM : 2313053034

Izin menjawab diskusi, Pak

1. Menurut saya, kajian pembelajaran tematik merupakan mata kuliah yang memiliki kontribusi besar dalam membekali calon guru sekolah dasar. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep pembelajaran, tetapi juga dilatih untuk merancang pembelajaran yang memadukan berbagai mata pelajaran dalam satu kesatuan tema. Mengingat karakteristik peserta didik sekolah dasar yang lebih mudah memahami hal-hal konkret dan utuh, pendekatan tematik menjadi strategi yang tepat karena membantu siswa melihat pembelajaran sebagai satu pengalaman yang saling berkaitan. Pembelajaran pun menjadi lebih hidup, interaktif, dan relevan dengan realitas kehidupan siswa, sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat.

2. Menurut pendapat saya, penerapan pembelajaran terpadu saat ini justru semakin memperoleh urgensi, khususnya seiring diberlakukannya Kurikulum Merdeka di Indonesia. Kurikulum ini menuntut proses pembelajaran yang memberi ruang luas bagi kreativitas, partisipasi aktif, serta pengalaman belajar berbasis aktivitas nyata. Prinsip tersebut sejalan dengan pembelajaran terpadu yang mengintegrasikan berbagai bidang studi dalam satu rangkaian kegiatan. Melalui pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), peserta didik diajak untuk belajar secara langsung melalui praktik, kolaborasi, dan pemecahan masalah kontekstual. Dengan demikian, pembelajaran terpadu tidak hanya relevan, tetapi menjadi pendekatan yang esensial untuk menjawab kebutuhan pendidikan masa kini.

Terima Kasih, Pak
Wassalamualaikum wr wb
Assalamualaikum wr wb,
Izin memperkenalkan diri, Pak
Nama : Amanda Crescentyas Ghaitsadini Kusumawarhani
NPM : 2313053034

Izin menjawab diskusi Pak,

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran terpadu memang tidak boleh asal menggabungkan mata pelajaran saja. Ada beberapa prinsip penting yang harus dijaga supaya pembelajarannya tetap bermakna dan tidak kehilangan tujuan pendidikannya, yaitu:
1. Keaslian (Authenticity)
Pembelajaran sebaiknya berkaitan dengan pengalaman nyata siswa. Artinya, materi yang diajarkan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya saat membahas tema “Lingkungan”, siswa bisa diajak mengamati kebersihan kelas atau lingkungan rumah. Dengan begitu, mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami secara langsung.
2. Kebermaknaan
Siswa perlu tahu dan paham kenapa mereka mempelajari suatu topik. Jika mereka mengerti manfaatnya, mereka akan lebih semangat dan merasa pembelajaran itu penting. Misalnya belajar tentang menjaga kesehatan, siswa jadi sadar bahwa itu berguna untuk kehidupan mereka sendiri.
3. Keterkaitan
Dalam pembelajaran terpadu harus ada hubungan yang jelas antar konsep. Jadi bukan sekadar menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema tanpa hubungan yang kuat. Misalnya dalam satu tema, materi Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk membaca teks tentang lingkungan, lalu IPA membahas dampak sampah terhadap kesehatan. Semua saling terhubung dan mendukung.
4. Kemandirian
Pembelajaran terpadu sebaiknya memberi ruang bagi siswa untuk aktif dan mandiri. Guru tidak hanya menjelaskan, tetapi memberi kesempatan siswa untuk mencoba, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas sendiri atau bersama teman.
5. Mendorong Inkuiri (Mencari Tahu Sendiri)
Siswa didorong untuk bertanya, mencari informasi, dan menemukan jawaban sendiri, bukan hanya menerima penjelasan dari guru. Dengan cara ini, kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu mereka akan berkembang.

Terima Kasih, Pak
Wassalamualaikum wr wb

Assalamualikum wr wb,

Izin memperkenalkan diri Pak,

Nama : Amanda Crescentyas Ghaitsadini Kusumawarhani

NPM : 2313053034

Izin menjawab diskusi Pak,

1. Kesiapan SDM 
Menurut saya, kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran lintas disiplin belum sepenuhnya merata. Sebagian guru masih terbiasa mengajar berdasarkan mata pelajaran secara terpisah, sehingga mengalami kesulitan ketika harus mengintegrasikan berbagai bidang dalam satu tema pembelajaran. Meskipun demikian, secara mental banyak guru mulai terbuka terhadap perubahan, terutama dengan adanya Kurikulum Merdeka. Namun, dari sisi kompetensi profesional, masih diperlukan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan agar guru mampu merancang pembelajaran terpadu secara efektif, memahami keterkaitan antarkonsep, serta menerapkan model pembelajaran aktif di kelas.

2. Efektivitas Ujian atau Asesmen Dasar
Penerapan pembelajaran terpadu menuntut penyesuaian dalam sistem penilaian. Perbedaan tema integrasi antar sekolah membuat asesmen berbasis hafalan menjadi kurang relevan. Oleh karena itu, penilaian perlu difokuskan pada pengukuran kompetensi siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, pemahaman konsep, pemecahan masalah, dan keterampilan penerapan pengetahuan. Pergeseran sistem evaluasi menuju literasi, numerasi, dan penguatan karakter menunjukkan bahwa asesmen saat ini mulai selaras dengan prinsip pembelajaran terpadu.

3. Implementasi di Indonesia melalui Kurikulum Merdeka dan P5
Kurikulum Merdeka pada dasarnya telah mengadopsi prinsip pembelajaran terpadu, terutama melalui kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Melalui pendekatan berbasis proyek, siswa belajar secara kontekstual dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam satu kegiatan. Walaupun dalam pelaksanaannya masih dihadapkan pada tantangan seperti kesiapan guru, keterbatasan sarana prasarana, dan pengelolaan waktu, secara konseptual Kurikulum Merdeka telah mengarah pada pembelajaran yang fleksibel, berpusat pada siswa, dan mendukung pengembangan kompetensi secara holistik.

Terima Kasih, Pak

Wassalamualaikum wr wb

Assalamualaikum WrWb,

Perkenalkan pak, saya

Nama : Amanda Crescentyas Ghaitsadini Kusumawarhani 

NPM : 2313053034

Kelas : 6/B

Izin menjawab diskusi, Pak

Pembelajaran kelas rangkap merupakan bentuk pembelajaran yang menggabungkan dua atau lebih jenjang kelas dalam satu kegiatan belajar mengajar yang dipandu oleh seorang pendidik. Model pembelajaran ini biasanya diterapkan akibat keterbatasan tenaga pendidik, jumlah peserta didik yang tidak banyak, maupun kondisi geografis dan karakteristik sekolah tertentu. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk mampu mengelola proses pembelajaran secara simultan agar capaian pembelajaran masing-masing kelas tetap terpenuhi.

Di samping itu, penerapan kelas rangkap mendorong peserta didik untuk mengembangkan kemandirian belajar, seperti melalui kegiatan belajar mandiri maupun penerapan tutor sebaya. Pengaturan ruang belajar yang adaptif dan fleksibel juga menjadi faktor pendukung, sehingga peserta didik dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat kelas atau jenis aktivitas yang sedang berlangsung. Aspek penting lainnya dalam pembelajaran kelas rangkap adalah manajemen waktu, di mana pendidik harus mengalokasikan waktu secara proporsional agar setiap kelompok kelas memperoleh pendampingan yang memadai dan proses pembelajaran berlangsung secara optimal.