Posts made by Syahrani Harahap

Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G

Analisis Video 3 dengan judul Pantesan Negaranya Cepat Berkembang! Begini Perbedaan Pendidikan Dasar Jepang dan Indonesia

Tiap negara pasti memiliki kondisi yang berbeda mulai dari kebudayaan, ekonomi penduduk dan watak masyarakatnya. Sehingga sistem pendidikan tiap negara juga menjadi berbeda.
Berikut perbedaan pendidikan sekolah dasar di Jepang dan Indonesia:
1. Kebersihan sejak dini, Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia, nah kebiasaan ini yang mungkin terjadi karena tidak diajarkan pada kurikulum di sekolah kita. Berbeda dengan jepang, di sana mereka menggunakan kurikulum yang mengharuskan setiap peserta didik bertanggung jawab dengan kebersihan sekolah mereka sendiri.
2. Makan Bareng, di jepang sekolah mengatur makanan siswa mulai dari gizi, cara makannya dll. di jepang selalu makan bersama, sehingga tercipta keakraban antara murid dengan murid dan murid dengan guru. Berbeda dengan Indonesia yang tidak di atur sehingga para murid bebas untuk memakan apa saja makanan yang ada di kantin.
3. Mata Pelajaran, di Indonesia mata pelajaran lebih banyak. Sedangkan di jepang lebih sedikit.
4. Pendidikan Karakter, di Indonesia dalam mengevaluasi hasil belajar murid pasti diwarnai dengan ujian, seperti ujian tulis, ujian lisan dll untuk naik kelas.
Berbeda dengan jepang di sana mereka tidak melakukan ujian di 3 tahun awal pendidikan dasar mereka. Mereka lebih fokus dalam pendidikan karakter (sopan santun, tolong menolong, bersikap di publik, dll) hal ini dilakukan karena pemerintah jepang percaya bahwa pendidikan karakter menjadi dasar yang baik untuk para siswa.
5. Membaca dulu, di jepang setiap awal pembelajaran murid di minta untuk membaca dulu, berbeda dengan Indonesia yang biasanya langsung diberikan pelajaran.
6. Perlengkapan sekolah, di jepang perlengkapan sekolah sudah di siapkan dari sekolahnya sehingga semua murid memiliki perlengkapan yang sama sehingga tidak terjadi ketimpangan sosial. Berbeda dengan Indonesia di mana setiap perlengkapan itu biasanya beli masing-masing dengan motif-motif yang beragam.
7. Seragam Sekolah, seragam sekolah di Indonesia itu lebih beragam, sedangkan di jepang mereka hanya memiliki satu seragam.
Meskipun banyak kelebihan dari sistem pendidikan di jepang tapi ternyata banyak tekanan dalam pendidikan di sana tidak jarang banyak orang yang bunuh diri.

Berdasarkan video ini dapat kita simpulkan bahwa setiap sistem pendidikan pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Sehingga perlu adanya perbaikan pada setiap sistem pendidikan ini. Mungkin Indonesia bisa mencontoh jepang dari sisi positifnya begitu pun sebaliknya.
Nama: Syahrani Harahap
NPM: 2313053216
Kelas: 3G

Analisis Video 2 yang berjudul Potret Pendidikan di Dusun Terpencil

Pada video ini menceritan tentang SD Negeri Glak, Kab. Sikka, Nusa Tenggara Timur yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Karena di sd ini menghadapi keterbatasan fasilitas, seperti ruang kelas, sehingga para siswa terpaksa untuk melakukan pembelajaran di teras kelas. Di mana di sekolah ini hanya terdapat 6 ruangan yang mana 5 kelas untuk KBM dan 1 kelas lagi untuk ruang guru. Bukan hanya itu sekolah ini juga tidak mempunyai perpustakaan.

Meski banyak keterbatasan pada sekolah ini, para siswa tetap bersemangat untuk belajar. Pada masa covid-19 di mana yang seharusnya sekolah di laksanakan secara daring namun sekolah ini tidak bisa melaksanakannya sebab di sana belum ada jaringan telekomunikasi. Singga mereka tetap melakukan pembelajaran di sekolah.

