Kiriman dibuat oleh Antin Mutia Putri

Nama : Antin Mutia Putri
NPM : 2313053213

Analisis video 3

Jepang menjadi salah satu negara yang memiliki pendidikan dasar yang baik, ada banyak perbedaan dengan pendidikan dasar yang ada di Indonesia. Perbedaan tersebut sebagai berikut:
1. Kebersihan sejak dini : kurikulum di Jepang mengharuskan semua siswa nya memiliki tanggung jawab atas kebersihan nya diri sendiri.

2. Makan bersama : di Jepang memberikan makanan sehat dan mewajibkan untuk siswa makan bersama agar dapat menjalin hubungan yang erat.

3. Mata pelajaran sedikit : di Indonesia seperti yang kita ketahui mata pelajaran nya sangat banyak namun di Jepang mata pelajaran nya hanya sedikit.

4. Pendidikan karakter: pemerintah Jepang menyakini bahwa pendidikan karakter akan menjadi pondasi dasar untuk masa depan.

5. Minat baca : di Jepang mewajibkan siswa nya untuk membaca 10 menit sebelum memulai pelajaran.

6. Perlengkapan sekolah : di Jepang semua perlengkapan sekolah disamakan mulai dari tas, sepatu, dll.

7. Seragam sekolah : di Jepang hanya memiliki 1 seragam tidak seperti Indonesia yang memiliki banyak seragam mulai dari seragam putih merah/biru/abu-abu, seragam batik, dll.
Nama : Antin Mutia Putri
NPM : 2313053213

Analisis video 2 :

Dalam video tersebut menggambarkan kondisi memprihatinkan yang dihadapi oleh siswa dan guru di SD Negeri Gelar, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Terbatasnya fasilitas membuat kegiatan belajar mengajar dilakukan di teras sekolah karena kekurangan ruang kelas. Dari enam ruangan yang ada, lima digunakan sebagai kelas dan satu untuk ruang guru, sementara fasilitas lain seperti perpustakaan tidak tersedia. Meskipun infrastruktur minim, semangat belajar siswa tetap tinggi, meskipun harus berjalan kaki sejauh dua kilometer setiap hari untuk sampai ke sekolah.

Kondisi semakin sulit di tengah pandemi COVID-19, terutama karena daerah ini tidak memiliki akses jaringan telekomunikasi. Akibatnya, kegiatan belajar jarak jauh yang diharapkan pemerintah tidak dapat dilakukan. Siswa yang belajar di luar ruangan pun menghadapi tantangan seperti panas matahari yang menyengat atau hujan deras yang memaksa mereka berteduh di bawah pohon. Keadaan ini menghambat kelangsungan pendidikan yang layak bagi anak-anak di sana, sehingga mereka hanya dapat belajar secara terbatas.

Pihak sekolah berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan dengan membangun ruang kelas baru untuk menunjang kegiatan belajar yang lebih aman dan nyaman. Penyediaan fasilitas ini penting untuk menjamin anak-anak dapat mengakses pendidikan tanpa hambatan. Situasi di SD Negeri Gelar mencerminkan urgensi perhatian terhadap pendidikan di daerah terpencil, agar semua anak
Nama : Antin Mutia Putri
NPM : 2313053213

Analisis video 1 :

Dalam video menunjukkan pengabdian seorang pengajar dari Gerakan Indonesia Mengajar di Desa Tanjung Matol, Nunukan, Kalimantan Utara, yang menyoroti pentingnya pendidikan sebagai "cahaya" untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Pengajar tersebut menghadapi tantangan seperti pernikahan dini, kurangnya minat melanjutkan pendidikan, dan keterbatasan fasilitas di desa. Dengan motivasi yang kuat, ia tidak hanya memberikan pendidikan akademik tetapi juga membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sekolah melalui pendekatan kreatif dan kolaborasi dengan tokoh-tokoh lokal.

Selain tantangan, pengajar tersebut juga menceritakan pengalamannya hidup di desa dengan segala keberagaman budaya, seperti berburu dan memetik pakis, yang mengajarkannya nilai-nilai syukur dan kerja keras. Ia berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan menghias kelas dan menerapkan metode pembelajaran interaktif, seperti belajar di luar ruangan. Dalam perjuangannya, ia menemukan inspirasi dari sosok-sosok lokal, seperti Loli, seorang pemudi yang peduli pada pendidikan, dan kepala sekolah yang sabar, yang menjadi mitra dalam membawa perubahan.

Didalam video ini juga mencerminkan optimisme pengajar tersebut terhadap masa depan anak-anak desa yang bercita-cita tinggi, meski berada di daerah terpencil. Ia percaya bahwa melalui kerja sama dan semangat kolektif, pendidikan dapat menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih baik. Meskipun merasa masih banyak yang perlu dilakukan, ia merasa bersyukur telah menjadi bagian dari perjalanan membangun generasi muda di wilayah tersebut.
Nama : Antin Mutia Putri
NPM : 2313053213

Pendidikan moral di Indonesia semakin lama semakin terpinggirkan. Nilai-nilai seperti sopan santun, gotong royong, dan kejujuran yang dulu dijunjung tinggi kini mulai tergerus oleh dampak globalisasi dan perkembangan teknologi. Kurangnya penekanan pada pendidikan karakter di sekolah dan pengawasan orang tua turut berperan, ditambah dengan masuknya budaya luar yang tidak disaring dengan baik. Solusi untuk mengatasi masalah ini harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga keluarga, agar moralitas bangsa dapat diperkuat kembali. Pendidikan moral sangat penting karena merupakan landasan utama dalam membentuk masyarakat yang lebih maju.
Nama : Antin Mutia Putri
NPM : 2313053213

Analisis Jurnal 2

Jurnal ini menekankan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang berperan dalam membentuk dasar moral dan nilai-nilai keagamaan anak. Penekanan pada pentingnya "pendidikan sejak dini" menegaskan betapa vitalnya peran keluarga sebagai pondasi utama dalam pembentukan karakter. Namun, untuk mencapai hasil yang optimal, dibutuhkan kerjasama yang erat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, yang mencerminkan pendekatan menyeluruh dalam pembentukan moral anak.
Jurnal ini juga mengidentifikasi 8 faktor yang berkontribusi pada penurunan moral, memberikan wawasan menyeluruh mengenai tantangan yang dihadapi oleh anak-anak. Faktor-faktor tersebut mencakup aspek internal, seperti kurangnya penanaman nilai iman dalam keluarga, serta faktor eksternal, seperti pengaruh lingkungan, media, dan penyalahgunaan narkoba. Penulis menekankan pentingnya pendekatan preventif, termasuk pemberian bimbingan waktu luang yang konstruktif dan pendidikan moral sejak usia dini.
Pentingnya keseimbangan peran antara keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi inti dari pembentukan moral anak. Tanpa kerjasama yang solid antara ketiga pihak ini, pendidikan moral tidak akan efektif. Hal ini menyoroti pentingnya pendekatan kolaboratif yang saling mendukung di seluruh aspek pendidikan.
Penulis juga memberikan panduan praktis dalam menanamkan nilai moral, dimulai dengan pengenalan nilai-nilai keimanan (ma’rifatullah), hingga pembiasaan sikap dan perilaku positif seperti kejujuran, keadilan, dan kesederhanaan. Pembinaan moral tidak hanya dilakukan melalui ajaran verbal, tetapi juga dengan memberikan keteladanan nyata dari orang tua yang menjadi contoh yang dapat diikuti anak-anak.