Kiriman dibuat oleh Fitri Aisyiyah

Nama : Fitri Aisyiyah
NPM : 2313053202

Perbedaan Kriteria Nilai Hardskill dan Softskill
Hardskill adalah kemampuan teknis yang bisa dilihat dan dipelajari melalui latihan atau pelatihan. Contohnya adalah kemampuan mengemudi, menggunakan komputer, berbicara dalam bahasa asing, atau menjalankan mesin tertentu. Nilai hardskill biasanya diukur dari hasil kerja, seperti nilai ujian, kecepatan mengetik, atau hasil proyek, dan sering didukung oleh sertifikat atau tes tertentu.
Sementara itu, softskill adalah kemampuan yang lebih berkaitan dengan kepribadian, cara berkomunikasi, dan mengelola emosi. Contoh softskill termasuk kemampuan bekerja sama, memimpin, atau mengatur waktu dengan baik. Nilai softskill cenderung dinilai secara subjektif, misalnya dari sikap, cara berinteraksi, atau respons terhadap orang lain. Biasanya, penilaian ini dilakukan lewat observasi atau pendapat dari teman dan orang di sekitar.
Nama : Fitri Aisyiyah
NPM : 2313053202
Analisis Video 4

Video tersebut menjelaskan bahwa etika dan moral punya peran penting, terutama untuk generasi muda. Di tengah kemajuan zaman dan mudahnya akses informasi, kita perlu bisa membedakan mana yang baik dan buruk supaya tidak terjebak oleh informasi yang keliru. Etika dan moral tidak hanya diwariskan, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan pendidikan yang diberikan oleh keluarga, sekolah, serta masyarakat.
Keluarga menjadi tempat awal dalam menanamkan nilai-nilai moral, sementara sekolah membantu memperkuatnya melalui aturan yang diterapkan. Di era pembelajaran online, menjaga etika berkomunikasi sangat penting, seperti menggunakan bahasa yang sopan, memperkenalkan diri dengan baik, dan menghargai waktu guru. Semua ini bertujuan untuk membentuk pribadi yang beretika dan bermoral, sehingga bisa memberikan dampak positif bagi orang lain.
Nama : Fitri Aisyiyah
NPM : 2313053202
Analisis jurnal 2

Jurnal ini menegaskan bahwa keluarga adalah lingkungan pertama yang membentuk dasar moral dan nilai keagamaan anak. Penekanan pada "pendidikan sejak dini" menyoroti pentingnya keluarga sebagai fondasi utama. Namun, terdapat kebutuhan kolaborasi dengan sekolah dan masyarakat untuk memastikan pendidikan moral berjalan efektif, menunjukkan pendekatan holistik dalam pembentukan moral anak.
Kemudian dijelaskan juga 8 faktor yang menyebabkan kemerosotan moral memberikan gambaran komprehensif tentang permasalahan yang dihadapi anak-anak. Faktor-faktor ini mencakup aspek internal (seperti kurangnya penanaman nilai iman dalam keluarga) dan eksternal (lingkungan masyarakat, media, penyalahgunaan narkoba, dll.). Penulis menyoroti pentingnya pendekatan preventif melalui bimbingan waktu luang dan pendidikan nilai-nilai moral sejak dini.
Keseimbangan peran antara keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi inti dari upaya pembentukan moral anak. Jurnal ini menyampaikan bahwa tanpa adanya kerja sama antar lembaga tersebut, pendidikan moral anak tidak akan maksimal. Ini mencerminkan pentingnya pendekatan kolaboratif yang saling mendukung di semua aspek pendidikan.
Penulis memberikan panduan spesifik tentang cara menanamkan nilai moral, mulai dari pengenalan nilai keimanan (ma’rifatullah) hingga pembiasaan sikap dan sifat yang baik (kejujuran, keadilan, kesederhanaan, dsb.). Pembinaan moral tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga membutuhkan keteladanan dari orang tua sebagai panutan.
Nama : Fitri Aisyiyah
NPM : 2313053202
Analisis jurnal 1

