Nama : Erlyn Anggis Safitri
NPM : 2353053020
SD negeri di Kabupaten Sikka menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan, seperti kekurangan kelas, tidak adanya perpustakaan, dan minimnya akses teknologi. Sekolah tersebut berlokasi di dusun terpencil di kaki gunung, Oleh karena itu siswa harus belajar di teras kelas karena hanya tersedia enam ruangan yang satu ruangan adalah ruang kepala sekolah atau ruang guru dan lima lainnya adalah ruang untuk siswa. Meski harus berjalan Jauh untuk sampai ke sekolah, semangat belajar siswa tetap tinggi walaupun sesampainya di sekolah siswa tersebut tidak belajar di ruangan sekolah Melainkan belajar di teras teras ataupun di bawah bawah pohon akan tetapi jikalau hujan tiba siswa tersebut tidak bisa belajar dikarenakan Teras yang ada di sekolah tersebut terkena air dan tidak memungkinkan siswa tersebut belajar untuk di bawah pohon oleh karena itu sesuatu yang tidak mendapatkan kelas tersebut tidak belajar di sekolah melainkan belajar di rumah.
Selama pandemi, pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka karena desa ini tidak memiliki akses internet ataupun jaringan telekomunikasi. Pihak sekolah berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk merenovasi fasilitas, seperti ruangan sekolahan perpustakaan ataupun fasilitas fasilitas yang lainnya. Dengan ini anak yang ada di desa tersebut dapat menuntut ilmu dengan kondusif di dalam kelas dan tidak ada lagi siswa ataupun siswi yang belajar di luar kelas seperti di teras kelas ataupun di bawah pepohonan, Serta membangun infrastruktur telekomunikasi agar pembelajaran dapat berjalan optimal di kala COVID 19 dikarenakan pembelajaran di saat COVID 19 tersebut harus dilakukan secara daring atau online untuk mencegah terjadinya COVID yang merajalela di desa tersebut.
NPM : 2353053020
SD negeri di Kabupaten Sikka menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan, seperti kekurangan kelas, tidak adanya perpustakaan, dan minimnya akses teknologi. Sekolah tersebut berlokasi di dusun terpencil di kaki gunung, Oleh karena itu siswa harus belajar di teras kelas karena hanya tersedia enam ruangan yang satu ruangan adalah ruang kepala sekolah atau ruang guru dan lima lainnya adalah ruang untuk siswa. Meski harus berjalan Jauh untuk sampai ke sekolah, semangat belajar siswa tetap tinggi walaupun sesampainya di sekolah siswa tersebut tidak belajar di ruangan sekolah Melainkan belajar di teras teras ataupun di bawah bawah pohon akan tetapi jikalau hujan tiba siswa tersebut tidak bisa belajar dikarenakan Teras yang ada di sekolah tersebut terkena air dan tidak memungkinkan siswa tersebut belajar untuk di bawah pohon oleh karena itu sesuatu yang tidak mendapatkan kelas tersebut tidak belajar di sekolah melainkan belajar di rumah.
Selama pandemi, pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka karena desa ini tidak memiliki akses internet ataupun jaringan telekomunikasi. Pihak sekolah berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk merenovasi fasilitas, seperti ruangan sekolahan perpustakaan ataupun fasilitas fasilitas yang lainnya. Dengan ini anak yang ada di desa tersebut dapat menuntut ilmu dengan kondusif di dalam kelas dan tidak ada lagi siswa ataupun siswi yang belajar di luar kelas seperti di teras kelas ataupun di bawah pepohonan, Serta membangun infrastruktur telekomunikasi agar pembelajaran dapat berjalan optimal di kala COVID 19 dikarenakan pembelajaran di saat COVID 19 tersebut harus dilakukan secara daring atau online untuk mencegah terjadinya COVID yang merajalela di desa tersebut.