Nama: Alifia Lintang Prameswari
NPM: 2313053201
Kelas: 3/G
Analisis Video 2: Potret Pendidikan di Dusun Terpencil
Video ini menyoroti kondisi SD Negeri Gelar, sebuah sekolah yang terletak di dusun terpencil di kaki Gunung Api Gone, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sekolah ini berada dalam kondisi yang sangat terbatas, baik dalam fasilitas maupun infrastruktur. Dengan hanya memiliki enam ruangan, lima di antaranya digunakan sebagai ruang kelas dan satu sebagai kantor sekaligus ruang guru, sekolah ini harus memanfaatkan setiap sudut yang ada untuk kegiatan belajar-mengajar. Karena ruangan yang terbatas, salah satu kelas terpaksa melaksanakan kegiatan belajar di teras sekolah, tanpa perlindungan yang memadai dari panas matahari maupun hujan.
Keterbatasan ini tidak hanya berupa ruang kelas yang minim, tetapi juga ketiadaan perpustakaan. Para siswa tidak memiliki akses ke buku atau bahan bacaan lain yang bisa membantu memperkaya pengetahuan mereka. Meski demikian, semangat belajar mereka tetap tinggi. Setiap pagi, mereka harus berjalan kaki sejauh dua kilometer untuk bisa sampai ke sekolah. Perjalanan ini dilakukan dengan penuh tekad, menunjukkan betapa besar keinginan mereka untuk memperoleh pendidikan, meskipun dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Di tengah pandemi COVID-19, ketika pemerintah mendorong pembelajaran dari rumah, SD Negeri Gelar tidak mampu menerapkannya karena wilayah ini tidak memiliki jaringan telekomunikasi. Akses internet yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran daring tidak tersedia di sana. Akibatnya, meskipun ada anjuran untuk belajar dari rumah demi mencegah penularan virus, para siswa tetap harus datang ke sekolah agar tidak ketinggalan pelajaran.
Belajar di teras menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa. Ketika matahari terik, mereka harus menahan panas yang menyengat, dan di saat hujan, kegiatan belajar-mengajar terganggu karena teras tidak memberikan perlindungan yang cukup. Sering kali, para siswa terpaksa berteduh di bawah pohon atau tempat lain untuk menghindari paparan panas matahari yang langsung mengenai mereka. Dalam kondisi seperti ini, kenyamanan dan konsentrasi belajar jelas terganggu. Para guru di sekolah ini menyadari bahwa suasana belajar yang tidak memadai ini bisa memengaruhi perkembangan belajar para siswa.
Guru-guru di SD Negeri Gelar sangat berharap pemerintah setempat bisa segera turun tangan untuk memperbaiki situasi ini. Mereka memohon agar sekolah ini dapat dibantu dengan tambahan ruang kelas yang memadai, sehingga semua siswa bisa belajar di dalam ruangan yang terlindungi. Dengan ruang kelas tambahan, para siswa akan terbebas dari kekhawatiran soal cuaca dan bisa mengikuti pelajaran dengan lebih nyaman. Selain itu, mereka juga berharap agar sekolah bisa dilengkapi dengan perpustakaan kecil, sehingga para siswa dapat mengakses buku dan bahan bacaan untuk menambah pengetahuan mereka di luar pelajaran formal.
Video ini menjadi pengingat bahwa masih banyak anak-anak di Indonesia yang berjuang untuk mendapatkan pendidikan dalam kondisi yang sangat terbatas. Dengan menyediakan fasilitas yang layak, pemerintah tidak hanya membantu mereka memperoleh pendidikan, tetapi juga memberi mereka harapan akan masa depan yang lebih baik. Kisah SD Negeri Gelar di Kabupaten Sikka ini menunjukkan betapa pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam memperhatikan sekolah-sekolah di daerah terpencil, agar kesetaraan dalam akses pendidikan dapat benar-benar terwujud di seluruh Indonesia.