Jurnal "Pendidikan Moral di Sekolah" oleh Rukiyati menjelaskan pentingnya pendidikan moral di sekolah sebagai hasil kerjasama keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan moral harus dirancang secara menyeluruh agar berhasil.
Dalam jurnal ini dijelaskan tentang tujuan Pendidikan Moral. Pendidikan moral bertujuan menciptakan generasi muda yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang baik, seperti yang pernah dijelaskan Aristoteles.
Selanjutnya dijelaskan mengenai komponen penting pendidikan moral. Adapun komponen penting itu yaitu :
1. Pendidik : Guru punya peran utama karena menjadi teladan. Semua pihak di sekolah, termasuk staf lain, juga ikut mendukung.
2. Materi : Isi pembelajaran moral harus mencakup nilai-nilai untuk diri sendiri, sesama, alam, dan Tuhan, yang disampaikan dengan toleransi.
3. Metode : Cara pembelajaran melibatkan kegiatan seperti membaca buku bermoral, bercerita, dan program pembentukan nilai lainnya.
4. Evaluasi : Penilaian dilakukan di tiga aspek, yaitu pola pikir, perasaan, dan perilaku siswa untuk memastikan tujuan tercapai.
Selanjutnya dijelaskan juga tantangan dan soslusi penerapan pendidikan moral. Di era modern, pendidikan moral menghadapi tantangan seperti globalisasi dan teknologi. Sekolah perlu berinovasi, misalnya dengan menyediakan fasilitas seperti kantin kejujuran atau kegiatan berbasis moral.
Adapun kesimpulan dari jurnal ini yaitu pendidikan moral membutuhkan kerjasama semua pihak agar dapat mencetak generasi yang berkarakter kuat dan mampu berkontribusi positif untuk masyarakat serta menjaga hubungan baik dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.
Nama : Fitri Aisyiyah
NPM : 2313053202
Analisis Video 3

Video tersebut menjelaskan tentang Materi 8 Fungsi Keluarga : Menerapkan dan Menanamkan Nilai Moral dalam Keluarga
Video tersebut menjelaskan tentang penanaman dan penerapan nilai-nilai moral melalui 8 fungsi keluarga . Adapun 8 fungsi keluarga tersebut yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pemeliharaan lingkungan.
Penerapan dan penanaman nilai moral melalui fungsi agama mencakup nilai keimanan, ketaqwaan, kejujuran, bersyukur, kepedulian, tenggang rasa, kerajinan, kesalehan, ketaatan, suka menolong, disiplin, kesabaran, kasih sayang.
Kemudian dijelaskan juga fungsi sosial budaya dalam hal penerapan dan penanaman nilai dan moral. Nilai dan moral sosial budaya mencakup gotong royong, sopan santun, kerukunan,, kepedulian, kebersaaan, toleransi, dan kebangsaan.
Kemudian dijelaskan juga fungsi cinta kasih dalam hal penerapan dan penanaman nilai dan moral. Nilai dan moral itu mencakup empati (peka), keakraban, keadilan, pemaaf, kesetiaan, pengorbanan, suka menolong, dan bertanggung jawab.
Kemudian dijelaskan juga penerapan dan penanaman nilai moral melalui fungsi perlindungan yaitu pemaaf, tanggap, dan ketabahan.
Kemudian dijelaskan juga penerapan dan penanaman nilai moral melalui fungsi reproduksi yaitu bertanggung jawab, kesehatan, dan keteguhan.
Kemudian dijelaskan juga penerapan dan penanaman nilai moral melalui fungsi sosialisasi dan pendidikan yaitu nilai percaya diri, keluwesan, kebanggaan, kerajinan, kreatifitas, bertanggung jawab, dan bekerja sama.
Kemudian dijelaskan juga penerapan dan penanaman nilai moral melalui fungsi ekonomi yaitu hemat, ketelitian, disiplin, kepedulian, dan keuletan.
Kemudian dijelaskan juga penerapan dan penanaman nilai moral melalui fungsi pemeliharaan lingkungan yaitu kebersihan dan kedisiplinan.