Kiriman dibuat oleh Fauzya Putri Ramadani

Nama : Fauzya Putri Ramadani
NPM : 2313053221

Jurnal “Problematika Moral Bangsa Terhadap Etika Masyarakat” menekankan pentingnya penggabungan antara moral, etika, dan penegakan hukum dalam komunitas, khususnya di Kampung Cijambe Girang, Sukaresmi, Kabupaten Sukabumi. Rendahnya moralitas bangsa disebabkan oleh pelanggaran etika yang sering terjadi, yang dipicu oleh kurangnya pemahaman hukum dan pendidikan moral.

Penegakan hukum yang efisien dan pembuatan peraturan yang mengatur etika masyarakat sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Selain itu, pendidikan moral di tingkat komunitas harus diperkuat untuk meningkatkan kesadaran individu mengenai hak dan tanggung jawab etis.
Tanpa usaha terpadu dari pemerintah, masyarakat, dan individu, nilai-nilai moral akan terus tergerus oleh perubahan zaman dan teknologi. Oleh karena itu, tindakan nyata perlu diambil untuk menciptakan lingkungan yang lebih etis dan aman, demi masa depan bangsa yang lebih baik.
Nama : Fauzya Putri Ramadani
NPM : 2313053221

Jurnal “Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan” oleh Suparlan Suhartono membahas tentang menekankan pentingnya kesadaran moral dan norma etika dalam mengatasi konflik antara individualisme dan kolektivisme di masyarakat. Suhartono mengemukakan bahwa konflik ini merupakan bagian dari sifat dasar manusia, yang semakin buruk karena perilaku korup. Pembelajaran nilai-nilai moral dan etika dianggap sebagai solusi untuk mencapai keseimbangan antara kepentingan perorangan dan kepentingan masyarakat.

Dengan meningkatkan kesadaran moral, setiap individu dapat bertindak lebih bertanggung jawab, yang pada gilirannya akan memperkuat norma-norma sosial dan meningkatkan kualitas kehidupan bersama. Kesadaran moral yang kuat dalam diri individu bisa mengurangi konflik serta membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.
Nama : Fauzya Putri Ramadani
NPM : 2313053221

Film pendek “Pelajar Anti Korupsi” ini menunjukkan bahwa cerita yang disampaikan melalui tokoh Henafi mencerminkan kesadaran dan penolakan terhadap korupsi di kalangan pelajar. Film ini menyoroti bahwa korupsi berdampak buruk yang tidak hanya merusak integritas pribadi, tetapi juga dapat berujung pada konsekuensi moral dan sosial yang serius.

Melalui kata "makan uang korupsi," sang tokoh yang sering melakukan kebiasaan membuat nota palsu memahami bahwa keterlibatan dalam korupsi dapat memicu "penyakit" dalam kehidupan, menunjukan bahwa tindakan korupsi merusak kesehatan moral dan karakter seseorang. Selain itu, terdapat pesan harapan untuk perbaikan, di mana Henafi menyadari kesalahannya dan bertekad untuk mengganti perilaku buruk dengan yang lebih baik.

Secara keseluruhan, film pendek ini berfungsi sebagai alat pendidikan yang efektif, mengajak generasi muda untuk menolak korupsi dan mengutamakan nilai-nilai kejujuran dan integritas.
Nama : Fauzya Putri Ramadani
NPM : 2313053221

Video “Pantesan Negaranya Cepat Berkembang! Begini Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia” membahas perbedaan sistem pendidikan dasar antara Jepang dan Indonesia, bahwa kedua negara menggunakan metode yang sangat berbeda dalam mendidik siswa. Di Jepang, ada penekanan pada tanggung jawab pribadi, kebersihan, dan pengembangan karakter, di mana siswa terlibat aktif dalam menjaga lingkungan sekolah serta mengikuti kegiatan makan siang bersama guru. Sistem kurikulum Jepang cenderung lebih sederhana, dengan perhatian pada kualitas belajar dan pembentukan karakter, tanpa adanya tekanan ujian pada tahun-tahun awal pendidikan.

Sebaliknya, pendidikan di Indonesia ditandai dengan banyaknya mata pelajaran dan ujian, yang dapat menambah beban bagi siswa. Kebiasaan membaca di Jepang lebih baik karena adanya rutinitas membaca sebelum pelajaran, sedangkan Indonesia menghadapi masalah dalam hal minat baca yang rendah. Walaupun sistem pendidikan Jepang memiliki banyak keunggulan, mereka juga mencatat adanya tekanan belajar yang tinggi yang berkontribusi pada masalah kesehatan mental, seperti tingkat bunuh diri yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa meskipun masing-masing sistem memiliki keunggulan dan kekurangan, ada pelajaran yang dapat diambil dari kedua pendekatan untuk memperbaiki pendidikan di masing-masing negara.