NPM: 2313053201
Kelas: 3/G
Analisis Video 2: Potret Pendidikan di Dusun Terpencil
Video ini menyoroti kondisi SD Negeri Gelar, sebuah sekolah yang terletak di dusun terpencil di kaki Gunung Api Gone, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sekolah ini berada dalam kondisi yang sangat terbatas, baik dalam fasilitas maupun infrastruktur. Dengan hanya memiliki enam ruangan, lima di antaranya digunakan sebagai ruang kelas dan satu sebagai kantor sekaligus ruang guru, sekolah ini harus memanfaatkan setiap sudut yang ada untuk kegiatan belajar-mengajar. Karena ruangan yang terbatas, salah satu kelas terpaksa melaksanakan kegiatan belajar di teras sekolah, tanpa perlindungan yang memadai dari panas matahari maupun hujan.
Keterbatasan ini tidak hanya berupa ruang kelas yang minim, tetapi juga ketiadaan perpustakaan. Para siswa tidak memiliki akses ke buku atau bahan bacaan lain yang bisa membantu memperkaya pengetahuan mereka. Meski demikian, semangat belajar mereka tetap tinggi. Setiap pagi, mereka harus berjalan kaki sejauh dua kilometer untuk bisa sampai ke sekolah. Perjalanan ini dilakukan dengan penuh tekad, menunjukkan betapa besar keinginan mereka untuk memperoleh pendidikan, meskipun dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Di tengah pandemi COVID-19, ketika pemerintah mendorong pembelajaran dari rumah, SD Negeri Gelar tidak mampu menerapkannya karena wilayah ini tidak memiliki jaringan telekomunikasi. Akses internet yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran daring tidak tersedia di sana. Akibatnya, meskipun ada anjuran untuk belajar dari rumah demi mencegah penularan virus, para siswa tetap harus datang ke sekolah agar tidak ketinggalan pelajaran.
Belajar di teras menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa. Ketika matahari terik, mereka harus menahan panas yang menyengat, dan di saat hujan, kegiatan belajar-mengajar terganggu karena teras tidak memberikan perlindungan yang cukup. Sering kali, para siswa terpaksa berteduh di bawah pohon atau tempat lain untuk menghindari paparan panas matahari yang langsung mengenai mereka. Dalam kondisi seperti ini, kenyamanan dan konsentrasi belajar jelas terganggu. Para guru di sekolah ini menyadari bahwa suasana belajar yang tidak memadai ini bisa memengaruhi perkembangan belajar para siswa.
Guru-guru di SD Negeri Gelar sangat berharap pemerintah setempat bisa segera turun tangan untuk memperbaiki situasi ini. Mereka memohon agar sekolah ini dapat dibantu dengan tambahan ruang kelas yang memadai, sehingga semua siswa bisa belajar di dalam ruangan yang terlindungi. Dengan ruang kelas tambahan, para siswa akan terbebas dari kekhawatiran soal cuaca dan bisa mengikuti pelajaran dengan lebih nyaman. Selain itu, mereka juga berharap agar sekolah bisa dilengkapi dengan perpustakaan kecil, sehingga para siswa dapat mengakses buku dan bahan bacaan untuk menambah pengetahuan mereka di luar pelajaran formal.
Video ini menjadi pengingat bahwa masih banyak anak-anak di Indonesia yang berjuang untuk mendapatkan pendidikan dalam kondisi yang sangat terbatas. Dengan menyediakan fasilitas yang layak, pemerintah tidak hanya membantu mereka memperoleh pendidikan, tetapi juga memberi mereka harapan akan masa depan yang lebih baik. Kisah SD Negeri Gelar di Kabupaten Sikka ini menunjukkan betapa pentingnya peran pemerintah dan masyarakat dalam memperhatikan sekolah-sekolah di daerah terpencil, agar kesetaraan dalam akses pendidikan dapat benar-benar terwujud di seluruh Indonesia.