Pihak sekolah berharap pemerintah segera menyediakan fasilitas dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung pendidikan yang layak. Pemerintah perlu segera memberikan perhatian untuk memperbaiki fasilitas sekolah, memastikan akses pendidikan yang layak, dan mendukung teknologi untuk mendukung pembelajaran yang optimal. Semangat siswa dan guru layak mendapatkan dukungan nyata untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.
Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G

Analisis Video = Sepenggal Cerita Pengajar Muda di Pelosok Kalimantan

Pendidikan adalah cahaya, dengan pendidikan dapat menuntun kita ke arah yang kita mau.

Video ini menampilkan kisah seorang pengajar muda dari gerakan Indonesia mengajar. Yaitu Martensi Veronica Siregar, ia mendapatkan kesempatan untuk mengajar di SDN 11 Sembakung, di Desa Tanjung Matol, Nunukan, Kalimantan Utara.
 
Di Desa Tanjung Matol ini masih banyak orang yang kurang minat melanjutkan pendidikan setelah SD. Orang tua disana juga masih banyak yang kurang sadar pentingnya pendidikan, masih banyak anak-anak yang menikah dini.
 
Martensi berkeinginan untuk membuat anak-anak mau pergi ke sekolah, belajar, dan mempunya bekal untuk masa depannya. Ternyata Di desa ini Tk dan Paud belum masuk. Pada saat pembelajaran Martensi menggunakan metode-metode pembelajaran yang menarik agar para siswa tidak cepat bosan dan juga minat terhadap pembelajaran. Ruang kelas pun di buat semenarik mungkin agar anak-anak nyaman pada saat pembelajaran.

Di dalam video ini menceritakan bagaimana peran dari kepala sekolah untuk menciptakan minat belajar anak dengan melakukan pemberian hadiah kepada para siswa yang berprestasi dengan mengajak anak-anak jalan-jalan keluar dari desa itu.
 
Di desa ini, Martensi mendapatkan banyak pelajaran berharga. Ia belajar untuk hidup dalam kesederhanaan, meningkatkan rasa syukur, dan menjadi lebih rendah hati. Banyak pengalaman berkesan yang ia dapatkan selama berada di desa ini.

Para ibu di desa tersebut sangat hebat dan tangguh. Mereka mampu mengerjakan berbagai pekerjaan, termasuk pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh laki-laki, seperti memancing. Dengan keuletan mereka, kebutuhan sehari-hari keluarga dapat terpenuhi dengan baik.

Selain itu, Martensi juga terinspirasi oleh semangat para guru di desa ini, baik guru muda maupun guru senior di SD. Mereka bekerja keras untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak.
Melalui dedikasi Mertensi dan para guru di SDN 11 Sembakung, diharapkan kesadaran pentingnya pendidikan di tanjung matol mulai tumbuh. Kerena merekalah penerus tongkat pendidikan.

Martensi berkata, "Mungkin tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk bangsa ini, tetapi saya ingin membantu sedikit dengan apa yang saya miliki. Terutama dalam bidang pendidikan"
NAMA: SYAHRANI HARAHAP
NPM: 2313053216
KELAS: 3G
Pada video tersebut adalah video mengenai proses kegiatan pembelajaran. Di video ini bisa dilihat bawa terdapat siswa yang tidak disiplin, siswa itu tidak menggunakan seragam sebagaimana mestinya seorang siswa.

Pada video ini juga terlihat siswa asyik sendiri pada saat guru menjelaskan pelajaran, sehingga guru mengambil sikap untuk mengeluarkan siswa tersebut. Lalu anak-anak juga ketika habis pembelajaran mereka tidak memberi salam kepada guru, menabrak guru dan tidak ada iktikad baik untuk meminta maaf. Dan pada saat di luar kelas, mereka meminum-minuman keras, merokok.

Berdasarkan video ini terlihat jelas terjadi kemerosotan moral dan etika pada kalangan anak sekolah saat ini. Melihat kondisi ini penting untuk memperkuat kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter siswa. Pendidikan moral yang baik harus dimulai sejak dini, dengan menanamkan nilai-nilai disiplin, rasa hormat, dan tanggung jawab. Diperlukan pula pengawasan yang lebih ketat dan pembinaan yang lebih mendalam agar siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, tidak hanya dalam hal akademik, tetapi juga dalam perilaku sehari-hari.
Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G

Jurnal ini berjudul “Proses Pendidikan Nilai Moral Di Lingkungan Keluarga Sebagai Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja”

Jurnal ini membahas bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan utama dan pertama bagi anak. orang tua memegang peranan penting dalam mendidik anak-anaknya. Pendidikan di dalam keluarga berjalan sepanjang masa melalui proses interaksi dan sosialisasi di dalam keluarga itu sendiri. Sebagai lingkungan pendidikan pertama keluarga berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak.
Dari lingkungan keluargalah setiap individu memperoleh akhlak, nilai-nilai, kebiasaan dan emosinya. Keberadaan keluarga bukan hanya penting bagi setiap individu tetapi juga bagi masyarakat, sebagai unit sosial yang utama melalui individu-individu yang telah di persiapkan didalamnya. Jika suatu keluarga berada dalam keluarga yang sehat, maka akan membentuk suatu masyarakat yang sehat juga, begitu pun sebaliknya.
Terdapat delapan fungsi keluarga menurut M.I silaeman, sebagai berikut:
1. Fungsi edukasi
2. Fungsi sosisalisasi
3. Fungsi proteksi
4. Fungsi afektif
5. Fungsi religius
6. Fungsi ekonomi
7. Fungsi rekreasi
8. Fungsi biologi

Peranan nilai moral bagi anak, moral sangat penting bagi setiap orang karena moral menciptakan ketentaram dan kehormatan bangsa. Karena ukuran baik buruknya suatu bangsa tergantung kepada moral bangsa tersebut.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kemerosotan moral, menurut zakiyah derajat berikut adalah faktor-faktornya:
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak.
2. Lingkungan masyarakat yang kurang sehat.
3. Pendidikan moral yang tidak terlaksana sebagaimana mestinya, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
4. Suasana rumah tangga yang kurang baik.
5. Diperkenalkannya secara populer obat-obatan terlarang
6. Banyak tulisan, gambar, siaran, kesenian yang tidak mengindahkan dasar-dasar dan tuntunan moral.
7. Kurang adanya bimbingan untuk mengisi waktu luang dan yang membawa kepada pembinaan moral.
8. Kurang adanya tempat bimbingan dan penyuluhan bagi anak-anak dan remaja.
9. Pengaruh westernisasi

Untuk mengatasi kenakalan pada anak maka perlu adanya pembinaan agama sejak dini dalam keluarga. Pembinaan agama yang dapat ditanamkan kepada anak-anak adalah sebagai berikut:
1. Penanaman pendidikan keimanan kepada anak, dalam tahap ini anak-anak di tuntut agar mereka meyakini akan keberadaan Allah. Sehingga merasakan kedekatan dan kehadiran Allah dalam dirinya,
2. Menanamkan pendidikan moral kepada anak-anak, di dalam keluarga penanaman ini bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti cara bicara, cara berpakaian, adap sopan antun kepada orang tua, guru dll.
3. Menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis. Seperti selalu berkomunikasi dengan bahasa yang santun, dan selalu memberikan teladan terhadap hal-hal yang positif.
Kesimpulannya lingkungan keluarga memegang peranan penting dalam pendidikan nilai moral keagamaan anak. Faktor-faktor kemerosotan moral meliputi kurangnya nilai keimanan, lingkungan buruk, dan pendidikan moral yang tidak berjalan baik. Pembinaan nilai moral harus dilakukan secara holistik melalui kerjasama keluarga, sekolah, dan masyarakat. Proses pembinaan dimulai sejak lahir, dengan mengenalkan nilai-nilai agama dan keimanan kepada anak-anak.